My Angel Baby

My Angel Baby
Tidak Cuma Pindah Sekolah!


__ADS_3

Tiga hari berselang, sore sepulang sekolah Sam benar-benar dibuat terkejut dengan hukuman yang Lia berikan padanya.


Saat dia memasuki kamarnya, sudah ada beberapa koper berjejer rapi di samping ranjangnya.


"Koper siapa ini? Kenapa ada di kamar gue?" tanya Sam pada dirinya sendiri.


Iseng saja, dia membuka salah satu dari koper itu dan membuat matanya terbelalak setelah tahu isi di dalamnya.


Segera saja dia membuang tasnya sembarangan dan berlari keluar kamarnya untuk mencari sang mama.


"Ma, mama. Mama dimana sih?" teriakan Sam terdengar hingga ke segala penjuru rumah.


Teriakannya tak hanya membuat mamanya saja yang terusik, bahkan kakek dan neneknya pun ikut keluar kamar untuk memastikan keadaan cucunya.


"Ada apa kamu teriak, Sam?" tanya Abraham dengan suara sedikit bergetar karena usia dan dalam masa penyembuhan setelah sakit.


"Kakek tahu dimana mama?" tanya Sam.


"Tahu, di taman belakang dengan tanamannya" jawab Abraham.


Tanpa banyak kata, segera Sam berlari ke halaman belakang dan mendapati mamanya sedang asyik menyirami tanaman sambil bersenandung.


"Ma, kenapa bajuku ada di dalam koper?" Sam yang datang dengan tiba-tiba dan langsung bertanya dengan volume keras membuat Viviane terperanjat.


"Mama kaget, Sam. Kenapa sih?" keluh Viviane sambil mengusap dadanya yang bergemuruh.


"Kenapa baju Sam ada di dalam koper?" ulang Sam.


"Oh, itu karena kamu harus menjalani hukuman" jawab Viviane ringan.


"Maksudnya? Memangnya hukumannya apa sih ma?" tanya Sam dengan wajah memelas.


"Kamu akan diungsikan untuk sementara waktu di rumah mama Lisa, ehm kamu akan tinggal dengan tante Gita dan pindah sekolah" jawab Lia yang sudah berdiri diantara Sam dan mamanya.


"Kakak mau membuangku?" tanya Sam dengan wajah pias.


"Tentu tidak, Sam. Karena semua kebutuhanmu masih tetap kami penuhi. Tapi bedanya, nanti kamu akan tinggal dengan tante Gita. Dan kamu jangan khawatir karena kami menghadiahkan sebuah motor baru khusus untukmu yang sudah kakak kirimkan ke alamat rumah barumu" kata Lia dengan senyum sumringah, seolah sedang memberi sebuah surprise yang sangat bagus untuk adiknya.


"Kalian jahat sekali, kenapa mama tega membuang satu-satunya anak yang tampan ini, ma?" rengek Sam sambil mengguncang pundak mamanya.


"Hentikan Sam. Mama pusing" kata Viviane.


"Mama jahat, kak Lia jahat, papa jahat. Nggak ada yang sayang sama aku" ujar Sam seolah sedang menangis.


"Tenanglah Sam. Kau akan bertemu dengan banyak teman baru di sekolah barumu nanti. Dan yang terpenting, kau tidak bisa lagi mencatut nama papa untuk menutupi kesalahmu karena papa tidak punya andil dalam sekolah itu" kata Lia yang tahu kalau Sam selalu menggunakan nama papanya untuk mengurangi hukuman di sekolahnya karena keluarga Alexander adalah donatur tetap dan masuk di dalam tiga besar donatur terbanyak di sekolah Sam.


"Ish, memangnya aku sekolah dimana kak?" tanya Sam.


"Lihat saja nanti" jawab Lia sambil balik badan, dan meninggalkan Sam yang masih saja merengek manja pada mamanya.


"Sudahlah Sam, kamu itu anak laki-laki. Jangan manja dan cengeng. Asal kau tahu kalau kehidupan mama dan kakakmu dulu lebih menderita daripada kamu" kata Viviane yabg sedang menasehati Sam, ucapan itu terdengar samar di telinga Lia dan membuatnya sedikit terenyuh jika mengingat masa lalunya yang memang cukup menderita jika dibandingkan dengan Sam sekarang.


Jadi, wajar saja jika Lia dan kedua orang tuanya juga ingin agar Sam bisa menjadi pria yang tangguh. Bukan hanya seorang pria yang lembek dan cuma mengandalkan harta kedua orang tuanya tanpa mau tahu betapa sulit untuk mempertahankan ke eksis an dinasti Alexander di tengah terpaan persaingan dengan perusahaan lain.




Setelah melewati drama yang cukup alot, nyatanya tak membuat Sam harus menangguhkan hukumannya.



Dengan bersungut-sungut, pagi ini dengan diantarkan oleh Gita, Sam menapakkan kakinya di sekolah baru yang tak pernah dia sangka selama ini.



"Senyumlah Sam! Sambut hari barumu dengan bahagia, nanti pasti kau akan mendapatkan banyak kebahagiaan" ucap Gita dengan menahan tawa melihat wajah cemberut yang Sam yang seperti anak kecil tak diberi permen.



"Tante Gita ini senang sekali sepertinya. Tante lagi bahagia ya?" ejek Sam.



"Oh tentu saja. Karena selama dua tahun ke depan tante akan tinggal dengan anak yang tampan sepertimu" balas Gita tak mau kalah.



"Cg! Malas sekali" gumam Sam.

__ADS_1



"Terserah padamu saja, Sam. Berkelakuan baik dan kau akan segera menyudahi hukumanmu atau selamanya kita tinggal bersama" kata Gita.



Sam bergidik ngeri, Gita itu sangat cerewet sekali. Bisa tuli telinganya kalau setiap hari mendengar ocehan darinya.



"Selamat pagi, bu. Ini Samuel keponakan saya yang akan menjadi murid baru di sekolah ini" kata Gita memperkenalkan Sam setelah mereka memasuki kantor guru, kebetulan tahun ini kepala sekolahnya seorang perempuan.



"Iya nak Gita, ibu mengerti. Dan terimakasih karena Gita masih mau mempercayakan pada kami" ujar kepala sekolah.



"Tentu saja bu. Gita yakin Sam akan betah bersekolah disini" kata Gita.



"Kalau begitu saya pamit dulu ya bu. Tolong kabari saya jika Sam berbuat sesuatu yang melanggar peraturan sekolah, membolos ataupun jika Sam berbuat ulah ya, bu" ujar Gita.



"Tentu nak Gita" ucap kepala sekolah itu sambil mengulurkan tangannya untuk menerima jabatan tangan dari Gita.



"Jaga tingkah lakumu disini, Sam. Ingat kau hanya murid biasa" kata Gita memperingatkan Sam yang bandel.



Setelah kepergian Gita, kepala sekolah segera mengajak Sam menuju ke kelasnya. Sepanjang perjalanan, Sam sedikit takjub karena banyak sekali kelas dan murid di sekolah ini.



Jika di sekolah lamanya, satu kelas maksimal hanya diisi oleh dua puluh murid saja, di sekolah ini bisa diisi sampai empat puluh murid dalam satu kelasnya.




"Ayo Sam, kelasmu ada disini" kata kepala sekolah sambil mengetuk sebuah pintu yang tertutup.



Sam mendongak dan membaca nama kelas yang terpampang di atas pintu. Kelas XII-IPA-2.



"Selamat pagi, bu. Ada murid baru di kelas ibu" kata kepala sekolah sambil menyuruh Sam memasuki kelasnya.



Sontak seisi kelas jadi heboh setelah mendengar adanya murid baru. Dan setelah mengetahui wajah tampan Sam yang perlahan memasuki ruang kelasnya, mayoritas siswi di kelas itu terdiam dan melongo melihat wajah tampan yang baru kali ini mereka lihat.



"Uwah, pangeran darimana itu?" celetuk salah satu siswi dengan pandangan yang tak lepas dari wajah Sam.



"Gantengnya kayak Kim Seokjin" ujar siswi yang lain.



"Mungkin dia artis yang sedang menyamar" komentar yang lainnya.



"Saya permisi dulu ya bu" pamit kepala sekolah dan menyerahkan sepenuhnya wewenang atas Sam pada guru itu.



"Silahkan, bu" jawab si guru kelas.


__ADS_1


"Selamat pagi, nak. Saya guru Biologi sekaligus wali kelas disini, panggil saja saya Bu Sulis" ucap sang guru.



"Pagi, bu" jawab sam singkat sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan.



"Semuanya diam!" teriak bu Sulis saat keadaan kelas terlalu gaduh.



"Di kelas kita kedatangan teman baru. Silahkan kamu memperkenalkan diri" perintah bu Sulis.



"Selamat pagi semuanya" kata Sam mengawali perkenalannya.



"Pagi" ucap teman sekelas Sam dengan kompak.



"Perkenalkan nama saya Samuel Darius, kalian bisa panggil saya dengan sebutan Sam" kata Sam lagi.



"Pagi Sam, rumah kamu dimana?" celetuk salah satu siswi tanpa diperintah.



"Dimana ya alamat rumahnya? Maaf sekali saya lupa, besok saja kalau saya sudah tahu akan saya beritahu" jawab Sam jujut karena memang dia lupa dimana alamat rumah Gita.



"Huuu, sombong amat. Meskipun kita tahu kagak mungkin kita maen ke rumah elo, tong" timpal salah satu siswa dengan logat Betawi yang khas.



"Maaf, saya benar-benar lupa menanyakan alamat rumah tante saya" jawab Sam santai.



"Baiklah, perkenalannya dilanjut nanti saja ya, sekarang kita lanjutkan pelajaran kita yang sempat tertunda" ujar bu Sulis yabg tentu mendapat tanggapan buruk dari anak muridnya.



"Sam, silahkan kamu duduk di sana. Bangku kosong nomer dua dari belakang itu ya" kata bu Sulis yang tak memperdulikan teriakan keberatan dari seisi kelas.



"Baik bu. Terimakasih" ujar Sam berjalan santai menuju kursinya.



Sepanjang perjalanannya, semua siswi di kelasnya tentu memandang kagum padanya. Karena baru kali ini mereka melihat cowok setampan Sam yang memang wajah tampannya merupakan perpaduan yang klop dari kedua orang tuanya dan juga dia selalu merawat kulitnya dengan skin care khusus pria.



"Hai, gue Sam" ujar Sam pada teman yang duduk di dekatnya.



"Aye Mawan" ucap temannya yang tadi menimpali ucapan temannya.



Sam mengangguk dan tersenyum, lalu mengambil bukunya dan berusaha untuk fokus untuk mengikuti pelajaran hari ini.



.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2