
...MAB by VizcaVida...
...|14. Dia Mantan (Gebetan) Terindahku|...
...Selamat membaca...
...[•]...
“Lukas?”
Nama itu sontak membuat bola mata Angel mengikuti arah pandang Louis. Dan benar, disana ada Lukas berdiri di kap depan mobilnya sambil melipat kedua tangan didepan dada.
“Lukas? Ada perlu apa dia datang kesini?” celetuk Angel ketika pandangannya sama menangkap sosok Lukas disana.
“Dari mana kamu kenal Lukas?” tanya Louis penasaran sejak melihat Angel bersama Lukas di studio saat itu. Ia bahkan menerka dalam diam, mengapa Angel bisa dekat dan kenal dengan saudara sepupunya itu.
“Dia kakak kelas saya di SMA, dulu.”
Ah, ini jawabannya. Louis mengangguk paham setelah mengetahui alasan dari mana Angel mengenal Lukas. Akan tetapi tanpa ia sadar, ada satu gejolak dalam dirinya yang ingin sekali menolak keberadaan Lukas diantara dirinya dan Angel. Seperti seorang pengganggu yang datang tanpa diminta datang untuk merusak suasana.
Angel melepas seatbelt nya lebih dulu, sedangkan Louis hanya bisa memperhatikan karena tidak punya sedikitpun hak untuk mencegah Angel keluar dari mobilnya. Perlahan, pandangannya mengikuti langkah Angel yang sudah lebih dulu turun dan keluar dari mobil, berlari kecil meninggalkan dirinya sendiri didalam mobil, untuk menyapa Lukas.
“Ck!” Louis mendecak. Ia membuang wajah ke arah lain dan memutar lidahnya didalam mulut, kemudian turut melepas seatbelt, terpaksa ikut keluar dari mobil, kemudian berjalan menghampiri Lukas dan Angel yang sepertinya sudah seru mengobrol.
“Om!” panggil Lukas ceria melambai. Tangannya melakukan hormat setelahnya, lantas membuat gestur seperti seorang prajurit dengan menegakkan kakinya.
“Ngapain kamu disini?” tanya Louis dengan nada ogah-ogahan sembari menatap Lukas dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sepupunya ini sudah terlihat lebih dewasa dan semakin tampan saja. Berbeda dengan dulu yang terlihat mengenaskan dengan ingus menggelembung di hidung. Membayangkan cairan hidung Lukas kecil, Louis mendadak bergidik.
“Lho, saya sedang mengunjungi Angel ini lho.” jawab Lukas dengan suara lucu dibuat-buat untuk menggoda Louis sambil menepuk akrab bahu Angel agar meyakinkan.
“Kalian pacaran?” tanya Louis menyelidik. Ia memicingkan matanya menelisik ekspresi wajah Lukas. Sedangkan Lukas dan Angel, saling melirik satu sama lain.
“Tidak.” jawab Lukas dan Angel bersamaan.
Mendengar itu, Louis mengangguk paham dan berniat pamit. Takut mengganggu sepasang teman yang mungkin ingin melakukan reuni. Selain itu, Louis juga tidak ingin menambah kegusaran hatinya karena mendengar pembahasan keduanya, nanti.
“Ya sudah, saya pamit dulu ya, Ngel.”
__ADS_1
“Lho, Om nggak mau gabung sebentar sama kita?” sahut Lukas cepat, membuat Louis seketika menoleh.
Sialan memang si Lukas ini. Kenapa dia bermanis bibir menawarkan kebersamaan segala? Louis mendengus dalam hati, sebal ia tahan mati-matian agar tak terlihat di wajahnya. Untuk urusan memanipulasi lawan bicara dengan ekspresi, jangan remehkan Louis, pria ini sangat mahir. Lantas ia berbalik dan menatap keduanya dengan ekspresi tenang dan sebuah bentangan senyum yang teramat luas, seluas samudra Antartika.
“Tidak, nanti saya ganggu kalian.” jawab Louis tak kalah menyindir. Kedudukan skor satu sama.
“Tidak kok, pak.” sela Angel mengibaskan tangan, juga menggelengkan kepala karena tidak setuju dengan pendapat Louis. Tidak ada alasan menganggap Louis sebagai pengganggu, karena dirinya memang tidak ada hubungan apapun dengan Lukas. Mereka benar-benar hanya sepasang teman lama yang . . . tidak dapat dipungkiri pernah hampir menjalin hubungan spesial, meskipun pada akhirnya Angel yang menjauh saat itu. “Bapak bisa bergabung bersama kami. Memangnya, kamu ada tujuan apa kesini, Kong?” tanya Angel, mendelik lebar menuntut jawaban jujur Lukas.
Louis tersenyum semakin lebar. “Saya harus pulang. Ada pekerjaan yang harus saya cek ulang untuk keselarasan acara.”
Angel menghela nafas. Louis memang bukan orang bebas yang bisa pergi dan meluangkan waktu semaunya. Pria itu begitu sibuk dan terikat dengan pekerjaan. Pria itu adalah orang yang paling bertanggung jawab di perusahaan tempatnya bekerja. Beban yang di pikul Louis terlampau berat.
“Baiklah. Terima kasih sudah mengantar saya pulang.”
“Sama-sama. Terima kasih juga sudah buat mama dan keluarga saya senang, hari ini.” kata Louis jumawa. “Sampai jumpa besok di kantor.”
“Om ngga asik ih. Masa aku pulang ke indo cuma sebulan aja nggak disapa? Main ke tempat aku nginep dong Om.” kata Lukas mencoba bercanda. Tapi Angel dapat melihat bagaimana airmuka Louis berubah tidak bersahabat.
Mendengar omongan Lukas, Louis yang sudah berniat pergi pun urung melakukan niatnya. Ia kembali menatap pada sosok Lukas yang masih dengan gaya slengehannya bicara seenak hati.
“Kamu yang lebih muda. Bukannya kamu yang harus sowan ke rumah orang yang lebih tua?”
“Ayolah Om, jangan kolot begitu. Aku datang kesini cuma mau liburan, mengunjungi kota dan negara kelahiran selagi ada waktu senggang. Tapi kenapa saat aku datang ke tempat kerja om, Om selalu nolak bertemu denganku disana.”
Louis menolak bertemu Lukas? Ada apa?
“Karena aku tau, maksud kedatangan mu itu pasti bakal bikin runyam keadaan.” kata Louis masih dengan wajah datar namun selalu terlihat tenang. “Kalau kamu berani, datang sendiri ke mama atau papa. Aku yakin kamu diterima sebagai keponakan.” imbuh Louis masih saja seperti menyudutkan dan membuka sebuah luka lama yang tidak pernah diketahui oleh orang luar. Ini masalah keluarga yang terlihat pelik dan ditutupi rapat dari publik, mengingat reputasi keluarga Hutama yang tidak bisa di buat main-main.
Mereka—Louis dan Lukas—lebih terlihat sedang melakukan perang dingin antar sepupu.
“Oh ayolah, om. Itu semua hanya masa lalu. Om masih marah? Masih dendam? Tidak ingin melupakan semua itu? Come on. Mungkin saja paman dan bibi juga sudah lupa.”
Louis tertawa hambar. “Siapapun boleh lupa. Tapi tidak dengan ku.” tutur Louis tegas. Senyuman di bibirnya lenyap, berganti dengan rahang yang menegas. “Angel, aku pamit.” pamit Louis dengan mood yang sudah benar-benar anjlok ke dasar bumi.
Angel yang masih terkejut tidak bisa berkata apa-apa, lidahnya kelu, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia mengangguk sebagai jawaban.
“Om, Hati-hati nyetirnya.” teriak Lukas dengan senyuman tengil yang di beri respon dengan kibasan tangan tanpa menoleh oleh Louis. Anak ini memang selalu berhasil membuatnya sebal. “Aku akan menjaga Angel dengan baik.”
Tiba-tiba saja langkah Louis terhenti. Ia kembali dibuat penasaran. Pasalnya, Lukas juga pernah mengatakan ini padanya. Semua seperti Dejavu.
__ADS_1
Sebelum berhasil berbalik, ponsel dalam sakunya bergetar kuat. Hanya satu detik, tapi cukup kuat dan mengejutkan serta membuat minat Louis untuk melihatnya cukup besar.
Ia merogoh saku celana, kemudian mengeluarkan ponsel dan benar, satu pesan masuk ke dalam ponselnya. Pesan dari nomor yang tidak pernah ia simpan, tapi selalu ia ketahui siapa pemiliknya.
Louis berniat abai, tapi sekali lagi ponsel itu bergetar. Ia pun menahan rasa penasarannya paling tidak sampai didalam mobil. Image harus tetap dijaga. Dan setelah berhasil duduk di kursi kemudi, Louis mengeluarkan lagi ponselnya, mengecek isi pesan.
Kenapa kamu bersikap begitu didepan Angel? Apa kamu ingin dia tau masalah keluarga kita?
Itu isi pesan pertama. Louis menarik dan mengembuskan nafasnya kasar. Jemarinya menyusup diantara surainya kemudian meremas frustasi, lantas menekan pesan kedua.
Aku pergi ke Amerika karena alasan patah hati yang dibuat Angel. Jadi, jangan buat semuanya runyam karena sikap kamu sendiri. Aku nggak mau jadi kambing hitam paman dan bibi.
Louis mulai tidak suka dengan Lukas. Dengan gerakan serampangan, Louis mengetik pesan balasan untuk Lukas.
Aku nggak peduli.
Tak berselang lama, pesan lainnya masuk.
Benarkah?
Sial!!
ShutUp!!
Louis melihat lurus kedepan dengan sorot tajam menghujam, menatap Angel yang terlihat tertawa didepan Lukas. Tawa yang terlihat tulus dan bebas tanpa beban.
Seperti yang sudah aku katakan tadi. Aku akan menjaga Angel, jadi hati-hati pulangnya. 😉
Lagi-lagi, sial!!
Memangnya kamu siapa?
Balas Louis sarkas. Dan jawaban yang diberikan Lukas lebih mengejutkan dari pertemuan mereka disini.
Aku bukan siapa-siapa. Tapi dia, adalah mantan (Gebetan) terindahku yang ingin aku perjuangkan lagi. []
###
Ditutup dengan pengakuan Lukas yang sungguh . . .
__ADS_1