My Angel Baby

My Angel Baby
Bersiap


__ADS_3

Detik jam terasa begitu cepat saat berputar. Lian tak menyangka jika sudah tiga jam lamanya dia berada di sekolah ini. Dan sudah waktunya dia bersama Samuel untuk mendatangi malaikat maut yang sedang memasuki raga Ruby.


Rencana sudah dibuat dengan begitu matangnya oleh Ruby agar bisa melenyapkan setidaknya satu saja dari dua pewaris Alexander. Incarannya kini adalah si kecil Samuel.


"Sebenarnya lo lagi ada masalah apa sih, Li? Muka lo tegang banget?" tanya Sam yang sudah kembali duduk dengan fokus untuk mengemudikan jaguarnya, mobil sport kesayangannya itu dia namai Jaguar karena warnanya yang hitam legam dan tak pernah kalah saat balapan.


"Nggak ada Sam. Hanya sedikit gemetar saja, nggak tahu kenapa" jawab Lian berusaha tenang, perannya sudah harus dilakoni dengan benar beberapa menit ke depan. Sesuai permintaan Ruby.


"Lapar? Atau memang lagi nggak enak badan? Apa perlu ke klinik untuk periksa dulu? Atau kita tidak usah jalan-jalan deh. Yang penting lo sehat saja dulu" Sam yang khawatir nampak begitu perhatian pada Lian.


Dalam hatinya Lian sangat tersanjung dengan ketulusan Sam terhadapnya. Tapi mengingat perannya yabg harus dia jalankan, Lian jadi patah semangat.


"Nggak Sam. Kita lanjut saja. Lebih cepat lebih baik. Aku sudah nggak sabar untuk bisa segera mengakhiri hari ini. Aku penasaran apakah masih bisa membuka mata esok pagi ataukah aku sudah berada di alam lain yang entah lebih baik atau malah lebih buruk" kata Lian yang sudah tak tahu lagi harus bagaimana untuk menghadapi ibu penolong sekaligus pembawa sial baginya.


"Daritadi kami ngelantur terus bicaranya. Kamu yakin nggak lagi ada masalah apapun?" tanya Sam, kekhawatirannya sudah kronis.


"Nggak apa-apa kok, Sam. Pokoknya apapun yang terjadi nanti, aku minta maaf ya sama kamu. Aku nggak bermaksud buat melakukan ini semua. Aku cuma terpaksa, aku nggak punya pilihan lain" kata Lian semakin tak jelas.


Di jam kantor seperti ini arus lalu lintas nampak lengang dan nyaman, tidak seperti di jam sibuk yang pasti akan macet. Sam berkendara dengan santai namun tetap saja mobilnya melaju kian cepat dengan tiga mobil yang membuntuti di belakangnya.


Tepat di belakang Sam adalah para bodyguard suruhan papanya, dan rupanya Ery sudah memecah rombongannya menjadi dua bagian dengan tugas yang berbeda.


Dua orang pria dengan mobil city car kecil bertugas untuk mengecoh bodyguard Sam agar tak lagi melindungi tuannya. Dan Ery bersama Tomi bertugas melakukan eksekusi untuk menghabisi Sam dan membawa Lian yabg nantinya entah akan diapakan. Ery sendiri sudah berencana untuk menjual garis cantik itu karena kondisi keuangannya yang sudah pailit, diambang kehancuran.


Dan dibarisan terakhir adalah Johan yang berkendara seorang diri dengan banyak pertanyaan di benaknya. Dia belum melihat sang mommy yang berkendara tepat di depan mobilnya.


Johan mengirim share lok kepada Lia, membuat gadis itu segera menghubungi Johan katena tak paham dengan maksud dari pria itu.


Tapi Johan menolak panggilan dari Lia untuk fokus dalam pengejarannya dan memilih untuk chatting saja.


Awasi terus ponselmu, aku dalam perjalanan


Johan~


"Maksud Johan apa sih, kak?" tanya Lia yang sudah merasa nyaman diatas ranjang kamarnya, bersama Bayu dan seorang suster yang Bayu tugaskan untuk mengamati kondisi Lia.


"Aku juga tidak paham, memangnya kemana tujuannya?" tanya Bayu yang telah melirik singkat layar ponsel Lia dan membaca pesan dari Johan, masih terasa hati yang memanas jika Johan mendekati Lia. Bayu cemburu.

__ADS_1


"Sepertinya ke arah pantai. Tapi kenapa dia mengirim share lok padaku? Pesannya juga aneh. Singkat dan tak jelas" kata Lia.


"Biarkan aku yang meneleponnya" kata Bayu yang sudah mengeluarkan ponselnya.


"Tapi dia sedang dalam perjalanan, kak. Tadi aku telepon dia saja di reject. Mungkin dia sedang fokus" kata Lia yang membuat Bayu kembali memasukkan ponselnya.


"Atau dia menemukan mommynya?" gumam Bayu.


Seketika Lia dan Bayu saling pandang, sepertinya mereka sepemikiran.


"Apa kita susul saja?" tanya Lia.


"Tapi kau masih sakit" jawab Bayu.


"Aku sudah sangat sehat. Ditangkapnya Tante Ruby adalah prioritasku untuk saat ini, kak. Aku tidak mau kalau sampai dia merugikan keluargaku lagi" rengek Lia.


"Baiklah, kita ajak suster untuk membantumu dalam hal apapun. Biar aku yang menyetir untukmu. Dan kita bawa beberapa orang untuk membantu kita seandainya terjadi sesuatu di luar kendali kita" kata Bayu.


Lia mengangguk paham, mengikuti semua instruksi dari Bayu demi keamanan dirinya sendiri.


"Ada urusan sebentar, ma. Ehm, aku mau ke rumah sakit bersama kak Bayu" bohong Lia untuk menjaga perasaan mamanya.


"Baiklah, cepat kembali setelah urusanmu selesai, Lia. Ingat kondisimu belum pulih benar. Mama nggak mau kalau kondisi kamu sampai drop" ujar Viviane.


Lia mengangguk dan memeluk mamanya untuk berpamitan.


Pergi dengan membawa suster dan beberapa bodyguard sebenarnya sudah membuat perasaan Viviane tak nyaman. Tapi sebisa mungkin Viviane tak mencampuri urusan anaknya selama itu bukanlah diluar norma yang berlaku.


Rombongan Lia sudah meluncur ke tempat yang Johan infokan.


Sementara di jalur pantai, anak buah Ruby sudah berhasil mengecoh bodyguard Sam dengan berpura-pura akan menembak mobil Sam.


Menggunakan senjata laras panjang, anak buah Ruby yang menjadikan mobil Sam sasarannya telah membuat bodyguard Sam merasa keadaan darurat hingga menangkap kedua pria misterius itu adalah sebuah prioritas bagi mereka.


Anak buah Ruby berbelok ke arah berbeda dengan tujuan Sam dan Lian. Ruby tertawa melihatnya.


"Dasar bodoh! Meninggalkan tuanmu untuk digigit serigala kelaparan hanya untuk mengejar tikus liar" ejek Ruby yang melihat mobil bodyguard Sam berbelok arah.

__ADS_1


'Good girl, tetap bersama Samuel dan terus arahkan ke pantai. Kita segera lakukan rencana kita'


Ibu Ery


Kini hati Lian kian berdebar kencang, tangannya semakin terasa dingin setelah membaca pesan dari Ruby.


Lian tak bisa berbuat banyak di akhir perjalanan hidupnya. Lian hanya bisa pasrah.


"Kalau jawaban lo nanti bikin hati gue bahagia, gue bakalan berenang di lautan lepas dan menunjukkan betapa hebatnya gue sebagai pria yang sedang menuju kedewasaan, Li" kata Sam penuh semangat.


Sejak tadi senyumnya terus merekah, Sam sangat bahagia karena penantiannya akan segera berakhir dan diapun yakin jika Lian akan menjawab seperti apa yang selama ini dia pikirkan.


"Aku hanya berharap yang terbaik, Sam. Semua rencana manusia bisa saja Tuhan patahkan karena Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk umatnya" lagi-lagi jawaban Lian terdengar ambigu di telinga Sam.


"Selama ini gue terlalu jauh dari Tuhan, Li. Gue jadi nggak yakin kalau Tuhan masih ada buat jadi sandaran gue. Karena selama gue ada dalam kesulitan pun, gue nggak pernah merasa adanya kasih sayang Tuhan untuk gue" jawab Sam yang memang selama ini tak pernah mengingat Tuhan-nya.


"Aku pun sama, sam. Selama ini aku seperti lupa jika punya Tuhan. Kepahitan hidup membuatku harus berpikir bagaimana caranya untuk tetap bertahan hidup tanpa ingat untuk meminta kepada Tuhan" kata Lian.


"Apakah terlambat jika sekarang aku meminta agar Tuhan memberimu umur yang panjang agar bisa tetap menjalani hidup dengan kebahagiaan, Sam?" tanya Lian yang sudah tak bisa lagi menahan air matanya.


Sam jadi bingung dengan Lian yang tiba-tiba menangis. Padahal tujuannya sudah sangat dekat. Tiga puluh menit lagi pasti dia sudah sampai di tempat tujuan.


Tapi karena melihat Lian yang menangis, Sam jadi menepikan mobilnya di jalanan tak beraspal tapi ditata dengan batu makadam yang rapi.


Jalanan sepi yang jarang dilewati jika bukan weekend.


"Kenapa lo nangis, Li?" tanya Sam.


"Kenapa sejak tadi obrolan lo kuga terdengar aneh. Sebenarnya lo kenapa? Apa ada yang berusaha nyakitin lo? Atau mau celakain lo?" tanya Sam sambil menghapus jejak air mata yang terus saja turun di pipi Lian.


Tapi Lian hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sudah tak bisa lagi membendung air mata yang sudah ingin tumpah sejak tadi pagi. Lian sudah diambang batasnya.


Tak lama saat mobil Sam menepi, diikuti sebuah mobil yang turut berhenti tak jauh dari tempat Sam. Sekitar lima meter di jarak aman untuk memudahkan mereka kabur setelag urusannya selesai.


Seorang pria bertopi kupluk dan bermasker keluar dari mobil itu dan mengetuk pintu mobil Sam yang masih berusaha menenangkan Lian.


Rencana Ruby sudah mulai dijalankan.

__ADS_1


__ADS_2