My Angel Baby

My Angel Baby
Syok Berat


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|20. Syok Berat|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Seperti ma-ling yang tertangkap basah mencuri sendal mahal para jemaat, Louis dan Angel berhambur mencari posisi ketika pintu terbuka tanpa suara dan Rita muncul sambil menyapa.


Louis berdiri dan berdehem dengan suara canggung yang dalam. Sedangkan Angel, memejamkan mata sambil menunduk dan menata kembali folder kedalam lemari. Ah, benar-benar memalukan. Ini sangat memalukan. Angel merasa seperti menjilat ludahnya sendiri setelah tadi dia sempat berkata pada Rita jika tidak akan berusaha dekat dengan Louis. Tapi, tidak seperti yang dilihat, semua yang terjadi memang tidak disengaja. Kedekatan yang tiba-tiba terjadi itu memang tidak di sengaja oleh Angel, apalagi oleh Louis. Mereka hanya tidak sengaja—


“Saya tinggal ngecek persiapan panggung di lapangan dulu ya, Ngel. Nanti kalau sudah ketemu, tolong letakkan di meja saya saja.”


Lamunan Angel merutuki kebodohannya sendiri buyar seketika setelah mendengar suara Louis menginterupsi isi kepalanya yang sedang tidak di tempat semestinya. Ia lantas menoleh dan mengangguk canggung ketika tatapan matanya tidak sengaja bersinggungan dengan mata Rita.


Rita? Jangan ditanya. Wanita itu sudah senyum-senyum sendiri dengan bibir dilipat ke dalam, dilengkapi dengan wajah gelisah seperti menahan kentut. Ini sangat memalukan. Angel ingin menenggelamkan dirinya di dasar laut agar nanti tidak mendapat candaan dari Rita yang pastinya akan membuat dirinya mati kutu.


“I-iya, pak.”


Louis berjalan mendahului Rita, sedangkan wanita itu mengekor namun menyempatkan diri untuk berbalik dan memberi isyarat kepada Angel untuk meminta penjelasan.


Melihat itu, Angel menggigit sudut bibirnya dan memejamkan mata. Sial. Kenapa harus ke gap dengan posisi ambigu seperti itu sih?


Sepertinya, Rita salah paham.


***


“Nah, pasti ini?” kata Angel bermonolog setelah menemukan dokumen yang dimaksud oleh Louis. Ia menghela nafas lega setelah meletakkan benda tersebut diatas meja kerja sang atasan, kemudian melirik jam tangan di lengan kirinya. Jam makan siang.


Angel mengeluarkan ponsel, memotret folder dan mengirimnya kepada Louis. Setelah itu ia bergegas keluar untuk mengisi perutnya yang sudah mulai protes ingin diisi.


Beginilah keunggulan bekerja di kota besar dengan Lebel perusahaan ternama. Tidak perlu khawatir untuk urusan perut. Di salah satu lantai bangunan, terdapat berbagai menu makan siang dan cemilan gratis untuk para pegawai.



Louis yang sedang sibuk memberi arahan kepada Rita, dikejutkan oleh getaran ponsel di dalam saku celana bahannya. Ia bergegas meraih ponsel tersebut dan melihat apa yang tersuguh disana. Ternyata sebuah pesan, dan datangnya dari seseorang yang sempat membuatnya berdebar beberapa saat lalu, Angel, siapa lagi memangnya.


Ia mendorong layar ponselnya ke atas, kemudian menekan balon pesan dan muncul dua pesan beruntun yang dikirim dalam satu waktu.


📷


Dokumennya sudah ketemu dan saya letakkan di meja, sesuai perintah bapak. :)


Emoticon itu, yang selalu berhasil membuat dua sudut bibir Louis tertarik kebelakang membentuk senyuman. Ia pun menekan papan pesan untuk membalas.


Thank you.


Setelah itu, ia kembali melanjutkan pekerjaannya dengan hati semakin riang. Ia seperti tidak merasakan beban apapun dikedua pundaknya. Seperti bebas setelah terpenjara oleh sesuatu yang tak kasat mata selama beberapa bulan. Sekarang dia merasa menjadi seorang freedom man.


Berbeda tempat, Angel yang sudah menyelesaikan sesi makan siang, tiba-tiba saja membutuhkan kamar mandi. Ia bergegas menuju kamar mandi umum yang bisa digunakan oleh pegawai dari semua devisi. Mulanya sepi hingga kemudian telinganya menangkap samar suara ketukan sepatu dan dua orang wanita sedang berbincang. Angel yang memang belum rampung dengan urusan kamar mandi, terpaksa harus mendengarkan isi percakapan dua wanita yang sepertinya tidak mengetahui keberadaannya disini.

__ADS_1


“Iyuh, males banget deh gue lihatnya. Pak Louis juga, ngapain di kasih hati ya? Jangan-jangan mereka emang ada main dulu di belakang mbak Caca?”


“Gue juga heran. Kenapa pak Louis kayak baik banget ke dia. Padahal, ya dia memang nggak ada apa-apa nya di banding mbak Caca. Sayang banget mereka harus putus.”


“Modal tampang doang. Pasti nanti pak Louis bakal di rayu, berakhir di ranjang sama dia.”


“Ish, jijik gue sama si Angel lama-lama. Banyak tuh yang kayak gitu. Cuma demi dapetin orang berduit, rela badan di himpit.”


Setelah mengatakan itu, mereka tertawa bersama seperti orang paling suci tanpa dosa diatas muka bumi.


Astaga. Mengapa pendapat mereka seburuk itu padanya?


Angel menahan sesak dada nya yang begitu menyayat dan perih. Seburuk itukah asumsi orang tentang dirinya? Ia bahkan tidak pernah melakukan keburukan kepada mereka. Tapi mengapa mereka tega berkata seperti itu dibelakangnya?


Ia bergegas membersihkan diri, kemudian merapikan penampilan. Sedangkan diluar sana, kedua wanita itu tidak lagi bersuara. Mungkin mereka terkejut karena ada orang lain selain mereka berdua di dalam toilet. Dan semua terasa semakin kikuk setelah dua wanita itu melihat Angel yang keluar dari dalam salah satu bilik toilet. Mereka saling tatap dan hanya membisu, tidak banyak bicara seperti sebelumnya.


Angel berjalan menuju westafel yang juga menjadi tempat kedua wanita itu bergunjing. Ia beralibi menata penampilan didepan kaca, sambil membenarkan letak blazernya.


Terkadang, sikap tegas dan sarkasme itu diperlukan untuk menghadapi orang-orang seperti mereka yang suka mengumbar keburukan atau menggunjing orang lain di belakang orang yang sedang mereka bicarakan.


“Puas kalian membicarakan saya, hm?” kata Angel sambil menyalakan kran air dan membilas telapak tangan dengan sabun, setelah itu menatap bayangan diri pada pantulan kaca toilet yang begitu luas dan bersih. “Saya harap, tidak ada orang lain selain saya yang kalian bicarakan dengan asumsi yang sangat buruk seperti itu.” Angel mengibaskan tepian blazer, kemudian menoleh dan tersenyum lembut. “Hargai orang lain jika kalian ingin dihargai kembali. Oke?”


Setelah itu, Angel berlalu meninggalkan keduanya dalam diam. Ia bahkan tak peduli lagi jika kedua orang itu akan semakin menjadi-jadi saat membicarakan nya didepan orang lain, nanti. Ya, Angel yakin sekali jika itu akan terjadi. Peringai keduanya sudah terlihat jelas.


Ia berniat kembali bekerja saja daripada meladeni tatapan aneh orang-orang padanya. Mungkin perkataan seperti yang baru saja ia dengar akan sedikit menguji mentalnya, tapi jangan salah, Angel sudah teruji jauh lebih menyakitkan sebelum mereka mengatakan gunjingan. Sedih memang sempat hinggap, tapi Angel tidak akan selamanya meratap. Dia akan tetap berusaha tenang, dan kuat meskipun kaki seorang berjalan di atas duri yang membuat langkah berdarah-darah.


“Oy, jeletot.”


Angel tau betul suara siapa yang baru saja menyapa perungunya. Ah, sebenarnya Angel malas meladeni si luKong yang usilnya minta ampun itu. Oke, pura-pura tidak mendengar itu jawaban paling relevan. Jeletot bukan namanya, tidak ada alasan untuk menoleh.


“Heh, malaikat!”


Malaikat?


Angel menoleh, lalu tersenyum manis.


“Oh hai, Luk.” sapa nya sambil melambai bersama senyuman termanis yang ia punya kepada Lukas. “Mau ketemu sama Om kamu?”


Pria itu mendecak, lalu membiarkan kamera Canon EOS 90D miliknya itu menggantung didepan dada bidang yang tadi, sempat membuat kaum hawa menjerit-jerit saat melihatnya. Dengan catatan yang perlu digaris bawahi dengan warna yang sangat tebal, bukan kaum hawa didepannya ini. Menurut Lukas, Angel ini ada gangguan penglihatan karena tidak pernah tergoda oleh pesonanya yang kharismatik dan selalu berhasil membuat wanita klepek-klepek.


“Engga. Mau ketemu sama kamu.”


Bibir Angel terbuka hingga deretan giginya yang rapi dan putih terlihat begitu indah diantara tawanya yang menggoda Dimata Lukas.


“Oh, ada perlu apa?” tanya Angel sambil kembali mengambil langkah. Disusul Lukas yang mensejajarkan diri disampingnya.


“Kangen aja sih. Minggu depan udah balik Amrik soalnya.”


Waktu memang cepat sekali berlalu. Angel bahkan tidak bisa merasakan kehadiran Lukas di sini, sudah mau kembali saja dia ke negara sana.


“Kamu itu selalu pinter kalau urusan ngerayu cewek. Udah berapa banyak cewek Amrik yang kamu rayu seperti itu?” kelakar Angel yang dihadiahi tawa lebar oleh Lukas.


“Nggak ke itung. Banyak.”

__ADS_1


“Dasar playboy cap ular phyton.”


Tawa Lukas semakin menggelegar hingga membuat beberapa staff yang sedang berjalan hendak kembali ke ruang kerja, menoleh ke arah mereka berdua, lalu berbisik-bisik.


“Sialan. Justru itu yang cewek Amrik cari. Ular phyton yang kuat dan tahan banting.”


Angel menepuk keras lengan Lukas. Bisa-bisanya dia berkata me-sum didepan wanita indo tulen seperti dirinya.


“Memangnya kamu enggak nyari yang kayak aku? Yang ular phyton nya gede?!”


What The Fruit?!!!


Lukas sialan!!


“Udah deh. Kamu pulang aja. Kuping aku semakin penuh dosa dengerin candaan kamu yang nggak ada manfaatnya itu.” kata Angel yang sudah memasang wajah sebal bukan main. Lukas memang seperti itu, dulu. Tapi sepertinya kadar kegilaan pria itu semakin bertambah setelah bertahun-tahun hidup di negara orang.


Tak merasa bersalah, Lukas semakin tertawa dan mengejar Angel hingga masuk kedalam ruang kerjanya. Disana, mereka tidak lagi berdua. Louis yang baru saja kembali dari lapangan menoleh ke arah pintu yang membawa datangnya Angel dan Lukas.


Niatnya untuk segera mengecek dokumen ia urungkan. Tungkai kaki jenjangnya berputar pada dua objek didepan matanya yang kini juga sedang menatap ke arahnya.


“Se-selamat siang, pak. Bapak sudah makan siang?”


Tidak mengindahkan pertanyaan Angel, fokus Louis justru terpatri pada Lukas yang datang seenak hatinya kesini, macam perusahaan sendiri.


“Ngapain kamu di tempat saya?” tanya Louis menginterogasi dengan tatapan mengintimidasi pada Lukas. “Ini bukan tempat umum yang bisa kamu datangi seenak hati.” lanjut Louis menegaskan agar pria itu tidak lagi datang tanpa tujuan dan izin tertentu yang menjadikannya bisa datang dengan bebas ke tempat ini.


Lukas melirik Angel sejenak. “Ah, aku hanya ingin bertemu Angel. Aku ingin melepas rindu karena Minggu depan harus sudah kembali ke Amrik.” katanya penuh percaya diri sambil menaik-turunkan kedua alisnya yang tebal.


Tatapan Louis turun beberapa derajat pada wajah Angel yang kini terlihat menegang.


“Lalu, kamu pikir dia bisa bertemu dengan kamu tanpa izin dariku?”


Lukas tersenyum disudut bibir. Sarkasme terlihat jelas di wajah Lukas, bahkan Louis.


“Memangnya, siapa kamu, Lou?”


Angel berniat melerai perang dingin sepasang saudara ini, karena sepertinya diantara kedua orang ini, belum terlihat ada yang berniat mengakhiri.


“Sudah lah, Luk. Kamu—”


“Kamu bukan siapa-siapa nya yang bisa melarang aku untuk bertemu dengannya.”


Kali ini, Louis membuang muka muak sambil tertawa tanpa suara.


“Bukan siapa-siapa katamu? Coba tanya Angel. Aku ini siapa?”


Siapa memangnya? Ya atasannya di kantor lah.


Angel hampir saja menjawab demikian. Bibirnya sudah terbuka dan hampir menjawab pertanyaan yang ternyata dijawab oleh Louis sendiri, namun mampu membuat Angel freeze di tempatnya berdiri dengan mata terbuka lebar dan jantung berdetak tidak karuan karena panik dan syok berat.


“Perlu kamu tau. Angel itu kekasihku. Beberapa bulan kedepan, kami akan bertunangan. Dan kamu, jangan pernah ganggu dia lagi. Paham?” []


###

__ADS_1


Nggak ada angin nggak ada hujan, 💨💨💨


Lou, kamu kecepatan ngomongnya. Bikin anak perawan pak Patrick syok berat sampe melongo tuh!


__ADS_2