
"Ada apa?" tanya Sam dengan malas saat Ravi memanggilnya.
"Maafin gue yang tadi sudah ngejek lo" ujar Ravi dengan wajah bonyoknya.
Meski terkesan sepele, meminta maaf adalah hal yang paling sulit dilakukan oleh mayoritas umat manusia di muka bumi ini.
Tapi Rafi yang terkenal dengan sebutan preman sekolah nyatanya mampu membuktikan jika dia telah berhasil melawan egonya untuk mau mengaku salah dan meminta maaf. Dua hal yang kadang belum mampu untuk dilakukan oleh orang lain yang kadang status sosial dan ilmunya lebih tinggi daripada seorang Ravi.
"Nggak salah kuping gue? Lo minta maaf?" ulang Sam yang tak percaya dengan apa yang telinganya tangkap.
"Iya. Tadi memang gue yang lebih dulu ngejek lo sampai terjadi perkelahian itu. Dan sesuai janji gue sama lo, mulai sekarang gue mau jadi teman Lo" ujar Ravi sambil menyodorkan tangannya sebagai tanda permintaan maaf dan memulai pertemanan yang baru.
Sedikit berfikir, benarkah manusia seperti Ravi bisa dipercaya? Sebenarnya Sam sedikit ragu. Bahkan dua teman yang sudah dia anggap lebih dari sekedar sahabat saja ternyata bersikap lain dibelakangnya.
Namun, sebagai siswa baru di lingkungan yang baru, Sam tidak mungkin untuk memberikan kesan buruk terhadap temannya. Karena dengan hal sepele begini, Sam bisa saja menjadi bully an sepanjang masa sampai tamat waktu sekolahnya jika harus meninggikan egonya.
"Oke. Kita berteman. Tapi lo harus ingat untuk tidak membuat masalah sama gue untuk ke depannya" ujar Sam sambil menerima uluran tangan Ravi.
"Tentu saja brother. Kita kan teman, jadi gue nggak akan bikin masalah sama lo. Bahkan kalau ada orang yang nyari masalah sama lo, gue bakalan belain lo. Oke?" kata Ravi mantap, meski wajahnya masih lebam karena pukulan dari Sam, tak membuat Ravi menahan senyumnya.
Dan di sore yang diiringi rasa lapar, Sam telah membuat janji baru dengan siswa ternakal di sekolahnya. Janji pertemanan yang mungkin saja berguna baginya di masa depan.
"Lo diem saja, biar gue dan teman-teman gue yang bersihin toiletnya" kata Ravi.
"Jangan dong. Kita semua salah, jadi wajar lah kalau hukuman ini kita jalankan bersama. Lagian biar cepat kelar juga kan. Gue sudah laper banget nih" kata Sam menolak saran Ravi.
"Terserah lo juga sih. Tapi makasih kalau lo mau bantuin" ujar Ravi yang kembali melangkahkan kakinya menuju toilet dan segera mencari peralatan untuk membersihkannya.
Setelah peralatannya mereka temukan, Sam sangat terkejut melihat penampakan toilet pria si sekolahnya. Sangat kotor dan bau.
"Gila sih ini. Apa nggak ada tukang bersih-bersihnya?" tanya Sam sambil menutup hidungnya.
"Ada, tiap sore juga dibersihkan kok. Tapi ya gitu, paginya sudah kayak gini lagi. Lo kayak nggak tahu cara pria pakai toilet saja Sam" kata Ravi yang juga menelisik isi toilet dan sedikit bingung darimana untuk memulai membersihkannya.
"Yasudahlah, kita bersihkan saja. Gue pengen cepat pulang nih" kata Sam.
"Gimana sih cara pakai benda ini?" tanya Sam yang sedang memegang alat pel yang embernya berupa alat yang bisa berputar.
__ADS_1
"Beginian aaja lo nggak tahu cara pakainya?" tanya Ravi.
"Beneran gue nggak bisa. Lagian mana pernah gue pegang ginian. Dirumah kan banyak art yang bisa gue suruh" ujar Sam yang melupakan perjanjian dengan kakaknya tang tidak akan mengatakan pada siapapun tentang siapa dia yang sebenarnya.
"Lagak lo, Sam. Iya gue akui lo memang tampan, tapi masak iya orang yang punya banyak art sekolah di tempat yang ditanggung pemerintah?" kata Ravi sedikit mengejek, naluri alaminya mungkin memang tukan ejek.
Sam tersadar, tak seharusnya dia berkata begitu. Bisa lebih parah hukuman dari kakaknya kalau sampai ada yang tahu dari keluarga mana dia berasal.
"Lo percaya sama omongan gue?" tanya Sam.
"Jelas enggak lah" jawab Ravi tegas.
"Baguslah kalau begitu. Sekarang kasih tahu gue bagaimana cara menggunakan alat ini. Sumpah gue lapar banget, pengen cepat pulang" keluh Sam lagi.
Mereka berlima pun segera melakukan tugasnya. Dan semua itu selesai saat guratan langit orange mulai terlukis.
"Huft, ternyata meski cuma bersih-bersih nggak segampang yang gue bayangin" ungkap Sam yang sudah menaiki motornya dan melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Gita.
Suasana senja yang redup semakin membuat netranya betah untuk melihat pemandangan sekeliling yang belum pernah Sam lakukan sebelumnya saat mengendarai mobil.
Semakin dia melihat pemandangan kota, semakin tersadar dia dengan keadaan sosial di sekitarnya.
Tanpa musik keras lewat headset saat menyetir, dan tanpa batas kaca mobil untuk melihat sekitarnya, kini pelajaran kehidupan yang Sam dapat semakin banyak.
Saat remaja itu tengah berhenti di lampu nerah yang menyala, seseorang dengan kostum badutnya segera berlari ke arah jalanan dan meninggalkan anaknya sendirian di depan ruko yang sedang tutup.
"Ngapain tuh badut ninggalin anak kecil disana? Kan bahaya kalau sampai tuh bocah lari ke tengah jalan" ungkapnya sedikit khawatir.
Tapi saat melihat si badut menari tanpa musik di padatnya lalu lintas, dan berjuang mencari receh dengan saingan pengamen jalanan dan pengemis yang bertebaran, Sam semakin prihatin dan membandingkan kondisinya dengan mereka.
"Ternyata banyak banget orang susah. Gue nggak nyangka kalau mereka harus selelah itu demi recehan yang nggak seberapa" ucapnya yang memlilih untuk berbelok dan kembali berhenti untuk melihat kelanjutan dari si badut setelah lampu hijau menyala.
Sam terharu saat badut itu membuka kepala kostumnya, dengan senyum berpeluh, ayah badut itu menghitung uang receh bersama anaknya dengan sesekali bercanda.
"Meski mereka susah, tapi gue iri karena mereka bisa sedekat itu. Beda banget sama gue yang jarang mau kalau papa atau mama ingin menghabiskan waktu bersama" ucap Sam lirih.
"Duh, jadi kangen mama gue yang cantik" kata Sam.
__ADS_1
Dan saat Sam melihat si ayah badut hanya memberikan sebuah roti untuk dimakan bersama dengan anaknya, hati Sam merasa tergugah.
Hanya ada penjual somay yang dekat dengannya, dan hanya ada uang lima puluh ribu dalam kantong seragamnya karena seharian tadi dia tidak jajan saat di sekolah.
"Sore pak, hai adek" sapa Sam sambil ikut duduk bersama pak badut.
"Sore nak" jawab pak badut dengan senyum letihnya.
"Ini tadi saya beli tiga porsi somay, bapak sama adek mau nggak makan bareng sama saya?" tawar Sam sambil menjulurkan dua porsi somay pada mereka.
"Terimakasih nak" ucap pak badut senang.
Pak badut juga membukakan sebungkus somay dan sebotol air mineral kecil untuk anaknya yang nampak berbinar juga.
Terlihat Sam juga bercengkerama bersama mereka sambil menikmati makanannya. Dan semua itu tentu terekam dan dilaporkan oleh mata-mata yang sengaja Lia kirim untuk mengawasi dan menjaga Sam dari jauh.
Mata-mata yang dilarang untuk mendekat meski selain jika Sam berada dalam keadaan urgent dan memang sangat butuh pertolongan.
"Lihatlah ma, sedikit demi sedikit Sam mulai tahu arti berbagi. Lia sangat senang karena Sam bisa dengan mudah belajar arti hidup dari lingkungan sekitarnya" ucap Lia memperlihatkan layar ponselnya pada Viviane setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya.
"Mama jadi rindu padanya. Boleh nggak sih kalau mama menemui Sam?" ucap Viviane terharu, setetes air mata yang keluar dari pelupuk matanya segera dia usap dengan punggung tangannya
"Jangan dulu ma. Baru juga kemarin dia pergi, masak iya hari ini mama sudah mau menengok?" kata Lia keberatan.
"Tapi mama rindu pada adikmu itu, Lia. Biasanya dia selalu menggoda mama kalau ada dirumah. Sekarang rumah ini terasa sepi tanpa adanya Sam" keluh Viviane.
"Sudahlah ma. Biarkan Sam belajar menghargai hidup. Lia yakin dia akan menjadi lebih baik jika tahu sendiri bagaimana sulitnya hidup tanpa bayangan orang tua. Dan kehidupan yang keras akan membuatnya menjadi pribadi yang lebih tangguh" tekad Lia sudah bulat demi kebaikan adiknya.
Dan Lia yakin jika Sam pasti bisa melalui semua ini dengan baik. Dan kelak saat dia dipercaya untuk mewarisi kerajaan Alexander, Sam bisa menangani perusahaan keluarganya.
.
.
.
.
__ADS_1