My Angel Baby

My Angel Baby
Darurat


__ADS_3

Bayu bingung harus mendahulukan korban yang mana untuk ditangani terlebih dahulu. Nalurinya sebagai seorang dokter menginginkan untuk menyelamatkan semua korban yang penuh darah.


Tapi langkahnya tertuju pada Lia yang sedang saling peluk dengan Sam dan seorang gadis dalam pangkuan Sam.


"Apa yang terjadi, Sam?" tanya Bayu panik melihat banyak darah dari kepala pasien.


"Dia tertembak, kak. Tolong selamatkan Lian. Tolong kak" baru kali ini Bayu mendengar rengekan Sam. Tak tega pria itu mendengarnya. Sam nampak sangat terpuruk.


Bayu memeriksa kondisi Lian dengan seksama. Melihat lubang kecil di kepala belakang Lian yang masih mengeluarkan darah.


"Dia banyak kehilangan darah. Tolong pinjam jaket kamu ya, Lia" kata Bayu yang melihat Lia tengah mengenakan sebuah cardigan tipis.


Lia mengangguk dan segera melepaskan cardigannya dan memberikan kepada Bayu yang masih memeriksa kondisi Lian.


"Denyut nadinya masih teraba meski sangat lemah. Dia sangat kritis" ucapan Bayu semakin membuat Sam tak bisa berpikir apapun. Isi di dalam kepalanya hanyalah harapan akan keselamatan Lian.


Segera Bayu mengikat kepala Lian dengan cardigan milik Lia meski tak terlalu kencang. Berharap aliran darah tak sederas tadi meski dia tahu jika menghentikan darah yang mengalir itu adalah sebuah kemustahilan.


"Segera bawa pasien ke rumah sakit. Keadaannya darurat" kata Bayu kepada petugas Ambulance yang datang dengan tandunya.


Sam tak mau jauh dari Lian. Pemuda itu turut berlari dan masuk ke dalam Ambulance yang membawa gadisnya.


Sementara di lain tempat, nampak Ruby yang juga masih menangis dengan Johan yang terpejam dipangkuannya. Ada sebuah pistol yang teronggok tak jauh dari tempat Ruby yang duduk bersimpuh.


"Lengan kamu juga berdarah, Lia" ucap Bayu yang merasa khawatir atas kondisi Lia.


"Tenang, kak. Ada suster yang akan merawatku. Tapi disana Johan juga sedang terluka. Tolong selamatkan dia" pinta Lia dengan mata yang berkaca-kaca. Tapi Lia masih tak mau untuk lebih dekat dengan Ruby yang dalam ingatannya masih sangat berbahaya.


"Baiklah" ucap Bayu sambil mengangguk, membiarkan suster melihat luka di lengan Lia dengan sekotak kecil peralatan medis yang dibawanya.


Sementara Bayu mendekati Ruby yang menangis dengan kencangnya sambil memeluk tubuh Johan yang sudah terpejam.


"Tolong beri saya ruang untuk melihat kondisinya, bu" pinta Bayu yang membuat Ruby terdiam dan melotot padanya.


"Dia anakku! Jangan sentuh dia! Jangan sakiti dia" kata Ruby sambil memeluk Johan dengan eratnya.


"Iya, saya tahu dia anak ibu. Tapi lihatlah kondisinya, dia sedang butuh pertolongan" ucap Bayu berusaha sabar.


"Memangnya kamu siapa? Berani-beraninya kamu menyuruhku untuk melepaskan anakku?" tanya Ruby dengan tatapan tajamnya.


"Saya ini dokter, bu. Saya akan melihat kondisi anak ibu sebelum dibawa ke rumah sakit. Lihatlah disana sudah ada petugas yang membawa ambulance" kata Bayu masih berusaha meyakinkan Ruby.


"Benar kamu dokter?" tanya Ruby ragu, Bayu sedang memakai pakaian santai.


"Baiklah jika ibu masih ragu. Biarkan saya melihat kondisi anak ibu dan biarkan dia tetap berada di pangkuan ibu" kata Bayu memutuskan. Tak ada banyak waktu untuk bersikap keras disini, nyawa Johan taruhannya.

__ADS_1


"Apa dia juga tertembak?" tanya Bayu yang sedang mencari luka bekas tembakan.


"Iya... Aku yang melakukannya. Tapi aku tidak bermaksud untuk melukainya. Tiba-tiba saja dia memasang badan untuk melindungi si brengsek keturunan Alexander" kata Ruby dengan nada marah dan kembali melemah setelah melihat kondisi Johan.


Bayu hanya bisa mendengarkan dengan fokus yang terpecah untuk memberi pertolongan pertama pada Johan.


"Masih ada peluru yang bersarang di perutnya. Entah mengenai organ apa hingga dia pingsan begini" kata Bayu sambil menunggu petugas medis membawakan tandu untuk membawa Johan.


Tak berapa lama, satu rombongan polisi datang setelah salah satu anak buah yang Lia bawa menelepon mereka.


Bersamaan dengan sulitnya petugas medis untuk membawa Johan karena dihalangi oleh Ruby yang bersikeras tak mau melepaskan anaknya.


Polisipun segera memisahkan mereka. Membawa paksa Ruby dengan borgol di tangannya sedangkan Johan dimasukkan ke dalam Ambulance.


Iringan Ambulance yang membawa pasien dengan kecepatan penuh dan sirine yang memekakkan telinga. Semoga mereka semua selamat sampai tiba di rumah sakit.


Begitupun Lia dan Bayu yang kini sudah berada didalam mobilnya lagi. Membuntuti ambulance yang membawa Sam dan temannya.


Ponsel Bayu berdering sesaat setelah kendaraan mereka melaju dibelakang ambulance.


"Silvi?" gumaman kecil Bayu terdengar oleh Lia yabg membuat gadis itu menoleh dan ikut melihat ke layar ponsel Bayu yang menampilkan Silvi sedang memanggil.


Bayu menoleh pada Lia seolah meminta persetujuan untuk menolak atau menerima panggilan itu.


"Halo Sil" sapa Bayu dengan mata yang menatap Lia yang menunduk, seolah sedang merajuk.


"Hai kak, aku hanya ingin mengingatkan tentang janji pertemuan kita di restoran X nanti malam" kata Silvi.


"Ah iya. Untung saja kau mengingatkan. Maaf aku lupa dengan janji itu. Hari ini aku sedikit sibuk" kata Bayu.


"Jadi nanti kakak bisa kan menemuiku?" tanya Silvi memastikan.


"Akan aku usahakan. Sebenarnya aku ada jadwal operasi jam lima sore nanti. Semoga saja operasinya berjalan lancar agar aku bisa menemuimu" kata Bayu.


"Tentu akan aku doakan semoga urusanmu lancar, kak. Baiklah, sampai jumpa nanti malam" pamit Silvi.


Bayu langsung menutup sambungan teleponnya tanpa menjawab ucapan terakhir Silvi.


"Kakak janjian dengan Silvi?" tanya Lia dengan perasaan yang tak bisa diartikannya.


"Ya. Sudah sejak kemarin Silvi memintaku untuk menemuinya. Ada hal penting yang ingin dia katakan" jawab Bayu.


"Dimana?" tanya Lia.


"Di restoran X nanti jam delapan malam" jawab Bayu.

__ADS_1


"Bukankah restoran itu ada di salah satu hotel? Kenapa tidak janjian di restoran biasa saja sih, kak?" tanya Lia sedikit heran, pikirannya sudah aneh saat dua orang berbeda gender mengadakan pertemuan di hotel.


"Aku juga tidak tahu, Lia. Karena Silvi yang menentukan tempatnya" kata Bayu sedikit bingung, tumben sekali Lia se kepo itu padanya.


"Begini saja, bagaimana kalau kamu ikut saja? Kita temui Silvi bersama?" tanya Bayu berusaha membuat Lia tidak merasa kecewa.


"Apa boleh?" tanya Lia.


Bayu tersenyum kecil. Dalam hatinya merasa senang karena Lia yang semakin protektif terhadapnya. Apakah perasaannya terbalaskan?


Atau mungkin Lia hanya tidak ingin ada rahasia diantara mereka berempat? Di geng Nirwana yang sudah terbentuk sejak dulu.


"Tentu saja boleh" ujar Bayu.


Lia tersenyum singkat. Rasanya lega sekali saat Bayu mengizinkannya ikut pergi menemui Silvi.


"Tapi bagaimana kalau Silvi ingin membahas hal penting yang aku tidak boleh tahu, kak?" tanya Lia.


"Bagiku tidak ada hal yang lebih penting selain melihatmu bahagia, Lia" kata Bayu tanpa melihat ke arah Lia karena untuk mengatakan hal itu butuh keberanian yang luar biasa bagi Bayu.


Lia merasa sangat senang mendengarnya. Keduanya nampak salah tingkah dan malu-malu.


Hingga mobil mereka sudah berbelok ke rumah sakit Persada, perasaan khawatir akan keselamatan Johan dan Lian kembali menghantui Lia.


Bayu segera berlari memasuki UGD untuk bertukar informasi dengan dokter jaga agar penanganan bisa segera dilakukan.


Sedangkan Sam yang tak boleh ikut masuk harus ditenangkan dengan ekstra oleh Lia dengan tidak melepaskan pelukan kepada adiknya yang sedang kalut dan ingin menerobos masuk ke dalam UGD.


"Tenang Sam. Biarkan Lian ditangani oleh dokter. Jangan mempersulit pekerjaan mereka hingga nanti kau akan menyesal saat mereka tak bisa leluasa bertindak untuk menolongnya" kata Lia sambil tetap mendekap adiknya.


"Apa doa bisa selamat, kak?" tanya Sam yang sudah mulai bisa berdamai dengan keadaan.


"Kakak juga tidak tahu. Tapi kakak berharap yang terbaik untuk Lian dan juga Johan" jawab Lia.


"Apa kak Johan juga separah Lian?" tanya Sam lagi, merengek manja pada kakaknya.


"Ya" jawab Lia dengan air mata yang tiba-tiba turun dari pelupuk matanya.


"Semua ini gara-gara ulah wanita itu, kak. Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Tapi Lian selalu menyebutnya ibu" kata Sam.


"Aku tidak menyangka jika wanita itu yang telah menyuruh Lian untuk berbuat jahat padaku, kak" Lia mendengarkan semua cerita Sam dengan sabar, padahal dia sendiri juga sedih melihat keadaan Johan.


"Apa kau tahu siapa wanita itu, Sam?" tanya Lia.


"Saat kak Johan tertembak oleh wanita itu, aku sempat mendengar kalau kak Johan memanggilnya mommy. Apa benar kalau dia itu mommynya kak Johan, kak?" tanya Sam yang ingat dengan ucapan terakhir Johan sebelum tertembak.

__ADS_1


__ADS_2