
...MAB by VizcaVida...
...|08. Draft Masa Lalu|...
...Selamat membaca...
...[•]...
“Jadi, kamu masih nggak ada pacar?”
Angel menggeleng menerima pertanyaan konyol itu dari Lukas. Pria ini sejak duduk di kursi cafe, tak kehabisan kata-kata untuk memunculkan pertanyaan random kepada Angel, si mantan gebetan.
“Kamu enjoy hidup tanpa kekasih?” canda Lukas tak tau di untung, tanpa perasaan.
Anggap saja seperti itu. Angel hanya tidak ingin di cap sebagai wanita tidak tau diri karena berani berharap mengencani anak-anak orang kaya. Dia hanya ingin hidupnya tenang, itu saja menurutnya sudah lebih dari cukup.
“Cari dong, Jel. Kan banyak tuh cowok. Biar kamu ngga mengenaskan karena Jomlo. Mau jadi hantu perawan?”
“Hussh!!” tukas Angel cepat dengan mata melotot lebar hendak lepas dari tempatnya.
Angel menatap Lukas semakin tajam saja, ia kesal sekali saat Lukas mendo'akan dirinya jadi hantu perawan. Tapi, kata-kata jujur pria ini terkadang ada saja benarnya. Tapi kembali lagi, Angel hanya tidak ingin dicap sebagai wanita matrealistis karena dirinya berasal dari kalangan biasa. Dia merasa tidak pantas dan terlalu percaya diri untuk menjalin hubungan dengan siapapun.
“Nggak ah, Kong. Ntar yang ada aku patah hati kayak kamu. Minggat luar negeri biar bisa lupain mantan. Tapi ujung-ujungnya balik indo gara-gara nggak bisa move on.” jawab Angel lebih tak berperasaan dengan suara tawa seperti kunti-l anak.
“Sialan.”
Interaksi keduanya memang tidak jauh beda seperti Tom and Jerry yang selalu kejar-kejaran sekalinya bertemu. Tapi ini beda versi, judulnya pun berbeda, *lu**Kong** and Jeletot***. Sampai-sampai dulu, seluruh seisi sekolah hafal kalau mereka bertemu, atau berpapasan tanpa sengaja. Pasti ada adu mulut atau tenaga.
“Kamu sendiri, udah punya gandengan? Atau belum bisa move on dari mantan gebetan?” goda Angel yang dapat seringai dan tawa dari Lukas.
“Kayaknya . . . opsi yang kedua deh jawabannya.”
Angel terbahak. ”Mantan gebetan terindah pastinya, ya?”
“So pasti.”
Kedua nya tertawa lantang hingga menjadi pusat perhatian. Dua orang norak tak tau tempat, pasti yang ada dalam kepala mereka adalah kalimat seperti itu.
“Setelah ini, kamu ada agenda apa?” tanya Lukas sambil menyesap kopi pekat nya dalam cangkir. Entah mengapa, meskipun lama hidup di luar negeri, seleranya tentang kopi hitam khas tanah air tak pernah surut.
“Tidak ada, palingan sibuk ngerjain pesanan.”
Lukas memicing. “Pesanan apa?”
Angel tersenyum. Dia tak pernah malu mengakui kalau dia menjual kue buatannya sendiri. Justru, jika ada seseorang yang balik bertanya ia gunakan sebagai kesempatan untuk promosi. Siapa tau nanti pesanannya nambah, itu artinya keuntungan yang ia dapat juga semakin banyak. Otak bisnis harus tetap jalan, nggak perlu malu. Itu prinsipnya dalam menjalankan usaha.
“Ada sih, bisnis kecil-kecilan.”
Lukas mengangguk. Ia tau sejak dulu jika Angel adalah gadis pekerja keras. Dia juga tau siapa dan bagaimana kehidupan Angel dan keluarganya yang sudah tidak utuh. Karena itulah, dia selalu membandingkan semua wanita yang berusaha mendekatinya dengan sosok Angel yang sudah melekat bak permen karet dalam ingatannya. Kegigihan Angel menjalani hidup, gadis yang tidak mudah putus asa, dan gadis penyabar yang membekas dihatinya. Lukas selalu menjadikan Angel sebagai patokannya mencari gandengan. Kalau nggak cocok, langsung cut.
“Waduh, calon pengusaha nih?” goda Lukas yang membuat kedua pipi Angel merona seketika karena malu.
“Aminin dulu deh. Siapa tau nanti dikabulkan Tuhan.”
__ADS_1
“Dan kalau Tuhan ngabulin do'a itu, orang pertama yang harus kamu cari adalah aku.” tukas Lukas penuh percaya diri.
“Oh kenapa?” seru Angel tak terima. Mengapa harus teman songong macam Lukas?
Luka menarik nafas besarnya, memutar bola mata malas. “Lha kan tadi yang do'ain aku.”
Ah, sepertinya Angel harus menyerah berdebat dengan pria luar angkasa ini.
“Oke. Oke.” sahut Angel benar-benar sudah menyerah, dan hal itu justru membuat Lukas tertawa keras dan menarik perhatian pengunjung sekali lagi.
“Yang ulet. Siapa tau nanti setelah pensiun dari dunia kerja yang ruwet, bisa di jadikan referensi pekerjaan baru.”
Ide briliant. Lukas memang tak tertandingi dalam hal seperti ini. Pria ini selalu pandai melihat peluang, seperti pekerjaannya membidik sesuatu yang akan menjadi objek dalam fotonya.
“Aku setuju sama ide kamu.” sahut Angel cepat sambil menjentikkan jari.
Obrolan seru terjadi begitu saja. Mereka menikmati waktu reuni kecil-kecilan yang dilakukan dadakan itu. Lantas, Lukas yang merasa sudah mengajak Angel terlalu lama pun sadar, “Kamu nggak pingin pulang? Senyaman itu ya ngobrol sama aku. Atau . . .” Lukas menarik turunkan alisnya, menggoda Angel dengan senyuman jail. “—kamu sedang melepas rindumu padaku?”
Angel melotot. Ia menggigit sudut bibirnya menahan jeritan kesal, lalu menepuk telapak tangan Lukas yang ada diatas meja. “Rindu, rindu, gundulmu!!”
***
Sesampainya didepan tempat tinggal Angel, Lukas menengok keluar dari kaca depan mobil yang ia naiki. Dengan ekspresi yang menyebalkan, dia tetap menelisik tempat tinggal Angel.
“Makasih ya. Sampai bertemu lain waktu.” pamit Angel pada Lukas setelah berhasil melepas seatbelt yang mengungkungnya sepanjang perjalanan.
“Kamu nggak salah tinggal di sini?”
“Maksud kamu nggak salah itu gimana?”
Ah, mungkin sekarang kehidupannya sudah lebih baik daripada dulu. Semoga saja.
Lukas tersenyum. “Nggak jadi. Ya udah, pulang sana.”
Angel menarik pengait pintu dan turun dari mobil Lukas. “Sekali lagi makasih ya, Kong.”
“O Em Ji. Serius kamu panggil aku dengan nama itu?!”
Angel tertawa, merasa berhasil membuat Lukas kesal. “Oh tentu saja iya.”
“Benar-benar.”
“Oke, bye.”
Angel menutup pintu mobil dan mundur beberapa langkah, menjauh dari mobil hitam mengkilat yang dikemudikan oleh Lukas.
“Aku di Indonesia selama sebulan. Aku harap kita sering bertemu sampai aku kembali ke Amrik.”
Angel menyanggupi dengannsebuah senyuman. Dia tidak bisa janji pada Lukas. “Semoga saja.”
Tangannya melambai ketika mobil Lukas mulai bergerak meninggalkannya. Ia tatap punggung mobil itu hingga benar-benar jauh. Draft masalalu nya bersama Lukas kembali terbuka dari laci memori.
Wajah pria itu boleh berubah dewasa, tapi sifat usilnya masih tetap sama.
Aku cinta kamu, Jel.
__ADS_1
Angel tersenyum, kemudian menunduk menatap sepasang sepatu yang ia kenakan. Ada sedikit sesal membuat Lukas melarikan diri meninggalkan negara kelahirannya dulu. Namun pria itu tidak pernah menaruh dendam padanya. Bahkan, Lukas terlihat baik-baik saja sekarang.
Mantan gebetan terindah pastinya ya?
So pasti.
Pembicaraan mereka beberapa saat lalu masih melekat erat di kepala dan pandangan Angel. Lukas, menganggap dirinya mantan gebetan terindah? Lucu sekali.
“Senyum-senyum sendiri. Sedang bahagia ya?”
Pertanyaan itu sukses membuat Angel terlonjak kaget hingga melompat kecil.
“Astaga, kenapa bapak ada disitu?” tanya Angel sambil menunjuk tempat Louis berdiri dan kebun bambu secara bergantian, heran melihat Louis yang tiba-tiba muncul dari balik punggungnya yang merupakan kebun bambu buatan si pemilik apartemen. Ia pikir ada sebuah makhluk tak kasat mata yang ingin menyapanya, tapi ternyata yang ada didepan matanya adalah makhluk tampan luar biasa yang perlu diabadikan di momen kehidupan.
Louis mengedikkan bahu tidak mau jujur jika dia sudah menunggu Angel disini sejak sore, sekembalinya dari kantor tadi.
“Saya telepon kamu beberapa kali tapi tidak dijawab.”
“Oh, benarkah?” sahut Angel panik sembari merogoh totebag nya dan mengeluarkan ponsel. Untuk kesekian kalinya mata Angel melebar. Ia melihat tujuh panggilan tidak terjawab dari Louis. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan karena menyesal. “Aduh, maaf ya pak. Saya tidak dengar.”
Louis mengangguk santai dan begitu tenang. Tapi berbeda dengan Angel yang kini sedang berdebar tidak karuan. Antara perasaan takut, dan tidak enak karena tidak menjawab telepon Louis, bossnya karena terlalu asyik bersama Lukas.
“Tidak masalah.” jawab Louis masih dengan ketenangan luar biasa di wajahnya.
Angel menatap takut ke arah Louis. Melihat penampilan sedikit berantakan Louis yang justru membuatnya suka. Louis terlihat seksih dengan penampilan seperti itu.
Hei, sadar!
Buru-buru Angel mengalihkan perhatian.
“Oh, ada perlu apa bapak menghubungi saya?”
Louis sedikit gelagapan padahal sudah menyiapkan jawaban. Tapi, dengan pembawaan nya yang tenang, ia berhasil menjawab pertanyaan Angel tanpa menimbulkan kecurigaan wanita itu padanya.
“Ah, saya mau minta daftar jadwal Minggu depan.”
Angel sedikit tidak percaya. Biasanya, Louis tidak sepeduli itu sebelum dia mengirim pesan padanya. Tapi hari ini?
“Ah, kenapa bapak jauh-jauh datang kesini. Bapak kan bisa mengirim pesan kepada saya. Nanti saya kirim surel nya ke E-mail bapak.”
Benar. Pilihan ceroboh. Apa sekarang Louis terlihat seperti orang amatiran?
“Ah, kamu benar. Tapi, saya tadi reflek saja memutar kemudi kesini. Saya pikir lebih cepat lebih baik.” kilah Louis tak mau Angel menangkap niat tidak jelasnya datang kesini.
Angel mengangguk paham, kemudian mengecek ponselnya, dan mengirim jadwal pekerjaan Louis yang ia simpan di akun gugle nya, kemudian mengirimkan ke E-mail Louis.
“Ah, oke. Terima kasih. Kalau begitu, saya pamit.” kata Louis sedikit kikuk. Ia menggaruk pelipisnya karena gugup.
Lalu, dengan ragu-ragu Angel menawarkan kepada Louis. “Apa bapak tidak mau mampir dan minum teh sebentar?” katanya canggung. “Anu, siapa tau bapak capek mengemudi. Ada sisa kue kastengel juga dirumah.”
Bodoh. Ini terlalu, canggung dan tidak masuk akal. []
###
Boleh komennya dong akak...☺️
__ADS_1