
...MAB by VizcaVida...
...|12. Toko Boneka|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Pemandangan jalanan kota masih sama padatnya seperti biasa. Tadi, Louis sempat kesulitan membujuk Rebecca karena keponakan cantiknya itu menolak berpisah dengan Angel. Kelihatannya terlanjur seru bermain, dan Rebecca terlanjur nyaman sama wanita yang duduk di sisi kursi kemudinya ini.
Memang, tadi Angel telah berhasil merebut penuh perhatian Rebecca dan berakhir menjadi teman bermain berbagai jenis koleksi Barbie yang dimiliki oleh Rebecca yang ada dirumah Hutama. Senyuman Louis mengembang begitu mengingat bagaimana telatennya Angel meladeni keceriwisan Rebecca yang terus mengajak bermain tanpa istirahat.
Hingga akhirnya hari sudah berubah sore tanpa dirasa, Angel berpamitan karena harus mengerjakan pesanan kue nya untuk besok. Sedangkan Rebecca, tidak mengizinkan Angel pulang karena gadis kecil itu seperti menemukan teman baru untuk bermain.
Bibir Louis semakin lebar mengembangkan senyuman ketika teringat apa yang membuat Rebecca berhenti menangis dan melepas kepergian Angel.
“Rere tidak boleh nangis lagi, oke. Nanti cantiknya ilang.”
Louis masih ingat betul bagaimana Angel menenangkan keponakannya dalam gendongan wanita tersebut yang begitu dipenuhi kasih sayang.
“Auntie janji, nanti datang kesini lagi buat main sama Rere.”
“Nggak mau. Maunya sama Auntie sampai besok.”
Drama itu masih berlanjut hingga pada akhirnya Angel mengecup telapak tangan Rebecca yang membuat suara tangis gadis kecil itu mereda.
“Auntie janji, besok Auntie kesini lagi untuk bertemu Rere, oke. Besok Auntie bawakan boneka Barbie baru.”
“Benar? Auntie nggak bohong?”
“Promise.” Kata Angel sambil mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Rebecca yang disambut bahagia oleh gadis kecil bertubuh gembil dan menggemaskan itu. Semua anggota keluarga Hutama termasuk Louis terperangah atas sikap Angel yang penyabar dan penyayang dalam meladeni Rebecca, si manja cucu pertama keluarga Hutama itu.
Lalu, lamunan itu buyar ketika suara Angel menyapa pendengaran Louis.
“Bisa saya minta tolong, pak.”
Louis memperbaiki ekspresi, lantas menoleh sejenak kearah Angel. “Ah, tentu.”
__ADS_1
“Bisa minta antar saya ke toko boneka yang paling dekat dari sini.” pinta Angel tanpa mengurangi kesopanan pada nada bicaranya didepan Louis.
“Lho, mau ngapain?”
“Saya punya hutang janji sama Rere. Saya mau beli Barbie untuk dia.”
Louis sedikit gugup. “Nggak perlu, Ngel. Dia pasti sudah lupa besok.”
Louis melirik Angel dan melihat gadis itu menggeleng. “Tidak. Saya tidak ingin Rere menganggap saya pembohong dan tidak mau lagi berteman dengan saya. Saya harus menepati janji saya, pak.”
Louis menatap kagum pada Angel. Jarang-jarang ada wanita seperti Angel ini. Ia jadi ingat bagaimana dulu Caca juga sangat menyayangi Rebecca seperti yang dilakukan Angel.
“Ya sudah. Padahal kamu nggak perlu melakukan itu lho, beneran. Itu cuma alibi Rere biar kamu nggak pulang.”
Angel terkikik. “Tidak apa-apa, pak. Anggap saja hadiah pertemanan karena Rebecca bersedia untuk menjadi teman saya.”
Louis melajukan mobil Lexus nya dengan kecepatan sedang, menuju tempat yang diminta Angel, yakni toko boneka yang biasa ia datangi bersama Rebecca jika keponakannya itu sedang manja padanya. Louis akhirnya hanya bisa mengangguk karena tidak ingin membuat Angel kecewa, karena Angel terlihat sangat antusias berteman dengan Rebecca.
“Saya suka anak kecil, dan saya sangat suka saat keponakan bapak mau bermain bersama saya.” kata Angel membuka topik. “Tapi maaf, kalau malah jadi merepotkan bapak.”
“Tidak apa-apa.”
Louis melepas seatbelt, diikuti oleh Angel. Kemudian mereka keluar dari mobil bersama-sama. Tak menunggu diperintah, Angel segera menyampaikan langkah dibelakang punggung Louis, hal yang selalu ia lakukan ketika berjalan bersama pria tersebut. Namun jantung Angel seperti berhenti berfungsi sejenak ketika telapak tangan Louis menggandeng pergelangan tangannya.
“Sini, berdiri disamping saya. Kita tidak sedang akan bertemu klien.”
Angel bertanya-tanya mengapa Louis berkata demikian. Kata-kata itu membuatnya salah sangka, membuatnya besar kepala. Dan yang menyedihkan dari bagian itu adalah, dirinya sendiri yang merasakan semua itu. Tidak dengan Louis.
Akan tetapi, Angel tidak bisa berbuat apapun selain diam dan mengikuti kemauan Louis. Sebab diam-diam ia juga suka seperti ini. Angel suka dengan posisi dimana dia berada disamping Louis. Ia merasa dihargai dan dilindungi.
Langkah mereka sampai di deretan rak boneka Barbie dengan berbagai merk dan harga. Ada yang harga ratusan ribu hingga puluhan juta. Angel merasa bodoh karena tidak memikirkan selera cucu keluarga Hutama yang memang sejak bayi makan saja memakai ‘sendok emas’.
Ditengah kalutnya otak dan hati tentang selera dan harga, Angel dikejutkan oleh teguran Louis tentang sesuatu yang hendak dibeli oleh sekretaris itu.
“Pilih yang biasa saja.”
Namun Angel tidak mau imagenya rusak hanya karena terlalu memikirkan nominal.
“Saya akan membeli sesuai yang saya inginkan, pak. Saya tidak terlalu peduli dengan nominal selagi saya suka.”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Angel menangis dalam hati. Bisa-bisanya ia sumbar begitu, padahal terkadang membeli cela-na dalam baru harga seratus ribu saja dia pikir-pikir dua kali.
Louis tersenyum. “Kak Robert dan kak Stefy tidak pernah mengajarkan Rebecca untuk membeli sesuatu dengan harga mahal.”
Kalimat itu sukses membuat Angel membeliak, ia terkejut. Apa ini hanya alibi Louis agar dia setuju dengan ucapannya tadi?
“Kak Stefy tidak suka jika anaknya terlalu dimanja oleh harta. Jadi, mereka memutuskan untuk mengajarkan Angel agar tetap pada porsi sewajarnya saja.”
Angel tersipu, dia menunduk dan menemukan satu Barbie yang cantik dengan gaun pesta yang indah. Lalu, ia meraihnya dan meneliti benda tersebut. Ia mengarahkan Barbie pada Louis dan meminta pendapatnya.
“Bagaimana dengan yang seperti ini? Apa menurut bapak, Rere akan menyukainya?”
Mereka sudah seperti pasangan yang sedang memilih hadiah untuk anak mereka. Bahkan, keduanya menjadi perhatian banyak pasang mata karena visual mereka yang terlihat begitu rupawan.
Louis menerima boneka berambut pirang dan bergaun pesta berwarna pink dari Angel. Ia melihat sekilas, kemudian melirik price tag yang ada di punggung boneka.
“Boleh, Rere pasti akan suka. Biasanya dia suka yang pakai gaun seperti ini.” terang Louis memberitahu Angel tentang selera keponakannya itu.
“Oh benarkah? Baiklah saya akan ambil yang ini.” kata Angel sumringah. Ia senang karena tidak sia-sia mengajak paman dari Rebecca, karena pamannya ini tau selera sang keponakan. “Ah, saya juga mau membelikan Rebecca boneka karakter.” kata Angel melanjutkan setelah memasukkan boneka itu kedalam tas belanja. Lalu berjalan antusias menuju rak boneka karakter buah-buahan. Louis mengerutkan kening. Rebecca tidak pernah mau jika Louis atau orang tuanya membelikan boneka seperti ini.
Lantas Louis berusaha memberitahu Angel, namun melihat wajah bahagia Angel, Louis pada akhirnya tidak sampai hati dan memilih diam ketika Angel meraih sebuah boneka besar berbentuk strawberry berwarna merah yang memiliki mata dan bibir yang sedang tersenyum.
“Semoga Rebecca suka.” gumamnya yang masih terdengar jelas di telinga Louis, lantas memasukkan boneka tersebut ke dalam tas belanja yang sekarang terlihat penuh karena strawberry jadi-jadian itu ikut bergabung disana.
“Sudah. Sementara ini saja. Nanti kalau Rebecca suka, saya mau belikan dia boneka yang lain.”
Louis menatap tidak enak karena keantusiasan Angel kepada keponakannya. Entah mengapa, satu sisi dirinya sedikit luluh.
“Bapak tunggu di depan pintu keluar kasir saja. Biar saya sendiri saja yang antri.”
Mungkin, jika hadiah itu tidak di tujukan Angel untuk keponakannya, Louis ingin membayarnya untuk Angel. Tapi berhubung itu hadiah dari Angel untuk keponakan tersayang nya, Louis pun rela menjatuhkan image dengan membiarkan Angel membayar sendiri. Ah, rasanya dia seperti pria yang tidak berguna karena membaurkan wanita yang jalan bersamanya membayar sendiri.
Setelah membeli boneka dan mengantar Angel kembali sampai didepan gerbang apartemen, Louis menatap lurus akan kehadiran seseorang disana.
“Lukas?” []
###
Lukas ngapain? 😂
__ADS_1