My Angel Baby

My Angel Baby
Kejutan di pesta Kejutan


__ADS_3

Pesta anniversary pernikahan Vicky dan Viviane akan dilaksanakan sekitar jam delapan malam di sebuah restoran mewah di pusat kota.


Tidak seperti rencana awal yang hanya ingin merayakan pestanya secara sederhana di kediaman keluarga Alexander, karena beberapa rekan dan teman dari keduanya yang tahu mengenai pesta itu malah membuat kegiatan mereka jauh dari rencana awal.


Vicky dan Viviane mengundang beberapa rekannya untuk datang ke pestanya. Meski hanya Bima dan Bayu, perwakilan dari keluarga Ken dan tentu saja Ken juga, Silvi dan orang tuanya, dan beberapa orang yang sedang dianggap dekat dan penting dengan mereka berdua.


Mengenakan gaun terbuka yang masih sopan, Viviane terlihat sangat serasi dengan Vicky yang memakai jas formal berwarna senada dengan busana keluarganya.


Lia pun terlihat sangat cantik malam ini dengan sedikit polesan make up tipis untuk menunjang penampilannya.


"Kau terlihat sangat cantik Lia" ujar Silvi yang baru datang dengan mamanya, sementara sang ayah hanya menitipkan salam karena tugas negara yang tak bisa ditinggalkan.


"Terimakasih Sil, kaupun juga sangat cantik" balas Lia sambil memeluk sahabatnya itu dan menyalami mama Silvi.


"Silahkan duduk nyonya, saya harap kalian akan menikmati pesta sederhana. Maafkan kami jika banyak kekurangan" ucap Viviane sedikit formal.


"Terimakasih Viviane, kau tidak usah terlalu sungkan seperti itu padaku. Bukankah anak kita bersahabat, jadi berusahalah agar kita sebagai orang tua juga bisa menjadi teman" ujar mama Silvi dengan yang memang sedikit lebih tua daripada Viviane.


"Tentu saja kak, aku akan berusaha menjadi teman yang baik" kata Viviane, begitupun Vicky yang juga bersikap humble pada orang tua Silvi.


"Kak Ken datang juga? Aku senang sekali" kata Lia yang selanjutnya menyambut kedatangan Ken setelah membiarkan Silvi menuju ke kursi yang sudah disediakan.


"Tentu saja aku datang. Kau bisa ngambek sampai berbulan-bulan jika aku tak datang kan, Lia?" canda Ken dengan tampang datarnya, sementara perkataannya sudah sukses membuat Lia tertawa.


"Maaf kalau aku tak datang dengan orang tuaku. Mereka sedang ada di Hongkong sampai beberapa minggu ke depan, jadi aku datang dengan om Tora. Papa dan mama mengirim salam untuk tante Vivi dan Om Vicjy. Dan ini hadiah dari mereka" kata Ken sambil menyodorkan sebuah kotak berukuran tanggung pada Viviane.


"Oh, terimakasih banyak Ken. Sampaikan salamku untuk kedua orang tuamu ya. Sejujurnya melihatmu datang saja sudah memberi kebahagiaan bagi kami, tidak perlu repot dengan hadiah" ujar Viviane.


"Ini bukanlah hal yang besar, tante. Terimakasih sudah mengundangku" kata Ken yang selanjutnya menduduki tempat yang sudah disediakan untuknya.


Menjelang waktu yang sudah ditentukan untuk jalannya pesta, Lia masih celingukan karena belum ada tanda-tanda datangnya Bayu di sana. Begitupun Viviane yang juga seperti mencari keberadaan Bima.


"Kalian sedang mencari siapa?" tanya Vicky yang sebenarnya tahu jika Lia menunggu Bayu, tapi dia masih selalu merasa sedikit keberatan karena istrinya yang seperti sedang mengkhawatirkan Bima.

__ADS_1


"Kak Bayu kenapa belum datang juga ya, ma?" tanya Lia.


"Entahlah sayang, kita tunggu saja sebentar lagi" jawab Viviane.


Karena kebiasaan Bima dan Bayu yang selalu on time, membuat perasaan kedua wanita itu sedikit khawatir. Lia dan Viviane sama-sama sedang berdoa untuk keselamatan Bima dan Bayu karena memang tadi mereka sempat mengatakan jika sudah di perjalanan dan membawa sedikit surprise untuk mereka berdua.


"Sudahlah, kita mulai saja acaranya. Tidak enak dengan tamu undangan yang lain yang sudah hadir tepat waktu" sindir Vicky yang akhirnya punya celah untuk mengolok Bima dan Bayu.


"Yasudah, pasti nanti kak Bima datang meski sedikit terlambat. Semoga saja tidak terjadi sesuatu pada perjalanan mereka" tutur Viviane tulus, memang pertemanan mereka masih terjalin dengan sangat baik meski Viviane sudah tak lagi banyak turun tangan di perusahaan kosmetik yang pernah melambungkan namanya dulu.


Membiarkan si kecil Sam kembali diasuh oleh susternya, Vicky menggandeng tangan Viviane untuk menuju sebuah panggung kecil yang memang disiapkan untuk meletakkan kue dan juga tempat berkumpulnya keluarga Alexander.


Dan tepat satu langkah sebelum Viviane sampai di tempatnya, terdengar sedikit teriakan dari seorang wanita yang memanggilnya dari jarak yang tak jauh darinya.


"Mbak Ane.... Teganya kamu mau memulai acara ini tanpa menunggu kedatangan kami" ucap seorang wanita di belakang Viviane.


Teriakan kecil itu sukses membuat para tamu juga ikut melihat ke arah sumber suara yang sepertinya sangat Viviane kenal dengan baik.


"Ayu? Kok bisa?" tanya Viviane sedikit terkejut dengan kedatangan Ayu yang tangannya ada dalam genggaman Bima.


"Karena kamu yang tak memberiku kesempatan, menjadikan keolenganku jadi dipertemukan dengan Ayu yang ternyata juga sangat ayu" kata Bima memuji penampilan kekasih barunya itu, yang tak lain adalah Ayu, mantan partner kerja dan partner curhat Viviane dulu.


"Ya Tuhan, aku benar-benar tidak menyangka melihat kedekatan kalian" kata Viviane masih dengan ketidakpercayaannya.


"Bagaimana bisa kalian menjalin hubungan tanpa pernah memberitahu padaku? Apa kau tak menganggapku teman lagi, kak?" tanya Viviane pada Bima yang hanya tersenyum menanggapinya.


"Nggak tahu nih mas Bima, baru saja tadi siang mengutarakan perasaannya padaku, langsung saja sorenya dia membawaku ke Jakarta, mbak. Dan ya, disinilah sekarang aku berada" kata Ayu dengan sedikit tersipu.


"Aku kan harus gercep kali ini, An. Aku nggak mau kejadian yang dulu terulang lagi, saat aku sedang menata waktu untuk mendapatkan seseorang, malah kesantaianku dimanfaatkan orang lain untuk mendapatkan wanita itu" ujar Bima dengan sedikit sindiran terhadap Vicky yang dirasa saling berebut Viviane dulu.


"Enak saja merebut, kau tidak tahu saha kalau kami memang sepasang kekasih sejak zaman sekolah dulu. Jadi, siapa yang sebenarnya berusaha merebut Vivi dariku?" tanya Vicky tak terima.


Meski keduanya kerap saling berlempar sindiran, tapi sebenarnya mereka berdua sudah menjadi teman yang saling membutuhkan baik dalam hal pekerjaan maupun kehidupan kekeluargaan.

__ADS_1


Dan Viviane yang sudah terbiasanya dengan hal itu hanya bisa tersenyum agar situasi tak semakin memanas.


"Jadi, surprise yang kak Bima katakan tadi di telepon itu adalah kedatangan Ayu disini?" tanya Viviane.


"Hehehe, iya. Bagaimana, apa kau terkejut?" tanya Bima.


"Tentu saja aku sangat terkejut, aku masih tidak menyangka jika kalian akan menjalani hubungan yang serius" ujar Viviane yang masih juga belum melepaskan jabatan tangannya dengan Ayu.


"Ah, mbak Ane. Aku jadi malu. Sudahlah, tidak usah membahas hal ini lagi. Ini kami bawakan sebuah hadiah dari kami. Semoga mbak Ane dan Pak Vicky menyukainya" kata Ayu sambil menyerahkan sebuah kotak dari dalam tasnya.


"Terimakasih Yu" kata Viviane.


"Baiklah, silahkan untuk melanjutkan acara ini. Maaf kalau kami sempat menjadi pengganggu" kata Bima sambil menggiring anak dan kekasih barunya ke tempat yang sudah disediakan.


Tentunya setelah membiarkan Bayu untuk sekedar menyapa Lia, sahabat baiknya.


Kini, acara yang katanya sederhana itu telah dimulai. Membiarkan kebahagiaan menyapa pasangan Vicky dan Viviane yang tengah berbahagia dengan perayaan hari jadi pernikahan mereka berdua.


Dan betapa bahagianya Lia saat prosesi pemberian kado, ternyata kado berupa album foto yang tadi sore Lia dapatkan idenya dari seorang Bayu, dan eksekusinya dari Ken, ternyata kado itu mendapat perhatian khusus dari orang tuanya hingga mereka tak segan-segan untuk menampilkan kolase foto-foto itu di hadapan semua tamu undangan.


Kakaguman terlihat dari wajah para tamu karena kolase foto yang dinilai sangat tinggi nilai seninya.


Dan hal itu membuat Lia tak segan untuk memamerkan jika album itu adalah hasil karya dari seorang Ken, kakak kelas sekaligus sahabat baiknya.


Mendapat perlakuan istimewa di hari spesial keluarga sahabatnya, membuat Ken yang secara pribadi memanglah seorang pendiam membuat rasa bangga dalam hatinya membuat hidungnya kembang kempis


Sejenak dalam hatinya, Ken malah terfikir untuk membuka usaha jasa cetak foto kolase seperti yang telah dia berikan pada Lia.


Memang pemikiran anak seusia Ken masih sangat labil.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2