My Angel Baby

My Angel Baby
Ternyata, Siang Pertama


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|41. Ternyata, Siang Pertama|...


...⚠️⚠️WARNING⚠️⚠️...


...Lanjutan FULL NC'S PART ²¹+...


...BE A WISE READER GUYS...


...Bagi kalian pembaca di bawah umur atau yang merasa tidak nyaman dengan scene yang berhubungan dengan se-ks, silahkan skip saja untuk part ini....


...Udah di peringatkan lho ya, jangan nakal ☺️...


...Terima kasih...


...Selamat membaca untuk yang sudah memenuhi persyaratan legal...


...[•]...


“Oh God,” pekik Angel ketika merasa sesuatu mulai terasa mengoyak dirinya. Ia yakin, milik Louis saat ini masih bekerja keras disana untuk membuat jalan baru untuk berkunjung padanya.


Angel menahan suaranya hingga punggungnya terangkat saat Louis mendorongnya dengan kuat. Ini sudah percobaan kesekian hari ini, tapi belum juga berhasil.


Mereka—terutama Angel—juga sepakat untuk tidak berhenti dan menyerah di percobaan kali ini. Angel tidak ingin membuat Louis kecewa berkali-kali, dan memutuskan untuk menahan semua rasa campur aduk yang memenuhi dirinya.


Hingga Angel bisa merasakan sesuatu menembus dirinya, membuat miliknya terasa penuh juga perih, dan lelehan airmata yang ia sembunyikan, berhasil membuat Louis menemukan jalan baru. Angel meremas kuat kain yang menjadi alas tidurnya, lalu yang terjadi selanjutnya adalah benda itu menyapa semakin dalam ketika Louis memposisikan tubuhnya jatuh diatas tubuh Angel untuk mengetahui bagaimana perasaan Angel.


“Kamu baik-baik saja kan sayang?” tanya Louis parau. Ia juga sudah hampir putus asa, namun berhasil juga pada akhirnya.


Angel mengangguk tanpa berani menunjukkan wajahnya. Louis yang menyadari itu, menarik pelan wajah Angel untuk sampai di pandangannya. Louis hampir melompat turun saat melihat airmata Angel membasahi pipi wanita itu jika Angel tidak menahannya. Ia tidak tau jika apa yang terjadi saat ini, begitu menyakiti wanita yang sangat ia cintai.


“Nggak apa-apa, sayang. Aku nggak apa-apa.” kata Angel dengan wajah sedikit pucat, bibir bergetar dan airmata yang ia usap. “T-teruskan.” titahnya yang membuat Louis semakin tidak tega dan tidak sampai hati untuk bergerak, padahal dirinya juga menahan sakit karena miliknya semakin sesak dan tidak mau di ajak berkompromi sama sekali.


“Maaf ...” bisiknya seduktif, lalu menuruti ucapan Angel. Bergerak perlahan menyesuaikan diri.


Beberapa kali ia mendengar Angel menahan suara pekikan ketika ia bergerak. Hingga tidak ada lagi sesuatu yang perlu di khawatirkan oleh Louis. Angel terlihat sudah nyaman dengan kehadirannya, dan sekarang lebih sering mende-sah dan merin-tih manja.


Waktu terus berputar hingga akhirnya, keduanya jatuh dalam lembah indah surga dunia. Nafas keduanya memburu, dan Louis menarik keluar dirinya dari Angel. Louis menarik selimut hingga naik sebatas leher, kemudian memeluk Angel yang masih berada diposisi awal nya, terlentang.


“Makasih, sayang.” bisiknya pada Angel, mencium daun telinga wanitanya lalu merapatkan pelukan.


Angel yang semula menutup mata, membukanya perlahan untuk melihat jam dinding. Pukul satu siang.

__ADS_1


Gila, lima jam mereka berjuang untuk ini. Bahkan mereka berdua melewatkan ibadah rutin yang biasanya tidak pernah mereka lewatkan. Dan sekarang, Angel merasa tubuhnya remuk redam. Lelah, perih, dan lesu. Semua menjadi satu hingga membuatnya merasa kelaparan.


Angel memiringkan tubuh dan memeluk tubuh kekar Louis yang masih terasa sedikit basah dan panas akibat percin-taan yang baru saja rampung. “Sayang,”


“Eum?” sahut Louis sambil memperhatikan Angel yang posisinya sedikit rendah darinya.


“Lapar.”


Louis terkikik geli. Pasalnya Angel seperti bayi yang butuh asupan makanan saat ini.


“Hahahah, baiklah. Aku pesankan dulu.” kata Louis, langsung bangkit dan meraih ponsel untuk memesan makanan karena mereka tidak sempat melakukan apapun saat bangun tidur tadi pagi, selain rasa penasaran untuk melanjutkan kegiatan semalam yang tertunda. “Mau makan apa?”


“Terserah, asal jangan yang terlalu pedes.” pinta Angel dengan suara lemah karena kelelahan.


Louis tau harus memesan apa. Setelah itu, ia kembali beringsut masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh lembab dan lembut Angel. Kulit mereka kembali bertemu dan hal itu membuat Louis kembali terpancing. Angel bisa merasakan benda yang menempel di area pahanya itu, kembali mengeras.


“Sayang, aku lapar. Kita makan dulu, ya.” bujuk Angel supaya Louis mau memakluminya yang sudah tidak lagi sanggup dan memiliki tenaga jika kembali di ajak bermain, bisa-bisa ia pingsang di tengah jalan.


Louis tertawa lebar. Rupanya Angel menangkap basah si jantan yang mulai nakal lagi. “Iya sayang. Maafkan si jantan yang nggak bisa nahan bira-hi. Kamu sih, nggemesin banget sampai aku nggak bisa menjeda diriku untuk nggak turn on lagi.”


***


Angel melahap nasi kuning yang dibeli Louis lewat aplikasi pesan antar yang tiga puluh menit lalu ia order.


Wanita itu benar-benar kelaparan jika dilihat dari caranya makan. Dan Louis turut menyesal karena membuat anak gadis orang seperti itu. Ia merasa bersalah sudah meminta Angel menurutinya meminta ‘jatah’ pagi-pagi tanpa sarapan terlebih dahulu.


Angel hanya mengangguk dan terus memasukkan suapan nasi kedalam mulutnya. Diam-diam Louis tersenyum melihat Angel. Ia menyendok nasi kuning miliknya dan mulai ikut makan.


“Masih sakit?”


Angel hampir tersedak karena pertanyaan itu. Dia tidak ingin membahas itu di saat seperti ini, karena yakin rona di wajahnya karena malu akan muncul. Tapi, apa salahnya hanya menjawab satu atau dua kali.


“M-masih.” jawab Angel jujur.


“Kalau aku minta lagi, masih sanggup?”


Bukan hanya tersedak, Angel terbatuk hingga hampir muntah karena Louis kembali mengajukan pertanyaan sensitif dan in-tim seperti itu.


“Aduh, maaf ya sayang. Kenapa kamu sampai tersedak begitu?”


Angel mengumpat dalam hati. Wajahnya sudah merah karena tenggorokannya ikut perih karena sedakan nasi dan bumbu ayam ukep yang sedikit pedas. Ia melirik Louis dengan tatapan sengit, kemudian menepuk gemas lengan pria yang menggunakan sleeveless shirt itu cukup keras.


“Sayang, ih. Bisa nggak ngomongin itu pas habis makan aja.” kata Angel merajuk yang justru membuat Louis semakin gemas pada istri cantiknya itu.


“Iya, maafkan suamimu yang nol akhlak ini ya?” katanya sambil mengusap surai Angel masih dengan tawa di bibirnya karena merasa bahagia setengah mati.

__ADS_1


Ya, sekarang ia sudah memiliki sumber kebahagiaan yang akan membuatnya selalu rindu rumah dan akan selalu pulang untuk memenuhi rindunya itu.


Angel adalah rumah nya yang akan selalu ia tuju untuk mencurahkan perasaan dan isi hatinya. Angel akan menjadi tempatnya kembali pulang. Dan Angel adalah prioritas utama baginya. Dia akan menyayangi Angel dalam situasi apapun, dalam suka maupun duka.


“Besok, bagaimana di kantor?” tanya Angel meminta solusi pada Louis untuk bagaimana caranya memperlakukan Louis. Apa biasa saja seperti sedia kala? Atau curi-curi waktu untuk memandang seperti remaja kasmaran? Ah, akan sulit menyembunyikan status mereka.


“Bagaimana yang bagaimana? Ya biasa aja baeb.” sahut Louis, lalu memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.


“Iya tau. Maksud ku, bagaimana kalau ada seseorang yang tau dan menyebar berita yang tidak-tidak tentang kita.”


Louis tetap memakan nasinya dengan tenang. “Jangan khawatir. Itu akan jadi urusanku.”


***


Dan benar saja, semua mata menuju Angel dengan tatapan tidak bersahabat. Sebutan dan julukan-julukan merendahkan sampai melecehkan Angel terima saat langkah kaki jenjangnya baru saja menginjak lantai kantor. Jalan memang tidak selalu mulus, kadang berlubang, kadang berkerikil.


Ia berusaha acuh, sampai dia terpaksa berhenti saat seseorang berkata, “Dia memang cewek mura-han, sih, fix. Background orang tuanya itu pasti.”


Kenapa orang tua harus sampai dibawa-bawa? Angel tidak suka.


Dia memutar tumit, melihat dua presensi wanita yang sedang mengoloknya, kemudian berjalan mendekat yang saat itu juga mematik rasa ingin tau pegawai lainnya yang baru sampai untuk ikut bergabung dan melihat perdebatan yang sedang terjadi.


“Lo ngatain gue mura-han, ja-lang, atau apapun, gue terima. Terserah Lo, gue tetep diem. Tapi, kalau Lo berani bawa-bawa orang tua gue, gue bisa bikin mulut Lo itu menyesal di pengadilan.”


Bukannya diam, mereka malah mencebik berani didepan wajah angel. “Idih, sok ye lu. Lu berani, karena lu dapat perlindungan dari pak Presdir yang lu goda, ya kan?”


Sumpah demi apapun, Angel ingin sekali meremas mulut perempuan di depannya ini. Mereka tidak saling kenal, tapi dengan sangat berani dia mengatai Angel seperti itu tanpa tau seberapa berat perjalanan hidupnya selama ini.


“Terus kenapa? Mau Lo di pecat hari ini juga?” kata Angel mengancam. Ia sudah lelah menghadapi semua ocehan yang merendahkan dirinya, dan sekarang dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Apalagi sampai membawa orang tua.


Di kejauhan, Louis yang baru saja masuk karena harus memarkir mobil terlebih dahulu, melihat keributan dan Angel adalah objek pertama yang dia lihat.


Langkahnya terayun mendekat dengan cepat. Dan kehadiran Louis berhasil membungkam semuanya setelah telinganya berhasil menangkap beberapa perkataan kotor dan kasar yang ditujukan untuk sang istri.


Dua wanita yang tadi terus menyerang dan memojokkan Angel, kini terdiam seribu bahasa. Mereka tertunduk karena kini, yang berdiri didepan mereka adalah sang Presdir.


“Bicara apa kalian?” tanya Louis dingin, dan tak ada yang berani bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri. Suasana berubah senyap. “Jangan menyudutkan orang lain dengan asumsi-asumsi buruk dan kata-kata kasar seperti itu.” lanjut Louis masih dengan ekspresi datar dan suara rendah yang justru terdengar menakutkan ditelinga semua pegawai yang ada dilantai bawah kantor siaran ini. “Saya tidak pernah mengajak pegawai saya berkata tanpa etika seperti yang sudah kalian lakukan pada Angel.”


Louis yang sudah kepalang geram dan marah akhirnya meminta Angel untuk menghubungi semua devisi yang ada di kantor siaran untuk melakukan pertemuan darurat. “Siapkan ruang meeting.” kata Louis menoleh kesamping demi mendapati presensi Angel yang terlihat menahan airmata.


“Baik, pak.” jawab Angel pelan.


“Kita adakan meeting darurat untuk membahas hal ini.” titahnya tak mau dibantah. “Dan untuk kalian, temui saya nanti secara pribadi, setelah meeting selesai.” []


###

__ADS_1


Mamam tuh mulut yang suka julid 🤨


__ADS_2