
"Mama... Bangun ma" tak terasa air mata Lia ikut terjatuh melihat kondisi mamanya yang nampak pucat, gadis itu mengguncang lengan mamanya pelan sambil terisak.
"Lia, sayang. Benar ini kamu, nak?" tanya Viviane sambil berusaha membuka matanya.
"Iya ma. Ini Lia. Aku datang untuk menyelamatkan mama" ucap Lia bahagia. Tangannya terulur untuk membantu Bayu membuka tali di tangan dan kaki mamanya.
"Benar kan ini kamu, nak. Mama tidak sedang bermimpi, kan?" tanya Viviane yang sudah dalam posisi duduk.
Setelah ikatannya terlepas, kedua wanita berbeda usia itu saling berpelukan. Sementara Bayu hanya diam dan berjaga.
"Mama tidak sedang bermimpi, kami datang untuk menyelamatkan mama. Apa mama bisa bergegas untuk pergi dari sini dengan segera?" tanya Lia, dia khawatir jika mamanya terlalu lemah.
"Syukurlah. Kemana papamu? Kenapa bukan dia yang datang kemari dan berusaha menolong mama?" tanya Viviane sedikit tak enak hati, pikiran buruk menyerangnya.
"Papa di luar ma. Tim yang papa bawa sedang berjaga, dan mereka akan datang jika Lia tidak juga keluar dalam dua jam" ucapan Lia membuat hati Viviane menjadi tenang.
Lia dan Bayu berusaha membopong Viviane yang sedikit lemas. Selain sejak kemarin siang dia tidak makan apapun, bekas diikat dalam waktu yang cukup lama membuat otot-otot di tubuhnya menjadi kaku dan sedikit sulit digerakkan.
"Maaf ya ma kalau mama berharap ada papa disini yang datang untuk membawa mama. Papa mengalah setelah Lia bersikeras untuk masuk ke dalam bar ini dan menolong mama" ucap Lia sambil berjalan, rencana mereka ingin segera keluar melewati tangga darurat agar lebih cepat untuk bisa keluar dari gedung itu.
"Tidak apa-apa nak. Siapapun yang datang tentu akan mama sambut dengan bahagia karena itu tandanya kebebasan mama sudah dekat dan bisa segera berkumpul dengan kalian lagi" ucap Viviane.
"Mama tadi pingsan?" tanya Lia.
"Tidak, mama hanya tidur. Mama kelelahan dan kelaparan. Sejak semalam mama takut untuk memejamkan mata karena ada mayat tepat di hadapan mama" jawab Viviane sambil menoleh ke arah mayat Handoko yang sudah nampak sedikit berkerut di beberapa area tubuhnya.
"Apa mama tahu siapa pria dalam akuarium itu?" tanya Lia.
"Tahu. Dia adalah Handoko, pengacara kepercayaan keluarga kak Ruby, keluarga mommynya Johan" jawab Viviane sambil terus berjalan pelan.
"Tunggu. Tadi saat aku dan kak Bayu datang kesini, ada segerombolan orang datang dan membuat kami bersembunyi di suatu tempat. Apa mereka tidak menggangu mama? Bagaimana bisa mama tertidur saat ada musuh?" tanya Lia heran.
"Oh, kalian datang sebelum kedatangan Is dan temannya ya? Ah, seharusnya kalian terus masuk saja, karena mereka itu adalah orang Norita yang sudah ingin mencari uang di jalan yang benar" jawab Viviane.
"Is? Siapa Is?" tanya Lia.
"Ada dua orang yang berlaku baik terhadap mama selama berada di tempat ini. Yaitu Is dan Junet. Is bilang Junet terkena tembakan di lengan kirinya dan terakhir mereka bertemu tadi sore saat Junet berusaha kabur dari tempat ini dalam keadaan terluka" jawab Viviane, langkah mereka sudah mendekati lorong untuk menuju ke tangga darurat.
__ADS_1
"Oh, Junet yang ponselnya mama gunakan untuk mengabari papa ya?" tanya Lia.
"Iya. Dan sejak kejadian itu, mama belum bertemu dengannya lagi. Semoga saja Junet selamat" kata Viviane yang mulai timbul rasa khawatir akan keselamatan Junet.
"Dan para pria yang tadi datang ke tempat mama juga belum tahu keadaan Junet? Dan bagaimana mama bisa percaya terhadap mereka?" tanya Lia.
"Is menceritakan tentang adanya mayat yang diawetkan si ruangan tadi pada dua orang teman kepercayaannya, dan saat mereka bertiga datang untuk memastikan kebenaran ucapan Is, mereka terlihat sangat syok setelah tahu jika ucapan Is benar" kata Viviane.
"Dengan adanya mereka di ruangan itu, mama jadi bisa beristirahat sejenak untuk tidur tanpa rasa takut yang berlebihan, sayang" lanjut Viviane.
"Bahkan mama tak mendengar saat mereka pergi dan saat kau datang bersama nak Bayu" ucap Viviane dengan sedikit kekehan pelan.
"Hei, berhenti kalian!".
Ketiga orang itu berhenti saat mendengar sebuah perintah dari belakangnya. Suara seorang pria dengan beberapa teman di belakangnya.
"Kita kalah jumlah, kak. Apalagi harus ada yang menjaga mama" bisik Lia sambil menghitung ada setidaknya lima pria bertubuh kekar dan berwajah garang di hadapannya. Dengan beberapa yang memakai jaket kulit dan sebagian tatto yang menyeruak keluar dari pakaian mereka.
"Kau tenang saja. Lindungi tante Vivi, biarkan aku yang menghadapi mereka" kata Bayu mantap.
"Tapi kak, bagaimana kalau..." Lia belum menyelesaikan tugasnya saat Bayu melepaskan pegangannya di lengan Viviane dan bersiap untuk menghadapi lima pria di hadapannya.
"Ayo berlindung, Lia" bahkan ucapan Viviane seolah tak terdengar oleh Lia yang masih terpaku menatap Bayu.
"Lia" guncangan kecil di lengan Lia menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Eh iya, kenapa ma?" tanya Lia sedikit gelagapan.
Viviane tersenyum kecil, seolah tahu apa yang ada di dalam otak Lia, membuat gadis cantik itu tersipu malu.
"Ah sudahlah, ayo menepi" ajak Viviane.
Lia mengangguk sambil mengamati jam di lingkaran lengannya.
"Lima belas menit lagi, kak. Lebih dari itu tim papa akan menyelinap masuk juga" kata Lia mengingatkan Bayu yang hanya menjawab dengan anggukan ringan dan kembali fokus untuk melawan lima pria yang masih menunggu serangan dari Bayu.
Tapi tak ada sedikitpun gerakan yang Bayu lakukan, hanya menatap satu per satu pria di depannya seolah sedang menghafalkan sesuatu.
__ADS_1
"Kenapa hanya diam, dokter?" tanya salah satu diantara mereka.
"Siapa yang kau sebut dokter?" tanya Bayu.
"Tentu saja lo, siapa lagi" jawab pria berambut keriting yang bertubuh tinggi dan tambun.
"Aku bukan dokter" sangkal Bayu.
"Sodara gue habis lo operasi pekan lalu, gue sendiri yang nganterin dia dan lo dokternya. Hehe, nggak nyangka kalau gue harus habisin nyawa lo setelah lo selamatkan nyawa sodara gue" ujar pria keriting itu panjang lebar.
Dalam hati Bayu bertekad untuk menangani pria itu paling akhir nanti, agar dia tahu untuk tidak meremehkan profesi dokter yang seolah tak bisa bela diri.
"Banyak bacot" ucap teman si kriting yang berada di belakang tubuhnya, sedikit mendorong temannya untuk bisa menghadapi Bayu.
Tangan lincah Bayu tidak digunakan untuk menangkis ataupun melawan, pria itu hanya mengerakkan tubuhnya ke kiri untuk menghindar sambil mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya dan entah apa yang Bayu lakukan. Namun setelahnya, Bayu seperti sedang mengembalikan sesuatu ke dalam jaketnya.
"Ah sial! Begitu doang lo nggak bisa, bego" ejek si kriting pada temannya yang jatuh terjerembab dan kini tersungkur di belakang Bayu yang kembali fokus menghadap lawannya.
Teman si kriting terlihat pingsan dan kejang-kejang dalam beberapa saat. Tubuhnya menggelepar hebat seperti ikan yang dikeluarkan dari air. Pria itu juga mengeluarkan suara aneh, seperti seekor sapi yang sedang di sembelih, dan itu terdengar mengerikan.
Tak butuh waktu lama, teman si kriting itu nampak terdiam dalam posisi masih telungkup.
"Hei bego! Bangun! Lo ngapain disana?" tanya si kriting sedikit syok.
"Dia kenapa?" tanya salah satu pria pada si kriting.
"Gue nggak tahu. Mungkin dia cuma pura-pura" jawab si kriting dengan rasa penasarannya.
Sepertinya Bayu tak melakukan apapun pada temannya. Tapi mengapa temannya seperti sudah mati begitu?
Keempat pria yang tersisa di hadapan Bayu saling pandang satu sama lainnya.
Dan saat melihat Bayu yang mengangkat satu bibirnya dengan tampang jahat. Keempat pria itu merasa sedikit takut.
"Kalian merasa takut?" tanya Bayu dengan gaya santainya dan tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaketnya.
Bayu maju dua langkah, keempat pria itu reflek mundur dua langkah juga. Membuat Bayu semakin merasa lucu.
__ADS_1
"Majulah! Segera kita selesaikan urusan kita daripada pihak berwajib yang menangani kalian" geretakan Bayu membuat keempat pria itu semakin khawatir.
Apa yang telah Bayu lakukan?