
Silvi sudah tampil cantik malam ini demi menyambut kedatangan Bayu dan berusaha memberinya kabar gembira akan kehamilannya. Tak lupa barang bukti berupa foto dan video dari kejadian di hotel beberapa waktu yang lalu antara Silvi dan Antonio yang memang cukup mirip dengan Bayu.
Bukti yang akan Silvi gunakan untuk menjebak Bayu agar mau bertanggung jawab atas kehamilannya.
Jam delapan lewat sepuluh menit, senyum Silvi terkembang saat melihat Bayu datang dan celingukan karena mencari keberadaannya.
Silvi berdiri dan melambaikan tangan. Bayu yang menoleh segera menghampirinya. Mereka berjabatan tangan, Bayu sedikit tak nyaman dengan baju terbuka yang Silvi gunakan. Apalagi mereka duduk berhadapan, seolah Silvi sedang menguji kedewasaan Bayu sebagai seorang pria.
"Aku sangat senang karena kak Bayu tidak ingkar janji" kata Silvi dengan senyum yang merekah di bibir merahnya.
"Aku tidak akan ingkar janji, Sil" jawab Bayu dengan pandangan ke segala arah, berusaha tak sampai menjatuhkan pandangannya pada Silvi.
"Apa yang ingin kau sampaikan? Tolong segera katakan karena ada hal penting lain yang juga harus aku lakukan" kata Bayu.
Silvi masih berusaha meyakinkan dirinya untuk tetap melanjutkan rencananya, dan kepercayaan dirinya seketika remuk saat seorang gadis dengan senyum manisnya terlihat datang menghampiri mereka berdua.
"Maaf, aku terlalu lama ya kak? Tadi ada telepon dari Samuel, katanya kita harus segera ke rumah sakit untuk melihat kondisi Lian dan Johan, kak" kata Lia sedikit tergesa dan kembali tersenyum pada Silvi.
"Oh, maafkan aku ya Sil. Aku jadi ikut dalam pertemuan kalian karena Samuel yang tak percaya pada semua dokter, dia bilang kalau Lian harus ditangani oleh kak Bayu saja" ucap Lia yang juga ikut duduk diantara mereka.
Kelegaan menerpa Bayu, alasan Lia sangat masuk akal. Sementara dalam hatinya, Silvi sangat muak melihat wajah Lia yabg seolah tanpa dosa karena telah mengganggu pertemuannya dengan Bayu.
"Ehm, tolong jangan marah ya, Sil. Silahkan kamu bicara dengan kak Bagu seolah aku tidak ada. Lanjutkan saja pembicaraan kalian" ujar Lia yang melihat perubahan raut wajah Silvi.
Setelah menarik nafas dalam-dalam, Silvi mengeluarkan dua buah amplop dari dalam tasnya yang membuat Bayu dan Lia penasaran dengan isinya.
"Ini adalah hasil pemeriksaanku, kak. Dan aku hamil atas kejadian yang telah kita lakukan waktu itu" perkataan Silvi membuat Lia sangat terkejut, seolah ada petir yang menyambar diatas kepalanya, tapi dia masih diam. Membiarkan Bayu berkata untuk membela dirinya.
"Kejadian apa maksud kamu, Sil?" tanya Bayu yang masih tenang meski dalam hati sangat takut kalau Lia akan percaya dengan semua ucapan Silvi.
"Kejadian saat kita menghabiskan waktu di hotel ini dan sorry Lia, kita berdua khilaf karena terlalu banyak minum" kata Silvi.
Lia hanya diam sambil membaca hasil pemeriksaan kehamilan Silvi dan melihat hasil foto USG yang tak dipahaminya.
"Benar itu, kak?" tanya Lia tanpa memandang wajah Bayu, takut jika kekecewaannya akan terlihat di wajahnya.
"Tidak, aku tidak pernah bertemu dengan Silvi sejak pertemuan terakhir kita malam itu. Saat kita berdiskusi tentang rencana penyerangan ke bar Norita" jawab Bayu masih berusaha tenang dan menatap dalam pada Silvi yang harus meneruskan rencananya meski sedikit gugup, sudah terlanjur basah, Silvi harus menuntaskannya.
"Ini adalah bukti foto dari rekaman cctv hotel yang aku pinta dari security kemarin. Apa kak Bayu masih mau menyangkal?" tanya Silvi dengan beberapa lembar foto yang dikeluarkannya dari dalam amplop kedua.
Kembali Lia dan Bayu fokus pada foto-foto itu. Bayu mengamati dengan seksama. Melihat hari, tanggal dan jam dimana terlihat dia sedang berjalan mesra dengan Silvi.
Model rambut yang sama, tinggi badanpun hampir sama. Pria yang tersenyum dan terlihat sangat mesra dengan Silvi itu memang sangat mirip dengan Bayu jika dilihat dari bidikan foto.
__ADS_1
"Sebentar akan aku cocokkan waktunya dengan jadwalku" kata Bayu sambil mengeluarkan ponselnya.
Sebenarnya hati Lia terasa sangat panas, entah alasan apa yang membuatnya merasa seperti itu. Panasnya mengalir hingga ke pelupuk mata hingga membuat pandangannya menggabur, sepertinya mata Lia sudah terisi penuh oleh air. Tapi dengan sekuat tenaganya, Lia berusaha untuk taj menjatuhkan air mata itu saat ini.
Diapun tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari lembaran foto itu. Sambil menunggu Bayu mengklarifikasi semuanya.
"Ada jadwal operasi di waktu yang sama, jadi aku bisa pastikan kalau itu bukan aku" kata Bayu sambil meletakkan ponselnya diatas meja dan memperlihatkan jadwal pekerjaannya di rumah sakit.
"Ya, kak Bayu bilang waktu itu mangkir dari pekerjaan kakak demi bisa menghabiskan waktu bersamaku, bukan. Dan kak Bayu tidak menghadiri operasi di hari itu" jawab Silvi sebisanya, dia lupa kalau Bayu bukanlah seorang pengangguran seperti Antonio.
"Percayalah Lia, bukan aku pria yang ada di dalam foto itu" kata Bayu.
"Tapi sayangnya, memang kamu orangnya, kak" kata Silvi dengan tegas.
Lia bimbang. Sedalam apapun perasaan Silvi terhadap Bayu, Lia yakin kalau dia tidak akan menjebak Bayu demi egonya. Tapi Liapun juga bimbang untuk tak percaya terhadap Bayu yang selama ini tak pernah berdusta dengan ucapannya.
"Baiklah. Beri aku sedikit waktu untuk mencari buktinya. Dan kalau sampai terbukti bukan aku orang dalam foto itu, pastikan kalau kau akan aku hapus dari daftar pertemanan kita, Sil" Bayu tak pernah main-main dengan ucapannya.
Silvi sedikit ketar-ketir dibuatnya. Apakah dia memutuskan untuk mundur?
Tidak!
Silvi masih ingin memperjuangkan perasaannya meski dengan cara yang salah. Setelah pertemuan ini, Silvi akan mencari Ery kemanapun untuk bertukar pikiran.
"Kita pergi saja, Lia. Dan akan aku buktikan kepadamu kalau aku tidak pernah melakukan hal sekotor itu dengan Silvi" perkataan Bayu semakin membuat hati Silvi seolah teriris pilu.
Rasa kecewa karena infeksi virus dalam tubuhnya, kecewa karena harus berbuat jahat, dan kecewa karena telah berkhianat pada teman-temannya. Membuat Silvi harus tetap meneruskan rencana jahatnya itu dengan hasil apapun nanti yang akan dia terima beserta semua konsekuensinya.
Sudah terlanjur basah.
"Lebih baik kita segera ke rumah sakit, Lia. Kita lihat kondisi Johan dan teman Sam. Mereka lebih membutuhkan kita daripada seorang pengkhianat yang hanya memikirkan dirinya sendiri" sindiran Bayu hanya membuat Silvi terdiam.
Bahkan dia tak bisa berbuat apapun untuk sekedar mencegah kepergian Lia dan Bayu.
Menyesal?
Tentu!
Tapi sudah di tengah jalan untuk berhenti. Silvi harus tetap meneruskan langkahnya tanpa memikirkan hasilnya nanti seperti apa.
Sepeninggal Bayu, Silvi semakin tertekan karena Ery yang belum juga bisa dihubungi. Silvi hanya bisa berteriak di dalam kamar hotelnya sendirian untuk sedikit melegakan hatinya.
"Aku akan cari kamu sampai ke lubang semut" akhirnya Silvi menghubungi satu-satunya pria yang pasti akan selalu membantunya.
__ADS_1
Panggilan teleponnya sudah terhubung. Dan suara berat dari seorang pria terdengar nyaring di seberang sana.
"Hallo sayangku yang paling cantik. Ada apa?" tanya Pria itu.
"Papa. Apakah papa sedang sibuk?" tanya Silvi dengan manjanya. Seorang putri akan selalu manja pada ayahnya, meski dia sudah sedewasa apapun.
"Papa sudah tidak sibuk. Bahkan papa sering dirumah minggu-minggu ini. Tapi papa malah jarang sekali melihat kamu dirumah, sayang. Apa kamu tidak merindukan papa?" tanya Papanya.
"Tentu aku rindu. Tapi aku sangat sibuk akhir-akhir ini, pa. Ehm, bisakah papa menolongku?" tanya Silvi.
"Tentu. Apapun akan papa lakukan demi kamu, nak" kata papanya.
"Aku butuh informasi tentang seseorang yang bernama Eri" kata Silvi.
"Siapa itu Ery? Sebutkan tentang dia sesuai yang kau tahu. Selebihnya akan papa usahakan" kata papa Silvi.
"Sajauh yang aku tahu, Ery itu adalah pemilik dari salah satu Bar, kalau tidak salah namanya Bar Norita" kata Silvi.
"Dari mana kau mengenal nama itu, nak?" tanya Papanya.
"Rekan kerjaku yang mencarinya, pa" bohong Silvi.
"Jangan berurusan dengan wanita itu, sayang. Karena baru kemarin wanita itu tertangkap setelah buron selama dua hari setelah dia menculik Viviane, mamanya Lia. Bukankah Lia itu adalah temanmu?" kata Papa Silvi.
"Apa Lia tidak bercerita kepadamu tentang kejadian besar itu? Bahkan semua anggota kepolisian berlomba-lomba untuk memecahkan kasus ini karena menyangkut nama besar dari keluarga Alexander" Silvi masih mendengarkan ucapan papanya dengan hati yang sudah tak terbentuk, rasa takut dan kecewa mulai melandanya.
"Bukankah orang yang menculik mama Vivi bernama Ruby, pa?" tanya Silvi, berharap Ery dan Ruby adalah orang yang berbeda.
"Ya, wanita itu bernama Ruby Eria. Pemilik Bar Norita yang didapatkan dari hasil pengkhianatan dengan merampasnya dari tangan Norita. Membunuh wanita tua itu dengan kejam dan membuangnya ke laut. Bahkan kemarin dia menembak putranya sendiri dan sekarang sedang sekarat di rumah sakit. Kamu jangan sampai berurusan dengan wanita itu, nak" pesan papanya adalah sebuah keterlambatan karena Silvi sudah harus berjuang seorang diri setelah menuruti semua akal busuk dari seorang Ruby Eria.
Silvi sangat terkejut, rasanya dia tak kuat untuk menahan berat badannya.
Silvi terduduk diatas ranjangnya dengan perasaan hancur, hingga tak bisa membuatnya untuk sekedar berair mata.
Rencananya yang sudah tertata rapi haruskah hancur berantakan?
Silvi masih akan tetap berjuang. Hingga teriakan papanya dari balik ponsel tak digubrisnya dan membuat papanya jadi bingung.
Karena perasaan yang tak karuan, papa Silvi sampai menggunakan jasa kepolisian untuk mencari kebenaran putri semata wayangnya.
Tak lebih dari satu jam, Silvi kembali dikejutkan karena papanya yang datang menjemputnya ke hotel. Beruntung papanya datang seorang diri.
Silvi berpura-pura selesai pemotretan di sekitar hotel itu dan beristirahat karena sedikit tak sehat.
__ADS_1
Papanya yang percaya membujuk Silvi agar mau pulang bersamanya.