
Lia sudah mempersiapkan diri dengan sangat baik demi jalannya pertandingan final hari ini. Sederet kalimat wejangan telah dia dapatkan dari para guru dan pelatihnya.
Ada empat orang finalis yang keluar dari babak penyisihan kemarin. Dua siswa untuk mewakili kategori laki-laki dan dua siswi untuk mewakili kategori perempuan.
Dan keempat kandidat yang keluar sebagai finalis berasal dari sekolah yang berbeda. Hanya Lia kandidat yang berasal dari Jakarta, sedangkan ketiga lainnya berasal dari luar kota. Karena memang ini adalah pertandingan tingkat nasional.
"Semangat Lia, semoga lindungan Tuhan menyertaimu dan kemenangan berada dalam genggamanmu" doa Silvi menjelang pertandingan dimulai, gadis itu menyempatkan diri untuk memeluk singkat sahabatnya yang akan bertanding.
"Terimakasih, Sil. Terimakasih atas doa dan dukungan kalian. I Love you all" kata Lia mempersilahkan ke tiga sahabatnya untuk saling berpelukan layaknya Teletubbies.
"Kau harus menang, Lia. Buktikan kalau kau bisa" ucap Ken.
"Aku akan berusaha, kak" kata Lia.
"Kemenangan bukanlah segalanya, Lia. Yang penting kau sudah berusaha. Jangan paksakan tubuhmu untuk bertindak terlalu jauh. Ingatlah untuk selalu menjaganya" pesan Bayu yang selalu mengkhawatirkan Lia. Dia hanya tak ingin Lia kenapa-kenapa.
"Tenanglah kak, semua akan baik-baik saja. Doakan aku ya" kata Lia sebelum memasuki area pertandingan.
Setelah saling memberi semangat, kini para pelatih mulai mendatangi para kandidat untuk mengajak mereka memasuki kawasan pertandingan.
"Ayo Lia, sudah waktunya" kata pelatih Lia.
Lia mengangguk dan melambaikan tangan pada sahabatnya. Begitupun kandidat lainnya, mereka mulai berjalan menuju area dan membiarkan para suporternya duduk di tempak yang telah disediakan.
Memasuki kawasan pertandingan, Lia dibuat sedikit terkejut karena banyak sekali orang yang memakai kaos seperti yang neneknya pakai tadi pagi saat sarapan.
Saat Lia memutar kepalanya untuk mencari keberadaan keluarganya, rupanya mereka sudah duduk dengan nyaman di barisan terdepan. Bahkan ketiga temannya pun juga memakai kaos yang sama.
Hampir separuh dari penonton disana memakai kaos yang sama dengan keluarga Alexander.
Kaos berwarna krem dengan foto Lia yang sedang tersenyum dengan baju karate di bagian dadanya.
"Kalian ini ada-ada saja" gumam Lia dalam hatinya, tapi diapun merasa sangat senang karena support dari keluarga dan teman-temannya yang sangat luar biasa.
Hal itu menumbuhkan rasa percaya diri dan keinginan untuk menang yang tinggi.
"Aku tidak boleh mengecewakan mereka" tekad Lia dalam hatinya.
Pemandu acara mulai bersuara, memberi instruksi untuk segera mempersiapkan diri dan mempersilahkan karateka dari murid laki-laki untuk bertanding terlebih dahulu.
Sementara Lia dan lawannya diberi kesempatan untuk duduk di tempat yang telah disediakan.
Lawan Lia sepertinya cukup berat. Dari segi usia, dia audah memasuki kelas delapan, satu tahun lebih tua daripada Lia.
Dan sorot mata itu sangat terlihat aura yang memancar obsesi kemenangan dalam benaknya.
Matanya tajam menatap Lia yang tadi sempat melontarkan senyum persahabatan terhadapnya. Tapi tak direspon dengan baik, malah tatapan setajam silet yang Lia dapatkan.
Lia mengendikkan bahu, membiarkan apa yang lawannya lakukan terhadapnya. "Biarkan saja, kita buktikan nanti di arena pertandingan" kata Lia dalam hatinya.
Kini, fokus Lia untuk menonton jalannya pertandingan sembari mempersiapkan dirinya dengan baik.
Berfikir positif dan memupuk rasa percaya diri agar bisa memberikan perlawanan terbaiknya. Hasil akhir biar Tuhan yang menentukan.
Lama waktu berlalu, kini Nama Angelia dan Clara, sudah dipanggil untuk memasuki area pertandingan.
Sorak Sorai suara supporter dari kedua belah pihak terdengar memenuhi ruangan besar tempat pertandingan dilakukan.
__ADS_1
"Go Lia, Go Lia Go!" suara supporter dari pihak Lia lebih dominan karena memang lawan Lia berasal dari Luar pulau.
Lia harus ekstra hati-hati karena kabarnya, karateka dari liar pulau sangat kuat dan lincah karena medan latihan yang sangat keras.
Pertandingan dimulai, awalnya kedua peserta masih asyik bertahan untuk melihat sejauh apa kemampuan lawannya.
Hingga di menit kedua, nampak keduanya mulai saling maju untuk menunjukkan kemampuan masing-masing.
Lia dan Clara nampak sangat serius, melawan dan bertahan. Keduanya terlihat seri dan sama kuat.
Hingga di menit ke tiga, entah mengapa saat Lia tak sengaja melihat ke arah mata Clara, rasanya seperti sekelilingnya berputar tak jelas.
Sejenak Lia terdiam dan merasakan sekitarnya yang seperti sedang bergoyang-goyang. Lia sedikit limbung dan hampir terjatuh, dan sekelebat saja saat Lia melihat wajah lawannya, nampak gadis yang satu tahun lebih tua darinya itu menyunggingkan senyum ejekan.
"Kenapa ini? Apa yang salah denganku?" gumam Lia yang masih berusaha menghindar dari serangan bertubi-tubi yang Clara berikan sedangkan keadaan Lia masih sedikit oleng.
Lia menggelengkan kepalanya dengan kuat saat samar-samar terdengar suara supporternya, "Go Lia... Go Lia... Go!" teriakan penyemangat itu berhasil membuat kesadaran Lia kembali.
Tapi naas, saat kesadaran itu datang bertepatan dengan sebuah tonjokan keras berhasil bersarang di pipi Lia.
Sedikit darah tersembur dari mulutnya, membuat suasana hening karena supporter yang sebagian besar adalah keluarga Lia merasa khawatir dan terdiam menunggu apa yang akan terjadi.
Berusaha mengumpulkan kekuatan, dan saat Lia mengedarkan pandangannya dan terlihat wajah penuh kekhawatiran tertuju padanya.
Lia kembali mengumpulkan tekad dan kekuatannya di dalam hati.
"Kemenangan untuk kalian semua" gumam Lia penuh semangat.
Dan kini, Lia mencoba untuk kembali memberikan perlawanan dengan satu hal penting.
"Jangan lihat matanya!" gumam Lia dalam hati sambil terus memberikan perlawanan sengit dan tak kalah cepat dari lawannya.
Clara limbung dan terjatuh. Berguling sebentar sebelum akhirnya diam dan berbaring di tempatnya sambil memejamkan mata.
Suara tepuk tangan bergemuruh di dalam ruangan itu. Sorak sorai para suporter yang meneriakkan namanya, membuat rasa sakit di pipi Lia menjadi tak terasa.
Bahkan rasa kebas di telapak tangannya akibat gerakan tinju cepat yang dia lakukan tadi, tak dia hiraukan.
Senyum kelegaan tergambar cantik di wajahnya saat wasit mengangkat satu tangannya pertanda kemenangan telah berhasil dia raih.
"Selamat ya sayang, mama sangat bangga padamu" ucap Viviane yang menyambut kemenangan putrinya di luar stage setelah upacara penyerahan trofi dan segala \*\*\*\*\* bengeknya telah selesai dilaksanakan.
"Terimakasih ma, berkat doa mama juga" kata Lia yang menyambut pelukan mamanya.
"Kau sangat hebat, sayang" kini kakek dan neneknya yang memberi pelukan.
"Terimakasih" balas Lia dengan senyuman.
__ADS_1
"You are amazing" giliran geng Nirwana yang berkesempatan memberi ucapan.
Kembali mereka melakukan pelukan ala Teletubbies. Dan senyum kebahagiaan tergambar cantik di wajah Lia yang sedikit lebam.
Si kecil Sam tak mau kalah, dengan penuh perjuangan akhirnya dia berhasil mendapatkan perhatian dari kakaknya dan digendong oleh sang kakak.
"Kau hebat, kak" seru Sam yang masih terdengar cadel dan lucu.
Tentu Lia tertawa dan tak menghindar saat adiknya itu memberikan ciuman di kedua pipinya.
Tapi Lia lupa jika salah satu pipinya terkena pukulan telak tadi. Diapun meringis kesakitan hingga membuat Sam menangis karena takut kalau dia telah menyakiti kakaknya.
"Auh, sakit Sam" kata Lia sambil mengelus pipinya yang baru saja dicium oleh Sam.
Pria kecil itu terkejut dan menangis. Segera Viviane mengambilnya dari Lia dan menenangkannya. Sementara yang lain nampak mengkhawatirkan Lia.
"Hai Lia, selamat atas kemenanganmu hari ini" sebuah suara yang sebenarnya familiar terdengar oleh Lia.
Tapi saat dia menoleh, Lia sedikit tak bisa mengingat siapa pemilik suara itu karena gadis itu nampak lebih dewasa daripada dia.
Disaat ingatannya sedang berkelana, senyum kebahagiaan kembali terukir karena Lia tidak pernah lupa terhadap wanita paruh baya yang dulu menjadi pengasuhnya selama mamanya pergi bekerja.
"Oh My God, kak Gitaaa" teriak Lia senang, sambil sedikit terburu-buru untuk bisa segera memeluk gadis yang dulu selalu bermain dengannya itu.
Ya, Lia telah bertemu kembali dengan Gita dalam kebahagiaan.
.
.
__ADS_1
.