
...MAB by VizcaVida...
...|42. Ada Tamu|...
...Selamat membaca...
...[•]...
“Selamat pagi,”
“Selamat pagi ... ” sahut seluruh pegawai dari berbagai devisi yang berkumpul memenuhi aula untuk menghadiri panggilan meeting dadakan yang diadakan Louis hari ini.
“Salam sejahtera, semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Ameen,”
Semua diam mendengarkan apa yang disampaikan atasan mereka didepan podium. Tidak pernah satu kali pun dalam sejarah, Louis mendengar papanya mengadakan meeting dadakan seperti ini selama menjabat sebagai petinggi dan memegang perusahaan siaran televisi yang sudah berdiri hampir dua puluh tahun ini. Dan Louis adalah orang pertama yang mengadakan meeting tanpa agenda.
Alasannya cukup jelas, karena Angel mendapat olokan yang luar biasa melecehkan dan merendahkan harga diri seorang manusia. Dia memergoki dengan mata kepalanya sendiri bagaimana cara pegawainya mengolok Angel dengan kata kejam seperti itu, yang tentu saja tidak bisa ia terima.
“Kalian pasti bingung, bahkan bertanya antara satu sama lain, kenapa saya mengadakan meeting dadakan seperti ini. Saya yakin itu.” tebak Louis membuka untuk pembukaan pidato. “Sebelumnya, saya minta maaf karena sudah mengganggu schedule kerja kalian yang pastinya sudah terjadwal dan berimbas pekerjaan akan berantakan dari jadwal yang sudah disusun rapi. Untuk itu, saya tidak mau membuat pidato saya terlalu panjang.”
Semua mata menatap Louis, memperhatikan bagaimana wajah pria itu yang terlihat datar dan dingin tanpa ekspresi.
“Pagi ini, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana salah satu dari teman kalian, mengolok teman lainnya dengan kata-kata tidak pantas.” terang Louis masih tidak mau membuka kartu dengan menyebut nama mereka. Tapi, ada beberapa yang sudah tau dengan jelas, dan beberapa lainnya masih menebak karena tidak tau alasan sebenarnya mengapa meeting seperti ini sampai terjadi.
“Saya himbau untuk kalian semua, tolong jangan pernah saling menyakiti satu sama lain di lingkungan kerja. Tolong jangan mengolok teman kalian sendiri, dan tolong jaga attitude kalian karena saya tidak pernah mengajak kalian untuk berprilaku dan berbicara kurang pantas didepan orang lain.” seru Louis tegas penuh wibawa, namun tak pernah meninggalkan ke ramah tamahan sebagai seorang atasan.
Louis melihat ke arah Angel yang tertunduk dalam, terlihat sedih, dan itu sangat menyakiti hatinya.
“Jika kalian masih melakukan itu, saya jamin tidak akan memberi toleransi sekecil apapun pada kalian yang dengan sengaja atau tidak melakukan hal tersebut. Atau yang paling parah, saya bisa membawa dan menuntut pelaku ke meja hijau.”
Suara dengung mulai memenuhi ruangan. Louis kembali menginterupsi.
__ADS_1
“Saya tau, saya tetap diam untuk memantau selama ini. Tapi, hari ini saya juga akan membicarakan hal yang selama ini cukup mengganggu saya.”
Semua kembali diam, aula pertemuan kembali senyap.
“Ada satu forum di perusahaan ini yang entah siapa yang membuatnya sedang saya pantau,” kata Louis dengan sorot semakin tajam. “Saya tidak menduga di lingkungan kerja perusahaan yang saya pimpin ini, memiliki forum seperti itu. Kalian pasti juga tau jika ada forum tersebut yang memiliki tujuan untuk membicarakan keburukan dan memprovokasi sesama untuk saling membenci, right?”
Mereka terdiam. Beberapa orang sibuk menatap telapak tangannya sendiri, dan Louis dapat menebak semuanya dengan mudah tanpa harus bertanya siapa orangnya yang sudah membuat forum tersebut. Louis menarik sudut bibirnya, menyeringai.
“Saya sebagai Presdir disini memohon, agar kalian hidup dengan damai, saling mengasihi, tolong menolong, dan jangan saling sikut untuk mendapatkan kekuasaan atau perhatian dari orang lain.” sindirnya tajam yang membuat semua orang kehabisan kata-kata. “Setelah pertemuan berakhir, saya harap pemilik forum tidak jelas itu menghapus dan mengakhiri semua provokasi yang menebar kebencian satu sama lain di tempat saya.”
Angel mengangkat wajahnya. Ia bangga kepada sang suami karena hari ini sudah angkat bicara untuk menanggapi lingkungan kerja yang semakin tidak sehat ini.
“Dan ada satu hal penting yang perlu kalian semua tau,” Louis menarik nafas dan menghembuskan pelan, kemudian dia melanjutkan. “Saya ingin memberitahukan, jika Angel yang sering kalian bicarakan dibelakang, sering kalian olok dengan kata-kata tidak pantas, dan sering kalian serang dengan asumsi buruk, adalah istri saya.”
Sumpah demi Saturnus. Angel tidak pernah menduga jika Louis akan mengakuinya juga hari ini. Kini, dirinya menjadi pusat perhatian tanpa ada yang berani bicara, tak terkecuali Rita yang terpantau terkejut bukan main. Semuanya diam, tapi Angel tau, mereka pasti akan kembali membicarakannya setelah meeting ini berakhir. Forum itu pasti setelah ini akan menghilang dari peradaban. Tapi omongan, pasti akan tetap ada dan tidak akan lelah bersuara meski sudah coba untuk dihentikan.
“Saya menyampaikan ini agar tidak ada lagi kesalahpahaman, agar istri saya tidak lagi disebut dengan kata-kata yang kurang pantas didengar.” Tidak ada sepatah katapun yang terdengar, hingga Louis kembali melanjutkan bicara. “Untuk itu saya mohon, saya meminta tolong pada kalian semua, hargai orang lain. Itu saja yang dapat saya sampaikan untuk meeting kali ini karena saya juga harus kembali beraktivitas.”
Riuh kembali terdengar samar. Tatapan tidak percaya dan lainnya kini tertuju pada Angel secara diam-diam.
***
“Suamiku keren.” puji Angel yang berbaring di ranjang sambil memeluk tubuh kekar Louis, menyandarkan kepalanya pada satu dada Louis yang tertutup baju tidur, dan sedang sibuk dengan iPad di tangannya demi memantau beberapa pekerjaan dan proyek baru di studio.
“Ya dong. Kasih hadiah yang banyak.” goda Louis sambil mengerlingkan mata pada Angel yang sedang mendongak menatap wajahnya.
“Tentu. Memangnya minta hadiah apa?”
Louis yang semula fokus pada persegi pintar itu, kini menatap jail pada Angel. Meletakkan iPad nya diatas nakas, lalu mencolek hidung sang istri dan berkata, “Hadiahnya buat si jantan.”
Sebenarnya, Angel masih belum terbiasa melakukan hubungan badan dengan Louis sebab bagian in-timnya masih terasa sakit setelah siang hari yang lalu berhasil mereka bobol. Angel menepuk satu sisi dada Louis yang membuat pria itu mengaduh dalam tawa. Dan detik berikutnya, suasana kamar berubah berisik karena Louis menggelitiki perut dan pinggang Angel, kemudian di balas dengan tak kalah brutal hingga Louis tertawa lantang karena geli.
Hingga bel rumah tiba-tiba berbunyi, dan Angel memperbaiki penampilannya yang sempat berantakan karena berguling di atas ranjang.
__ADS_1
Louis bergegas turun dari ranjang, berjalan keluar dan menyalakan lampu ruang tengah yang bisa membuat Louis dengan mudah melihat jam di dinding. Pukul setengah sembilan malam, dan tiba-tiba ada tamu?
Louis menekan layar interkom yang terhubung dengan kamera yang terpasang didepan pintu pada alat canggih tersebut. Ia mengerutkan kening melihat Gita datang ke apartemennya.
Telapak tangan Louis mengepal kuat dengan rahang mengeras. Ia tidak akan sudi membuka pintu rumah dan menerima wanita itu untuk bertamu kedalam rumah.
“Siapa, yang?” tanya Angel berjalan keluar dari kamar dan menyusul Louis yang berdiri membatu di depan interkom. Angel mendekat dan melihat pada layar yang juga sedang ditatap lekat oleh Louis.
Ada sengatan menyakitkan di hati Angel ketika melihat siapa yang ada dibalik pintu apartemen mereka saat ini. Mengingat kenyataan bahwa, wanita itu pernah diakui Louis tidur bersamanya.
Akan tetapi, Angel tidak bisa bersikap egois dengan melarang suaminya itu bertemu. Mungkin mereka memiliki urusan yang belum rampung, atau ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Angel meraih bahu Louis dan mengusapnya lembut.
“Kenapa nggak di buka pintunya?”
Louis menoleh. Ia menatap lurus dengan sikap awas. Ia takut Angel akan salah paham dengan kedatangan Gita ke apartemen mereka.
“Nggak perlu dibuka. Nggak penting.”
Angel menggelengkan kepala dengan sebuah senyuman terbit di bibirnya.
“Buka saja, siapa tau ada hal penting yang mau dibicarakan.” tutur Angel mencoba legawa.
“Nggak. Nggak ada urusan lagi sama dia. Semua udah rampung, nggak perlu ada lagi yang perlu di bahas.” tegas Louis.
“Kalau begitu, biar aku yang buka pintu. Biar aku yang ketemu dan tanya sama dia, ada perlu apa.”
Angel sudah membalik badan bersiap membuka pintu untuk Gita. Tapi pergelangan tangannya dicekal erat oleh Louis beserta sorot tajam penuh amarah.
“Kita buka bareng kalau begitu.”
Kemudian mereka berjalan menuju lorong pintu dan membuka bilah aluminium tebal itu yang kemudian menampakkan sosok Gita diluar dengan wajah datar.
“Mau apa?!” tanya Louis tegas dan tidak membutuhkan basa-basi.
__ADS_1
“Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, Lou.” []