
"Akhirnya aku bebas! Awas kalian keluarga Alexander. Tunggu pembalasanku".
Senyum sinis disertai sebuah semangat penuh dendam menjadi landasan hidup bagi seorang perempuan yang baru saja keluar dari penjara wanita.
Dari dua puluh tahun masa tahanan yang seharusnya perempuan itu habiskan, nyatanya hanya lima belas tahun saja waktu yang dia butuhkan hingga bisa keluar dari penjara karena perempuan itu mendapatkan potongan masa tahanan yang tidak main-main setiap tahunnya.
Berkelakuan baik dan tidak pernah berbuat ulah, selalu mematuhi aturan dan tak pernah meninggalkan pelatihan apapun yang diadakan di dalam penjara membuat perempuan itu mendapatkan banyak sekali potongan masa tahanan.
Hingga tepat di tahun ke lima belas, wanita itu bisa merasakan angin kebebasan untuk bisa dia hirup kembali dan meninggalkan tempat tahanan yang sudah lama menaunginya.
"Mau kemana neng?" tanya tukang ojeg yang dipercaya perempuan itu untuk mengantarnya pergi dari tahanan. Tukang ojek yang biasa mangkal di depan penjara itu.
"Ke alamat ini ya bang" ucapnya sembari menyerahkan secarik kertas berisikan alamat sebuah rumah.
"Itu agak jauh neng dari sini. Ongkosnya mahal loh, mau?" tawar si abang ojeg.
"Berapa memangnya?" tanya perempuan itu.
"Dua ratus ribu mau?" tanya si abang.
"Mahal banget, bang? Mana ada saya duit segitu" tawar si perempuan.
"Nggak mau yasudah" kata si abang kekeuh.
Perempuan itu pun melengos pergi, baru juga keluar dari penjara sudah bertemu dengan orang licik seperti si abang ojeg.
Dengan langkah malas, perempuan yang dulunya selalu diantarkan oleh supir pribadi itu nyatanya kini harus rela berpanas-panasan demi bisa pulang ke rumahnya.
Tengah hari begini memang menyebalkan jika matahari tak mau menutup diri dengan balutan awan.
Berbekal uang lima ratus ribu yang perempuan itu dapatkan dari bekerja di dalam penjara sebagai penjahit, wanita itu menuju jalan umum untuk mencari angkot yang biayanya tentu lebih murah daripada ojeg, meski dia harus rela berjalan sedikit lebih jauh.
"Haus banget" keluh wanita itu saat melihat sebuah warung yang berjualan jajanan anak sd dan minuman ringan.
Merasa tergiur dengan tampilan es berwarna-warni yang dibungkus plastik, wanita itu pun mampir untuk membeli sebungkus es.
"Buk, mau es nya dong sebungkus saja yang rasa coklat" pesannya.
"Siap neng, nggak sekalian gorengannya?" tawar si ibu penjual, namun wanita itu hanya menggeleng.
"Kalau ke alamat ini, naik angkot apa ya Bu?" tanya wanita itu dengan sopan.
"Oh, kalau kesana agak jauh neng. Dari sini, eneng harus naik angkot nomer 36, terus berhenti di halte 25, oper sama angkot nomer 09, berhenti di halte 14. Nah, dari sana eneng tinggal tanya deh sama orang-orang, pasti semua juga tahu" kata si ibu yang hafal sekali rute perangkotan, membuat wanita itu sedikit bingung.
"Kayaknya itu perumahan elit, neng. Ada sodara disana ya?" tanya si ibu sambil memandangi wajah wanita yang sebenarnya cukup cantik itu.
"Iya bu. Ehm, boleh dicatatkan saja rutenya bu? Saya sedikit bingung" kata wanita itu.
"Nama eneng siapa? Sepertinya ibu nggak pernah lihat sebelumnya" tanya si ibu penjual.
"Saya Eri, bu. Memang bukan asli sini, makanya agak bingung" jawabnya.
__ADS_1
"Oh, neng Eri. Sebentar ibu catatkan ya, ini es nya" kata si ibu menyanggupi sambil menyerahkan sebungkus es pesanan Eri.
"Ini neng, hati-hati kesasar ya. Sebelum naik angkot nanti, tanya dulu apa arahnya sudah benar. Takutnya eneng salah arah" pesan si ibu sebelum Eri pergi.
"Iya, terimakasih ya bu" kata Eri sembari berpamitan.
Lalu diapun meneruskan perjalannya menuju jalan raya untuk menaiki angkot sesuai petunjuk si ibu penjual.
Beruntung tak sampai menunggu lama, Eri sudah bisa menumpangi angkot sesuai rute meski harus berdesakan dengan beberapa orang yang juga menumpangi angkot itu.
Eri memandangi sekitarnya, nasibnya kini sungguh miris. Duduk sendirian di ramainya angkot, bersama dengan orang-orang yang tak dikenalnya.
Kalau dulu, dia tentu enggan untuk berbagi tempat duduk di dalam mobil ber-AC yang dilengkapi dengan satu supir khusus untuk mengantarkan dia kemanapun pergi.
"Hengmh... miris sekali hidupku ini. Semua ini karena ulah keluarga Alexander yang kurang ajar. Awas saja kalian. Sekarang kalian boleh tertawa, tapi tunggu setelah aku beraksi. Aku akan hancurkan kalian" gumam Eri dalam hatinya.
Peluhnya tak henti untuk turun di panasnya angkot hingga bajunya sedikit basah.
"Woi neng, lo sudah waktunya turun" ucap si abang supit yang rupanya ingat dengan pesan Eri untuk menurunkannya di halte 25.
"Oh, iya pak" kata Eri sambil menuruni angkot dengan sedikit kesulitan.
"Kalau lo mau naik angkot 09, tungguinnya agak lama" kata supir sambil mencari uang receh untuk kembalian Eri.
"Iya tidak apa-apa, pak. Terimakasih ya" kata Eri sebelum angkot itu pergi.
"Iye, sama-sama. Tumbenan banget ada cewek cantik yang sopan" gerutu si sopir angkot.
Eri menapakkan kakinya di bahu jalan. Tempat yang ia kira sepi ternyata juga penuh dengan orang yang juga ingin naik angkot yang sedang diincarnya.
Tak ada tempat duduk tersisa, ia hanya bisa berdiri sambil menunggu dengan sebuah tas besar yang tersampir di pundaknya.
"Gila sih ini panas banget, mana angkotnya juga lama. Coba kayak di cerita-cerita romantis, yang tiba-tiba ada seorang pria tampan datang untuk membantuku" gerutu Eri dalam diamnya.
Cukup lama berselang, mungkin sudah lebih dari dua puluh menit dia berdiri hingga membuat kakinya pegal. Dari kejauhan sudah terlihat sebuah angkot dengan tulisan 09. Dan tanpa dia sangka, orang-orang yang juga melihatnya sudah bersiap.
Yang tadinya duduk, kini mereka semua berdiri dan menutupi bahu jalan demi bisa ikut di dalam angkot yang berjalan pelan meski sang supir pastinya sudah tahu jika sudah banyak orang yang menunggunya.
"Gila lama banget sih" teriak seseorang mewakili perasaan Eri.
"Tau tuh supir. Sombong banget kayak nggak butuh duit" keluh yang lain.
"Cepat bang" teriak lainnya.
Dan saat angkot berhenti tepat di hadapan mereka, para penunggu itu berebut untuk bisa masuk. Membuat Eri yang baru kali ini berpengalaman dengan situasi semacam ini harus terabaikan dan hanya bisa melongo melihat mobil angkot yang sudah terisi penuh.
"Ayo naik neng, itu masih ada tempat" ajak si supir.
Eri yang kebingungan hanya bisa celingukan karena tempatnya sudah terisi full tanpa celah.
"Geser dikit napa, timbang nambah satu orang doang" perintah pak supir membuat semua orang mendengus kesal, tapi nyatanya mereka memang benar-benar memberi tempat untuk Eri.
__ADS_1
Satu bangku cadangan yang ditarik dari kolong kursi menyisakan satu tempat lagi setelah semua orang berusaha mengecilkan diri. Eri duduk di bangku itu menghadap ke arah luar, dengan begitu dia bisa melihat jalan raya sambil duduk memangku tas besarnya.
"Berangkat" teriak si supir yang kemudian membawa angkot itu dengan kecepatan sedang, tak ada keinginan untuk sedikit lebih cepat padahal supir itu tahu kondisi di dalam mobilnya yang sangat tidak nyaman.
Sudah cukup lama mobil itu berjalan, tapi belum juga Eri sampai di tempatnya turun. Padahal isi di dalam angkot itu sudah lebih dari separuh yang turun bahkan sudah diganti dengan penumpang baru.
Membuat Eri yang bergeser, kini dia berada di bangku paling belakang untuk menunggu giliran turun.
"Halte ujung, halte ujung" teriak pak supir mengingatkan para penumpang.
Disebut halte ujung karena setelah ini angkot itu akan putar balik dan melakukan perjalanan awal.
"Loh, halte 14 kelewatan kah pak?" tanya Eri dari tempat duduknya.
"Kagak neng, halte ujung itu ye halte 14 sama aja. Halte terakhir maksudnya" jawab sang supir dengan logatnya.
"Oh, iya pak" kata Eri lega, lama tak melihat sibuknya jalanan Jakarta membuatnya sedikit bingung dengan banyaknya perubahan yang terjadi.
Saat mobil berhenti, Eri turun dan berdiri di pinggir jalan setelah angkot yang dia tumpangi pergi.
Mencoba mengingat masa lalunya. Melihat ke segala arah untuk menentukan langkahnya.
Pandangan matanya melihat ke seberang jalan, terdapat gapura besar bercat hitam dengan tulisan besar di atasnya. Kawasan hunian nyaman, Perumahan Pondok Asri.
"Itu dia" gumam Eri dengan bibir tersenyum kecil karena tujuannya sudah dekat.
"Jalan kaki saja deh" gumamnya dengan wajah lebih ceria meski audah sangat kusut.
Dengan langkah sedikit terburu-buru, Eri melangkah dengan penuh semangat. Sedikit lagi dia sampai di rumahnya dan bisa istirahat.
Sudah terbayang olehnya ranjang nyamannya dulu yang biasa dia gunakan untuk tidur saat dirumah. Hal itu membuat dia lebih bersemangat untuk melangkah dengan lebih cepat.
"Ternyata jauh juga kalau jalan kaki. Dulu kalau pulang pakai mobil rasanya cuma sepuluh menit sudah sampai rumah. Lah ini sudah hampir setengah jam belum sampai juga" keluhnya yang mulai berpeluh.
Dan kini, setelah perjalanan panjang dan melelahkan yang telah Eri lalui membawanya untuk berdiri di sebuah bangunan besar dengan gerbang yang sedikit terbuka.
Sementara di dalamnya, sebuah rumah yang dulunya cukup mewah kini tampilannya sudah banyak berubah.
Bangunan besar yang didominasi cat warna putih itu sudah tak lagi megah. Banyaknya lumut menutupi sebagian besar dinding bagian luarnya dan atap yang sudah hampir roboh.
Taman kecil yang dulunya indah, kini terlihat rimbun dengan banyaknya ilalang yang tumbuh tak teratur. Membuat jalan menuju ke dalam rumah itu tertutup rapat oleh rerumputan tinggi.
Tiba-tiba mata Eri memanas, langkahnya perlahan membawa tubuh lelahnya memasuki rumah yang kini nampak kosong.
Di depan pintu masuk yang tertutup rapat, Eri berusaha menelisik masa lalunya yang memperlihatkan kemewahan rumah dan kenyamanannya, kini hanya tinggal sebuah kenangan.
"Tidaaaakkkkkk" teriaknya histeris diiringi air mata yang tak kuasa untuk dia bending lagi.
Eri menangis tersedu di depan rumahnya sambil berlutut. Berharap rasa lelahnya bisa terobati saat pulang, nyatanya dia malah dikejutkan dengan pemandangan miris seperti itu.
.
__ADS_1
.
.