My Angel Baby

My Angel Baby
Rencana Besar


__ADS_3

Eri tengah mengunjungi pantai setelah semalaman kemarin dia terlalu lelah. Iya, diapun membuka layanan private room untuk menuntaskan hasratnya sendiri.


Setiap kali dia bermain dengan para pengunjungnya, selalu wajah Vicky yang ada dalam benaknya. Eri masih terlalu penasaran terhadap pria yang pernah menjadi suaminya, tapi tak pernah sekalipun menyentuhnya meski sudah Eri goda sedemikian rupa, tetap saja Vicky menjaga hatinya untuk Viviane yang membuat emosi Eri selalu naik setiap kali mengingatnya.


"Gila! Sampai setua ini pun aku masih saja mengharapkan jika Vicky mau membuka mata dan hatinya untukku? Sebenarnya pesona seperti apa yang Vicky tebarkan hingga aku bisa sejauh ini jatuh hati padanya" gumam Eri sambil memandangi ombak yang bergulung di tengah laut, dan hilang saat ingin menerjang daratan.


Pantai itu terlalu sepi, hanya segelintir orang yang ada. Kebanyakan dari mereka datang dengan pasangan masing-masing, sedangkan Eri hanya sendiri karena sopirnya tadi menunggu di mobil dan bisa Eri pastikan jika sopirnya sedang tidur.


Duduk santai di bawah rindangnya pohon dengan menggelar tikar dan sebutir kelapa muda yang telah dibelinya, Eri terlihat cantik dengan dress bermotif bunga dan bertopi lebar.


Sedang asyik melamun, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di dekatnya dan memandangi wajahnya dengan lekat.


"Apa yang kau lakukan disini? Cepat pergi sebelum emosiku meninggi" ujar Eri santai.


"Tenanglah sayang, aku hanya ingin memandangimu saja" ujar pria itu.


"Hei tua bangka, apa kau tuli? Apa telingamu sudah tak berfungsi?" ejek Eri semakin geram.


Bukannya takut, tapi pria itu semakin tertarik untuk mendekati Eri yang sedang nampak sendirian saja tanpa anak buahnya.


Ya, pria tua itu adalah Handoko.


"Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?" tanya Eri tanpa mau memandangi wajah Handoko yang sangat membuatnya jengkel.


"Hatiku yang mengatakannya" jawaban Handoko hanya membuat Eri meliriknya singkat tanpa ingin melihat pria itu lebih lama. Rasa sakit di hatinya untuk Handoko masih setinggi awan, hanya saja saat ini dia terlalu malas untuk menuruti emosinya.


"Aku hanya bercanda, sayang. Janganlah marah begitu" ujar Handoko yang masih mengenakan setelan jasnya.


"Tadi aku melihatmu pergi tanpa kawalan, jadi aku yang merasa khawatir tentu mengikutimu dan ternyata kau datang kesini. Apa kau sedang bersedih, sayang?" tanya Handoko.


Eri celingukan, dan benar saja jika Handoko hanya sendirian saja saat ini.


"Aku jujur, sayang. Aku hanya sendirian saja" kata Handoko saat melihat reaksi Eri.


Sungguh, kejahatan terjadi memang karena adanya kesempatan. Dan orang jahat itu terlahir dari orang baik yang sering tersakiti.


Itulah yang sedang Eri alami. Kesempatan bagus untuknya tiba-tiba datang untuk membalas sakit hatinya pada Handoko. Kesempatan yang sangat baik karena dia sedang letih, dan tanpa kawalan.


Ide jahat muncul di otaknya. Satu kesempatan emas yang tak boleh dia sia-siakan.


"Apa yang kau mau dariku?" tanya Eri tanpa ekspresi.

__ADS_1


Handoko masih diam dengan senyumannya dan memandangi wajah cantik Eri.


"Jika kali ini aku mengabulkan satu keinginanmu, apa kau mau untuk seterusnya tidak lagi menggangguku?" tanya Eri memberi penawaran.


"Apa kau serius?" tanya Handoko menegaskan.


"Apa kau melihat aku sedang bercanda?" balas Eri.


"Bagaimanapun juga, kau adalah orang pertama yang bersedia membantuku di awal-awal masa kebebasanku dulu meski ternyata kaupun sama terkutuknya dengan semua orang yang pernah aku kenal" kata Eri sambil memandangi lautan lepas.


"Aku rasa tidak ada salahnya untuk berterima kasih padamu dengan memenuhi satu keinginanmu, dan selanjutnya kita bisa memulai hidup kita masing-masing" kata Eri membujuk Handoko yang sudah nampak tertarik dengan tawarannya.


Handoko menaikkan satu alisnya, sedikit berfikir apakah Eri serius dengan perkataannya.


"Baiklah, layani aku semauku hari ini. Aku sangat ingin bersamamu. Dan seperti tawaranmu, setelahnya aku tidak akan lagi mengganggumu. Bagaimana?" tanya Handoko.


Eri menoleh, benar saja jika pria tua itu masih saja mementingkan nafsunya. Dan itu visa Eri jadikan senjata untuk memuluskan niatnya.


"Baiklah, tinggalkan mobilmu disini. Kita pergi menggunakan mobilku saja karena aku tidak mau kalau kau sampai menahanku lagi. Tapi aku akan masuk ke mobil duluan, baru kau ikuti setelah keadaan bisa dipastikan aman. Tak ada orang yang melihatmu bersamaku" kata Eri.


"Ide yang bagus. Akupun tidak mau menghancurkan karirku jika ada orang yang melihatku bersama seorang pelacur" perkataan pedas yabg tak sengaja Handoko ucapkan semakin membuat hati Eri yakin untuk melampiaskan dendamnya.


Dan segera dia memasuki mobilnya, "Kita keluar dari parkiran ini pak, dan berhenti di depan karena aku sedang menunggu seseorang" perintah Eri pada supirnya.


"Baik, nona" ucap sang supir menurut.


Mobil itu terhenti di pinggir jalan tak jauh dari kawasan pantai untuk menunggu Handoko yang berjalan kaki di belakangnya.


Tak berapa lama, Handoko datang dengan nafas yang sedikit tersengal. Memasuki mobil Eri dengan wajah sedikit memerah karena panas dan letih. Lalu membuka topinya dan dia gunakan untuk mengipasi wajahnya yang berpeluh.


Eri sedikit terkekeh sebelum bersuara. "Apa kau merasa lelah, pak tua?" ejek Eri.


"Hanya karena kirang berolahraga" sanggah Handoko yang tak ingin reputasinya turun.


Eri hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Handoko yang sangat tinggi hati untuk tak mau mengakui kekurangannya.


"Jalan pak" perintah Eri pada supirnya setelah tadi dia katakan pada sang supir untuk tujuannya.


Supir itu hanya mengangguk dan segera menjalankan mobilnya.


Handoko yang masih sibuk dengan suhu badannya masih terlihat mengibaskan topinya. Sementara Eri sudah tidak sabar untuk segera sampai di tempat tujuannya.

__ADS_1


"Kita mau kemana, sayang?" tanya Handoko setelah perjalanan mereka cukup jauh.


"Kau lihat saja nanti" kata Eri singkat.


"Kau ingin memberiku kejutan rupanya" kata Handoko sambil terkekeh pelan.


Tak ada sedikitpun kecurigaan di hatinya karena Handoko masih menganggap jika Eri adalah wanita polos yang manja dan tak bisa apa-apa.


Sepanjang perjalanan, lebih banyak keheningan yang terjadi. Eri yang sudah tidak sabar dengan rencananya, sementara Handoko dengan pikiran kotornya.


Dan hampir dua jam perjalanan tak terasa mobil sudah sampai di pelataran sebuah rumah sederhana yang berada di pemukiman yang jarang sekali penduduknya.


Rumah mungil yang dikelilingi ladang dengan pepohonan tinggi. Rupanya sebagian besar lahan kosong disini ditanami dengan pohon jati yang membuat suasana seperti berada di tengah hutan belantara.


Menuruni mobil, senyum Handoko tak hentinya terkembang karena menganggap Eri sedang menyiapkan surprise untuknya.


"Suasana pedesaan yang sangat menyenangkan. Apa kau takut ada orang yang akan mendengar eranganmu nanti, sayang?" tanya Handoko sambil merangkul pundak Eri untuk masuk ke dalam rumah itu.


Sebenarnya Eri sangat risih dengan perlakuan tua bangka di sampingnya itu. Tapi demi kelancaran dari rencananya, Eri biarkan saja apa yang Handoko perbuat padanya.


Eri membuka pintu rumah itu dan mulai memasukinya. Dan terlihat sebuah ruang tamu mungil dan nyaman menyambut keduanya.


Dua buah sofa beludru besar berwarna abu-abu pekat terlihat nyaman dengan bantal diatasnya.


"Ah, nyaman sekali" gumam Handoko setelah duduk diatasnya.


"Kemarilah sayang, kenapa kau hanya berdiri disana?" tanya Handoko sambil melambaikan tangannya saat melihat Eri hanya diam dan memandanginya.


Sedangkan rumah itu adalah rumah madam Norita. Saat Eri menjelajahi kantor barnya, Eri menemukan sebuah sertifikat rumah atas nama Norita yang dia temukan di sebuah brankas kecil di dalam lemari kabinet.


Pernah satu kali Eri mengunjungi rumah itu untuk memastikan keberadaannya sebelum pergi shopping di sebuah mall yang membuatnya bertemu dengan Johan kala itu.


Rupanya rumah ini berguna hari ini. Hari dimana sebuah rencana besar sedang dia jalankan.


Berhasilkah rencana Eri?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2