My Angel Baby

My Angel Baby
Ungkapan Mengejutkan


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|30. Ungkapan Mengejutkan|...


...Selamat membaca...


...Luangkan waktu untuk memberi Like, komentar serta berikan vote dan hadiah untuk Louis dan Angel jika berkenan ya teman-teman ☺️...


...Terima kasih...


...[•]...


Dress hitam dibawah lutut mempercantik penampilan Angel malam ini. Polesan make up yang sangat tipis, bahkan tidak terlihat mampu membuat aura cantiknya semakin terpancar. Rambut pirang yang menggantung alami itu ia ambil sebagian untuk ia ikat menjadi satu di bagian belakang kepala. Jam tangan warna senada dengan bajunya, melilit pergelangan tangan, dan wedges hitam dengan tinggi tiga senti membuat semuanya terlihat sempurna.


Berkali-kali Angel mematut dirinya didepan kaca karena gugup. Ia takut mengecewakan Louis yang mengajaknya makan malam di sebuah restoran yang ada di salah satu hotel berbintang lima hari ini. Tentu tidak semua orang bisa masuk kesana karena harga hidangan satu menunya saja bisa di buat untuk membuka usaha jual pulsa dengan saldo memukau.


Potongan persegi tidak terlalu rendah pada lehernya memperlihatkan dengan jelas tulang selangka Angel yang begitu indah dan tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun selama ini. Dan Louis adalah orang pertama yang akan mendapatkan pemandangan itu, nanti.


Tapi, ketika melihat simbol keagamaan yang menggantung pada necklase dileher jenjang dan putih miliknya, membuat Angel tiba-tiba sendu. Ia jadi teringat daddy yang membelikan itu untuk ketika mengunjunginya beberapa tahun silam. Katanya, untuk keselamatan dan pengingat baginya agar menjadi hamba yang setia pada Sang Pencipta.


Angel meraih bandul tersebut dan menggenggamnya dengan mata terpejam. Bibir lembab berwarna peach itu ia gigit kecil, kemudian dia bergumam pelan, mengatakan sesuatu.


“Tuhan. Tolong jaga Daddy, Mommy, dan semua orang baik yang berada di sekitarku. Terima kasih telah menjaga ku selama ini. Terima kasih juga karena Engkau telah mempertemukan ku dengan sosok Louis yang juga setia pada-Mu. Dekatkan kami berdua jika memang kami berjodoh. Dan, bantu kami melewati semua rintangan dengan kebaikan tangan-Mu. Ameen ... ”


Angel membuka mata, lantas mengecup simbol itu dan membuat gerakan signum crucis di kening dan kedua bahunya.


Ia lantas meraih tas selempang kecil berwarna gelap yang sebelumnya sudah ia isi dompet, ponsel, tisu, dan sebuah liptint untuk keperluan setelah makan, nanti.


Langkah anggun kaki jenjang berkulit pualam itu melenggang ke rumah tamu. Ia akan menunggu kedatangan Louis yang tadi sudah mengirim pesan dalam perjalanan menuju tempat tinggalnya ini.


Tak menunggu terlalu lama, bel rumahnya berbunyi dan Angel bergegas bangkit dengan wajah panik. Ia mengibas sisi bawah gaunnya yang sempat ia duduki, kemudian berusaha mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlihat kaku saat tegang seperti ini.


Ia melihat kotak layar interkom, dan sosok tinggi Louis berdiri didepan pintunya. Ia berlari kecil menuju pintu, kemudian membukanya.


Berbeda dengan Angel yang sudah melihat penampilan Louis sejak pagi tadi, Louis justru terperangah melihat kecantikan Angel yang sama sekali belum pernah ia lihat. Ia terkesima, dan terpanah dalam satu waktu bersamaan. Louis mengaku, ia sedang jatuh cinta sekarang. Ia sudah bisa mengobati patah hatinya sekarang. Dan ia berharap, keputusan yang ia ambil malam ini, adalah keputusan yang akan membawanya hingga akhir menjejakkan kaki di atas bumi.


“A-apa saya salah kostum, pak?” tanya Angel gugup karena ia melihat Louis yang sepertinya terkejut dengan penampilannya.


Buru-buru Louis menarik pandangan anehnya itu, lalu tersenyum manis pada Angel. “Tidak, kamu sangat cantik dengan dress yang kamu pakai sekarang.


Tidak ada belahan dada yang menyembul mengundang nafsu, karena Angel memang tidak suka memamerkan benda itu untuk semua orang, apalagi seorang lelaki. Baginya, aset pribadi itu hanya untuk prianya kelak. Pria yang akan mengikatnya dengan janji sehidup semati. Dan dia akan menyerahkan semuanya pada laki-laki tersebut.

__ADS_1


“Berangkat sekarang?” tanya Louis meminta pendapat Angel. Pria ini bahkan sempat meneguk salivanya susah payah karena Angel berhasil membuatnya terlalu terkejut.


“Eumm.” Angel mengangguk, kemudian meraih kenop pintu dan menutupnya hingga bunyi tulalit terdengar.


Lagi-lagi, bentangan senyuman Louis tergambar jelas di garis bibirnya saat dia sadar, dia dan Angel sudah seperti sepasang kekasih bahkan sebelum hubungan itu ia resmikan malam ini. Louis tidak sabar menyematkan sepasang lingkaran berwarna putih dan bertahtakan berlian kecil ditengah yang tadi sempat ia beli di toko perhiasan andalan sejuta kaum Borjuis, pada jari manis Angel.


“Yuk.” ajaknya sambil membuka lengan membentuk sudut ruangan agar Angel meletakkan telapak tangannya disana.


“Pak, ini terlalu berlebihan. Saya—”


“Jadi, kamu malu gandengan sama saya?”


Tanpa basa-basi dan menyangkal perasaan senang dihatinya, Angel meraih lengan kekar Louis dan menyarangkan telapak tangannya disana.


“Terima kasih, senorita.” bisik Louis yang berhasil membuat anak gadis orang itu kelimpungan.


***


“Tante tidak menggangu kamu kan, Lia?”


Liana tersenyum ruang karena dia sudah berhasil membuat Jenita menyukai dirinya. Langkahnya ingin dekat dengan Louis mungkin akan semakin mudah jika dia sudah berhasil menggaet hati si mama seperti ini.


“Tidak, tante.” sahutnya cepat sambil mengusap satu lengan Jenita yang terbalut blazer coklat. “Kita mau kemana, Tante? Ketempat wanita itu lagi?”


Jenita menoleh, ia menggeleng. “Tidak. Kita akan bertemu seseorang dan membahas sesuatu yang sangat penting.”


***


Bicara tentang tinggi badan, Louis memiliki tinggi yang cukup jauh dari orang Asia pada umumnya. Dia memiliki kaki jenjang dan tubuh proporsional. 187cm/ 78kg menjadi penyempurna fisik Louis semakin wajah tampannya. Sedangkan Angel, dia berada dititik 171cm/59kg yang begitu terlihat pas jika disandingkan dengan Louis.


“Terima kasih, pak.” tutur Angel setelah berhasil duduk di kursi bak ratu. Louis memperlakukannya dengan amat sangat baik.


“Sepertinya, nanti kita perlu mengubah nama panggilan satu sama lain, deh.” goda Louis pada Angel yang kali ini menggigit bibir bawahnya.


Hidangan yang sebelumnya dipesan Louis muncul satu persatu dan mulai memenuhi meja. Angel bahkan menahan mati-matian agar liurnya tidak menetes ketika melihat berbagai jenis makanan itu menguarkan aroma sedap yang begitu menggoda lidah.


Setelah pramusaji itu menata semua set menu yang dipesan Louis dan mendorong troli menjauh, Louis memperbaiki posisi duduk sesuai table manner yang sudah ia lakoni selama bertahun-tahun di muka umum.


“Selamat makan.” katanya menginterupsi kediaman Angel. Makan besar dengan menu luar negeri seperti ini memang begitu menyulitkan untuk Angel. “Kenapa, Ngel?”


Seolah tau dengan kegelisahan Angel, Louis mulai berbicara terlebih dahulu.


“Saya, tidak tau bagaimana cara memulai makanan ini, pak.”

__ADS_1


Louis terkikik, rupanya itu yang membuat wajah cantik bak malaikat milik Angel terlihat suram. Dengan penuh perhatian dan kasih sayang Louis menjawab. “Makan sesuka kamu saja. Sebisa kamu. Nggak perlu perhatiin sekitar. Cukup percaya dan anggap hanya ada saya saja yang sedang bersama kamu sekarang.”


Angel tersenyum geli. Menertawakan kebodohannya yang justru membuatnya malu dan semakin terlihat tidak pantas bersanding dengan Louis. Akhirnya dia meraih sendok dan garpu untuk memakan hidangan pembuka diatas meja. Ia tau, semua menu yang dipesan ini, tidak murah harganya. Untuk itu, Angel harus menghargai meskipun dia sama sekali tidak tau table manner yang sebenarnya itu seperti apa.


Setelah hidangan pembuka, beberapa pramusaji datang dengan interval dua puluh menit untuk membawa menu utama. Disini, Angel semakin khawatir jika dirinya akan mempermalukan Louis. Wajahnya terlihat panik, dan itu sama sekali tidak luput dari sorot mata Louis.


“Selamat makan.” ucap Louis lagi, mempersilahkan Angel untuk memakan dengan cara sebisa yang ia lakukan. Kata Louis ia bebas melakukan dengan caranya sendiri, jangan melihat orang lain. Tapi Angel tidak akan diam saja dan terlihat bodoh ditengah orang-orang dengan kepiawaiannya meraih urutan sendok berbeda ukuran secara bergantian. Kali ini, dia melihat gerakan tangan Louis dan mengikuti apa yang dilakukan pria itu. Tapi, semuanya buyar saat Louis berkata, “Kamu, tidak ada alergi makanan kan, Ngel?”


Angel mengangkat wajah, menatap Louis dengan ekspresi polos. “O-oh. Tidak, pak. Saya bisa makan semua jenis makanan.”


“Syukurlah. Karena saya tadi lupa, tidak bertanya sama kamu terlebih dahulu dan memesan begitu saja.”


Angel melihat lobster berukuran raksasa di tengah meja. Lobster yang disiram saus merah yang terlihat pedas dan lezat, Angel menelan ludahnya susah payah. Sedangkan Louis yang melihat itu, tersenyum dan bergerak maju untuk memotong beberapa bagian lobster dan meletakkan diatas piring Angel.


“Enak lho. Makan yang banyak ya, beb.”


Angel mendadak beku. Beb? Maksudnya apa?


Wajah Angel merona seketika.


“Pak, bapak manggil saya—”


“Ah, itu nanti saja. Sekarang makan dulu yang banyak ya, cantik.”


Sumpah, Angel ingin terbang ke langit saat Louis menyebutnya dengan sebutan-sebutan manis seperti itu. Apa pria itu sengaja menggodanya?


Dengan hati berbunga-bunga, Angel melakukan perintah Louis. Ia makan banyak dan tidak peduli berapa banyak kalori yang masuk ke tubuhnya. Ia hanya ingin membuat Louis senang dan bangga sudah memilihnya, karena ia bukan tipikal wanita pemilih dalam hal makanan.


Setelah menu utama selesai dinikmati, menu penutup tiba sepuluh menit kemudian. Perut Angel benar-benar seperti hendak meledak jika makanan yang dibawa kali ini berupa makanan berat. Tapi, ia mengucap syukur karena makanan yang datang hanya berupa potongan kue kecil dengan Cherry diatasnya, dan juga sebuah minuman yang terbuat dari buah dalam gelas berleher tinggi.


“Pak, perut saya mau meledak.”


“Eh, kenapa?”


“Sepertinya saya makannya terlalu over. parut saya tidak muat.” katanya, sedikit mual ketika melihat hidangan terakhir yang tersuguh didepan matanya.


Louis tertawa. “Tidak apa-apa. Nanti, kalau jadi istri saya, makannya harus lebih banyak dari yang tadi, sanggup?”


Entah untuk ke berapa kalinya Angel menahan agar jantungnya tetap aman berada ditempat. Louis terlalu membuatnya melayang, melambung dalam angan.


“Bapak, ih!” rajuk Angel dengan suara sedikit manja yang membuat Louis gemas, lalu bangkit dan mengusap puncak kepalanya.


“I Love You.” []

__ADS_1


###


Nah, lho....


__ADS_2