My Angel Baby

My Angel Baby
Rival dalam pertemanan


__ADS_3

Seharian ini Lia dan teman-temannya terlalu sibuk dengan urusan sekolahnya, sehingga untuk mengurus usahanya, mereka harus menyempatkan diri di akhir hari dengan melakukan video call agar mereka masih bisa melihat perkembangan usahanya.


"Lia, bagaimana customer servis kita yang baru? Apa sudah dapat?" tanya Bayu.


"Sudah, bahkan mereka berdua sudah mulai bekerja hari ini juga. Dan papa bilang kalau semuanya aman. Maaf ya, tadi aku pulang terlalu sore karena akan ada kompetisi karate, dan pelatihku sedang menyaring kandidat untuk diikutsertakan dalam acara itu. Makanya aku tadi pulang agat telat" kata Lia.


Memang pertengahan ajaran baru seperti ini banyak sekali perlombaan yang diadakan baik tingkat regional maupun tingkat nasional. Dan selama ini Lia selalu ikut kompetisi selama ada kesempatan. Sesuai janjinya dengan Johan dulu.


Begitupun Johan yang juga masih aktif di karate meskipun sudah pindah ke luar negeri. Mereka berdua bahkan masih bermimpi untuk bisa bertemu di kompetisi tingkat dunia.


"Ya, akupun sama, Lia. Aku juga masih harus berlatih dengan mentorku untuk lomba sains yang waktunya juga sudah semakin dekat" kata Bayu.


"Akupun satu tim denganmu, Bay" kata Ken singkat.


Hanya Silvi yang sedikit tidak tertarik dengan dunia pendidikan. Meski sebenarnya diapun akan memiliki kemampuan yang sama dengan temannya jika mau berlatih. Tapi dunia fashion dan modelling lebih membuatnya tertarik.


Itulah mengapa Silvi selalu tampil fashionable, bahkan dia ikut kelas modelling di luar jam sekolahnya.


"Aku pusing tiap kali mendengar kalian berlatih dan belajar, tapi aku akan selalu mendukung kalian kok. Semoga kalian menang ya. Semangat" kata Silvi.


Tiba-tiba ponsel Lia bergetar, rupanya Johan juga ingin melakukan video call sementara Lia pun juga tengah melakukannya dengan temannya yang lain.


Jadilah mereka berlima kini saling berkirim pesan dengan panggilan video. Johan sudah mengenal ketiga teman Lia dengan baik. Karena sebelumnya mereka juga sudah sering video call bersama.


"Aku melihat kalian memiliki usaha baru, ya? Itu yang Family Magazine, kenapa kau tak mengajakku juga, Lia?" tanya Johan sedikit cemberut, karena merasa jika Lia telah melupakannya.


"Posisimu terlalu jauh, bule. Kami saja disini kesulitan untuk membagi waktu mengurusi sekolah dan usaha itu, apalagi kamu yang ada di liar negri" kata Bayu realistis.


"Benar juga, hahaha. Bagaimana harimu, Lia? Apa kau tumbuh dengan baik?" tanya Johan.


"Aku baik Jo. Tentu aku tumbuh dengan baik meski tinggi badanku tak sebanding denganmu. Karena kau itu memang seorang bule, makanya tubuhmu tinggi" kata Lia membela diri.


Memang tinggi badan Johan meningkat pesat saat terakhir mereka bertemu. Dulu saat Johan akan pergi, Bayu lebih tinggi darinya, tapi kini Bayu hanya sebatas dada Johan meski usia Bayu lebih tua daripada Johan.

__ADS_1


"Kau tidak usah mentindirku tentang tinggi badan dengan bertanya hal konyol seperti itu terhadap Lia, Johan. Meski kau lebih tinggi, aku lebih pintar darimu" kata Bayu tak mau kalah.


"Eits, jangan salah kak Bayu, karena aku pun juga memiliki IQ yang hanya selisih 2 poin darimu" kata Johan.


"2 poin pin sebuah selisih yang tak bisa dihapuskan, Jo" kata Bayu santai.


Mereka berdua memang selalu berkompetisi agar bisa terlihat lebih unggul di hadapan Lia.


"Sudahlah, tidak usah berdebat. Kalian ini selalu saja" kata Lia berusaha menengahi.


"Oh iya, Kak Ken. Bagaimana perkembangan produksi majalahnya? Apa ada hambatan?" tanya Lia kembali ke meeting mereka.


"Semuanya aman. Jatah 3 hari untuk merampungkan satu majalah yang paling tebal juga sudah bisa kami handle. Dari total pesanan hingga sore tadi, sudah terselesaikan sekitar 60%" ucap Ken dengan tenang. Dia memang selalu bekerja cepat dan akurat.


"Uwah, kak Ken memang hebat. Timmu sangat solid ya?" tanya Silvi bangga.


"Tentu" jawab Ken, bahkan dia masih terlihat sibuk dengan ponselnya yang lain meski sedang video call dengan gengnya menggunakan laptop.


"Kau sendiri, bagaimana kelas modelling mu, Sil?" tanya Lia.


Baru kali ini ada sebuah kompetisi dalam hidup Silvi, apalagi kompetisi itu berkaitan dengan minatnya di bidang fashion. Dan itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri baginya.


"Uwah, kau sangat hebat Sil. Berapa lama kau akan di endors oleh mereka?" tanya Lia.


"Jika di seleksi ini aku menang, maka mereka akan mengajukan kontrak selama setahun ke depan dan tentunya dengan jadwal yang tak akan mengganggu sekolahku" kata Silvi bangga, tapi Bayu yang diinginkan olehnya untuk sekedar memberi selamat malah terkesan biasa saja.


"Kau memang cewek yang cantik dan fashionable, Sil. Tak heran jika kau akan mudah untuk menumbangkan lawanmu diatas catwalk" malah Johan yang terkesan bangga terhadapnya.


"Terimakasih Jo" kata Silvi yang masih mengharap ada sedikit pujian dari Bayu untuknya.


"Baiklah, sepertinya sudah larut malam. Lebih baik kita istirahat saja, dan sampai bertemu besok di sekolah" kata Bayu yang merasa jika obrolan mereka sudah tak lagi fokus pada tujuan awalnya.


"Oke, kak Bayu mau dibawakan apa besok untuk bekal?" tanya Silvi yang biasa membuatkan bekal untuk teman-temannya.

__ADS_1


"Tidak perlu repot. Aku bahkan tidak tahu apakah besok saat istirahat kita bisa berkumpul" kata Bayu menolak.


Silvi terlihat sedikit bersedih, tapi dia terlalu pintar menyembunyikan perasaannya. Wajahnya tetap tersenyum dengan penolakan Bayu.


"Oke, kita tutup video ini. Masih ada sesi yang harus aku lakukan. Selamat malam" pamit Ken yang langsung mematikan kameranya dan membuat kotak atas namanya menjadi hitam di layar.


"Ih, kak Ken itu selalu saja. Yasudah aku pun juga sudah mengantuk, selamat malam Lia, Johan dan kak Bayu. Have a nice dream" pamit Silvi sambil melambaikan tangan dan mematikan kameranya hingga hanya tersisa tiga orang yang masih bertahan.


Seperti biasa, Lia, Bayu dan Johan memang sering video call bertiga saja. Johan dan Bayu selalu berkeinginan untuk menjadi yang terbaik di mata Lia.


Bahkan untuk berpamitan agar bisa mematikan obrolan saja, selalu Lia yang berinisiatif melakukannya. Karena kalau tidak, mereka bisa saja membiarkan kamera mereka tetap on sampai pagi tiba.


"Kau tidak sekolah besok, Jo?" tanya Lia.


"Tentu saja sekolah" jawab Johan singkat.


"Kak Bayu nggak belajar?" beralih pada Bayu, Lia berharap sesi telepon itu bisa segera berakhir.


"Ini juga sambil belajar" kata Bayu yang ternyata ada sebuah buku di pangkuannya sejak awal mereka melakukan panggilan.


"Ya Tuhan, aku dangat mengantuk. Bisakah aku mematikan panggilan ini dan tidur?" tanya Lia yang sudah nampak bosan.


"Tentu saja, beristirahatlah. Sampai bertemu besok, Lia" kata Bayu mengizinkan, tapi tak juga mematikan kameranya.


"Sure Lia, have a nice dream" kata Johan sambil melambaikan tangannya.


Tanpa pikir panjang, langsung saja Lia mematikan kameranya. Karena akan butuh waktu yang lama kalau harus menunggu salah satu dari Johan atau Bayu untuk melakukannya.


Johan dan Bayu masih merasa sebagai rival dalam hubungan pertemanan mereka bersama Lia. Keduanya masih menginginkan untuk menjadi yang terbaik di hadapan Lia.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2