
...MAB by VizcaVida...
...|40. Malam Pertama?|...
...⚠️⚠️WARNING⚠️⚠️...
...FULL NC'S PART ²¹+...
...BE A WISE READER GUYS...
...Bagi kalian pembaca di bawah umur atau yang merasa tidak nyaman dengan scene yang berhubungan dengan se-ks, silahkan skip saja untuk part ini....
...Udah di peringatkan lho ya, jangan nakal ☺️...
...Terima kasih...
...Selamat membaca untuk yang sudah memenuhi persyaratan legal...
...[•]...
Setelah menemani keluarga yang menyaksikan Angel dan Louis mengucap janji suci, mereka berdua makan siang bersama di sebuah restoran mewah setelah acara sakral itu usai, dan berlanjut mengantar Giara ke bandara. Louis dan Angel menuju apartemen perempuan itu dan membersihkan diri ketika jam masih menunjuk angka empat sore, dan waktu makan malam masih jauh.
Tujuan mereka datang kesini bukan untuk tinggal, melainkan mengambil beberapa barang Angel untuk di bawa ke apartemen Louis. Ya, mereka sepakat tinggal di sana dengan Angel mengakhiri kontraknya di apartemen yang sudah ia tinggali selama empat tahun ini.
“Bawa barang yang kamu butuhkan aja dulu, sayang. Nanti yang lainnya bisa kita ambil pelan-pelan kalau ada waktu senggang.” titah Louis sesaat setelah keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan aroma sabun Angel menyatu di tubuhnya.
“Iya.” sahut Angel lembut. Ia sibuk memilah beberapa pakaian yang akan ia bawa pindah ke tempat Louis. “Apa mobilnya bisa bawa oven kue?”
Louis menoleh. Ia tersenyum. “Bisa, sayang. Memangnya se-gede apa oven nya sampai mobil nggak cukup?”
Sebenarnya, Angel bertanya hanya untuk memastikan Louis tidak keberatan jika mobil mahal milik suaminya itu membawa barang-barang miliknya yang ia pergunakan menambah penghasilan.
“Oke.” jawab Angel singkat, kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Angel yang sudah mandi terlebih dahulu itu sudah mengganti pakaiannya dengan baju rajut berwarna cream, dan celana jeans hitam. Sedangkan Louis, terpaksa memakai tuxedo nya lagi karena tidak ada baju ganti untuknya.
Langkah kakinya mendekat kepada Angel, kemudian memeluk perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu dari arah belakang hingga membuat si empu terjingkat.
“Terima kasih untuk semuanya, sayang.” bisik Louis seduktif. Ia mengecup surai Angel dua kali kemudian meletakkan dagunya diatas bahu Angel.
“Cuma ucapan terima kasih?” canda Angel mulai usil. “Hadiahnya mana?”
Louis menjauhkan wajahnya demi menatap fitur samping wajah Angel. “Hadiah?” ide jail Louis muncul. “Nanti malam saja hadiahnya.”
Sontak Angel melebarkan kedua matanya, tidak menduga dengan jawaban Louis. “Memangnya, hadiah apa yang sudah kamu siapkan?”
Louis meraih dagu Angel, lalu mengecup bibir perempuan itu singkat. “Ada. Rahasia.”
***
Louis dan Angel sampai di apartemen pria itu di jam delapan malam. Mereka sempat mampir makan malam di sebuah kedai pinggir jalan yang direkomendasikan oleh Angel. Dan, rasanya tidak buruk bagi Louis yang selama ini lidahnya tidak pernah sekalipun menyentuh makanan pinggir jalan.
Koper besar berisi pakaian itu didorong masuk oleh Angel, sementara Louis membawa oven kue milik Angel dan meletakkannya di dapur.
Ini pertama kalinya Angel masuk dan menjejakkan kaki di apartemen Louis. Rapi, bersih, dan harum untuk ukuran apartemen pria yang hidup sendirian. Louis tipikal pria yang suka kebersihan.
__ADS_1
Angel tersenyum dan berterima kasih atas kebaikan Tuhan memberikan sosok Louis sebagai hadiah terindah dalam hidupnya.
Ah, ngomong-ngomong tentang hadiah, Angel jadi ingat tentang hadiah yang sempat dia bicarakan bersama Louis tadi sore.
“Sayang,” panggil Angel tiba-tiba menginterupsi perhatian Louis yang sedang sibuk memantau beberapa pekerjaan dari iPad miliknya di atas ranjang.
“Hmm?” jawab Louis yang kini sudah mengalihkan perhatian pada Angel.
“Katanya ada hadiah untuk aku.”
Louis hampir lupa jika Angel tidak mengingatkan dirinya.
“Oh ya. Hampir saja lupa.” katanya lalu bangkit menuruni ranjang dan berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil sebuah kotak hadiah yang kemudian diserahkannya pada Angel dengan senyuman jail. “Ini.” katanya. “Stefany yang merekomendasikan itu. Aku juga tidak tau kamu suka atau tidak. Tapi, semoga cocok dan kamu suka.”
Dengan penuh antusias, Angel menerima kotak hadiah dari tangan Louis dan membawanya duduk diatas ranjang hingga memantul. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum bersama rasa penasaran yang masih membuncah di hatinya.
Tapi,
Kening Angel seketika mengerut, senyuman yang tadinya begitu semringah kini sirna setelah tau apa isi kotak hadiah tersebut.
“Untuk a-pa ini?” tanya Angel kikuk. Bukannya tidak tau, Angel hanya berpura-pura menanyakan hal itu pada Louis untuk melihat reaksi pria itu.
“K-kata stefy, perempuan suka memakai itu didepan suaminya.” jawab Louis sambil menggaruk ujung pelipisnya tak kalah gugup ketika melihat ekspresi yang muncul di wajah Angel.
Angel mendengus tak habis pikir. “Lalu, apa aku harus memakainya juga?”
Ini pertanyaan jebakan, menurut Louis. Angel pasti hanya mengujinya sekarang.
“K-kalau kamu tidak suka, nggak perlu di pakai.”
“Baiklah. Mari kita coba dahulu.” putus Angel, kemudian menarik satu piece kain tipis dengan sepasang underwear berenda itu dari dalam kotak hadiah dan membawanya kekamar mandi.
Jakun Louis naik turun membayangkan Angel dengan lingerie hitam itu keluar dari kamar mandi. Bahkan, adik kecilnya sudah mulai bereaksi.
“Hey, jangan mesum, man.” makinya pada si jantan yang mulai menyiksanya, mulai membuat nya tidak nyaman dan berlari mencari celana ganti yang lebih longgar. “Sabar, oke.”
Pintu kamar mandi terkatup, Angel berdebar sambil memeluk satu set baju tembus pandang dan boros fentilasi itu di dadanya. Angel tau tujuan Stefany merekomendasikan pakaian vul-gar ala-ala barat itu agar malam pertama dirinya dan Louis berjalan lancar. Tapi, entah mengapa terasa sangat memalukan memakai baju tembus pandang seperti itu didepan laki-laki. Ya meskipun Louis sekarang bukan orang lain, tapi tetap saja Angel malu.
“Baiklah, mari coba saja dulu.” de-sah nya frustasi sambil mematut diri didepan kaca dan mencepol asal rambutnya sedikit berantakan. Melepas satu persatu pakaian sebelumnya yang ia kenakan, kemudian menggantinya dengan selembar pakaian transparan yang memperlihatkan lekuk tubuh dan juga pakaian dalam yang juga sudah ia ganti.
Angel merona. “Kenapa aku malah terlihat seperti wanita penggoda begini?”gumamnya pelan pada dirinya sendiri. Angel tidak biasa menggunakan pakaian seperti ini. Oke, dia mengakui jika lekuk dan kedua dadanya memang indah, tapi apa semua terlihat sama didepan Louis nanti?
Suasana gusar dalam hati Angel membuat dua telapaknya tanpa sadar meremas tepian westafel karena gelisah. Bibir bawahnya ia gigit karena cemas. Cemas pada beberapa hal yang ... oke, keluar saja. Biar Louis sendiri yang menilai.
Lengannya terulur meraih handle pintu kamar mandi. Ia memutar bulatan itu dengan gerakan terlampau pelan hingga pintu terbuka.
Kepala ia longokkan keluar perlahan, kemudian melangkah melewati pembatas kamar mandi dengan langkah kecil.
Tidak terlihat sosok Louis, ruangan ini kosong. Tak mendapati keberadaan Louis di kamar, Angel memilih berjalan keluar kamar demi mencari sang suami. Ruangan yang temaram membuat Angel sekuat tenaga menajamkan mata. Dia mencari di beberapa titik yang terdapat tempat duduk yang mungkin Louis sedang sibuk melanjutkan pekerjaannya disana karena terlalu lama menunggunya. Angel jadi merasa bersalah sudah berada di dalam kamar mandi selama itu dan membuang waktu berharga milik Louis.
“Sayang,” panggil Angel, menyusuri ruang terbuka yang sangat luas, lantas berjalan ke arah lain menuju dapur.
Benar, Louis sedang berada disana, duduk di meja makan minimalis modern sambil menggenggam cangkir minuman. Angel mempercepat langkah dan mendekat.
“Sayang, ngapain kamu disini?”
Kehadiran Angel yang tiba-tiba menyapa dirinya yang sedang tidak fokus membuat Louis berjengit kaget setengah mati. “Astaga, kamu bikin aku kaget.”
__ADS_1
Angel tertawa saat Louis memperhatikannya dari atas sampai bawah. Dan sekarang, tatapan itu terhenti pada bagian dada Angel yang memiliki ukuran cukup besar. Fantasi Louis mulai bermain nakal.
“Aku nyariin kamu di kamar tapi malah ada disini.”
Louis menarik Angel dalam pelukannya. Si jantan mulai berulah lagi setelah berhasil di jinakkan. Tatapan Louis tak lepas dari mata cantik Angel yang kini juga sedang menatapnya.
“Cantik.” bisik Louis, serak. Lalu tak ingin membuang waktu, ia pun mengecup singkat bibir Angel dan membuat gadis itu merona. “Baju ini sangat cocok denganmu. Aku ingin kamu memakainya setiap malam.”
Gila. Louis benar-benar dibuat gila oleh Angel.
“Lou!” pekik Angel tanpa sadar memanggil nama Louis ketika tubuhnya diangkat oleh dua lengan kekar pria itu. Refleks tangan Angel melingkari leher Louis.
“Kita ke kamar.”
Angel menyembunyikan wajahnya diantara perpotongan leher pria yang berstatus suaminya ini karena malu saat Louis membawanya berjalan menuju kamar mereka. Disana, Louis menurunkan Angel perlahan, mengecup mesra bibirnya berkali-kali hingga Angel terbawa suasana dan membalas setiap ciuman yang diberikan Louis.
“Apa kamu bersedia menjadi milikku seutuhnya, malam ini?” tanya Louis tepat diatas wajah Angel sembari mengusap kening gadis cantik itu yang mulai basah oleh keringat.
Kepala Angel mengangguk pelan, dan dengan senang hati Louis kembali menyarangkan ciuman-ciuman lainnya di bibir, pipi, hidung, dan leher jenjang Angel sebagai permulaan.
Telapak tangannya tak mau tinggal diam, dia mengusap pinggang dibalik kain trans Paran itu dan mulai menelusup masuk, mengurai permukaan kulit halus Angel dengan sentuhan yang membuat Angel seperti di terbangkan ke awang. Mata Angel memejam saat telapak besar Louis menangkup satu buah dadanya yang masih tertutup brasier. Angel bahkan menggigit bibirnya menahan geli ketika bibir Louis ikut mendarat dan mengecup secara bergantian di sana.
Louis tidak bisa menahan lebih lama, dia melepas pengait brasier hitam berenda yang mengungkung dada Angel dengan sekali hentikan jari. Lantas dia kembali bermain disana, mengerjai Angel hingga bibir wanita itu tidak berhenti menganga.
Hingga tanpa sadar mereka sudah dalam keadaan naked dan Louis pun sudah memastikan semua sudah terjamah dan tak seincipun tertinggal, Louis mulai memposisikan diri, mempertemukan si jantan dan betina.
“T-tunggu,” pekik Angel yang mulai merasa kesakitan. Tangannya mendorong perut bagian bawah Louis agar menjauh sebentar. Ia sudah menduga jika rasanya akan seperti ini.
Tadi, saat Louis melepas kain terakhir yang membungkus area pribadinya, Angel sempat dibuat panik lantaran melihat kejan-tanan Louis memiliki ukuran diluar ekspektasi. Tapi si pemilik, berhasil mengalihkan semua kepanikan Angel dan mulai menggodanya dengan sentuhan yang mema-bukkan.
Sebenarnya, yang tersiksa bukan hanya Angel, Louis pun merasakan hal sama. Ia merasa ngilu dan sedikit perih di ujung kulit phallus nya karena tidak adanya ruang gerak sedikitpun disana. Ah, lebih tepatnya memang ruangan itu masih berusaha ia buat saat ini.
“Kenapa?” tanya Louis, menjatuhkan diri diatas tubuh Angel dan mengecup lagi bibir Angel yang sangat ia sukai itu. Ia juga mengusap bulir keringat di kening Angel yang basah. “Sakit?”
Angel mengangguk.
“Apa kita sudahi saja dulu,”
Angel sedikit berfikir, kemudian mengangguk lagi, menuruti Louis. Mungkin cukup untuk sekarang karena dirinya juga kelelahan setelah melakukan banyak hal hari ini.
“Apa kamu tidak marah?” tanya Angel polos tanpa melepaskan manik matanya pada manik mata Louis, yang membuat pria dalam gairah yang mulai mereda itu tersenyum dan lagi-lagi mengecup bibirnya.
“Enggak. Ya sudah, besok kita coba lagi.” kata Louis dan perlahan bangkit dari atas tubuh Angel.
“Maaf.” kata Angel memperhatikan Louis yang menjauhi dirinya dan memungut satu persatu pakaian yang tergeletak di lantai.
Angel mengangkat tubuh dan meringis ketika menyusul Louis berdiri, menerima pakaian tembus pandang dari tangan Louis. Lengan pria itu terulur, mengusap puncak kepala Angel lembut penuh cinta.
“Nggak apa-apa, sayang. Aku ngga mau maksa kamu. Aku ngga mau egois dan membuat kamu merasa nggak nyaman. Kita bisa coba lagi besok.”
Keduanya memakai kembali pakaian setelah bergantian ke kamar mandi.
Angel menyusul Louis yang sudah terlebih dahulu merebahkan diri di atas ranjang. Dengan sekali sentak, Louis membawa Angel ke pelukannya. Mengusap punggung wanitanya,
“Sekarang kita tidur dulu.” tutur Louis sambil mengembuskan nafas kelewat besar saat menyesap aroma kesukaannya dari tubuh Angel. Sedangkan yang dipeluk mengangguk dan membalas pelukan dengan melingkarkan satu tangan diatas perut padat Louis.
“Good night, sayang. Sweet dream.” []
__ADS_1