My Angel Baby

My Angel Baby
Geng Nirwana


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu.


Jika kau tak berhati-hati dalam menggunakannya, maka hanya penyesalan yang akan datang di masa depanmu


Percayalah jika semua hal yang kau lakukan dengan cara yang terbaik dimasa sekarang, akan bisa memberikanmu imbas yang baik di masa yang akan datang.


~Angelia~


...*******...


"Lagi nulis apa sih?" tanya Bayu yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Lia.


"Nggak nulis apa-apa. Cuma quote untuk diri sendiri" jawab Lia santai.


Menggunakan seragam baru berwarna putih biru membuatnya jadi merasa lebih dewasa sekarang. Padahal baru juga seminggu ini seragam merah putihnya berganti warna.


Ya, empat tahun sudah berlalu. Kini, masih di lingkungan sekolah yang sama Lia menjadi siswi SMP kelas tujuh, sementara Bayu sudah kelas sembilan.


Mereka masih betah berteman meski berbeda kelas. Dan jangan lupakan Silvi yang sampai saat ini juga masih saja mengidolakan Bayu.


"Teman kamu yang aneh itu kemana?" tanya Bayu sambil celingukan, heran saat tak melihat wajah dengan mata berbinar yang selalu Silvi berikan saat bertemu dengannya.


"Silvi? Dia nggak masuk sekolah karena katanya sedang menemani ayahnya yang haru ini upacara kenaikan pangkat" jawab Lia.


"Oh, baguslah. Jadi hari ini aku bisa sedikit bernafas lega" kata Bayu.


"Ih, bilang saja merasa kehilangan karena nggak ada Silvi" goda Lia.


Bayu hanya menanggapi dengan tawa khasnya. Bayu dan Lia, keduanya adalah bintang sekolah.


Setiap ada perlombaan, mereka akan selalu menjadi kandidatnya. Dan karena mereka sering terlihat bersama, entah darimana teman-teman sekolahnya malah menyematkan nama 'geng Nirwana' pada mereka berempat. Ya, mereka berempat dengan Silvi dan Ken.


Dinamakan geng Nirwana karena selain mereka good looking dan berotak cerdas, mereka juga berasal dari keluarga berada.


Lia dan keluarga Alexander, Silvi yang anak dari seorang Polisi berpangkat, Bayu anak dari direktur perusahaan kosmetik ternama dan Ken yang ayahnya selalu keliling Asia, kabarnya ayah Ken adalah mafia meski tak pernah ada yang bisa membuktikannya. Apalagi wajah oriental Ken yang ditunjang dengan tubuh yang tinggi menjadi faktor penambah daya pikatnya.


Dan Ken bukanlah anak yang suka bicara, meski bicaranya irit, dia akan jujur saat suka atau tidak suka terhadap sesuatu.


"Aku berhasil meretas satu akun milik seorang pejabat terkenal di negri ini. Tapi rupanya dia sangat bersih, tak ada kecurigaan tentang korupsi dari akun yang berhasil aku retas kemarin" kata Ken dengan santainya.


Untuk masalah peretasan data, memang Ken sudah memiliki skill sejak usia dini. Saat dimana dia sering bersama dengan anak buah ayahnya yang mengajarinya teknik komputer dan jaringannya.


"Kau jangan suka bermain api, Ken. Nanti kalau ketahuan kan bahaya" kata Bayu mengingatkan.


"Itu kemarin, sekarang semuanya sudah aman dan sudah aku kembalikan seperti semula. Tak ada yang tahu dengan hal itu. Kau tenang saja" kata Ken sambil memainkan ponselnya.


"Memangnya siapa pejabat yang kamu maksud, kak? Aku jadi ikut penasaran" tanya Lia, berharap ada informasi tentang satu saja pejabat yang jujur melalui data yang Ken dapatkan.


"Sudahlah tidak usah membahasnya. Bahaya kalau sampai ada yang mendengar" cegah Bayu agar Ken tak lagi meneruskan pembicaraannya.


Sebenarnya Lia juga sangat tertarik di bidang seperti Ken yang bisa meretas data dan menghafalkan rumus-rumus rumit. Tapi masih belum ada kesempatan baginya untuk mendalami hal itu.


Dan saat dia mengutarakan keinginannya pada Ken, anak lelaki itu menyanggupi untuk mengajari Lia juga saat ada waktu yang tepat.


"Bagaimana kabar Johan?" tanya Bayu mengalihkan pembicaraan.


"Dia baik. Kulitnya yang terbakar sinar matahari saat kita berlibur di pantai di liburan kemarin juga sudah sembuh. Dasar anak bule, aku tidak menyangka kalau dia akan sulit beradaptasi dengan panasnya pantai Jakarta, kak" kata Lia sambil terkekeh.


Mereka berempat ditambah dengan Johan yang beberapa hari yang lalu liburan di Jakarta telah mengunjungi salah satu pantai.


Dengan bertelanjang dada, Johan dengan pedenya tertidur dibawah sinar matahari yang menyengat.


Dan bisa dibayangkan apa yang kemudian terjadi?


Ya, kulit Johan habis terbakar sinar matahari. Dan hal itu sukses membuatnya harus menyambangi klinik kesehatan kulit agar bisa mengobati sakitnya kulit yang terbakar sinar matahari.


Ayah Johan sudah benar-benar berubah, pria itu bahkan tak pernah terlihat dekat dengan satu wanitapun semenjak memilih untuk merawat Johan dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


Dan bisa dipastikan juga, berkat kerja kerasnya, kini ayah Johan sudah bisa mengembalikan perusahaannya yang sempat collapse.


Sekarang perusahaan ayah Johan sudah maju pesat, dengan banyak anak cabang di berbagai negara, termasuk di Indonesia.


Memiliki usaha di bidang travel membuat ayah Johan sedikit sibuk berkeliling dunia untuk memastikan perusahaannya berjalan dengan baik.


Tapi meski begitu, tak menghalanginya untuk selalu memberi perhatian kepada Johan. Tiap kali ayahnya berada di Polandia, maka dia akan selalu dirumah dan mempercayakan jalannya perusahaan pada anak buahnya.


Sementara sang ayah hanya mengawasi dari rumah sambil menghabiskan waktu bersama anak semata wayangnya itu agar Johan tak merasa kurang kasih sayang.


Sementara Ruby masih belum bisa meninggalkan jeruji besi karena hukuman lima belas tahun penjara yang harus dia lalui masih tersisa sebelas tahun ke depan.


Ruby akan bisa bebas saat Johan sudah beranjak dewasa. Dan entah nanti apakah Johan dan Robi bisa menerima kehadiran Ruby atau tidak.


Yang jelas, saat wanita itu nanti bebas dari penjara maka aset yang dia miliki hanyalah sebuah rumah yang cukup mewah namun sudah tak terurus karena hanya dia ahli waris yang masih hidup.


Kedua orang tua Ruby sudah tiada, begitupun perusahaan ayah Ruby yang terpaksa harus dijual untuk menutupi semua hutang-hutangnya.


Dan hanya menyisakan sebuah rumah untuk Ruby, tapi rumah itu tak ada yang merawat.




"Ini hadiah untukmu, Sam" kata Lia dengan langkah riangnya saat pulang sekolah.



Tadi dia menyempatkan diri untuk membelikan adik laki-lakinya sebuah mobil mainan.



"Telimakaci kak" ujar Sam dengan senangnya.




Sam yang masih cadel akan membuat Lia tertawa saat berusaha mengajarinya mengucap huruf R.



"Kemana mama? Kenapa kau sendirian saja?" tanya Lia, karena Sam hanya berdua saja dengan pengasuhnya.



"Tidak tahu" jawab Sam yang sedang asyik dengan mainan barunya.



"Mama kemana sus?" tanya Lia.



"Di dapur non, mempersiapkan untuk acara anniversary pernikahan katanya" jawab suster pengasuh Sam.



"Oh, iya. Aku lupa kalau malam ini papa dan mama ada acara. Aku bahkan belum membelikan kado untuk mereka. Aduh, bagaimana ini" gumam Lia kebingungan.



Dan tepat disaat seperti itu, Bayu meneleponnya. Saat melihat layar ponselnya, Lia merasa jika Bayu bisa diandalkan.



"Hallo kak" sapa Lia setelah mengusap layar ponselnya.

__ADS_1



(....)



"Baiklah, tentu aku bisa menemanimu. Tapi setelahnya bantu aku mencarikan kado untuk papa dan mama yang malam ini merayakan anniversary pernikahan mereka ya. Aku benar-benar lupa untuk membelinya" kata Lia.



(...)



"Baiklah aku bersiap-siap dulu. Jemput aku satu jam dari sekarang" kata Lia dengan senyum kelegaan.



Bersama Bayu, dia akan mencarikan kado untuk kedua orang tuanya. Tentu setelah dia menemani Bayu untuk membeli sebuah buku.



Di era modern seperti ini, Bayu masih sangat suka membaca buku dengan berbagai genre. Dari ilmu pengetahuan sampai cerita novel, semua akan Bayu baca jika menurutnya buku itu menarik.



"Sus, tolong sampaikan ke mama dan kakek juga nenek kalau aku pergi dengan kak Bayu, ya" kata Lia memberikan pesan.



"Tuan dan nyonya kan sedang keluar negri, non" jawab susternya.



"Oh iya, aku lupa" jawab Lia yang sudah beranjak dari tempat Samuel.



Berjalan santai menuju kamarnya untuk bersiap-siap pergi bersama Bayu.



Sementara Abraham dan Suzy lebih sering berada di luar kota, bahkan keluar negri untuk menikmati liburan di masa tuanya.



Dan setiap kali pulang dari perjalanannya, pasti akan ada cenderamata yang dibelikan khusus untuk kedua cucu tersayangnya.



Vicky dan Viviane membiarkan saja irang tuanya pergi bersenang-senang untuk liburan.



Tapi kadang Viviane masih saja bersedih jika ingat ayahnya yang tak juga mau memaafkannya.



Tapi selalu Viviane menerima informasi dari kakaknya tentang keadaan ayah dan ibunya, tak lupa Viviane selalu memberikan sejumlah uang yang dia titipkan pada Brian untuk diberikan pada orang tuanya meski Viviane melarang Brian mengatakan jika uang itu berasal darinya.



.


.


.

__ADS_1


__ADS_2