My Angel Baby

My Angel Baby
Membuat Kue Dan Menjalin Keakraban


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|11. Membuat Kue Dan Menjalin Keakraban|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Angel sudah mempersiapkan semua bahan yang diperlukan untuk membuat kue sponge seperti dia membuat nya beberapa waktu lalu. Antara lain tepung terigu, gula pasir, susu cair, minyak sayur, beberapa putih dan kuning telur yang sudah ia pisahkan sebelumnya tadi, telur utuh, lemon, vanili, dan garam. Sedangkan di meja sudah ada beberapa baskom aluminium dan mixer yang disiapkan oleh Jenita.


“Ini . . . cara yang saya gunakan ketika membuat kue Sponge. Jadi, mungkin ada perbedaan dengan cara orang lain ketika membuat nya.”


“Nggak masalah. Nanti bisa tante sesuaikan.”


Angel tersenyum lalu mengambil mixer dan baskom untuk mengaduk putih telur dan gula. Dengan cekatan tangan Angel melakukan hal itu dan berhasil membuat Jenita berdecak kagum dalam hati. Sedangkan Stefany memperhatikan seksama, ingin mempraktekkan dirumah nanti. Pasti putrinya akan suka makan kue buatannya sendiri.


“Tante mau buat berapa resep?” tanya Angel serius sambil menatap Jenita sejenak, lalu kembali menurunkan pandangan karena menatap Jenita terlalu lama membuatnya merasa sadar diri.


“Tiga.” jawabnya mantab yang di angguki oleh Angel yang kemudian bergegas menimbang dan mempersiapkan semua bahan sambil memberi beberapa informasi kepada Jenita dan juga Stefany.


“Kamu pernah ikut kursus? Kok bisa mahir bikin kue?” tanya Jenita penasaran disela bunyi mixer yang berisik karena menggunakan kecepatan tinggi.


Angel tersenyum hangat. “Tidak, tante. Saya hanya mengikuti cara salah satu yutuber yang saya ikuti.”


Kelembutan dan sikap sopan Angel benar-benar menghipnotis Jenita. Ada rasa nyaman berada di sekeliling gadis ini.


“Nama lengkap kamu siapa?”


Angel sedikit terkejut ketika Jenita justru menanyakan nama lengkapnya. “Angelica Baby Gisamara Rubel.”


“Wah, panjang.” sahut Stefany sambil menolong si kecil yang kesulitan mengaduk tepung dengan sendok di tangannya. Sedangkan Jenita mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari keuletan tangan Angel yang masih memegang mixer.


“Sini biar saya yang buat. Kamu yang kasih instruksi ke saya.” kata Jenita mengambil alih mixer dari tangan Angel. “Stefy inget-inget urutannya. Nanti coba bikinin Rere di rumah.”


“Iya, mam.”


Setelah itu, Angel memberi instruksi kepada Jenita untuk mulai membuat adonan kue. Mereka sudah mulai ada di inti kegiatan.


Angel meraih baskom lain, kemudian memberikan dengan santun didepan Jenita. Meminta wanita itu mengocok kuning telur dan telur utuh hingga larut dengan alat pengocok manual. Lalu, Angel membantu Jenita memasukkan terigu sambil memegang saringan, mulai meletakkan dan menggoyang saringan perlahan. Sedangkan Jenita tetap melakukan aduk manual seperti yang Angel beritahukan hingga semua benar-benar tercampur rata.


Setelah itu, Angel mulai menarik bahan lainnya dan memberi tau bagaimana cara mencampurkan semua bahan ke pada Jenita. Wanita itu begitu antusias dan percaya diri. Dan ketika Jenita dan Stefany sibuk dengan adonan, Angel menuju tempat oven berada dan mulai mengatur suhu ke 170° Celcius agar nanti saat adonan sudah siap, mereka tidak perlu lagi menunggu oven panas.

__ADS_1


Selain itu, Angel juga mulai menyiapkan baking paper yang ia pasang didalam loyang supaya nanti mudah mengangkat ketika sudah matang. Dia juga mengambil loyang lain dan ia beri air sebagai alas kedua.


Angel kembali ke tempat Jenita dan Stefany berada. Mereka terlihat begitu akrab dan cocok sebagai sepasang menanti dan mertua. Diam-diam Angel tersenyum melihat interaksi itu.


“Bagaimana adonannya, kak stefy? Tante?” tanya Angel sambil memeriksa apakah adonan itu sudah berubah warna menjadi putih pekat. “Ah, itu sudah cukup.” kata Angel ketika melihat adonan sudah berubah warna seperti yang ia inginkan.


Dalam sesi ini, Angel terus merapal do'a agar hasilnya tidak buruk.


Ia membiarkan Jenita menuangkan sendiri adonan kue kedalam loyang, lalu memasukkannya kedalam Oven yang sudah di setel dengan suhu panas atas dan bawah dengan suhu yang seharusnya.


“Nah, tinggal menunggu sekitar lima puluh menit, dan kue pun jadi.” kata Angel semringah karena pekerjaan sudah selesai dan menunggu hasil. Semoga tidak gagal.


***


“Dia kekasihmu?” tanya Robert ingin tau. Ia sedang bermain PlayStation diruang tengah bersama Louis sambil menunggu para wanita membuat kue di dapur. Hutama hanya mendengarkan pembicaraan dua putra kesayangannya dari duduk nya diatas kursi.


“Bukan, kak. Dia sekretaris ku di kantor.”


Mendengar jawab Louis, Hutama menghentikan hati dan otaknya yang sedang sinkron membaca media masa di tangannya. Ia menatap punggung kekar Louis kemudian menoleh ke arah dapur dimana Angel bersama istri dan menantu perempuan serta cucu pertamanya berada.


“Sekretaris?”


“Ya. Sekretaris selain mbak Rita. Dia biasanya nyusun jadwal dan nemeni aku kalau ada kunjungan di luar kantor.”


“Satu iman?”


Louis mulai tidak suka ditanya tentang kesetaraan seperti itu. Baginya, semua makhluk sama. Sama-sama ciptaan Tuhan, dan pantas dihargai.


“Kak, please jangan bahas itu sekarang. Aku lagi nggak mood.”


“Ah, oke.” jawab Robert cepat lalu, kembali fokus ke layar televisi yang amat sangat lebar dengan suara menggelegar itu.


“Kalau orang tua nya?”


Louis mendengus sebal. Ini sudah seperti interview hendak unduh mantu.


“Kak, dia cuma temen. Bukan calon istri.”


“Siapa tau nanti bisa jadi pertimbangan buat hati kamu. Ya nggak?!” goda Robert yang berhasil membuat Louis melayangkan tinju di satu lengan sang kakak.


“Nggak dulu lah. Baru juga temenan.”


Hutama mengernyit. Sepertinya ia paham mengapa Louis melakukan itu. Putranya itu masih belum pulih dari rasa patah hatinya berakhir dari Caca.

__ADS_1


“Move on lah, dek. Wanita nggak cuma Caca.” celetuk Robert yang mengundang senyum masam Louis di bibirnya. “Dia juga udah ada yang punya. Ngga baik ngarep dan mikirin istri orang.”


“Maunya begitu kak. Tapi sulit.” bisik Louis sambil melirik papanya yang terlihat kepo. “Caca udah kadung di hati.” lanjutnya cekikikan tak tau diri meskipun kakak nya sudah memperingatkan.


“Tuh, yang didapur juga cantik, baik juga.” lagi-lagi Robert mengajak bercanda sang adik tersayang yang sedang patah hati itu.


Louis menggeleng tidak habis pikir melihat usaha kakaknya ini. Tapi Louis tetap kukuh pada pendirian, untuk saat ini mereka hanya teman. “Oh, Stefany yang cantik? Emang boleh buat aku?” goda Louis mendapat pelototan lebar dari Robert.


Tak menunggu lama, satu pukulan telak mendarat di kepala Louis. Robert tidak terima. “Awas aja kalau berani!” ancamnya dengan mata mendelik lebar, sedangkan Louis tertawa lebar hingga membuat papa mereka yang ada di balik punggung kedua putranya itu geleng-geleng kepala. Yang satunya berusaha, yang satunya malah menggoda. Sungguh luar biasa anak-anaknya ini.


“Makanya. Udahlah kak, Lou lagi nggak pingin mikirin itu untuk sekarang. Lou mau perbaiki diri dulu.”


Robert menatap Louis sendu, lalu menepuk punggung sang adik perlahan untuk mengalihkan rasa canggung yang tiba-tiba merambat diantara mereka.


“Mereka lama banget ya bikin kue nya?” kata Robert menarik minat Louis untuk ikut menengok kebelakang, ke arah dapur.


Tiba-tiba,


“Rebecca pingin punya saudara.”


Louis dan Robert menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Ternyata kepada papanya yang mulai ikut bicara.


“Kenapa lihat papa kayak gitu? Papa bener kan? Kasihan Rebecca main sendirian. Dia butuh partner bermain.”


Robert menepuk jidat, sedangkan Louis meringis sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


“Papa udah tua, Lou. Kamu nggak pingin lihatin papa ke anak kamu sebelum papa kembali pada sang Kuasa?”


Louis kehabisan kata-kata.


“Papa juga pingin lihat anak kamu. Pingin main sama anak kamu juga. Coba tanya mama kamu, pasti alasannya sama.”


Hutama memang jarang bicara, tapi sekalinya bicara selalu membuat kedua putranya terdiam seribu bahasa.


“Mungkin alasan itu nggak masuk akal untuk anak muda seperti kamu, karena kamu belum pernah menjadi orang tua seperti papa dan mama. Pikirin lagi ucapan kamu. Papa dan mama cuma ingin menghabiskan masa tua kami bersama anak dan cucu kami dengan perasaan suka cita.” []


###


Apakah Louis akan berubah pikiran setelah mendengar alasan yang diutarakan papanya?


Ikuti terus cerita mereka ya . . . 😊


Sumber pembuatan kue: IDN TIMES

__ADS_1


__ADS_2