
...MAB by VizcaVida...
...|44. Hujan dan Sebuah Keinginan|...
...Selamat membaca....
...[•]...
Diluar, hujan turun lebat bercampur angin dan petir. Louis baru saja sampai dan memarkir mobilnya di basemen apartemen, kemudian bergegas naik ke unit miliknya.
Setelah masuk kedalam rumah, ia melihat beberapa lampu masih dalam keadaan menyala. Dia juga melihat Angel yang tertidur di sofa, mungkin kelelahan menunggunya datang.
Jam juga sudah menunjuk pada angka sembilan lebih tiga puluh menit saat Louis baru saja sampai di rumah setelah dari rumah utama menemui mamanya, kemudian ke rumah Robert sebentar untuk bicara, dan sekarang hatinya terasa pilu melihat istrinya yang sangat baik itu, tidak diinginkan oleh Jenita, mamanya.
Louis berjalan mendekat, kemudian bersimpuh ditepian sofa untuk menatap lekat wajah Angel yang sedang terlelap.
Dimatanya, Angel begitu cantik, meskipun ia baru memperhatikannya akhir-akhir ini setelah wanita itu menjadi istrinya, bukan sekedar sekretaris yang mendampinginya selama empat tahun di kantor.
Lama memperhatikan, akhirnya Louis mengulurkan lengannya untuk memindahkan beberapa helai rambut Angel yang jatuh menutup wajah, dibalik telinga wanitanya. Kemudian, dengan sangat lembut Louis mengecup pipi dan bibir Angel secara bergantian. Lantas ia mengusap pipi lembut dan putih milik Angel penuh perhatian.
“Kamu nggak salah apa-apa, tapi mama nggak bisa nerima kamu, aku merasa gagal menjadi seorang suami.” bisik Louis didepan wajah Angel yang terlelap dengan dengkuran halus bersama dengan nafas yang berembus. Apa yang dikatakan Jenita kembali terngiang di telinga dan ingatan Louis.
Aku tidak akan menerima apapun yang berhubungan dengan Angel, termasuk anak yang dikandungnya nanti.
Mendadak dada Louis terasa begitu nyeri. Bagaimanapun juga, anak yang dikandung Angel kelak adalah anaknya juga. Ia bangkit, kemudian ikut membaringkan diri disamping Angel, memeluk, dan mencium puncak kepala istrinya itu berkali-kali karena merasa sedih, hingga Angel terkejut dan membuka mata untuk menatap wajahnya.
“Sayang? Sudah pulang?” tanya Angel mendongak menatap wajah Louis yang berjarak beberapa senti diatas wajahnya.
“Iya, sayang. Kamu sudah makan?”
Angel menggeliat, merapatkan diri dan membalas pelukan hangat Louis. “Belum, nunggu kamu datang.”
Astaga, kenapa Angel tidak menuruti ucapannya tadi pagi? Ini bahkan sudah jam setengah sepuluh malam, dan dia melewatkan waktu makan malamnya.
“Kenapa nggak makan dulu, baru tidur?”
“Nggak enak makan sendirian. Nafsu makan juga jadi nggak ada karena mikirin kamu yang nggak datang-datang.” kata Angel dengan suara parau khas orang bangun tidur.
Sedangkan Louis, merutuki kebodohannya sendiri mengapa tidak menghubungi Angel untuk memberitahu keberadaannya, tadi.
“Lain kali kalau aku pulang malem, jangan sampai nggak makan malam lagi karena nungguin aku, oke?”
__ADS_1
Louis mendekati wajah Angel dan mencium bibirnya sekilas. “Sekarang ayo makan.” ajaknya, bangkit dari sofa dan berjalan mendahului Angel menuju dapur. Namun langkahnya terhenti di meja makan karena disana sudah tersaji menu sederhana yang dibuat Angel untuk makan malam mereka.
Sejak menikah dengan Angel, Louis mulai menyesuaikan diri dan memakan makanan yang disediakan Angel di meja makan. Tidak butuh waktu terlalu lama sampai dia terbiasa. Masakan Angel cocok di lidahnya, bahkan Louis selalu ingin pulang dan makan dirumah meskipun menu yang dibuatnya sangat sederhana dan tidak sampai memenuhi meja seperti ketika dia tinggal dirumah mamanya dulu.
“Pasti udah dingin. Biar aku angetin dulu—”
“Aku saja. Kamu tunggu disitu, sambil lihat kemahiran ku menghangatkan makanan.”
Angel terkikik geli. Apa menghangatkan makanan sekarang masuk dalam kategori sebuah kemahiran?
“Baiklah. Aku akan menunggu makanan hangat buatan suamiku.”
Tawa Louis meledak ketika tau maksud ucapan Angel. Ia pun berlari mendekat dan mencium bibir Angel sedikit kasar. “Hukuman karena sudah berani menertawakan usaha keras suami sendiri.”
Ciuman-ciuman mengejutkan seperti itu, Angel sudah tidak lagi terkejut dan sudah mulai bisa membiasakan diri dengan membalasnya.
“Hukuman diterima.”
Sejenak, semua beban masalah yang ditempa Louis di pundaknya terasa hilang ketika ciuman itu kembali berlanjut hingga akhirnya dia sendiri yang memutuskan untuk menyudahi agar Angel bisa segera makan malam.
“Kamu sudah makan, sayang?” tanya Angel.
“Belum.”
“Tuh, kamu juga belum makan 'kan?.”
Sambil menunggu, Louis membuka pantry dan mencari coklat yang biasa di minum Angel. Tidak ada gelas coklat di atas meja sana yang artinya, Angel tidak membuat minuman hangat untuk dirinya sendiri. Hanya ada cangkir kopi yang mungkin isinya juga sudah dingin. Louis ingin membuat cokelat panas untuk Angel. Dia ingin membuat kesan romantis untuk sang istri ditengah terpaan hujan deras diluar sana.
“Mau buat kopi? Biar aku yang buatin.” seru Angel sudah hampir melompat turun dari kursi duduk dan hendak menyusul Louis.
“Nah, nah. Biar aku saja yang buat sendiri.” sahut Louis cepat sambil mengangkat satu lengan sebagai tanda agar Angel tetap berada di tempatnya.
Melihat Louis melarangnya, Angel memutuskan untuk kembali duduk bertumpu dagu sambil menatap punggung lebar sang suami yang masih mengenakan atribut kerja. Sekarang Angel tau bagaimana rasanya menunggu kedatangan seseorang yang ada dihatinya, selain kedua orang tuanya. Dan dia, akan selalu menunggu Louis pulang, tersenyum, dan menciumnya.
“I Love You.” bisik Angel pada dirinya sendiri dengan senyuman lebar dan wajah merona. Dia bersumpah tidak akan ada pria lain dihatinya, selain Louis.
Hampir dua puluh menit berlalu, makanan sudah tersaji diatas meja makan dengan sepasang kursi saling berhadapan. Semangkuk soto daging di panaskan yang mengepulkan asap terhirup sedap, semangkuk nasi baru yang diambil dari alat penanak nasi, dua cangkir minuman berbeda selera rasa, beberapa pasang peralatan makan, dan tentu saja sepasang anak manusia yang sedang kasmaran.
Louis menatap penuh sayang pada Angel, tidak lupa sepaket dengan senyuman saat mengambil nasi dengan centong dan meletakkan didalam piring miliknya.
Ingatan bertemu Jenita kembali terbesit. Ulu hatinya kembali terasa sakit.
“Memangnya, kamu tadi ada janji dengan siapa? Pulangnya kok malam banget?” tanya Angel yang sudah mengambil alih centong nasi dan mengisi piringnya.
__ADS_1
“Aku ketemu mama.”
Angel terkejut dan membiarkan lengannya mengapung diudara untuk beberapa detik. Louis menemui mamanya? Apa ada hubungannya dengan kedatangan Gita?
“Oh.” jawab Angel singkat. “Bagaimana kabar mama, yang?”
Louis mengambil kuah dan menuang di atas nasi. “Baik.”
Suasana berubah sedikit canggung, baik Angel dan Louis kini menyantap makan malam mereka yang waktunya sudah jauh terlewat.
“Ada hal penting yang disampaikan mama sama kamu?” kata Angel dengan nada sedikit ragu. Ia takut pertanyaan itu menyinggung Louis yang notabene adalah memang putra Jenita yang masih menjadi hak milik Jenita, meskipun Louis sudah dewasa dan sekarang menjadi kepala keluarga.
Louis menelan nasi dan kembali memasukkan sesendok besar kedalam mulut. “Tidak. Aku atas inisiatif sendiri yang datang kesana, bukan mama yang meminta.”
“Lalu?”
Louis mengangkat wajah. Tidak ada gunanya bersembunyi, atau dia harus menanggung akibatnya jika sampai Angel mendengarnya dari orang lain. Ia harus berusaha jujur meskipun menyakitkan.
“Awalnya, aku dan mama bicara soal Gita. Aku ingin mendengar alasan mama melakukan kekejian itu pada Gita.”
Louis kembali menunduk. Dia dirundung gelisah saat harus mengatakan tentang bagaimana Jenita terhadap hubungan mereka. Louis tidak ingin membuat Angel sedih bahkan menangis. Tapi kenyataannya ...
“Tapi setelah itu, kami kembali berseteru saat membicarakan hubungan kita.” lanjutnya parau. Suara Louis bahkan teredam suara petir yang tiba-tiba menyambar. Namun Angel masih bisa mendengar dan melihatnya dengan jelas kesedihan dalam tutur kata dan raut wajah Louis.
Dengan gerakan terlampau lembut, Angel meraih satu telapak tangan bebas Louis yang ada di atas meja makan. “Kita harus bersabar. Kita yakinkan mama pelan-pelan.” kata Angel menyerupai sebuah bisikan. Ia pun merasakan sakit ketika tau Jenita masih enggan menerima dirinya. Bahkan Angel berfikir jika keputusannya menerima lamaran Louis saat itu, salah.
“Ya, seharusnya seperti itu. Tapi mustahil, sayang.”
Manik mata mereka bertemu. Angel tersenyum. Dalam hati Angel berbisik pada dirinya sendiri, apa dia harus membuktikan dengan sebuah pengorbanan besar agar dirinya bisa diterima dengan tulus oleh Jenita?
“Kita coba, sampai berhasil.” tutur Angel mencoba memberi semangat agar Louis tidak tertekan dan semakin terbebani dengan hubungan terikat yang sudah mereka putuskan.
“Dengan cara apa? Mama itu keras kepalanya melebihi—”
“Tidak ada yang mustahil jika tangan Tuhan yang bergerak.” sahut Angel menghentikan Louis yang berusaha tenang dan tidak meninggikan suara. “Percayalah, Tuhan akan membantu kita. Percayalah, Tuhan akan membuat mama luluh pada kita.” lanjutnya, menggenggam erat telapak tangan Louis hingga memutih.
Dan aku rela berkorban apapun itu, untuk membuatmu kembali bahagia tanpa harus menyakiti lagi hati mama dan juga dirimu sendiri, suamiku.
Angel menambahkan kalimat tersebut dalam hati. Karena tidak ingin Louis tau, sebesar apa keinginannya untuk diakui oleh ibu dari suaminya. Meskipun nanti, ia harus mengorbankan dirinya dan kebahagiaan nya sendiri.
Angel akan rela. []
###
__ADS_1
Bingung endingnya mau dibikin Happy atau Sad, soalnya bab udah banyak 😁.
Beberapa cerita udah happy, pingin buat ending yang bawang-bawang lagi, tapi kasihan Louis. Bagaimana ini?