My Angel Baby

My Angel Baby
Dekat Yang (tidak) Di Sengaja


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|19. Dekat Yang (tidak) Di Sengaja|...


...Selamat membaca...


...[•]...


“Ambisius sekali kan dia?”


“He'em. Dia pasti mengincar pak Louis. Ingin menggantikan posisi mbak Caca.”


“Kayak pungguk merindukan rembulan nggak sih?”


“Mau gantiin posisi mbak Caca kali ya? Ngebet banget.”


“Gue suka sama mbak Caca, karena mbak Caca memang se-berpengaruh itu untuk pak Louis. Lha dia? Modal tampang doang mau coba-coba.”


“Itik yang pingin jadi angsa sih, menurutku.”


“Pasti pak Louis nggak nap—su sama dia.”


“Ho-oh. Gedek gue jadinya lihat muka dia. Modal tampang doang.”


”Eh, apa jangan-jangan, dia yang bikin pak Louis sama mbak Caca putus?”


Kata-kata menyakitkan seperti itu, Angel dengar ketika berada didalam lift dan juga sepanjang perjalanan menuju ruangan kerjanya. Ia tau dengan pasti alasan yang membuat semua orang berasumsi seperti itu padanya. Telinga dan hatinya panas, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak termakan omongan mereka yang sedang menggunjingnya.


Sesampainya di meja kerja, Angel melihat Rita yang sudah sibuk di depan komputer mengerjakan sesuatu.


“Pagi, mbak.“ sapa Angel ramah dan berusaha melebarkan senyumnya.


“Oh, pagi juga Ngel.”


Senyuman Angel mengembang. Ia segera meletakkan tas nya, kemudian menyalakan komputer untuk melakukan absensi.


“Kemarin, pulang bareng pak Louis?” tanya Rita tanpa mengalihkan matanya dari layar komputer dan jari-jarinya sibuk diatas keyboard.


Sebenarnya Angel merasa tidak enak memberikan jawaban untuk pertanyaan itu, tapi menutupinya pun tidak etis. Sama saja tidak bersyukur karena kebaikan atasannya yang tampan rupawan itu.


“Ah, iya, mbak. Saya ada janji sama keponakannya pak Louis.”


Mendengar itu, Rita menghentikan pekerjaannya. Ia lantas menatap Angel dengan rasa penasaran yang terlihat begitu kentara. “Keponakan?”


Ah, Angel rasa dia salah bicara. Seharusnya tidak perlu menjelaskan alasannya secara spesifik seperti itu pada Rita, tadi. Bisa-bisa Rita nanti ikut memberikan asumsi buruk seperti yang lain.


Tapi, Angel pernah mendengar sebuah nasehat. Bicaralah dengan orang yang mau mendengarkan mu. Karena akan sangat percuma dan buang-buang tenaga jika kamu berbicara dengan orang yang tidak sepemikiran denganmu.


“Itu, beberapa waktu lalu saya membawakan kue sisa pesanan kepada pak Louis. Lalu nyonya Hutama ikut mencicipinya dan memintaku untuk datang dan memberitahu cara membuat kue itu.”


“Wow, sedekat itu?” kata Rita dengan senyuman menggoda. Ia tidak bodoh. Ia tau, tatapan Angel selalu berbeda ketika menatap sosok Louis. Ada cinta di setiap sorot yang Angel tujukan kepada Louis.


“Ti-tidak juga sih, mbak. Cuma sekedar sharing cara membuat kue, itu saja.”


Rita mengangguk, tapi masih saja tersenyum jail. “Lalu, keponakan?”

__ADS_1


“Kalau itu, saya juga tidak tau mengapa keponakan pak Louis bisa dekat dengan saya. Tapi, anak itu memang lucu dan menggemaskan.”


Rita tertawa penuh arti, kemudian mengusap satu lengan Angel. “Cepat absensi, sudah hampir jam sembilan.”


Angel mengangguk setuju, kemudian melakukan absen dan memulai pekerjaan.


Tak lama berselang, pintu ruangan berderit dan sosok Louis dalam balutan kemeja putih tulang dengan jas yang di lipat di lengannya sedang berjalan melewati kedua perempuan kepercayaannya itu.


“Hallo, selamat pagi Angel, mbak Rita.”


Aroma harum musk bercampur rempah yang begitu menggoda menyapa Indra menghirup Angel. Lalu, keduanya berdiri dan membungkuk sebagai sarat hormat kepada sang atasan.


“Selamat pagi, pak Louis.” kata Angel dan Rita bersamaan mengikuti langkah Louis menjauh hingga sampai didepan pintu. Kemudian kembali duduk setelah Louis menghilang dibalik pintu kaca tebal dan buram yang memisahkan ruangan mereka berdua dengan ruangan pribadi Louis.


“Tumben sekali pak Louis terlihat begitu semangat. Biasanya, murung.” celetuk Rita yang berhasil mengundang tawa di bibir Angel. “Kayak ada semangat baru, gitu.” goda Rita sambil menyenggol satu lengan Angel, membuat wajah dan kedua telinga Angel merona.


“Mbak Rita, apaan sih?”


Merekapun duduk di kursi masing-masing dan mulai berkutat dengan komputer. Mengerjakan apapun yang menjadi pekerjaan mereka.


“Usaha lah, Ngel.”


“Usaha bikin kue? Udah mbak, lumayan lho keuntungannya.” jawab Angel tergelak.


Keduanya tertawa bersama.


“Ya, barangkali pak Louis sudah move on, Ngel.”


Angel menghela nafas. “Tidak mbak. Saya cukup tau diri, saya nggak mau bikin masalah sama penghuni sini. Saya bukan mbak Caca. Saya tidak sebaik mbak Caca, saya nggak pantas berdiri disamping pak Louis, selain menjadi sekretaris beliau.”


Rita tersenyum. Bagi Angel, wanita itu sudah seperti kakaknya sendiri. Dia sering meminta pendapat dari Rita saat dalam kesulitan mengambil sebuah keputusan untuk pekerjaan maupun pribadi.


Angel masih kekeh dengan keputusannya. “Tidak mbak. Saya tidak pantas melakukan apapun meskipun jujur, saya memang mengagumi sosok sempurna pak Louis.”


“Mau mbak Rita comblangin nggak?” goda Rita yang sontak membuat kedua mata bulat dan indah milik Angel membola.


“Tidak. Tidak mbak. Tolong jangan bilang apapun sama pak Louis tentang pembicaraan kita hari ini. Saya takut—”


Kata-kata Angel terjeda ketika mendengar suara pintu berderit. Kepala Louis muncul dari dalam. Ya, hanya kepalanya saja yang muncul. “Angel, tolong keruangan saya sebentar.”


Angel mengangguk, lalu menurunkan pandangan melihat ekspresi Rita dengan saling tatap sebentar. Bukannya diam, Rita malah memberinya semangat dengan nada bercanda.


Tak ingin membuat Louis menunggu, Angel bergegas datang ke ruangan pria itu. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian masuk ke dalam ruangan Louis yang begitu lekat dengan aroma kesukaan Angel.


“Ada yang bisa saya bantu, pak.”


“Oh, tolong bantu saya mencari dokumen kerjasama kontrak dengan perusahaan kosmetik Vixu yang menjadi sponsor untuk acara minggu depan. Ada sesuatu yang ingin saya tinjau kembali dari dokumen itu. Saya sepertinya melewatkan sesuatu.” kata Louis, melongokkan kepala dari salah satu lemari besi dokumen penting yang semakin lama, semakin penuh itu.


“Oh, iya.” jawab Angel, kemudian berjalan mendekat pada lemari besi lain yang didalamnya terdapat banyak sekali dokumen penting. Ia berharap segera menemukan dokumen tersebut, dan bisa meninggalkan ruangan Louis untuk mengurangi kadar debaran jantungnya.


“Kamu cari yang di deretan sponsor saja, biar cepet.” tegur Louis ketika melihat Angel sibuk memilah dari rak paling atas.


“Saya takut dokumennya terselip, pak. Biar saya cari dari atas saja.”


Louis setuju, pasalnya sejak kemarin dia sudah memeriksa sendiri setelah jam kerjanya selesai, tapi belum juga ketemu sampai sekarang.


“Kata kak Stefy, Rere suka boneka strawberry yang kamu beri.” kata Louis tiba-tiba memecah hening.

__ADS_1


“Oh ya? Syukurlah kalau begitu.”


Angel tidak pernah merasa sesenang ini. Ia merasa seperti memenangkan lotre milyaran rupiah setelah mendengar jika Rebecca menyukai boneka pemberian dari dirinya.


“Kak Stefy juga bilang kalau Rebecca mencari kamu semalam. Dia rewel bahkan mengancam tidak mau tidur kalau tidak sama kamu.” cerocos Louis. Benar kata Rita tadi, Louis seperti memiliki semangat berlebih hari ini. Pria ini banyak sekali bicara, tidak seperti biasanya. “Kamu punya penggemar baru loh.”


Angel tertawa mendengar Louis mengatakan bahwa Rebecca adalah penggemar nya. Mau bagaimana pun, Angel masih harus membatasi diri dengan keluarga Hutama. Dia bukan orang yang tepat strata sosial nya jika disandingkan dengan mereka.


“Saya jadi artis dadakan dong?”


Louis tertawa renyah mendengar kelakar Angel. Namun tawa itu tidak bertahan lama, sorot matanya berubah sendu.


“Kadang, kalau lihat Rere begitu saya suka iri sama Robert.”


Angel menoleh, memperhatikan Louis seksama tanpa berkedip beberapa detik.


“Kenapa bapak iri sama pak Robert?”


“Karena dia gampang sekali dapat restu dari papa mama, sedangkan saya? Kamu tau sendiri bagaimana perjuangan saya sama mantan tunangan saya dulu.


“Padahal dia sudah berbuat banyak sekali kebaikan. Tapi mama saya tidak pernah menoleh untuk hal itu. Hal yang membuat saya berubah menjadi pribadi yang sekarang.”


Angel mendadak melow. Dia tidak lupa sama sekali bagaimana kisah cinta dan perjuangan Louis dan Caca dulu. Seolah sudah menjadi legenda untuk seluruh penghuni perusahaan pertelevisian ini, kisah cinta atasan tertinggi mereka yang begitu menguras emosi itu tidak akan pernah terlupakan.


“Bapak percaya mukjizat Tuhan kan?”


Louis memperhatikan Angel yang juga sedang menatapnya malu-malu. “Tentu. Saya tidak pernah mengingkari apa yang sudah menjadi kehendak Tuhan untuk hidup saya.”


“Setidaknya, bapak harus percaya jika restu itu pasti akan ada suatu saat nanti, sebagai mukjizat. Meskipun nantinya bapak dipertemukan dengan orang berbeda.”


Benar. Angel tidak salah. Louis seperti ter-ilhami.


Tepat setelah mengatakan itu, keduanya seperti salah tingkah. Ketika tanpa sengaja Angel menarik keras salah satu folder, beberapa folder ikut bergerak dan jatuh menimpanya. Angel yang merasa bodoh dan malu karena terjatuh bersamaan dengan folder, hanya bisa menundukkan kepalanya.


“Ma-maaf. Akan segera saya bereskan.” serunya bersama badannya yang sudah mengambil posisi membungkuk.


Tak tinggal diam, Louis pun ikut bergerak meraih folder yang ada disekitar Angel dan menata nya kembali ditempat semula.


“Biar saya saja, Pak.”


“Tidak apa-apa. Biar saya bantu.”


Satu hal yang tidak pernah mereka duga sama sekali. Ketika Angel hendak berdiri, Louis mengarahkan tubuhnya untuk membungkuk. Tabrakan antara kepala Angel dan dagu Louis tidak terhindarkan. Mereka mengaduh, tapi dengan gerakan cepat, Louis mengusap puncak kepala Angel yang terkena dagunya.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya nya khawatir terjadi sesuatu pada kepala Angel.


“Tidak. Saya baik-baik saja.”


Permukaan kulit mereka bertemu. Telapak tangan mereka bersentuhan. Dan debaran tiba-tiba menyerang jantung Louis. Debaran yang terasa sama seperti dulu, seperti saat dia melihat Caca. Sadar akan sesuatu yang menurutnya tidak harus dilakukan, Louis menurunkan tangannya dari kepala Angel dan menundukkan kepala.


Louis ingin menepis debaran tersebut, tapi sialnya, darahnya semakin berdesir cepat kala mata mereka tanpa sengaja bersinggungan. Lalu, dengan sendirinya lengan Louis terulur sekali lagi ke puncak kepala Angel, mengusapnya penuh afeksi sekali lagi.


“Maaf.” []


###


Ayo Lou . . .

__ADS_1


Ayo Angel . . .


__ADS_2