My Angel Baby

My Angel Baby
Tak bisa memilih


__ADS_3

Eri tengah menyendiri di ruangannya. Di lantai tiga dari bar yang sekarang dia kelola. Rasa lelah baru bisa dia lewati setelah pemeriksaan dari pihak berwajib sudah dia lalui kemarin.


Bukan hal yang mudah untuk membuat alibi untuk kematian Madam Norita dan kawanannya yang tiba-tiba menghilang.


Beruntung orang-orang yang tersisa memiliki kesetiaan padanya. Terutama karena kepemimpinannya yang dinilai lebih baik. Dan juga dana yang luar biasa banyak untuk menutup kasus itu.


Baru saja ingin memanjakan diri dengan berbelanja dan bersenang-senang di mall, malah dia bertemu dengan Johan. Anak kandungnya yang sekarang ternyata sangat dia sayangi.


Sedang asyik melamun, tiba-tiba terdengar suara yang membuatnya tersadar.


"Bu, ibu, bisakah hal konyol ini saya sudahi? Saya lebih baik bekerja di bar saja untuk membayar hutang ayahku daripada untuk menjadi bidak catur yang ibu rencanakan untuk menyakiti hati Samuel. Dia terlalu baik untuk disakiti, Bu" kata Lian lirih, tapi masih jelas terdengar oleh Eri.


"Terserah kau saja, Lian" jawab Eri sambil memandang tajam pada gadis itu.


Lian tersenyum, dia kira Eri menyetujui permintaannya.


"Hutang ayahmu akan langsung aku anggap lunas saat kau mundur dari rencana ini, tapi nyawa ayahmu akan langsung melayang. Aku sendiri yang akan menghabisinya jika kau mundur" kalimat yang Eri tuturkan lebih mengerikan untuk Lian dengar.


Gadis itu tertunduk lesu. Bingung untuk bertindak. Karena Sam sangat tulus padanya, sementara dia sampai saat ini masih tak ingin membuka hati untuk siapapun.


"Segeralah pergi dari tempat ini, kembali pulang ke rumah yang sidah aku sediakan. Dan belajarlah yang rajin. Waktu untuk berhenti dari tugasmu adalah urusanku. Sekarang masih ada yang harus aku selesaikan" kata Eri.


Lian hanya bisa mematuhi ucapan wanita lembut di hadapannya ini. Karena disaat tertentu, dia bisa menjadi beringas dan kejam saat ada yang berkhianat.


Pernah Lian lihat dengan mata kepalanya sendiri saat Eri menghajar wanita yang menjadi mata-mata, menyusup dalam tubuh organisasi terlarang yang sedang Eri pimpin.


Dan nasib wanita malang itu tentu tak terselamatkan dengan berbagai drama yang berkeliaran di luar sana. Eri telah memiliki rumah tersendiri yang bisa menghargainya saat menjadi sosok baru yang tangguh, bukan lagi seorang wanita manja.


"Baiklah bu, semoga suatu saat nanti ibu berubah pikiran dan menyudahi misi ini, saya pamit ya bu" ucap Lian yang bersiap pulang.


"Tidak akan selama tujuanku belum tercapai. Dan kau turuti saja jika masih sayang nyawamu" jawab Eri santai, sambil menghisap cerutu yang terlihat besar di jemari lentiknya.


"Ada-ada saja, hari ini memang melelahkan" gumam Eri yang kini memilih sibuk dengan ponselnya, melihat kondisi barnya dari cctv yang terhubung ke ponselnya.


"Hallo cantik. Selamat malam" ucap seorang pria yang memaksa masuk ke dalam ruang kerja Eri.


Sedikit terbelalak, Eri yang kini lebih bisa mengontrol mimik wajahnya berusaha bersikap normal di hadapan pria itu.


"Bagaimana kabarmu, sayang? Apa kau tak merindukan ku?" tanya Handoko, entah bagaimana bisa pria tua itu menemukannya.


"Dasar pria tua tak tahu diri. Apa yang kau inginkan?" tanya Eri dengan gaya sesantai mungkin.


"Kau semakin cantik saja. Bisakah kau menemani malamku kali ini? Akan kubayar sangat mahal jika kau mau" ucap Handoko dengan kerlingan nakalnya.


Eri sangat muak melihat wajah tua bangka di hadapannya itu. Perlu digarisbawahi bahwa Eri yang sekarang bukan lagi wanita rapuh dan tak bisa apa-apa. Banyaknya tindakan kriminal yang dia alami sejak keluar dari tahanan membuat pribadinya berubah.


Dulu yang lembut tapi licik, kini menjadi kejam dan tak sungkan untuk melenyapkan apapun yang menjadi pengganjal.


"Kau kira, aku masih sama seperti yang dulu, brengsek?" umpat Eri.

__ADS_1


"Uwah, kau semakin menarik jika sedang marah seperti ini, sayang" ucap Handoko. Berjalan santai mendekati Eri yang kini dijaga oleh dua pria di belakangnya.


"Pergi atau kuhabisi kau sekarang juga. Aku masih menghormatimu karena kau mau membeli rumah peninggalan orang tuaku dengan harga mahal, tapi jika kelakuanmu masih merugikanku, aku tak akan segan untuk menghabisi mu" kata Eri yang masih santai duduk sambil bercerutu di tempatnya.


"Seberapa berani kau padaku sekarang, sayang?" tanya Handoko yang mengira ucapan Eri hanyalah isapan jempol belaka.


Tangannya terangkat untuk merangkul pundak Eri yang tak tertutup apapun karena Eri sedang memakai baju model kemben yang mempertontonkan belahan dadanya.


Meremas pundak yang sintal itu dengan penuh semangat. Sementara Eri sudah merasa terlecehkan kali ini.


Tangannya tergerak untuk memegang tangan Handoko yang bertengger di pundaknya. Awalnya dia meremasnya pelan, dan terus dia lakukan dengan semakin keras hingga membuat Handoko mengaduh sakit.


"Tangan tua sepertimu sudah tak bertenaga untuk memenuhi gairah muda sepertiku, kakek renta" ejek Eri saat melihat Handoko kesakitan.


Mendengar ejekan itu seketika membuat pria tua itu tergugah kelelakiannya. Kedua tangannya terulur untuk memegang pundak Eri dan mendekapnya.


Eri sudah menyangka hal itu. Lantas, dengan cerutunya yang menyala, Eri sulutkan ke pipi Handoko yang mulai keriput.


"Argh! Sialan kau wanita j*l*ng kotor" kata Handoko yang kesakitan.


"Itu baru permulaan. Jika kau masih saja menggangguku, jangan salahkan kalau aku benar-benar melenyapkan mu. Kau masih ku hormati karena kau adalah teman ayahku semasa beliau masih hidup. Tapi dengan ku, kau bukanlah apa-apa" ucap Eri.


"Awas kau! Suatu saat akan kau buat kau menyesal" ancam Handoko sambil beranjak keluar dari ruangan Eri dengan amarah.


Susah payah dia datang ke bar itu dengan sembunyi dari awak media, tapi dia pulang dengan tangan hampa.


"Lakukan semaumu, kutunggu saat itu" tantang Eri santai dan duduk tenang kembali.




Sudah week end lagi!


Sesuai janjinya, Sam mengajak Lian berkunjung ke tempat rekreasi dengan banyak wahana wisata.



Dan yang lebih hebatnya lagi, Sam mentraktir Lian menggunakan uang tabungannya sendiri, dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit selama satu minggu ini dengan tak pernah jajan di kantin, tapi minta Gita membawakan bekal double untuknya setiap hari.



"Pegangan dong biar lo nggak jatuh" kata Sam yang sudah bersiap diatas motornya.



"Kan sudah pegangan, Sam" ucap Lian yang memang berpegangan pada stang besi di belakangnya.


__ADS_1


"Pegangnya gini loh Lian" ucap Sam sambil menarik kedua tangan Sam dan melingkarkannya pada perut.



"Malu dilihat orang, Sam" keluh Lian yang merasa tak nyaman.



"Nggak ada yang lihat kok. Perasaan lo doang" kata Sam.



Sam mulai mengendarai motornya dengan pelan. Menikmati suasana pagi jalanan inu kota yang ramai lancar. Berdua diatas motornya dengan gadis yang dia sayangi, Sam tak pernah berfikir sebelumnya jika memang ada yang namanya cinta selain pada ibu dan kakaknya.



Dan dia bahagia.



"Lo happy kan jalan sama gue, Lian?" tanya Sam.



"Happy kok" jawab Lian singkat dan memilih lebih banyak diam diperjalanan mereka.



Tanpa aba-aba, air mata Lian menetes dengan sendirinya melihat ketulusan seorang Samuel. Sementara dirinya sendiri hanyalah serupa bidak catur yang dijalankan oleh Eri.



Hati Lian sangat membenci apa yang sedang dia lakukan, tapi otaknya membenarkan permintaan Eri deki keselamatan ayahnya. Satu-satunya keluarga yang Lian punya. Entah dimana ibunya, Lian tak pernah tahu.



Mungkin jika tidak ada Eri yang menjadi sebab Lian mendekati Sam, maka gadis itu akan mudah jatuh cinta pada Sam yang tulus, baik, tampan, ceria dan humoris. Paket lengkap lelaki idaman para wanita.



Tapi karena adanya Eri di belakangnya, Lian tak bisa dan tak boleh untuk menjatuhkan hatinya pada Sam, si pangeran dari keluarga Alexander. Loan tak bisa memilih takdirnya.



Lian cukup tahu diri dan tak akan memaksakan nasib untuk mau berpihak padanya.



.

__ADS_1


.


.


__ADS_2