My Angel Baby

My Angel Baby
Perpisahan


__ADS_3

Lia hanya bisa terus menangis. Melihat peti kayu yang berisikan jenazah Johan yang sudah mengenakan setelan jas yang membuatnya semakin terlihat gagah. Namun sayang, dia sudah bergelar almarhum.


Tak ada yang menyangka kalau dia akan pergi secepat ini. Bahkan masih ada beberapa trip yang harus dia lalui bersama beberapa rombongan yang telah memesan jasa travelnya.


"Sungguh malang nasibmu, nak. Jika saja waktu bisa terulang lagi, aku pastikan kalau kau akan terus bahagia dengan tak membiarkanmu tinggal dengan daddy mu, Jo" tangis Viviane pun tak bisa terbendung.


Dalam dekapan Vicky, wanita itu terus saja menyalahkan takdir yang membiarkan Johan tinggal jauh darinya saat dia kecil.


"Sudahlah sayang, dia sudah pergi. Biarkan dia pergi membawa semua kesedihannya. Lagipula jika dia terus hidup, diapun akan hidup dalam kesedihan yang berlarut-larut. Itu bahkan lebih mengerikan dari sebuah kematian, Vi" ucap Vicky, berusaha menenangkan istrinya yang masih saja tersedu.


"Kamu memang tak pernah menyayanginya, bang" kata Viviane.


"Untuk apa? Dia tak butuh kasih sayang dariku, orang tuanya lebih berhak menyayanginya. Roby sudah bertanggung jawab atas kebahagiaannya dengan mewariskan bisnis travelnya" jawab Vicky santai, sejak awal memang Vicky tak pernah berniat menyayangi Johan meski dia terlihat sangat menggemaskan sewaktu kecil.


"Kamu memang jahat, bang" kata Viviane dalam isakannya.


"Mommy nya yang lebih jahat. Dia bahkan menjadikan kehamilannya sebagai senjata untuk menyerangku. Aku tak akan pernah melupakan itu semua, Vi" Vicky masih menyimpan dendam dalam hatinya.


Roby sudah cukup tua untuk melihat dengan sedih jenazah anaknya yang sudah terbujur kaku. Dia langsung terbang dari Polandia saat dikabarkan jika Johan sedang kritis. Beruntung Roby masih sempat berbincang dengan Johan sebelum pria itu kembali ke pangkuan Tuhannya.


Nampak pria itu duduk dengan sesekali menyeka air matanya. Namun dia sudah berusaha tegar.


Sementara Lia yang terus Bayu kawal kemanapun dia pergi masih belum mau untuk bersikap seperti biasanya sebelum Bayu bisa membuktikan jika dia tidak terlibat akan kasus yang menimpa Silvi.


Dalam lamunannya, Lia masih bisa mendengar dengan jelas permintaan terakhir dari Johan sebelum kehilangan kesadarannya sore itu.


Dengan wajah menahan sakit, Johan menggenggam erat tangan Lia sembari menghiburnya.


"Jangan menangis Lia. Aku akan sulit untuk pergi jika kau bersedih" ucap Johan sore itu.


"Jangan banyak bicara, Jo. Beristirahatlah dan tunggu sampai dokter menemukan pendonor hati yang kau butuhkan. Aku sudah menyuruh banyak orang untuk mencarikan pendonornya" ucap Lia.


"Tidak perlu, Lia. Kurasa sudah cukup untukku bisa hidup sejauh ini. Aku akan lebih bahagia jika melihatmu bahagia" ucap Johan masih lancar, meski sesekali harus meringis menahan sakit yang tiba-tiba datang.


"Lia, apakah pernah dalam hatimu ada perasaan spesial untukku?" tanya Johan penuh harap.


"Sejak aku tahu kalau orang yang kau panggil papa adalah papaku juga, sejak itu aku selalu menganggapmu sebagai saudara terbaikku. Kau saudara terbaikku, Jo. Jangan tinggalkan aku" tangis Lia semakin merebak seiring rintihan Johan yang terdengar menyakitkan.


"Haha, ternyata perasaanku bertepuk sebelah tangan. Benar dugaan ku kalau pria yang kau sukai itu adalah dokter Bayu, bukan?" kata Johan.


"Tidak isah mengelak, Lia. Dan asal kau tahu jika dibelakangmu, diam-diam kami adalah rival untuk mengambil hatimu. Tapi sekarang aku tahu kalau aku kalah dan aku rela melihatmu bahagia bersamanya" ucap Johan.

__ADS_1


"Terimalah perasaannya, Lia. Dia adalah pria terbaik untukmu. Aku yakin dia bisa membahagiakanmu" ucap Johan tanpa berniat untuk memberi Lia kesempatan agar bisa menolak Bayu.


Lia melirik singkat pada Bayu yang sejak kemarin selalu bersamanya. Sampai kejadian tadi malam belum terungkap, Lia belum bisa untuk kembali yakin dengan perasaannya.


"Ya Tuhan, Johan anakku" sebuah suara yang datang dengan tergesa dari seorang pria rupanya adalah daddy Johan.


"Uncle Roby" sapa Lia sambil menyeka air matanya dan melepaskan pegangan tangan Johan.


Dan Lia beranjak dari ruangan Johan untuk membiarkan ayah dan anak itu untuk saling melepas rindu, mungkin untuk yang terakhir kalinya.


Suara teriakan dari seorang wanita membuyarkan lamunan Lia. Tubuhnya sedikit terdorong oleh seseorang yang kini nampak meraung dihadapan peti mati Johan yang belum ditutup sempurna. Menunggu semua kerabat datang.


"Johan.... Johan anakku. Buka matamu dan lihatlah mommy sudah datang, sayang" teriak Ruby yang seperti orang gila.


Wanita itu membuka kain transparan penutup peti Johan dan mengguncang tubuh Johan dengan paksa. Berharap Johan bisa membuka matanya bila dia melakukan itu.


Dalam pengawalan ketat pihak kepolisian, Ruby masih saja menangis dan tak membiarkan siapapun untuk mendekatinya.


Lia mundur dengan Bayu yang terus mengekor, mereka berdua tak menyangka jika Silvi juga datang di acara pemakaman Johan pagi ini.


Sekarang dia tidak sendiri, ada dua orang yang mengawalnya. Papanya tak mau membiarkan sang putri kembali terluka.


"Pagi kak Bayu" ucap Silvi yang sudah terlihat kembali tenang. Padahal beberapa saat yang lalu, dia sangat terkejut melihat Ruby yang dia kenal sebagai Ery tengah dalam kawalan polisi berlari ke arah peti mati Johan lalu menangis.


"Media sosial sedang ramai membicarakan tentang keluarga Alexander, Lia. Aku tahu info tentang Johan dari sana" jawab Silvi dengan santai.


"Kita bicara setelah acara pemakaman ini selesai" ujar Bayu.


"Tentu. Aku sudah tidak sabar untuk mendengar pengakuanmu tentang bayi kita, kak" perkataan Silvi membuat Lia membuang muka.


Sebenarnya ingin sekali Lia menghajar wajah tampan Bayu karena telah berhasil membuatnya merasa sangat kecewa di saat mulai muncul benih-benih asmara.


Beruntung sejak kemarin mereka berada dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk berduel. Jika saja ada kesempatan seperti itu, Lia sangat berharap.


"Ya, aku harap kau mempersiapkan dirimu dengan sangat baik, Sil. Entah bagaimana nanti hubungan kita selanjutnya" jawaban Bayu tak bisa Silvi terka kemana ujungnya. Apakah dia akan menang? Atau malah akan dipermalukan?


Silvi hanya bisa untuk tetap berusaha tenang dan meneruskan rencananya dengan sebaik mungkin.


Selepas dari pertemuan mereka bertiga malam itu, Bayu segera menghubungi Ken untuk membantunya mencari informasi sedetail mungkin mengenai Silvi dan juga bukti di dalam foto yang dia berikan.


Melalui orang kepercayaannya, tak ada yang tahu jika Bayu telah memberikan bukti foto dan video itu kepada Ken untuk ditelusuri.

__ADS_1


Diluar dugaan Bayu, banyak hal yang dia ketahui tentang Silvi belakangan ini.


"Apa kau tak berniat untuk menghibur mommynya Johan, Sil?" sindir Bayu.


Lia menoleh pada Bayu karena merasa Silvi tak ada kaitan apapun dengan Ruby. Sementara Silvi masih berusaha tenang meski kakinya serasa sulit untuk menopang berat badannya.


Silvi harus kuat setidaknya sampai acara pemakaman ini selesai beberapa jam ke depan.


Beruntung telah disediakan kursi untuk para peziarah yang menghadiri pemakaman Johan.


Suasana nampak suram karena wajah penuh kesedihan mewarnai acara pagi itu.


Hingga saat pemakaman sudah berakhir, Silvi, Lia dan Bayu yang sudah bersiap untuk menuju ke tempat yang dianggap sesuai untuk membahas masalah mereka harus sedikit bersabar saat dua orang tua datang menghampiri mereka.


"Kami turut berbelasungkawa atas kepergian Johan, Lia" ucap Meryl yang selalu datang bersama pak Guntur.


"Terimakasih Tante Meryl" jawab Lia yang membalas dekapan ringan dari Merryl.


"Oh hai, Silvi. Apa kau tidak ingin menghibur Ruby Eria? Setahuku kalian berkawan cukup dekat" kata Merryl.


Seketika Lia dan Bayu menoleh pada Silvi yang nampak kikuk.


"Apa maksud anda, nyonya? Saya bahkan tidak mengenalnya" Silvi berpura-pura tak mengenal Ruby.


"Sepertinya mataku masih awas saat kami melihatmu tengah berbincang dengan Ruby beberapa Minggu yang lalu" masih Merryl yang bicara.


"Mungkin anda salah lihat" jawab Silvi.


"Kau kira mata kami berempat sudah terlalu tua untuk mengenalimu saat berbincang dengannya?" kata Merryl sedikit tak terima.


"Tante berempat dengan siapa saat melihat Silvi sedang bersama Tante Ruby?" tanya Lia.


"Tentu saja dengan si gendut Guntur ini, dan bersama kakek dan nenekmu" jawab Merryl.


"Buktikan kalau memang kalian yakin kalau aku mengenal ibu Ruby.


"Oh, aku sempat memfoto kegiatan kalian saat itu" jawab Merryl sambil mengeluarkan ponselnya dan mulai mengutak-atik layarnya.


"Dimana aku meletakkan fotonya?" gumam Merryl.


Silvi bernafas lega, berharap si wanita tua ini akan kehilangan buktinya.

__ADS_1


"Dasar wanita tua! Pengganggu!" kesal Silvi dalam hatinya.


Sementara Bayu dan Lia masih menunggu dengan sabar.


__ADS_2