
"Jika antara aku dan Lia sedang dalam bahaya, siapa yang akan kau tolong terlebih dahulu kak?" tanya Silvi saat kebetulan dia dan geng Nirwananya sedang berkumpul.
"Tentu saja Lia" jawab Bayu tanpa berpikir panjang, bahkan fokusnya masih untuk mengupas buah mangga dengan pisau yang tersedia.
"Kau ini jahat sekali sih padaku. Lalu bagaimana nasibku?" tanya Silvi berpura-pura sedih.
"Masih ada Ken. Dia bisa saja menolongmu" jawab Bayu.
"Tapi jika kak Ken tidak ada, bagaimana?" tanya Silvi lagi.
"Tidak mungkin. Dimana ada aku, pasti Ken juga ada disitu" balas Bayu.
"Lagipula kau ini sedang bicara omong kosong apa sih, Sil?" kata Lia sambil berdecak sebal.
"Ya tidak apa-apa Lia. Aku kan hanya bertanya. Siapa tahu kak Bayu sudah mau membuka hatinya untukku" kata Silvi seperti biasanya, tapi sungguh kali ini Silvi serius dalam candanya.
"Sudahlah Sil. Kau tidak harus untuk terus menerus berusaha merayuku. Karena aku tidak mungkin bisa membuka hatiku untukmu. Jadi sebaiknya, mulai sekarang kau cari pria tampan yang sesuai dengan kriteriamu dan segera jadikan pria itu kekasihmu agar kau tidak lagi menggangguku" kata Bayu dalam satu tarikan nafas
Baru kali ini Bayu berkata dengan cukup panjang, dan itu tentu membuat Ken dan Lia takjub hingga melongo menatap Bayu yang masih belum sepenuhnya menutup bibirnya.
"Kenapa?" tanya Bayu sambil bergantian memandangi Lia dan Ken.
"Tidak" jawab Lia dan Ken kompak, sambil menggelengkan kepalanya.
"Sakit sekali hatiku. Apa kau tahu jika kesabaran seseorang sudah habis maka dia akan memiliki keberanian yang tak disangka, kak?" tanya Silvi, berharap Bayu kau mengerti jika perasaannya kali ini adalah sebuah keseriusan dari seorang wanita dewasa.
"Aku tahu. Dan aku harap kau tidak akan berbuat nekat hanya untuk mencari perhatian dariku yang pada akhirnya akan tetap sama" jawab Bayu sambil menyuapkan sepotong mangga ke mulutnya sendiri dan menyodorkan mangga yang telah terkupas dan sudah terpotong rapi pada Lia yang duduk tak jauh darinya.
Tanpa sadar Lia mengambil potongan buah mangga itu sambil tersenyum senang. Seperti sudah memenangkan sebuah perlombaan. Dan itu semua terekam dalam otak Silvi hingga membuat hatinya kian memanas.
"Sepertinya benar apa yang wanita itu sampaikan. Aku harus menyingkirkan Lia agar bisa dengan leluasa berusaha membuka hati kak Bayu untukku" gumam Silvi dalam hatinya sambil terus memperhatikan interaksi antara Bayu dan Lia.
"Aku tahu jika sebenarnya Silvi ini hanya mengagumimu saja kak. Sudah sejak kita masih SD bukan dia selalu memujimu seolah kau adalah manusia tanpa cacat" kata Lia berusaha menenangkan suasana.
"Dan aku yakin jika sampai sekarang pun dia masihlah pengagummu, tanpa ada rasa cinta dalam hatinya. Benar kan, Sil?" tanya Lia.
Semua mata kini menuju ke arah Silvi untuk mendengar penjelasan darinya.
Melihat keseriusan itu membuat Silvi tergelak untuk mencairkan suasana.
"Hahahaha... Tentu saja aku hanya bercanda kak. Aku memang pengagummu. Seperti orang biasa yang sedang mengagumi artisnya" kata Silvi sambil mengibaskan rambut panjangnya.
Jawaban Silvi membuat Bayu kembali menunduk dan sibuk dengan buah mangga di tangannya. Sementara Lia dan Ken ikut tergelak pelan meski keduanya merasa jika perasaan Silvi akhir-akhir ini bukanlah kekaguman belaka.
Dan tentu Silvi juga merasa sakit meski tak berdarah. Hatinya sedikit remuk. Tapi penolakan Bayu hari ini semakin membuatnya bersemangat untuk berjuang lebih keras demi membuat Bayu bisa menerima hatinya.
Kini di usianya yang sudah mengerti akan hakikat cinta membuat Silvi bertekad untuk berjuang.
Biarlah dia dianggap bodoh karena terus mengagumi satu sosok pria sejak dia kecil tanpa mau melihat sosok pria lain yang mungkin lebih baik daripada Bayu.
__ADS_1
"Apapun akan aku lakukan. Siapapun akan aku kalahkan demi bisa bersanding denganmu, Kak Bayu" tekadnya dalam hati.
"Tak ada peribahasa bahwa Cinta tak harus memiliki. Karena bagiku kaulah arti sebuah kebahagiaan, Bayu" kata Silvi dalal hatinya untuk semakin memantapkan tekadnya.
Akankah Silvi juga akan berubah menjadi wanita jahat?
"Apa?" pertanyaan konyol itu terlontar dari bibir Sam yang sejak tadi memandangi Lian yang tengah berusaha menghabiskan makan siangnya dalam tatapan intens Sam yang tentu membuatnya tak nyaman.
"Jangan pandangi aku terus Sam. Aku tidak bisa fokus untuk menghabiskan makananku" kata Lian.
"Lo makan saja, biarkan gue tetap memandangi Berlian gue yang begitu sempurna" jawab Sam.
"Tidak ada satupun di dunia ini yang sempurna, Sam. Bahkan hujan yang turun dengan air yang dikira bersih pun membawa banyak kotoran" sahut Mawan sebal.
Apakah harus sebegitu bodohnya untuk menjadi seorang pecinta? Dan semua itu membuat Mawan bertekad untuk selalu mengedepankan logika sebelum menyuruhku hatinya maju jika suatu saat nanti dia menemukan seorang wanita yang berhasil memikat hatinya.
"Tapi aku sungguh tidak bisa terus makan jika kau melihatku seperti itu, Sam" decak Lian sebal, sedikit salah tingkah sebenarnya.
"Makanya Lian, lo terima saja cinta gue agar gue bisa lega karena lo sudah menjadi milik gue yang artinya tidak akan ada lagi cowok lain yang berani mendekati lo" kata Sam untuk kesekian kalinya.
Meski selalu mendapatkan jawaban yang sama, Sam masih saja tetap yakin jika di hati Lian ada namanya yang bersemayam.
"Dan jawabanku selalu sama, Sam. Setelah lulus sekolah, aku akan memberimu jawaban" jawab Lian tak kalah keukeh.
"Baiklah. Dan gue harap jika saat itu sudah sampai, bukan lagi penolakan yang akan gue dapatkan. Karena jika sampai lo menolak, maka gue akan menculik lo. Sungguh" kata Sam mulai beralih pandang, mengambil es kopi dalam cup yang sejak tadi di biarkan tergeletak tanpa disentuh sedikitpun.
__ADS_1
"Memangnya siapa kamu bisa sampai seberani itu?" tanya Lian dengan pertanyaan pancingannya. Karena Sam selalu berkelit saat ditanya soal keluarganya.
"Gue Samuel. Dan kalau gue sudah dewasa akan menjadi seorang penguasa, Lian. Tak akan ada yang berani menyentuh gue karena kekuasaan yang gue punya. Dan lo akan menjadi permaisuri di istana kecil kita" lagi-lagi Sam menggombal.
"Gue ingin muntah" celetuk Mawan.
"Jangan lo dengarkan. Memangnya siapa yang menyuruh lo selalu mengikuti gue? Mawan bodoh" umpat Sam.
"Lo itu yang bodoh. Serigala berbulu domba dipercaya" sindir Mawan.
Lian tertunduk mendengarnya. Lagi-lagi hatinya mencelos. Bukan maksudnya untuk menyakiti Sam di suatu hari nanti. Nasib yang sedang mempermainkannya. Dan Lian masih terlalu takut untuk menghadapi masa depan jika harus berkhianat dari Eri.
Dia hanyalah gadis lugu yang tak tahu jika kekuatan keluarga Alexander jauh lebih unggul daripada anggota Eri yang beratas nama Norita.
"Diamlah Wan. Ucapan lo selalu saja tentang pengkhianatan. Memangnya siapa sih yang lo sebut pengkhianat itu? Gue jadi penasaran" tanya Sam mulai tertarik, dan tentu nama Lian jauh dari seorang pengkhianat di mata Samuel.
"Suatu saat nanti lo akan tahu, Sam. Dan bersiaplah jika lo akan merasa jika dunia akan hancur. Lo masih punya gue sebagai teman yang nggak akan ninggalin lo" kata Mawan sambil merapikan kotak bekalnya.
Sejak ada Lian, maka bekal yang biasanya Sam berikan pada Mawan menjadi milik Lian. Jadi dia meminta emaknya untuk membuatkannya bekal semata agar bisa terus bersama Sam saat makan siang.
Mawan takut jika diam-diam Lian akan menaruh racun di makanan Samuel hingga membuat temannya itu dalam bahaya.
Sementara Lian sendiri akan menjadi tersangka karena pasti kelompok Norita akan lepas tangan dan sengaja mengorbankan Lian.
__ADS_1
Tapi karena masalah Cinta membuat Sam menjadi orang paling bodoh di dunia ini. Mawan sampai heran. Apa karena karma aras perbuatan Sam yang dulu suka main wanita? Mawan tak habis pikir.