My Angel Baby

My Angel Baby
Apakah skak?


__ADS_3

"Maafin gue neng, cuma ini yang bisa gue kasih ke lo, neng" kata Junet sambil menyodorkan sebuah roti dua ribuan pada Viviane yang dia ambil dari saki jaketnya.


"Tidak apa-apa, bang. Terimakasih karena mau menolongku. Tapi kenapa?" tanya Viviane yang masih berada diatas ranjangnya dengan kaki dan tangan yang terikat.


"Perut lo daritadi terus berbunyi, gue nggak tega. Sekarang bu bos sedang berada di bar untuk tugas hariannya, jadi lo bisa aman untuk makan dengan tangan terikat. Maaf gue nggak bisa membukanya, karena kalau tiba-tiba bu bos datang pasti akan sangat sulit untuk mengikat lagi" jawab Junet.


"Oh, baiklah. Kemana Is?" tanya Viviane sambil memasukkan roti ke dalam mulutnya.


"Tugas si Is tiap malam mengabsen para wanita. Sebentar lagi juga datang kalau tugasnya selesai" jawab Junet.


"Kalau bang Junet biasanya ngapain?" tanya Viviane sambil terus mengunyah, rasa laparnya sedikit terobati.


"Tugas gue cuma jagain doang. Biasanya gantiin lampu yang padam, benerin listrik, ya semacamnya lah neng. Sekarang lagi nggak ada yang darurat. Makanya gue nyantai" jawab Junet.


"Oh, semacam teknisi gitu ya bang? Berarti abang paling paham sama seluk beluk bangunan ini?" tanya Viviane.


"Bisa dibilang begitu, neng" jawab Junet singkat.


"Sini bungkus rotinya, neng. Takut ketahuan yang lain. Gue buangin ke luar sekalian gue ambilin minum ya neng" pamit Junet yang hanya diangguki oleh Viviane.


Melihat perubahan Junet, dalam hati Viviane yakin jika pria itu kini pasti ingin memberikan nafkah dari jalan yang halal untuk keluarganya. Karena setelah janjinya untuk memberikan Junet pekerjaan yang layak jika dia berhasil keluar dengan selamat, pria itu terlihat semakin baik dalam memperlakukannya.


"Ini minuman buat lo, neng" kata Junet dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.


"Makasih, bang. Abang baik-baik saja?" tanya Viviane.


"Gue baik kok, neng. Ehm, gue cuma mau minta satu hal kalau seandainya nanti lo sudah bisa keluar dari sini" kata Junet dengan sedikit terbata.


"Apa bang?" tanya Viviane dengan wajah serius.


"Tolongin gue supaya bisa ngasih anak bini gue duit halal ya neng. Biar anak gue kagak kayak gue yang preman begini" kata Junet sambil tertunduk.


"Tentu bang. Semoga saya bisa cepat keluar dengan selamat dari sini ya bang" ucap Viviane terharu, semoga apa yang Junet ucapkan bukanlah sebuah kebohongan.


Sementara di bawah, tempat dimana bar sedang memasang musik yang berdentum kencang dengan komando dari DJ yang hampir telan**ng, Ruby dan beberapa anak buah kepercayaannya sedang mengawasi di singgasananya.


Sedang asyik berjoget ria, mata lincah Ruby terhenti pada sesosok anak muda jangkung yang berwajah bule bersama dua orang teman prianya. Yang satu seperti masih belia, dan yang satunya seperti pernah dia temui, tapi dia lupa dimana.


Semakin awas Ruby mengawasi pemuda itu , semakin yakin jika yang dia lihat adalah Johan. Anak satu-satunya yang sudah lama dia tinggalkan.


Tubuh Ruby menegang melihatnya, nafasnya memburu dengan keringat dingin yang mulai bercucuran.


Sebagai seorang wanita yang sudah menjadi ibu, hatinya bergetar melihat putra semata wayangnya terlihat bahagia berlenggak-lenggok diantara ramainya orang yang sedang mabuk.


Air matanya meleleh, rasa hatinya sangat ingin berlari untuk memeluk tubuh tegap yang kini sudah sangat tinggi darinya itu.


Johan nampak sangat humble, senyum tampannya tak pernah luntur saat bercengkerama dengan kedua temannya. Dengan tubuh yang bergoyang ringan akibat alunan musik yang kencang.


"Johan" kata Ruby lirih, dan seketika berdiri.

__ADS_1


"Ada apa bos?" tanya anak buahnya.


"Tidak ada apa-apa" jawab Ruby yabg sadar akan tingkahnya. Dan kembali duduk sebelum Johan menyadari adanya dia di ruangan yang sama.


"Awasi tiga orang yang berada disana. Dan kamu, pergi ke depan dan lihat apakah ada pengunjung yang bernama Johan datang malam ini" perintah Ruby.


"Baik bos" jawab kedua anak buahnya dan segera melakukan tugas.


Begitupun di pihak Johan yang rupanya datang bersama dengan Bayu dan Mawan yang tentunya kembali menyamar dan meminjam identitas dari salah seorang pegawai di keluarga Alexander agar dapat izin masuk ke bar itu.


"Dimana pintu masuknya, Wan?" tanya Bayu pada Mawan, tanpa sepengetahuan Johan.


"Di sebelah kiri dari wanita yang duduk di tempat itu, kak. Ukiran serupa pigura besar itu mempunyai sebuah tombol yang bisa membuat pintunya terbuka. Tombolnya ada di ukiran bunga yang sedang kuncup. Satu-satunya ukiran bunga kuncup karena yang lainnya adalah bunga yang mekar" jawab Mawan dengan bahasa singkat yang mudah dipahami.


Bayu melirik singkat ke tempat yang Mawan tunjukkan. Dan bisa dilihat jika Ruby tengah memandang ke arah mereka.


"Dia sudah menyadari keberadaan Johan. Kita harus berhati-hati" bisik Bayu lagi.


"Bahkan sudah ada satu orang yang mendekat, kak" jawab Mawan.


Bayu menaikkan satu alisnya heran. "Bagaimana kamu tahu?" tanya Bayu.


"Semua pegawai di tempat ini memiliki sebuah pin kecil yang disematkan di dada sebelah kiri. Memang sangat kecil, tapi semua orang disini memakainya. Kakak pasti bisa membedakannya" jawab Mawan.


Mata Batu kembali menilik sekitarnya. Memang benar jika para pegawainya memakai pin yang Mawan maksud.


"Bagus. Apalagi yang kamu tahu?" tanya Bayu masih berbisik.


"Kalian sedang bicara apa? Kenapa tidak mengajakku? Apa kalian lupa padaku?" tanya Johan yang merasa tersisihkan.


Memang Johan tak mengetahui rencana mereka. Yang dia tahu hanya Bayu mengajaknya hang out untuk melepas lelah sambil membahas persaingannya untuk mendapatkan Lia.


"Kau diam saja bule tengil. Bukankan tempat seperti ini yang kau suka. Jadi nikmati saja suasananya. Anggap saja kami tak ada" kata Bayu.


Johan mengambil napas jengah. Memperhatikan kedua orang di depannya dengan pandangan tak bersahabat.


"Ah, lebih baik aku pulang saja. Kau tahu, Bayu! Pekerjaanku sangat banyak di kantor. Kau sengaja mengajakku kesini hanya untuk membuatku menjadi orang yang tidak profesional, ya?" tanya Johan mulai merengek.


"Bukan begitu. Sebenarnya aku ada sedikit urusan disini. Dan sepertinya aku membutuhkanmu untuk satu hal. Tapi rupanya orang yang ingin aku pertemukan denganmu sedang berhalangan hadir. Sebenarnya aku ada sedikit kejutan untukmu, Jo" kata Bayu.


"Siapa?" tanya Johan penasaran.


"Besok saja kita kembali ke tempat ini. Sepertinya orang itu tidak datang hari ini" kata Bayu.


"Tapi aku besok harus berangkat ke Singapura untuk mengantarkan beberapa artis yang sedang berlibur bersama" jawab Johan menyesal, sambil menyeruput sedikit alkohol yang tersaji di hadapannya.


"Oh, sayang sekali. Kalau begitu saat kau kembali dari Singapura saja, aku akan mempertemukan kalian" kata Bayu.


"Oh come on, katakan saja siapa orangnya" desak Johan.

__ADS_1


"Kubilang sebuah kejutan untukmu. Jadi bersabarlah" jawab Bayu.


"Dasar pria brengsek" umpat Johan yang hanya dibalas tawa ringan oleh Bayu yang merasa senang karena bisa membuat Johan seperti anak kecil yang tak dibelikan permen.


"And you. Why are you in here?" tanya Johan rak suka pada kehadiran Mawan.


"Kak Bayu yang mengajakku" jawab Mawan sambil mengendikkan bahunya.


"Aku hanya ingin memberikan pengalaman baru padanya" jawab Bayu singkat.


"Kau masih kecil, jangan suka meminum minuman beralkohol. Itu tidak baik untuk kesehatan" kata Johan pada Mawan.


"Dan bukankah kau adalah seorang dokter, lantas mengapa kai mengajak anak sekecil dia untuk ke tempat seperti ini dokter gadungan?" ejek Johan.


"Ada satu hal yang ingin kami lakukan. Tapi sepertinya apa yang kami cari bukan di tempat ini" kata Bayu.


"Sebenarnya kalian sedang melakukan apa? Kenapa sampai membawa anak kecil ke bar? Dan urusan apa yang sedang kalian tangani?" tanya Johan penasaran.


"Sebenarnya temanku ada yang menjadi pengedar, kak. Dia melakukan itu demi keluarganya. Kami ingin membawanya agar dia bisa hidup lebih baik. Tapi sepertinya dia sedang tidak ada di sini, karena biasanya dia bersama gembongnya ada disini" bohong Mawan sesuai breefing yang sudah dia lakukan bersama Lia dan bayu sebelumnya.


"Oh, bagus juga keinginanmu untuk membantu temanmu. Tapi kau akan berhadapan dengan orang-orang yang berpengaruh tentunya. Apa kau siap dengan semua itu?" tanya Johan yang percaya pada Mawan.


"Tentu aku siap kak" jawab Mawan.


"So, untuk apa kau mengajakku, Bay?" tanya Johan.


"Sudah kubilang untuk mempertemukanmu dengan seseorang. Tapi orang itu tidak ada. Biasanya dia ada di tempat ini juga" kata Bayu.


"Ah ****" umpat Johan yang tahu kalau Bayu hanya akan menjawab seperti itu meski dicerca dengan berbagai pertanyaan.


"Baiklah. Besok saja kita kembali. Atau setelah kau kembali dari Singapura. Kapan kau kembali, Jo?" tanya Bayu.


"Sesuai jadwal sepekan aku disana. Tapi aku akan segera kembali setelah mengantar para tamuku. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan orang yang kau maksud, Bay" jawab Johan.


"Baiklah. Sekarang lebih baik kita pulang dulu. Lain kali kita kesini lagi" ajak Bayu.


"And we are not doing anything? I mean, How if we dancing before go home?" tanya Johan.


"Kau ingin mengajak anak sekecil dia berjoget, Jo? Cg... Cg... Cg" kata Bayu sambil menggelengkan kepalanya.


"Ah benar. Baiklah, kita pulang saja" jawaban Johan membuat Batu sedikit tersenyum kecil. Senang sekali rasa hatinya bisa sedikit mengerjai rival hatinya itu.


Sementara Ruby di singgasananya nampak geram. Semoga saja bukan Viviane yang akan menjadi pelampiasan dari kekesalannya malam ini.


"Sial. Mereka menggunakan Johan sebagai umpan. Mereka tahu kalau aku tidak mungkin menyakiti darah dagingku sendiri" geram Ruby sambil mengepalkan tangannya hingga memutih.


Kuku-kuku panjangnya terasa menusuk ke telapak tangannya. Tuby sangat marah. Dia lupa kalau Johan bersama mereka.


Apakah skak?

__ADS_1


__ADS_2