
"Ngapain sih bang? Gue panggil daritadi kenapa nggak jawab?" tanya teman Is.
"Gue nggak denger. Kebelet banget tadi, makanya gue dahulukan kepentingan demi keamanan. Ketemu kagak?" tanya Is.
"Kagak bang. Lo sendiri bagaimana?" tanya pria itu.
"Disini nggak ada juga, bro. Mana toilet yang itu rusak. Pas tadi gue lagi boker, malah terdengar suara cewek lagi nyanyi. Merinding banget sih gue" kata Is menakuti kawannya.
"Masak sih bang? Lo tahu di dalam ruangan tadi? Ada mayat nggak sih? Serem banget sih bos kita sekarang" ucap tan Is lagi.
"Ingat untuk selalu diam, bro. Nyawa kita taruhannya kalau sampai ada yang tahu. Kemarin gue lihat sendiri kalau si bos memukuli cewek yang di dalam ruangan itu brutal banget. Apalagi kalau mukulin kita, bro. Bisa sampai mampus kali" kata Is sambil bergidik ngeri.
"Hii, serem. Yasudah yuk cari lagi, bang. Nanti bos semakin marah" ajak teman Is.
"Lo duluan deh, kalau suasana genting begini gue jadi gampang kebelet" kata Is beralasan demi bisa menolong Junet.
"Lo berani sendirian, bang?" tanya teman Is.
"Berani. Sudah sana duluan, gue kebelet banget nih" ucap Is kembali beralasan.
Sontak teman Is segera pergi daripada menunggu orang yang sedang boker, pikirnya.
"Bang, lo masih kuat?" tanya Is sedikit khawatir, terlihat wajah Junet sudah nampak pias.
"Kuat, Is. Gue mau cepat pergi dari tempat ini" kata Junet sambil meringis menahan sakitnya. Luka tembak di lengannya sudah dia sumpal menggunakan bajunya yang dirobek.
"Lo tahu jalan keluarnya, bang?" tanya Is.
"Tahu Is, lewat belakang genset besar ada lorong kecil yang tembus ke pembuangan sampah di belakang. Lain kali kalau seandainya lo lagi dalam posisi genting, ingat jalan itu untuk segera pergi dari sini ya" kata Junet.
"Iya bang. Sekarang mendingan gue antar lo ke tempat genset dulu yuk" kata Is.
Junet mengangguk dan percaya dalam bopongan Is. Keduanya berjalan pelan menuju tempat yang Junet maksudkan.
Is baru pertama kali melihatnya, sebuah laci kayu besar dengan kunci yang menggantung di handlenya.
Saat Junet membukanya, memang ada sebuah genset besar dengan banyak kabel dan saklar di dalam ruangan pengap itu.
Is baru menyadari seberapa besar peran Junet dalam gedung ini. Si penguasa listrik yang tak banyak orang tahu. Junet yabg dianggap sebelah mata ternyata berperan penting dalam bar ini.
"Is, gue jalan dulu ya. Lo hati-hati. Sebisa mungkin tolongin Neng Viviane. Gue yakin masa depan lo lebih cerah kalau bersama dia" pesan Junet seolah mengisyaratkan kalau mereka tak akan pernah bertemu lagi.
"Iya bang. Lo juga hati-hati. Setelah semua ini selesai, kita bareng-bareng jadi anak buahnya neng Viviane ya bang" kata Is yang membiarkan Junet melangkah memasuki lorong lebih dalam.
Is mundur dan kembali menutup pintu kayu yang tingginya tak lebih dari satu setengah meter dan segera menguncinya.
"Apa ambisimu, sayang?" tanya Antonio sambil memeluk pinggang Silvi dengan posesif, seolah mereka adalah sepasang kekasih.
__ADS_1
"Jangan sebut aku, sayang! Aku tak suka mendengarnya" balas Silvi sambil meringis menahan perih di bagian intinya.
Mereka baru saja selesai bergumul di suasana siang begini. Sedikit sesal menghantui hati Silvi setelah melakukan hal itu. Namun obsesinya untuk mendapatkan Bayu tak bisa dia bendung lagi. Segala cara akan dia lakukan , meski jalan yang dia tempuh adalah kekeliruan.
"Oh, ok Babe. Jadi, apa ambisimu?" tanya Antonio lagi.
"Cg dasar kau sialan" umpat Silvi yang hanya di jawab kekehan oleh Antonio sambil mendusel leher belakang Silvi gemas.
Senang sekali hatinya bisa mendapatkan keperawanan dari seorang gadis secantik dan sepopuler Silvi. Diapun tak menggubris semua ocehan tak bermutu yang keluar dari mulut Silvi. Antonio sedang bahagia.
"Aku sangat mencintai seseorang sejak usiaku masih SD. Dan orang itu tak menggubrisku sejak dulu. Aku serius dengan perasaanku sampai sedewasa ini. Dan aku sudah tidak tahan lagi, aku ingin memilikinya" ucap Silvi dengan menggebu.
"Apa kai yakin dia akan menerimamu dengan keadaanmu yang sudah tak lagi perawan?" tanya Antonio.
"Dia tak akan tahu jika rencanaku berhasil" jawab Silvi yakin meski sudah agak goyah.
"Apa kau yakin akan hamil dengan satu kali berhubungan?" tanya Antonio lagi.
Silvi mengerutkan alisnya, "Tentu saja. Semua orang akan hamil setelah berhubungan badan, bukan?" tanya Silvi jutek.
"Tentu tidak semuanya, babe. Banyak pasangan yang belum juga dikaruniai anak meski telah berkali-kali berhubungan, bukan?" kata Antonio.
"Tapi tenang saja, babe. Kalau kali ini kita gagal, aku masih bersedia untuk terus membantumu sampai berhasil" imbuh Antonio.
"Tutup mulutmu" jawab Silvi penuh keraguan.
__ADS_1
Pikirannya berkecamuk, bah jika memang dia gagal? Apakah harus mengulanginya dengan pria ini?
Saat Silvi menoleh dan memandangi pria itu, seketika dia merasa jijik.
Bagaimana dia bisa melakukannya dengan pria yang sudah menjelajahi banyak wanita seperti Antonio ini?
Silvi sedikit kecewa pada dirinya sendiri. Tapi sisi buruk dari keegoisannya lagi-lagi menyemangati untuk terus berusaha menggapai Bayu yang sudah selangkah dia lakukan pengorbanan.
"Kak Bayu harus bisa aku miliki" gumam Silvi dengan optimisnya.
"Halo Johan, apa kau sudah dalam perjalanan pulang?" tanya Lia yang sudah tidak sabar untuk menyelamatkan mamanya, dan Johan adalah tamengnya agar Ruby tidak bertindak nekat.
"Pesawatku delay, Lia. Aku masih di airport untuk menunggu penerbangan ku. Apa ada masalah penting?" tanya Johan yang mendengar kepanikan dalam getar suara Lia, tak seperti biasanya.
"Apa malam ini kau sudah ada di Jakarta?" tanya Lia.
"Sepertinya sudah. Nanti aku akan langsung menemuimu setelah sampai" jawab Johan yang kini ikut panik tanpa alasan.
"Oke, bagus. Jangan pergi kemanapun setelah kau sampai, langsung hubungi aku dan kita bertemu" kata Lia.
"Ada apa? Apa ada yang mendesak?" tanya Johan.
"Aku ceritakan nanti setelah kita bertemu" jawab Lia yang langsung menutup panggilannya.
Johan hanya bisa menatap layar ponselnya dengan bingung.
Sementara Lia kini sedang berusaha mengatur rencana untuk bisa menangkan Ruby malam ini.
Wanita itu harus bertanggungjawab jika terjadi sesuatu pada mamanya, meski hanya sebuh cubitan yang Ruby lakukan, Lia berjanji akan membalaskannya demi sang mama.
Lia sangat menyayangi mamanya terlebih setelah melalui masa-masa sulit dulu hanya berdua saja tanpa banyak keluh kesah yang mamanya berikan.
"Pokoknya malam ini kita harus bisa mendapatkan tante Ruby, pa. Dia itu sudah terlalu jahat terhadap mama" kata Lia.
"Iya sayang, apa perlu papa panggilkan polisi?" tanya Vicky.
"Jangan dulu, pa. Karena jika pihak kepolisian dilibatkan, kita tidak akan bisa menangkap tante Ruby dan membawanya ke tempat kita. Polisi pasti akan langsung membawa Tante Ruby ke tahanan" kata Lia.
"Terserah kalian saja. Yang penting mamamu bisa selamat" kata Vicky dengan kepercayaan penuh pada tim yang Lia bentuk demi misi penyelamatan mamanya.
__ADS_1