
Eri masih menangis.
Dia tahu jika selama di berada di penjara, kedua orang tuanya memang meninggal meski dia tak tahu dan tak diizinkan untuk hadir di acara pemakaman mereka.
Tapi yang tidak dia sangka adalah tidak adanya orang yang mau membantunya untuk mengurus rumah itu.
Terakhir setelah mamanya meninggal, mungkin sekitar tujuh tahun yang lalu, Eri pikir akan ada orang atau saudaranya yang akan turun tangan untuk membantu mengurus rumahnya.
Nyatanya, saat dia dalam posisi hancur seperti ini tak ada seorangpun yang membantunya sama sekali.
"Papa, mama, bawa aku juga bersama kalian. Aku sudah tak sanggup melewati ini semua sendiri" teriak Eri dalam sedihnya.
Tapi takdir tak bisa dirubah, nasib baik yang dulu selalu dia banggakan kini hanya menyisakan puing kehancuran.
Eri berusaha tegar, berdiri dari tangisannya dan melangkah masuk ke dalam rumah kosong yang pintunya tidak terkunci.
Menelisik lebih dalam, ruang tamu yang dulu luas itu kini nampak kosong. Entah kemana perabotan yang dulu ada.
Langit-langitnya banyak yang runtuh. Debu menutupi hampir keseluruhan dari permukaan apapun di dalam rumah itu.
Sampai di tengah ruangan, Eri mendongak. Melihat ke arah tangga yang dulunya menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Dengan ragu dia tetap melangkah dengan pelan sambil tetap menangis. Mengingat segala momen yang dia habiskan di rumah itu dengan kelakuan manjanya pada sang papa yang kini sudah pergi untuk selamanya.
Pintu kamarnya tertutup rapat, handlenya sulit untuk diputar. Mungkin karena tak ada yang pernah berkunjung kesana.
Tapi dia berhasil membukanya dan membuat banyak debu yang terganggu berterbangan hingga membuatnya terbatuk dan memicingkan mata.
Eri masuk ke kamarnya, rupanya masih ada ranjang kotor penuh debu tanpa benda lain yang dulu menemaninya di dalam kamar itu.
"Kemana semua barang di rumah ini, ya?" pikirnya bingung.
Menggunakan bantal yang teronggok di sudut ruangan, Eri membersihkan permukaan ranjang itu dan mendudukkannya setelah debunya berkurang.
"Masih terasa empuk daripada ranjang di lapas" gumamnya sambil menduduki ranjangnya.
"Pa, Ma, sekarang aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya sambil merebahkan diri dan memakai tas besarnya sebagai bantal.
Lelah, hanya itu rasa yang kini wanita berumur 39 itu rasakan. Lama menangisi nasibnya membuat Eri merasa mengantuk dan tertidur dalam keputusasaan.
Hiruk pikuk jalanan yang digunakan sebagai sirkuit membuat kebisingan yang luar biasa.
Dibalik kemudi sebuah mobil balap modifikasi telah duduk seorang lelaki tampan yang masih berusia belasan tahun, sedang menunggu instruksi dari seorang wanita yang membawa bendera ditangannya untuk memulai jalannya balap liar di malam itu.
Setelah bendera yang diangkat tinggi tadi diturunkan, puluhan mobil nampak adu balap di atas sirkuit. Memecah keheningan malam menjadi gemerlap dengan sorotan lampu mobil yang tajam.
"Gue harus menang, nggak ada kata kalah dalam kamus gue" bibir lelaki itu menggumamkan kata-kata penyemangat untuk bisa memenangkan balapan malam ini.
Dan benar saja, setelah delapan putaran sesuai kesepakatan, mobil yang dikendarai lelaki tampan itu menjadi pemenang dalam balapan malam ini.
"Samuel, Samuel, Samuel" teriak penonton yang bisa memprediksi kemenangan seorang Samuel.
Lelaki yang di elukan itu telah menghentikan mobilnya, dan turun untuk duduk bersama kedua rekannya di atas kap mobilnya.
"Lo selalu hebat, bro" puji Hans sambil melakukan tos dengan Samuel.
"Selamat bro, gue sudah kira kalau lo yang pasti menang" kata Nathan sambil menepuk pundak sahabatnya.
__ADS_1
"Tentu dong, siapa dulu, Sam" ucap lelaki tertampan yang tengah duduk diatas kap mobil balapnya.
"Iya, kita percaya sama lo" ucap mereka dengan senang hati.
"Selamat Sam, lagi-lagi lo menang" ucap Mila, perempuan seksi yang sebenarnya juga masih usia SMA.
Dia berjalan melenggok mendekati Sam dan mengalungkan kedua lengannya di pundak pria tampan itu. Lalu tanpa malu mereka berciuman di depan banyak orang, seolah mereka hanya berdua di tempat seramai itu.
Dan parahnya, kedua teman Sam seolah tutup mata dengan itu semua. Bahkan keduanya ikut menggoda teman Mila yang datang bersamaan.
Ciuman anak SMA itu terlihat sangat profesional, Sam dan Mila bahkan menghabiskan lebih dari sepuluh menit tanpa melepaskan pagutan bibirnya.
Jangan lupakan tangan Sam yang tak bisa diam di satu tempat saja. Karena meski di tempat umum, tangan nakal itu telah berhasil menapaki hampir keseluruhan dari bodi seksi Mila yang bisa Sam jangkau dengan tangannya.
Sedang asyik bercumbu, ponsel Sam yang berada di kantong celananya bergetar hebat. Bisa dipastikan siapa yang meneleponnya karena Sam memberikan nada dering khusus terhadap si penelepon.
"\*\*\*\*!" umpatnya sambil melepaskan pagutannya.
"Ganggu mulu" keluhnya sambil mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan menyiratkan pada teman-temannya untuk diam.
"Ada apa kak?" tanya Sam setelah menggeser ikon berwarna hijau.
"Masih jam setengah satu, kak. Masak iya aku harus pulang" keluh Sam.
"Pulang atau kakak akan menarik semua fasilitas yang sedang kamu pakai" ancam wanita itu lagi.
"Iya, iya kak Lia yang cantik tapi jomblo. Sam pulang sekarang juga" kata Sam dengan ejekan yang tak terlihat oleh sang kakak.
"Tidak usah mengejek, mulai besok sampai satu minggu ke depan uang jajanmu kakak potong. Dan jangan harap mama bisa membantumu" kata wanita dari balik telepon yang ternyata adalah Lia.
"Aduh, jangan dong kak. Tega banget sih" keluh Sam dengan nada menangis.
"Kakak tidak luluh dengan rengekan mu. Sekarang cepat pulang! Berdasarkan perhitungan kakak, dengan menggunakan mobil balapmu yang luar biasa itu, kau bisa sampai di rumah dari tempatmu sekarang hanya dalam waktu tidak lebih dari tiga puluh menit" ucap Lia.
"Lebih dari itu, dua hari ke depan tidak ada uang jajan untukmu" ucap Lia yang langsung menutup panggilan teleponnya.
"Ah sialan! Kakak sinting, edan, kurang kerjaan" umpat Sam dengan kalimat panjang yang sulit dijabarkan dengan kata-kata.
Membuat kedua sahabatnya tertawa terbahak-bahak dengan nasib Sam yang kurang beruntung jika harus berhadapan dengan kakaknya yang sangat cantik tapi galaknya minta ampun.
__ADS_1
Dan sesuai dugaan Sam, sebelum dia mengantongi ponselnya, sudah ada sebuah pesan masuk dari kakaknya yang berisi :
"Teruskan saja mengejek kakak. Atau selamanya kau tak bisa lagi bertemu dengan mobil kesayanganmu itu".
"Huft, dasar cenayang" kata Sam.
"Kenapa beib?" tanya Mila.
"Kakak gue itu cenayang. Dia bisa tahu gue ada dimana, lagi apa, dan berkata apa meski nggak ada mata-matanya disini" keluh Sam.
"Hahaha, lalu?" tanya Mila.
"Gue harus pulang sekarang. Duit gue taruhannya" keluhnya lagi.
"Tapi aku masih mau sama kamu" ujar Mila sambil bergelayut manja di lengan Sam sambil berusaha mencuri ciuman dari bibir pemuda tampan itu.
"Gue juga, beib. Tapi My Angelia sudah memutuskan supaya gue pulang, dan itu adalah mutlak. Bahkan bokap sama nyokap gue nggak berani kayaknya sama dia. Miris banget hidup gue" keluh Sam sambil memakai jaketnya.
Lalu segera berpamitan pada kedua sahabatnya yang tentunya masih betah tinggal di tempat itu.
Dan untuk Mila, Sam berpamitan dengan cara yang sedikit mesra tentunya. Dengan meninggalkan beberapa tanda merah di leher mulus remaja itu.
Tapi rupanya Mila sama sekali tak merasa risih dengan perbuatan San terhadapnya. Dengan suka rela Mila bahkan mau menyerahkan dirinya pada pacarnya yang tampan dan kaya raya itu.
"Gue pergi dulu ya" pamit Sam lagi. Kini dia benar-benar pergi.
Samuel, kini dia telah tumbuh menjadi seorang remaja yang duduk di bangku SMA.
Tapi hobinya yang suka balapan membuat kedua orang tuanya sedikit khawatir karena dirasa kalau Sam agak salah dalam memilih pergaulan.
Meski lelaki itu selalu berprinsip untuk tetap menjaga diri sebagai seorang perjaka, tapu tak menutup diri untuk selalu bercumbu dengan semua pacar yang dia punya.
Viviane dan Vicky selaku orang tuanya selalu menanamkan terhadap Sam agar bisa menjaga seorang wanita seperti saat dia menjaga mama dan kakaknya.
Dan Sam yang nakal itu ternyata masih punya nurani untuk menjadi pria yang menghormati kesucian wanita.
.
.
.
__ADS_1