My Angel Baby

My Angel Baby
Tak Tahu Malu


__ADS_3

Sangat lega setelah curhat pada Bayu. Sekarang, Lia sedang menuju ke rumah Gita untuk mengunjungi adiknya yang sudah beberapa minggu tak ditemuinya. Rasanya rindu juga jika tak mendengarkan rengekan Samuel.


"Selamat sore semuanya" sapa Lia yang baru saja masuk ke ruang tamu, dan rupanya Sam, Gita dan Tomi sedang asyik berbincang di sana sambil nonton TV.


"Uwah, putri Alexander datang rupanya. Kakak membawa apa?" tanya Sam saat melihat bungkusan yang Lia bawa.


"Kesukaanmu, brownies" jawab Lia sambil mengeluarkan dua kotak brownies untuk Sam dan untuk Gita.


"Kita jalan-jalan yuk Sam. Sudah lama kakak nggak jalan sama kamu" ajak Lia yang masih mengenakan setelan blazernya.


"Kakak mandi dulu dong, pasti belum mandi seharian ini ya" jawab Sam sambil memakan potongan brownies kesukaannya, sebenarnya apapun Samuel juga suka, dia kan omnivora.


Singkat cerita, ya... Disinilah kedua kakak beradik itu sekarang. Memang sangat jarang sekali keduanya menghabiskan waktu bersama.


Duduk berdua di sebuah cafe bernuansa retro, mereka memilih untuk duduk di balkon yang bisa melihat nuansa jalan raya yang padat merayap di sore itu. Cafe Destinasi, pemiliknya adalah penyanyi merangkap pengusaha kuliner.


"Kakak ada masalah ya? Tumben sekali mengajakku jalan" kata Sam, dari begitu banyak menu minuman, Sam lebih memilih milk shake coklat.


"Terbaca ya dari mukaku?" tanya Lia dengan tak memalingkan pandangannya dari jalanan.


"Nggak juga sih, cuma tumben saja" jawab Sam.


"Menurut kamu, orang yang tulus itu yang seperti apa sih, Sam? Kamu kan sering pacaran tuh, siapa tahu lebih paham" tanya Lia sedikit malu, tak pernah sebelumnya mereka membahas mengenai hati.


Sam memberikan pandangan mengejek sebelum berniat menjawab pertanyaan kakaknya. Senang sekali dia punya bahan untuk meledek sang kakak yang sangat perfeksionis itu.


"Jangan memandangku seperti itu, bodoh. Cepat jawab atau aku tidak akan mentraktirmu" ancam Lia yang sebal melihat cara pandang Sam padanya, tentu dia merasa malu.


"Kakak ini, marah saja kerjaannya. Aku kira kalau kakak sedikit lebih humoris maka akan lebih terlihat cantik dan menggemaskan" kata Sam.


Lia hanya mendengus sebal mendengarnya, kenapa juga Sam tak langsung menjawabnya saja.


"Baiklah, kau ini serius sekali" gerutu Sam sebelum benar-benar menjawab.


"Menurutku, orang yang tulus itu adalah yang seperti Lian" jawab Sam dengan pandangan menerawang, membayangkan senyum manis Lian yang sering dilihatnya dan itu membuat Sam mabuk kepayang.


"Lian tak pernah menanyakan kehidupan pribadiku, Lian tak pernah menghiraukan penampilanku, Lian juga tak pernah menyakiti hatiku, kak. Dan aku rasa, orang yang tulus itu adalah orang yang seperti Lian. Tak pernah memandang kita dari penampilan, tapi dari hati kita" jawaban Sam semakin membuat Lia bertambah bingung.


"Apa aku harus menyamar menjadi orang biasa sepertimu agar aku tahu siapa yang tulus padaku?" tanya Lia geram, kenapa sesulit itu sih untuk mengerti.


"Kau ini ada-ada saja, kak. Coba deh kakak pikir, di sekitarmu siapa orang yang paling dekat denganmu?" tanya Sam yang juga nampak geram, bodoh sekali kakaknya itu di dalam urusan percintaan.

__ADS_1


"Selain keluarga, yang paling dekat denganku tentu saja Nirwana team, mereka adalah sahabat terbaik" jawab Lia.


"Oke, kita skip kak Silvi karena dia perempuan. Dari ketiga temanmu yang laki-laki, kak Ken, kak Johan dan kak Bayu, siapa yang paling perhatian padamu?" tanya Sam lagi, sebenarnya Sam yakin jika Bayu dan Johan punya perasaan lebih terhadap kakaknya yang bodoh itu.


"Johan dan Bayu" jawab Lia spontan.


"Kak Lia sendiri lebih nyaman dengan siapa?" tanya Sam, dengan pertanyaan yang semakin menjurus, Sam akan tahu bagaimana penilaian Lia terhadap teman-temannya.


"Sebenarnya aku nyaman saja dengan mereka berdua, hanya saja Johan lebih kakak anggap sebagai keluarga kita. Ehm, apa aku pernah bercerita padamu tentang hubungan keluarga kita dan keluarga Johan sebelumnya?" tanya Lia.


"Kita bahas itu nanti saja, sekarang coba kakak jawab pertanyaan ku. Berarti kak Lia lebih nyaman saat bersama dengan kak Bayu?" tanya Sam.


Dan Lia hanya mengangguk.


"Apa yang kak Lia rasakan saat ada wanita lain mencoba mendekati kak Bayu?" tanya Sam lagi.


"Aku ingin menghajarnya" jawab Lia tanpa berfikir, memang dulu saat masih sekolah SMA pernah ada kakak tingkatnya yang ingin mendekati Bayu melewati Lia, namun gadis itu malah menghajarnya saat melihat kakak tingkatnya juga mendekati siswa yang lain.


"Mengerikan" gumam Sam sambil menggelengkan kepalanya.


"Jadi kakak juga ingin menghajar kak Silvi?" tanya Sam lagi.


"Entahlah Sam, saat aku melihat Silvi terlalu perhatian pada Kak Bayu kadang aku juga merasa risih" jawab Lia.


"Kekaguman yang berlebihan akan menjadikan seseorang lebih berambisi untuk mendapatkan, kak. Kau harus berhati-hati padanya" kata Sam.


"Memangnya kenapa aku harus berhati-hati?" tanya Lia.


"Karena sebenarnya, kakak punya perasaan lebih pada kak Bayu. Hanya saja ada beberapa alasan yang membuat kak Lia harus menampik perasaan itu dan malah membuat kakak berusaha untuk menghilangkan rasa itu. Benar jan?" tanya Sam penuh selidik.


Lia terdiam, mencoba mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Sam. Dan sepertinya memang benar kalau dia memang ada rasa pada Bayu.


"Masak sih Sam?" tanya Lia yang tak percaya pada perasaannya sendiri.


"Apa yang membuat kak Lia nyaman dengan kak Bayu?" tanya Sam.


"Apa ya, ehm... Dia itu ---" belum lagi Lia selesai dengan jawabannya, tiba-tiba mejanya didatangi oleh seorang pria yang berwajah masam.


"Jadi sekarang kamu lebih memilih pria yang lebih muda, sayang?" sebuah suara yang Lia tidak sukai terdengar nyata di telinga Lia.


Bertampang penuh emosi, Lia berdiri dari duduknya dan memberikan satu pukulan ringan di wajah pria itu yang sudah membuat si pemilik wajah mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Cukup Tian! Jangan lagi mengurusi kehidupan pribadiku karena kita sudah tak punya hubungan apapun. Dan jika kau ingin tahu, dia ini adalah adik kandungku yang juga bisa menghajarmu kalau kau masih saja menjengkelkan" kata Lia, entah mengapa dia ingin sekali menghajar Sebastian sejak tadi saat memergokinya dengan wanita lain.


"Kau bercanda" kata Sebastian dengan wajah bersalah.


"Sepertinya lebih hafal selingkuhanmu itu ya daripada kamu mengenai silsilah keluarga Alexander. Dia ini Samuel, adikku. Jadi sebaiknya kamu pergi saja atau aku akan menghajarmu lagi" ancam Lia.


"Ayolah sayang, maafkan aku. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya" kata Tian tanpa rasa malu.


Sam yang lebih tahu karakter pria hidung belang mulai pasang badan untuk kakaknya.


"Sedikit lo berani maju, habis lo ditangan gue" ancam Sam yang berdiri diantara Lia dan Tian.


"Hei adik ipar, ayolah kita akan menjadi saudara yang rukun, aku berjanji padamu. Dukunglah kakakmu denganku, aku pastikan kalau dia akan selalu merasa bahagia" kata Tian sambil memegangi pipinya yang mulai terasa kebas.


"Jijik gue sama orang kayak lo. Mendingan lo pergi saja atau beneran gue tambahin bonyok di muka lo" kata Sam bertambah emosi, sungguh baru kali ini ada orang yang tak tahu malu seperti Sebastian ini.


"Maaf, ada keributan apa ini?" tanya sebuah suara yang familiar di telinga.


Saat semua menoleh, rupanya dia adalah Richard, penyanyi sekaligus pemilik dari Destinasi cafe yabg sedang Lia kunjungi.


"Sorry kak kalau kami membuat gaduh, dia sedang mengganggu ketenangan kami disini" jawab Lia sedikit terpesona, Richard memang setampan itu, suaranya pun merdu.


"Benar begitu?" tanya Richard pada Sebastian.


"Lo jangan ikut campur, ini bukan urusan lo" kata Tian.


"Lo yang seharusnya pergi dari sini. Nggak ada yang menginginkan keberadaan lo disini" kata Sam.


"Tolong anda tinggalkan tempat ini demi kenyamanan pelanggan kami" kata Richard dengan nada rendahnya, sangat maskulin memang.


"Tolonglah Lia, jangan bertingkah konyol begini. Aku kan kekasih kamu" kata Tian masih memohon.


"Dasar tak tahu malu" ejek Sam sambil menyeret Tian untuk pergi, tak enak juga kalau sampai membuat gaduh di tempat umum.


Meski memberontak, Tian tak akan bisa untuk kembali memohon pada Lia karena Richard sang pemilik cafe ikut membantu Sam untuk membawa Tian keluar.


Lia memasang nafas panjang, baru pertama kali mencoba untuk merasakan bagaimana rasanya punya kekasih, tapi malah bertemu dengan Tian yang sepertinya agak sakit jiwa.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2