My Angel Baby

My Angel Baby
Surprise untukmu, Silvi


__ADS_3

Tok... Tok...


Kaca pintu mobil Sam diketuk oleh pria misterius yang hampir tak dapat dilihat wajahnya.


Sam bingung harus mendahulukan yang mana. Membuka pintu atau mengurus Lian.


"Sebentar ya, Lian" akhirnya Sam ingin membuka pintu karena tak tahan mendengar ketukan yang terus dilakukan oleh pria itu.


"Jangan Sam, jangan buka pintunya" cegah Lian sambil meremas lengan baju Sam.


"Sebentar saja. Gue takut mereka malah mikir macam-macam kalau gue nggak bukain pintu. Kita cuma berdua disini, Lian" kata Sam sambil membuka dengan sedikit memaksa pada remasan tangan Lian di bajunya.


"Iya, ada apa pak?" tanya Sam yang bingung karena pria itu langsung menonjok mukanya tanpa sebab.


"Ah! Sialan. Sakit bego!" umpat Sam yang mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.


Setelah pandangannya mulai membaik akibat pukulan pria itu, Sam mengedarkan pandangan ke sekeliling mobilnya yang terparkir.


Suasana hening di sekitaran tempat itu sangat terasa. Hampir tak ada satupun kendaraan yang melintas.


Namun di kejauhan Sam bisa melihat ada sebuah mobil dengan seseorang yang duduk didalamnya. Sam tak bisa melihat wajah orang yang diyakininya adalah seorang wanita karena melihat rambut yang dikuncir tinggi dan pakaiannya seksi.


Kembali ke pria tadi, kini dia sedang berusaha membuka pintu mobil Sam yang sialnya dia berhasil melakukan itu.


Setelah pintu mobil terbuka, pria itu menyeret Sam hingga terjatuh keluar mobil. Sementara Lian hanya bisa menangis dan ikut keluar.


"Sialan! Apa yang Lo mau dari gue?" bentak Sam sambil menghindari pukulan demi pukulan yang pria itu berikan pada Sam.


Duel mereka nampak seru, kekuatan yang cukup seimbang karena pria itu yang sering mempraktekkan, sedangkan Sam sering latihan.


Terlihat dari gerakan Sam yang teratur sesuai ilmu yang dipelajarinya. Sedangkan gerakan pria itu asal tapi bisa menghindari setiap pukulan yang Sam berikan.


Cukup lama beradu, nampak sebuah mobil ikut berhenti tak jauh dari mobil si pria. Seorang pria keluar dari dalam mobil itu dan berlari panik ingin menghampiri Sam yang sedang duel.


Namun langkahnya berhenti saat melihat mobil yang dilihatnya tadi membuntuti Sam juga berhenti disana.


Pria yang ternyata adalah Johan itu menggedor pintu mobil yang didalamnya ada seorang wanita yang dia kenali dengan sangat baik.


Ya! Wanita itu adalah Ruby. Orang yang sejak semalam dicarinya itu ternyata bertemu di tempat yang tidak diinginkannya.


"Mommy? Is that you?" teriak Johan sambil menggedor pintu mobilnya.


"Keluar mom, kita bicara baik-baik" teriak Johan lagi. Namun wanita itu hanya bergeming.


Tak ada niatan dalam hatinya untuk menemui sang anak sebelum hajatnya untuk menghabisi Sam terwujud.


Ruby tak bisa mengikuti kemauan Johan untuk turun dari mobil itu.




Sementara di tempat lain, kini waktunya Silvi untuk mengambil surat hasil pemeriksaan Laboratorium yang kemarin dilakukannya.



Tak ada perasaan apapun dalam hatinya seperti antusiasme ibu baru lainnya saat mengambil hasil pemeriksaan kandungannya.



Diantar oleh supir pribadinya, Silvi memasuki rumah sakit Persada pada pukul sepuluh pagi. Sesuai janjinya dengan dokter Lina untuk membahas perihal kandungannya.



Sampai di depan ruangan dokter Lina, rupanya dia masih harus mengantri dan duduk manis sebelum suster memanggilnya. Silvi berada di antrian nomor tiga.



"Ah, lama sekali" keluh Silvi yang cukup jenuh untuk menunggu namanya dipanggil.



Lebih dari satu jam dia berkutat dengan ponselnya untuk membunuh rasa jenuh dan muaknya saat melihat wanita lainnya tengah ditemani pasangan mereka masing-masing.

__ADS_1



Canda tawa yang samar-samar terdengar di telinganya membuat Silvi semakin yakin untuk menghadirkan sosok Bayu sebagai ayah dari bayinya kelak.



Silvi bertekad untuk tidak memilih pria lain jika rencananya untuk menjebak Bayu nanti akan gagal.



"Nyonya Silvi" akhirnya suster memanggil namanya.



Dengan penampilannya yang masih fashionable, Silvi mengeratkan kacamata hitamnya saat berdiri dan berjalan perlahan memasuki ruangan dokter Lina. Dan Silvi masih menjadi pusat perhatian dimanapun dia berada.



"Selamat pagi bu Silvi. Silahkan duduk" ucap dokter Lina dengan ramahnya.



"Terimakasih dokter" jawab Silvi sambil tersenyum.



"Anda sudah terlihat lebih segar hari ini. Semoga anda sudah siap untuk menerima hasil pemeriksaan laboratorium yang sudah dilakukan kemarin ya, bu Silvi" kata dokter Lina dengan senyum yang masih sama.



"Tentu, dokter" jawab Silvi.



Dokter Lina menarik.nafas panjang sebelum membuka amplop hasil tes itu, seolah ada beban dalam hatinya.



Silvi hanya bisa diam dan menunggu.




"Untuk tes urin semuanya normal, tidak ditemukan protein di dalam urine bu Silvi yang menandakan kondisi ginjal bu Silvi bagus dan sehat dan resiko preklamsia akan sangat kecil" ucap Dokter Lina.



"Mari kita lanjutkan di tes darah yang telah Bu Silvi lalui" ucap Dokter Lina seolah sedang berusaha menutupi sesuatu.



"Pertama, tes HBsAg bu Silvi hasilnya negatif. Tandanya tidak ditemukan virus Hepatitis dalam tubuh bu Silvi, namun yang sangat kami sayangkan adalah..." ucap Dokter Lina menjeda ucapannya dan mengambil nafas panjang.



"Mohon maaf untuk menginformasikan bahwa telah ditemukan adanya virus HIV di dalam darah Bu Silvi" ucap Dokter Lina.



Terkejut? Tentu!



Sepertinya atap bangunan ini telah roboh dan jatuh tepat diatas kepala Silvi pagi ini. Rasa terkejutnya seolah sampai ke ubun-ubun. Mata Silvi sampai melotot dibuatnya.



"Maaf, dokter bilang apa barusan?" tanya Silvi memastikan.



"Ya, bu Silvi. Telah ditemukan adanya virus HIV di dalam tubuh bu Silvi" ucap Dokter Lina sekali lagi.

__ADS_1



Seketika Silvi menangis, tak bisa lagi dia bendung keterkejutannya dan mulai berair mata.



"Tenang ya bu. Mari kita lakukan tes lanjutan untuk semakin memperjelas kondisi ibu. Semoga saja di tes lanjutan ini, tidak ditemukan adanya virus tersebut di dalam tubuh bu Silvi. Tetap tenang dan kita jalani semua ini bersama-sama" kata Dokter Lina memotivasi Silvi yang nampak begitu terpukul.



"Apa mungkin itu terjadi, dokter? Apa bisa virus itu hilang di pemeriksaan lanjutan itu?" tanya Silvi penuh harap.



"Semoga saja, bu. Berdoalah semoga di pemeriksaan lanjutan nanti, tidak ada lagi virus tersebut ditemukan didalam tubuh Bu Silvi. Percayalah dengan kekuatan doa, bu" ucap dokter Lina.



"Jika seandainya tidak ditemukan virus itu setelah pemeriksaan lanjutan, apakah saya masih butuh untuk melakukan serangkaian tes lagi ke depannya, dok?" tanya Silvi.



"Tentu. Pemeriksaan laboratorium untuk ibu hamil dilakukan setidaknya 3x selama masa kehamilan. Yakni di trimester awal seperti yang sedang bu Silvi jalani kali ini, dan di tiap trimester selanjutnya" jawab Dokter Lina.



"Dan jika seandainya masih ada virus itu ditemukan di dalam tubuh saya, apa yang harus saya lakukan, dok?" tanya Silvi.



"Tindakan pencegahan penularan virus HIV dari ibu hamil ke janinnya bisa dilakukan dengan pemberian pil yang harus dikonsumsi selama bu Silvi masih ingin memelihara kehamilan dan juga ingin merawat anak ibu. Artinya, bu Silvi harus mengkonsumsi pil selama hidup untuk mencegah penularan sekaligus untuk memperkuat daya tahan tubuh bu Silvi dan harapannya agar bisa menghilangkan secara penuh virus tersebut dari tubuh bu Silvi sendiri" jawab Dokter Lina.



"Apakah selanjutnya saya akan menjadi pengidap AIDS, dok?" tanya Silvi dengan perasaan ngeri. Membayangkan betapa sulit ya hidup para penderita AIDS seperti yang dia sering lihat saat ada acara sosial dari para model dan artis yang sering dia ikuti.



Dan menjadi bagian dari mereka adalah sesuatu yang sangat Silvi takuti. Namun karena impian konyolnya, sekarang Silvi harus mempersiapkan diri untuk itu semua.



"Jika virus tersebut segera ditemukan dan segera diobati, kemungkinan untuk menjadi pengidap AIDS sangat kecil bu. Asalkan ibu patuh terhadap petunjuk dokter dan rutin untuk mengkonsumsi obat yang diberikan" jawab Dokter Lina.



"Baiklah, nanti saya akan rujukkan kepada dokter yang berwenang dengan kondisi bu Silvi sebagai pasien pengidap HIV baru, yang akan bekerja sama dengan saya selaku dokter yang mengurusi kehamilan bu Silvi. Sekarang lebih baik bu Silvi melanjutkan tesnya" saran dokter Lina.



"Suster, tolong temani Bu Silvi ke ruang laboratorium. Informasikan pada petugas untuk tes lanjutan tersebut" kata Dokter Lina pada asistennya.



"Mari, bu Silvi" ajak suster dengan ramah.



Silvi hanya bisa pasrah. Keadaannya yang seperti itu semakin membuat Silvi yakin jika memang Bayu yang paling pas untuknya.



Berprofesi sebagai seorang dokter pasti akan mempermudah Silvi dalam menjalani sisa umurnya, bahkan mungkin dia bisa sembuh jika ditangani dengan baik oleh Bayu.



Karena bukan hanya ditangani oleh orang yang tepat, hatinyapun akan senantiasa bahagia untuk mempermudah pengobatannya.



Sudah dalam kondisi seperti ini pun masih membuat Silvi terus mengagungkan Bayu dan tetap keukeh untuk bisa memilikinya.


__ADS_1


Silvi tak berharap cintanya terbalaskan oleh Bayu, namun semoga saja nanti pria itu bersedia menerimanya dan juga janin dalam perutnya, dan merawat Silvi dengan baik agar penyakitnya bisa tertolong.


__ADS_2