My Angel Baby

My Angel Baby
Mawan datang


__ADS_3

"Sayang banget anak secakep lo harus mati mengenaskan di tangan kita" kata salah satu orang yang mengerumuni Sam dari balik maskernya.


"Apa yang kalian mau?" tanya Sam sambil mengepalkan tangannya, berjaga-jaga jika ada yang mulai maju.


"Kalau kalian mau motor gue , ambil saja. Gue bisa beli lagi yang lebih bagus dan lebih banyak. Bahkan gue bisa beliin Lo semua satu per satu kalau kalian mau" kata Sam yang masih sempat bercanda di ujung mautnya.


"Dasar bocah tengik sombong. Kita nggak butuh motor jelek lo. Tugas kita cuma buat menghabisi nyawa lo doang" kata yang lainnya.


"Lo siap-siap saja deh buat say hello ke malaikat maut dan say good bye dari dunia ini. Hahaha" kata lainnya menertawakan keberanian Sam yang dinilai tak ada artinya.


"Nggak usah ngomong setinggi langit lo bocah kecil. Sebentar lagi juga semua harta lo nggak ada artinya" kata yang lain.


Mendengar hal itu membuat Sam semakin berhati-hati. Karena tujuan mereka bukanlah hartanya yang sangat banyak, melainkan nyawanya yang hanya ada satu.


"Tapi sayangnya gue nggak mau memberikan nyawa gue yang cuma ada satu ini buat kalian. Jadi, sampai titik darah penghabisan, gue bakalan ngelawan kalian semua" kata Sam yang tak ingin harga dirinya terinjak-injak.


Sebisa mungkin dia akan bertahan sambil menunggu Lian yang dia kira sedang mencari bantuan. Sam tak mau kalau Lian melihatnya sebagai lelaki pengecut yang tak bisa mengamankan nyawanya sendiri.


"Hiyak" teriak salah satu dari mereka yang berusaha menyerang Sam dari arah belakang.


Sam yang sudah terlatih tentu berbalik badan dan menangkis serangan pria itu yang ternyata memakai senjata tajam.


Fokus Sam pada lengan pria itu dan berharap senjatanya bisa jatuh. Terlihat pria itu hanya menyerang tanpa pertimbangan.


Bugh!


Senjata orang itu benar-benar terjatuh dan segera Sam berusaha untuk mengambilnya. Sementara pria tadi meringis kesakitan karena serangan balik dari Sam sepertinya berhasil mematahkan tangannya.


"Oke, kalau begini kan sedikit adil meski gue harus melawan kalian yang lebih banyak" kata Sam sambil mengangkat pisaunya.


"Masih kecil sudah belagu" ujar salah satu dari mereka sambil menyerang Sam.


Kini mereka serius dalam penyerangannya. Satu orang Sam harus melawan delapan orang pria dewasa dengan senjata mereka masing-masing.


Sam berusaha bertahan. Dalam benaknya akan ada Lian yang datang dengan bantuan. Jadi, dengan segala kemampuan yang dia miliki, Sam harus melawan.


Pertarungan sengit mereka yang timpang tentu membuat Sam yang baru pertama kali bertarung dengan banyak orang di realita kehidupan membuatnya kewalahan.


Beberapa bagian tubuhnya sudah terkena sabetan senjata lawan. Lengannya sudah mulai berdarah, keningnyapun sama.

__ADS_1


Hingga beberapa saat dia berusaha melawan, terdengar sebuah suara familiar yang sering Sam dengar tengah memangil namanya.


"Bertahan Sam, gue datang" seru Mawan dengan lantang sambil memukulkan setandun besar pisang pada orang yang akan menikam Sam dengan pisaunya.


Bugh!


suara benturan pisang dengan punggung pria itu yang membuat si pria jatuh tersungkur.


"Mawan?" seru Sam senang.


"Bagaimana lo bisa ada ada disini?" tanya Sam heran.


"Nggak penting, Sam. Sekarang kita harus berusaha kabur dari mereka. Kita berjuang bersama, ya. Kalau ada celah, kita harus segera kabur" kata Mawan yang mendiskusikan rencana dadakannya.


"Tapi gue lagi nunggu Lian yang nyari pertolongan, Wan" kekeuh Sam.


"Lupain dia dulu. Nanti kita cari dia di perkampungan terdekat. Pasti kita bisa nemuin dia" kata Mawan sambil melawan musuh-musuhnya.


Sam mengangguk setuju, nyawanya lebih berarti untuk saat ini. Sebisa mungkin mereka berdua bertahan sambil mencari celah dari kepungan lawan yang entah berasal darimana.


Beberapa menit berlalu, terlihat sebuah mobil datang dan menurunkan beberapa orang yang langsung berlari ke arah Sam dan Mawan.


Orang-orang itu terlihat profesional. Gaya bertarungnya berbeda dengan preman yang tengah mengeroyok Sam dan Mawan.


Tak butuh waktu lama, para preman itu lari tunggang langgang menuju ke arah mobil mereka dan segera tancap gas. Tak menyisakan satupun dari mereka untuk dimintai keterangan tentang siapa dalang dari penyerangan itu.


"Maafkan kami yang datang sedikit terlambat, tuan muda. Kami terjebak macet" ujar salah satu dari mereka yang membuat Mawan melongo heran dengan nama panggilan yang mereka sematkan pada Sam.


"Tuan muda?" tanya Mawan lirih lebih kepada diri sendiri, tapi masih terdengar oleh Sam.


"Mari kami antarkan tuan muda dan teman anda ke rumah sakit" ajak mereka.


"Tunggu dulu, gue masih nungguin teman yang lagi nyari pertolongan" kata Sam sambil meringis menahan rasa perih dari beberapa luka di tubuhnya.


"Lo nggak usah nungguin Lian, Sam. Gue yakin dia sangat baik-baik saja. Bahkan mungkin sekarang dia sudah sampai di rumahnya" celetuk Mawan yang juga sedang meringis, diapun mengalami beberapa luka di tubuhnya. Bahkan lebih parah daripada Sam.


Saat Sam menoleh pada Mawan dan ingin menegurnya karena berkata seperti itu, segera Sam mengurungkan niatnya saat melihat kondisi Mawab yang kesakitan sambil memunguti pisang yang berserakan.


"Lo darimana Wan? Kenapa bisa tahu kalau gue lagi disini?" tanya Sam.

__ADS_1


"Gue dari sana" ujar Mawan menunjuk ke arah semak pepohonan.


"Didalam sana ada kampung. Gue sering kesana buat beli pisang ke orang kampung soalnya enyak sama babe gue jualan gorengan dirumah" kata Mawab yang kini terlihat duduk di aspal karena tidak tahan dengan rasa sakitnya, dan membiarkan pisang dalam genggamannya kembali berada diatas aspal.


"Yasudah, kita ke rumah sakit saja. Jangan lupa nanti kirimkan pisang ke rumah Mawan" perintah Sam, dia tahu kalau orang-orang itu adalah bodyguard papanya karena mereka memakai seragam yang sama dengan logo dari keluarga Alexander.


Mawan masih diam saat mereka menaiki mobil dengan beberapa orang yang ikut di dalamnya. Dia masih belum berani bertanya lebih banyak tentang Sam.


"Gile, kayak di film-film saja ya Sam. Baru kali ini gue adu jotos sama orang yang bawa senjata. Aduh, sakit semua badan gue" ujar Mawan, dia memang berdarah lebih banyak daripada Sam.


"Makasih ya Wan. Kalau nggak ada lo, pasti mereka lebih mudah buat misahin jiwa sama raga gue" kata Sam yang masih berusaha melucu.


"Kagak lucu, Sam. Badan gue perih banget" ujar Mawan yang masih meringis, menekan luka di dahinya yang sedikit lebar hingga membuat darah lebih banyak meleleh dari sana.


"Sabar ya Wan. Bentar lagi kita nyampek di rumah sakit" kata Sam yang kini duduk bersandar dan menikmati rasa sakit yang mulai menggelitik.


"Besok gue kagak masuk sekolah, Sam" kata Mawan sambil memejamkan mata.


"Gue juga" timpal Sam.


"Jarang-jarang gue bolos sekolah. Enyak gue anti bolos, Sam. Sekalinya nggak masuk malah lagi bonyok" tutur Mawan.


"Sorry ya Wan. Lagian lo juga yang tiba-tiba nolongin gue, kan gue nggak minta" kata Sam.


"Terus gue harus biarin lo koit dikeroyok preman itu? Lagian lo juga mantai nggak ngajak gue" kata Mawan.


"Lo yakin Lian bakalan selamat, Wan?" tanya Sam yang masih saja khawatir.


"Yakin gue. Orang di kampung pasti melarang Lian buat ke TKP. Disana memang sering ada begal, Sam. Dan yang berhasil lolos sangat jarang. Pasti orang kampung melarang Lian buat kembali" penuturan Mawan sedikit melegakan hati Sam.


Mereka berduapun mulai diam, meski banyak pertanyaan dalam benak Mawan, tapi anak yang biasanya cerewet itu memilih diam untuk saat ini sambil menunggu agar bisa segera sampai di rumah sakit.


"Hampir saja nyawa gue melayang begitu saja karena lo, Sam" kata Mawan lirih sambil terpejam, bahkan dia melupakan sepeda bututnya yang masih teronggok di TKP.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2