My Angel Baby

My Angel Baby
Mencari kawan


__ADS_3

Selalu saja setan akan senantiasa menemukan jalannya untuk menghasut manusia agar mai berbuat jahat. Tak terkecuali Sebastian yang baru saja diusir dengan paksa oleh Lia dan Samuel.


Pria itu tengah menyulut rokok dengan penuh emosi sambil duduk diatas kap bagian depan mobilnya.


Terlihat pria itu menghembuskan dengan kesal kepulan asap dari mulutnya ke udara.


"Malang sekali nasibmu" tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan pakaian seksinya datang menghampirimu Sebastian.


"Pergi kau, aku tak kenal denganmu. Aku juga sedang tidak butuh wanita untuk menemani. Aku sedang kesal, jadi pergilah" usir Sebastian dengan kesalnya.


"Kau marah karena ulah keturunan Alexander, bukan?" tanya wanita itu.


Ya, dia adalah Rubi Eria, wanita yang begitu membenci Keluarga Alexander beserta seluruh anak turunnya itu sedang mencari kawan sebanyak mungkin untuk memuluskan aksi balas dendamnya. Dan sepertinya Sebastian bisa diajak bergabung juga.


"Bagaimana kau bisa tahu? Siapa kau?" tanya Tian sedikit heran.


"Perkenalkan, namaku Eri. Panggil saja aku ibu. Kalau kamu berminat, kita bisa bekerja sama untuk menjatuhkan keluarga Alexander" kata Eri yang juga tengah mengapit rokok yang menyala dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Apa yang membuatku harus mempercayaimu? Dan kenapa kau ingin menghancurkan keluarga Alexander?" tanya Tian, sebenarnya diapun merasa tertarik dengan tawaran Eri, kini dia sangat sakit hati karena Lia yang tak mau lagi diajak untuk kembali menjadi kekasihnya.


"Aku melihatmu saat dipermalukan di depan banyak orang di dalam cafe tadi, dan kenapa aku sangat membenci keluarga Alexander, biarlah itu menjadi urusan pribadiku. Yang terpenting adalah, kita visa bekerjasama untuk melawan mereka" kata Eri.


Sebastian sedikit berfikir, memang rasanya kesal sekali karena mesin ATM berjalannya sudah hilang. Dan dia yang masih diselimuti oleh kekesalan mengiyakan ajakan Eri dengan sedikit drama agar tak terlalu kentara sisi culasnya.


"Baiklah jika kau masih bimbang, ini kartu namaku. Kau bisa kapan saja menghubungiku jika kau sudah siap untuk bekerjasama denganku untuk melawan mereka" kata Eri sambil menjulurkan secarik kertas bertuliskan nama dan nomor ponselnya.


Tanpa kata, Sebastian mengambil kartu nama Eri dan membacanya sekilas. Tak ada raut wajah yang bisa Eri pastikan, apakah Sebastian setuju atau tidak.


Dan karena takut ada yang melihatnya berdua dengan Sebastian, maka Eri segera pergi tanpa berniat untuk berpamitan pada Sebastian yang masih terdiam.


Biarlah waktu yang akan menunjukkan pada Eri apakah Tian mau atau tidak untuk bergabung dengannya.


__ADS_1


"Bagaimana bisa kakak mengenal orang seperti itu?" tanya Sam sedikit berteriak sambil fokus pada jalanan, tadi Lia mengajak Sam pergi menggunakan motor milik Sam karena Lia sedang tak membawa kendaraan sendiri.



"Dia rekan bisnisku, Sam. Aku juga tidak menyangka jika kepribadiannya akan berubah jika memiliki hubungan lain diluar pekerjaan" jawab Lia.



"Kau memang sangat bodoh untuk menilai watak seseorang ya, kak" ejek Sam.



"Untuk urusan tertentu mungkin iya, tapi kalau urusan pekerjaan, kau jangan pernah meremehkan aku, Sam" jawab Lia dengan sombongnya.



"Hem, sombong sekali. Oke, kau memang terbaik dalam urusan pekerjaan, tapi paling bodoh untuk urusan percintaan" ejek Sam lagi.




"Iya, kau memang terhebat dan terbodoh sekaligus kak. Ibarat koin, dua sisi dalam dirimu sangat berbanding terbalik" kata Sam yang juga tak mau kalah.



Dan pernyataan Sam itu sungguh membuat Lia tak bisa lagi bersuara, dia hanya visa terdiam dan memutuskan untuk menikmati angin sore yang jarang sekali dia rasakan setelah memasuki dunia kerja.



Sedangkan Sam yang merasa menang juga hanya visa tersenyum dan melihat raut wajah kakaknya yang cantik dari spion. Dalam hati Sam merasa beruntung karena memiliki keluarga utuh yang saling menyayangi dengan caranya masing-masing.


__ADS_1


Diapun tak memiliki rasa dendam saat Lia menyuruhnya tinggal dengan Gita, karena dengan itu membuat Sam bisa mengenali Berlian yang kini bertahta indah di hatinya.



"Ini sudah hampir lima belas tahun kak Ruby di tahanan ya, pa. Ehm, apa papa tidak ingin melihatnya disana?" tanya Viviane, setiap malam kedua sejoli yang masih terlihat romantis di usia yang tak lagi muda itu selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan membahas apa saja yang telah mereka lalui hari ini, atau pun membahas tentang isu di sekitarnya atau apa saja yang membuat hubungan mereka tetap lengket.


"Aku tidak berminat untuk mengunjunginya, sayang. Mengingat apa yang sudah dia perbuat terhadap kita dahulu, sebenarnya hukuman itu masih tak cukup bagiku" jawab Vicky.


Yang sebenarnya terjadi adalah Vicky sudah tahu jika Ruby sudah bebas dari tahanan. Tapi dia kehilangan jejaknya setelah Ruby keluar dari rumahnya yang sudah rusak dan mengunjungi kediaman Handoko, pengacara keluarganya.


Vicky memang tak ingin mengatakan pada Viviane karena takut kalau wanita itu akan selalu mengkhawatirkan hal yang remeh sekalipun. Vicky paham sifat istrinya yang sangat baik, tapi juga terlalu khawatir pada hal sekecil apapun.


"Aku hanya memikirkan bagaimana perasaan Johan jika bertemu lagi dengan mamanya. Apa dia bisa memaafkan mamanya dan bersikap biasa saja atau dia masih tak mau untuk kembali pada wanita itu?" tanya Viviane.


"Entahlah sayang. Yang penting sekarang Johan sudah bahagia dengan pekerjaannya yang selalu berkeliling dunia. Aku yakin karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan dia bertemu dan menangani banyak sekali orang dengan watak yang berbeda akan membuat Johan semakin dewasa untuk mau menerima kembali mamanya dalam kondisi apapun" kata Vicky.


"Dia adalah anak yang baik" lanjutnya.


"Iya, papa benar. Johan memang sudah menjadi orang yang baik sejak kecil. Karena setahuku sejak kecil kau sudah tak menghiraukannya, bukan?" tanya Viviane.


"Tapi anak itu selalu saja memujimu sebagai papa terhebat setiap kali dia bercerita pada Lia" lanjut Viviane.


"Sesekali memang aku merasa kasihan padanya, ma. Tapi setiap kali aku melihat wajahnya, selalu aku teringat kejahatan Ruby yang membuatku harus jauh darimu dan Lia. Karena hal itu, maka aku selalu saja bersikap dingin padanya dan menjauhinya. Karena kalau dia selalu di dekatku, aku khawatir akan bisa menyakitinya bukan hanya secara mental, tapi juga secara fisik" kata Vicky.


"Sudahlah ma, jangan lagi membahas hal ini. Lebih baik sekarang kita tidur saja" kata Vicky sambil meraih kepala istrinya agar tertidur di lengannya yang masih sangat kokoh.


Dan posisi ternyaman itu selalu berhasil membuat Viviane dengan cepat terlelap dan menghentikan bibirnya yang selalu cerewet.


Melihat Viviane sudah terlelap, otak Vicky masih bekerja karena tiba-tiba saja seperti ada radar tanda bahaya tertangkap olehnya.


Besok dia akan menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki keberadaan Ruby. Dia hanya khawatir jika Ruby akan kembali berulah karena kabar hilangnya Handoko sejak beberapa hari yang lalu belum juga ditemukan titik terangnya. Padahal diketahui mobilnya masih aman berada di parkiran pantai wisata di pinggiran kota.


__ADS_1


__ADS_2