My Angel Baby

My Angel Baby
Meneroka Hati Yang Pernah Lantak


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|15. Meneroka Hati Yang Pernah Lantak|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Louis memukul keras stir kemudi karena kesal akan sikap Lukas yang ternyata tidak jauh berbeda dengan kedua orangtuanya. Mereka suka memojokkan dan mengintimidasi orang lain dengan kata-kata. Pesan yang dia terima adalah buktinya.


Tak menunggu waktu semakin bergerak lama dan memancing rasa curiga Angel, Louis segera menyalakan mesin mobil, lalu menjalankannya pelan meninggalkan area apartemen Angel. Mobil hitam mengkilatnya membaur bersama kendaraan lain menggesa jalanan ibu kota yang tak pernah tidur.


Lampu merah menyala memberi jeda. Louis melirik ponsel dan kembali teringat akan Lukas dan Angel yang mungkin sekarang sedang bersenang-senang tanpa dirinya. Oh, bodohnya dia kenapa tadi tidak meng-iyakan saja tawaran Lukas?


Louis bergegas meraih ponsel. Dengan gerakan cepat sebelum lampu lalu lintas berubah hijau, dia mengirim pesan kepada Angel,


Jangan tergiur sama rayuannya. Mobil yang dia pakai itu mobil rental.


Terkirim. Louis membaca lagi isi pesannya dan bola matanya mendelik lebar. Bisa-bisanya dia mengirim pesan kekanan seperti itu?


Louis menekan lama pesan tersebut, lantas berniat memilih hapus pada kolom pilihan. Akan tetapi, semua terlambat. Jika saja dia menekan tombol hapus satu detik lebih cepat, centang abu-abu itu tidak akan berubah biru. Astaga, Louis ingin sekali bersembunyi di lubang semut karena Angel telah membaca pesan memalukan itu. Bahkan, Louis bisa melihat dengan jelas kata ‘Mengetik ... ’ di bawah nama Angel. Perempuan itu sedang membalas pesannya.


Louis hampir saja meremat wajahnya sendiri jika mobil yang ada dibelakangnya tidak membunyikan klakson secara brutal. Rupanya dia sudah melamun di jalan raya yang membuat dirinya terlihat bodoh. Ya, dia sudah bodoh hanya karena melihat Angel dan Lukas bersama.


Mobil melaju perlahan, bersamaan ponsel Louis yang berbunyi.


Pop!


Buru-buru Louis meraihnya dari dashboard, lalu membaca isi pesan dari Angel.


Emoji tertawa menjadi pembuka. Kemudian,


Bapak tidak perlu khawatir. Saya sudah mengusir Lukas. Dia sudah pulang setelah bapak pulang tadi.


Ada rasa lega menyambangi hati Louis setelah tau Lukas sudah pergi dari rumah Angel. Lebih-lebih perempuan itu mengusirnya. Louis jadi menahan tawanya sendiri yang akan meledak.


“Pffttt . . . Bwahahaha, dia diusir.” akhirnya, tawa itu tidak lagi berada dalam kuasa Louis. Suara tawanya menggelegar memenuhi cabin mobil.

__ADS_1


Kekanakan, sungguh. Tapi Louis merasa senang tak terkira ketika tau Lukas malah di usir Angel dari sana. Kalau tau ada drama seperti itu, Louis tidak pergi dan memilih diam disana sambil meyaksikan bagaimana ekspresi wajah Lukas saat itu. Oh My God, Louis benar-benar terhibur. Ia harus berterima kasih kepada Angel. Oh, tidak, rahasiakan saja rasa senangnya. Mari pulang dengan hati riang gembira.


Sesampainya dirumah, Louis bergegas menuju kamar dan membersihkan diri. Dia memutuskan untuk mandi sekali lagi karena cuaca mendadak panas. Di tambah lagi emosinya yang belum tuntas, ia harus mengguyur kepalanya agar semuanya reda. Bayangan Lukas juga harus enyah dari pikirannya bersama air yang mengalir ke selokan. Ya, menurut Louis, Lukas pantas di buang di selokan agar tidak bikin rusuh. Agar sialnya juga ikut minggat.


Dan setelah ritual itu selesai, Louis berjalan keluar kamar hanya dengan menggunakan box-er bermerek Calvin and Clain yang baru ia beri beberapa waktu lalu. Lekukan otot liat pada tubuhnya terpampang nyata. Ia tidak perlu malu karena hanya ada dirinya sendiri di ruangan yang luasnya hampir menyerupai lapangan basket ini.


Tapi nahas, pintu terayun tanpa diduga. Mamanya muncul tanpa mengetuk pintu yang sontak saja membuat Louis memekik panik.


“MAM! KENAPA NGGAK KETUK PINTU DULU, SIH!” katanya dengan nada tinggi berteriak sambil berlari bak atlet marathon, lalu melompat naik ke atas ranjang dan mengurung dirinya dengan selimut.


Ah, Louis tetaplah Louis yang menggemaskan bagi ibunya ketika dirumah. Tingkah bocah masih sering muncul tanpa sengaja yang justru membuat Jenita merasa terhibur. Baginya, kedua putranya yang sudah tumbuh dewasa dan semakin tua itu, masih tetaplah pangeran kecil di hatinya.


“Kamu juga ngapain keluar kamar mandi telan-jang begitu? Kan ada bathrob?!” tukas Jenita tak mau kalah. Otaknya masih bekerja dengan benar untuk mencari jawaban sangkalan bagi Louis. “Untung mama yang masuk. Kalau orang lain, gimana?” lanjutnya, mengambil langkah mendekat ke tempat Louis berada.


Bibir pria itu berdecak. Mamanya memang selalu unggul dan ada saja alasan agar dirinya tidak dalam posisi bersalah.


“Makanya, kunci pintu kalau sedang ada di dalam kamar. Mama pikir kamu nggak ada disini.”


Louis mendecak sekali lagi, lantas melihat mamanya dengan tatapan malas. “ Kan tadi mama juga tau kalau Louis udah pulang?” kesal Louis memerangi ucapan sarkas mamanya sendiri. “Ada apa mama kesini?”


Jenita melipat kedua tangannya didepan dada. “Angel, tinggal dimana?”


“Di salah satu apartemen ternama, tidak jauh dari kantor.”


Jenita mengangguk. Apartemen, setidaknya bukan rumah lusuh seperti Caca dulu, pikirnya.


“Ajak dia kesini lagi hari minggu. Mama ingin belajar kue lagi sama dia.”


Louis mendengus kesal. Dia menurunkan selimut sebatas perut. “Mam, dia itu lelah bekerja. Dan hari minggu itu waktunya istirahat. Sudahlah, mama jangan ganggu dia, Ma. Kasihan. Dia butuh istirahat.”


“Kenapa kamu selalu nggak mau saat mama pingin seneng—”


“Bukannya begitu, mam. Coba posisikan diri mama sendiri sebagai Angel.” sahut Louis tak mau kalah. “Pasti mama bakalan kesel kalau ada orang lain yang ganggu waktu istirahat mama. Ya 'kan?”


Jenita menggelengkan kepala. Putra bungsunya ini memang keras kepalanya minta ampun, mirip papanya.


“Ya sudah. Tidur sana. Besok kamu kerja.” kata Jenita menyudahi. Dia tidak ingin memaksa Louis dan biarkan saja putranya sendiri yang membawa Angel kesini sekali lagi. Jenita terlanjur cocok dengan gadis berwajah bule itu.


“Ya. Mama juga istirahat. Jangan mikir macem-macem. Nanti insomnia nya kambuh.”

__ADS_1


Jenita tersenyum. Meskipun kadang Louis ini membuatnya kesal, namun kasih sayang terhadapnya, tak pernah luntur. “Eum.” gumam Jenita kemudian berlalu keluar dari kamar Louis. Pria itu menghela nafas lega karena mamanya tidak memaksa dan memilih menyerah setelah dirinya membuat sebuah perbandingan yang relevan untuk diterima akal sehat.


Melelehkan hidup sebagai pria dewasa, Louis mengakui itu. Dan itulah sebabnya dia selalu bertingkah manja didepan mamanya.Ah, sebenarnya bukan manja sih, lebih ke aneh. Ya nggak?


Ada saatnya dulu, Louis membenci mama nya karena wanita itu tidak merestui hubungannya dengan Caca. Tapi, sekarang semuanya sedang berproses menjadi baik. Lambat laun dia bisa menerima keputusan mamanya dan berharap suatu saat nanti, dia bisa mengabulkan keinginan mamanya untuk menikah. Dengan satu syarat yang ia pegang sejak dulu—sejak mengenal arti cinta—Yakni tidak membuat perbandingan strata dan menerima pilihan Louis apa adanya. Untuk masalah satu keyakinan, Louis akan berusaha untuk mewujudkannya, semaksimal mungkin.


Ia menurunkan punggung dan berubah posisi menjadi telentang. Disaat seperti inilah semua kenangan terputar di kepalanya. Mulai dari kenangan yang ia ingat saat masih duduk di bangku sekolah dasar sebagai anak-anak, duduk di bangku SMP dan SMA sebagai remaja, lalu duduk di bangku kuliah hingga masuk ke dunia kerja yang menuntutnya untuk menjadi dewasa. Tentu saja Louis melewati semua fase itu, tidak terkecuali masalah yang pernah muncul antara keluarganya dan keluarga Lukas.


Papa Lukas adalah adik kandung dari Hutama. Namanya Ferdian Putra. Pria itu pernah terjerat kasus politik pencucian uang yang menyeret nama Hutama yang saat itu tidak tau menahu tentang apapun. Ferdian yang seorang politikus akhirnya mendekam di penjara dan Hutama yang menjamin karena merasa harus bertanggung jawab kepada adik kandungnya. Sedangkan Weny, terus menuntut agar Hutama membebaskan Ferdian. Bukan dengan cara baik, tapi dengan cara tidak etis, yakni menggoda dan berusaha menjebak Hutama agar terjerat olehnya.


Lukas yang saat itu masih berusia tujuh tahun, belum paham betul akan masalah ini. Berbeda dengan Robert dan Louis yang sudah remaja. Mereka berdua mati-matian membuat Hutama sadar akan kesalahannya karena saat itu terjadi, Hutama menelantarkan Jenita dan dua putranya yang saat itu sudah tau betul apa arti dan makna sebuah perselingkuhan.


Sedikit banyak, perilaku papanya itu menjadi borok yang sulit sembuh di hati Louis. Ada trauma yang membekas jauh di dalam lubuk hatinya. Ia seolah tidak pernah lupa dengan masalah tersebut dan terus mengingatnya meskipun papa dan mamanya sudah kembali menerima satu sama lain dan saling memaafkan. Hingga suatu hari—dulu, ia yang kesal kepada Lukas, tanpa sengaja mengatakan masalah serius itu hingga kedua orang tua Lukas yang saat itu sudah kembali hidup bersama, membawanya pergi ke Amerika, mengubah status kewarganegaraan mereka menjadi penduduk negeri Paman Sam.


Louis tidak tau alasan pasti mengapa mereka sampai pergi sejauh itu, padahal, Louis hanya mencoba fair.


Dan hari ini, Louis kembali bertemu Lukas dengan pemuda itu yang sudah tumbuh dewasa. Ia juga baru tau, jika alasan Lukas memilih ikut pergi, adalah karena dirinya patah hati oleh penolakan Angel terhadap cintanya.


Satu dengusan nafasnya terdengar berat. Memikirkan masa lalu yang tidak mengenakkan seperti ini, membuat sebuah rasa bersalah pada mamanya kembali mencuat ke permukaan. Louis merasa bersalah jika kembali teringat bagaimana mamanya dulu berjuang melewati harinya yang begitu sulit ketika papanya hampir berpaling dari keluarga. Ia tau bagaimana rasa sakitnya. Tapi Louis juga ingin bahagia, ingin keputusannya di hargai.


Sekarang, melihat mamanya begitu menginginkan Angel dekat dengannya dengan dalih membuat kue, Louis lagi-lagi merasa ini tidak akan berjalan baik setelah mamanya tau kehidupan keluarga Angel yang hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya bercerai. Louis yakin akan hal itu. Ia tau peringai mamanya, dan ia yakin pada hal yang masih menjadi terkaan dalam benaknya.


“Aku nggak pingin buat Angel semakin nggak percaya akan arti sebuah cinta dan kasih sayang. Aku nggak pingin hatinya kembali hancur setelah mama tau semuanya ketika kami sudah menjalin hubungan.” gumamnya pelan. Ia tau pasti jika Angel pun tidak baik-baik saja setelah mengetahui kedua orang tuanya yang memilih berpisah dan menelantarkannya sendirian dalam kesulitan.


Louis berusaha membuka hati meskipun sulit. Ia berusaha membahagiakan sang mama, dan tidak menyakiti siapapun atas sikap mamanya, nanti.


“Kalaupun memang Angel orangnya,” Louis menjeda, mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan hatinya ketika melihat presensi Angel didepannya. Ia tidak bodoh, ia tidak awam tentang cinta karena dia pernah merasakan hal yang sama seperti dia melihat Caca dulu. Sebuah perasaan unik yang membuatnya berdebar, dan uring-uringan secara tidak menentu. “ . . . aku harus bisa menjaga dua hati berbeda.”


Hati milik mamanya, dan juga wanita yang dimaksudnya, Angel.


Ya. Dia harus melakukannya agar kejadian sama tidak kembali terulang. Termasuk alasannya putus dari Caca—selain tentang masalah restu.


Louis menatap sendu langit-langit kamarnya ketika melihat bayangan senyuman Caca kembali menyapa di pelupuk matanya. “Dan aku harus bisa menyatukan keduanya, jika memang nanti, Angel lah yang berhasil menempati hatiku setelah sembuh dari semua luka ini.” []


###


Hayo, ngapain Lou...


Jangan lupa mampir ke JyRu, cerita fantasi Othor yang pastinya nggak kalah seru nih 😘 Yuk mampir kesana

__ADS_1


__ADS_2