My Angel Baby

My Angel Baby
Berlian


__ADS_3

"Tante nggak nyangka kalau hari pertama sekolah saja kamu sudah pulang selarut ini, Sam" sambut Gita yang sedang bersantai sambil nonton TV bersama suaminya.


"Biarin saja kenapa sih, yang. Kan Sam itu anak muda. Wajar saja pulang jam tujuh malam. Belum tengah malam juga kan" komentar suaminya.


"Benar tuh om. Tante Gita kayak nggak pernah muda saja" timpal Sam yang malah ikut bergabung dengan Gita yang sedang bersantai.


"Darimana Sam?" tanya Yudi, suami Gita.


"Ngobrol sama badut, om" jawab Sam jujur, tapi malah ditertawakan oleh Yudi dan Gita.


"Kenapa tertawa sih? Memang benar kok aku ngobrol sama badut sampai lupa waktu" lanjut Sam.


"Badut apa?" tanya Gita.


"Badut lampu merah" jawab Sam.


"Oh... Terus?" tanya Gita yang sebenarnya sudah tahu dari Lia.


"Ya nggak apa-apa. Ternyata ada ya orang yang semiskin itu" kata Sam dengan pandangan sayu. Memang belum pernah sebelumnya Sam bertemu dengan orang biasa.


"Kamu pikir semua orang seberuntung kamu dan keluargamu? Banyak banget orang susah kalau kamu mau buka mata, Sam" Yudi berkomentar.


"Iya om. Ah, yasudahlah. Biar mereka jadi tanggung jawab pemerintah. Bukannya ada dalam undang-undang kalau anak terlantar dan fakir miskin itu menjadi tanggungjawab pemerintah" ucap Sam yang kemudian beranjak ke kamarnya.


"Sudah makan Sam?" tanya Gita sedikit berteriak sebelum Sam masuk ke kamarnya.


"Sudah Tan. Tadi makan somay" jawab Sam.


"Kalau nanti lapar, lauknya panasin dulu ya di microwave"Kata Gita yang hanya diacungi jempol oleh Sam sebagai jawabannya.


Tapi sepertinya dengan pelajaran hidup dan sebungkus somay saja sudah membuat Sam kerasa kenyang sampai pagi. Terbukti semalaman tidurnya sangat lelap hingga tak ada satu mimpipun mampir di tidurnya.


Dan pagi ini, Sam sudah siap dengan seragamnya untuk berangkat ke sekolah tanpa harus Gita bangunkan dengan susah payah seperti kemarin.


"Tumben sudah bangun?" tanya Gita yanga sedang menyiapkan sarapan.


Melihat Gita kerepotan, tanpa aba-aba Sam membantunya membawakan piring dan peralatan makan ke atas meja makan. Sekaligus membawakan seteko teh hangat ke atas meja.


Gita tersenyum melihat kelakuan Sam yang tanggap begitu. Karena menurut Lia, hal seperti itu sangat jauh dari seorang Sam.


"Alamat rumah tante ini dimana sih? Kemarin temanku tanya, tapi aku tidak tahu" tanya Sam.


"Ini alamatnya. Hafalkan, biar kalau nanti kamu kesasar nggak bingung saat bertanya sama orang lain" jawab Gita yang mengeluarkan sebuah kartu nama.


Karena di waktu luangnya, Gita membuka usaha online shop di rumahnya sepulang kerja.


"Ok te. Yasudah aku berangkat duluan ya om, tante" kata Sam sambil memasukkan kotak bekal yang Gita siapkan untuk Sam.


"Hati-hati Sam. Semoga harimu menyenangkan" jawab Gita.


Kembali Sam membuka hati di pagi ini. Saat mengarungi jalanan yang padat merayap untuk berangkat sekolah, mata awasnya kembali melihat satu hal yang membuatnya emosi.


Bagaimana tidak, ada seorang gadis yang tengah ditampar oleh pria paruh baya di sebuah gang sempit.

__ADS_1


Dan semua orang yang melihatnya tak ada satupun yang mau membantu si gadis. Pemandangan pagi yang membuat jiwa heroik Sam bergemuruh. Seolah dirinya adalah seorang super Hero yang harus menyelamatkan si gadis.


"Hei pak tua! Jangan beraninya pada wanita kau ya. Ayo lawan aku saja" teriak Sam yang benar-benar mendatangi gadis itu.


"Jangan ikut campur kau anak kecil. Terserah padaku kalau aku mau menyiksa anakku sendiri. Dia itu sangat todak berguna dan hanya menghabiskan uangku saja" jawab si pria tua yang rupanya adalah ayah si gadis yang tengah menangis sambil memegangi pipinya yabg tadi ditampar ayahnya.


"Oh, kau adalah ayah yang bodoh. Hentikan atau akan aku laporkan kejadian ini pada polisi!" perintah Sam yang ternyata sejak tadi sudah menghidupkan aplikasi video dari ponselnya untuk merekam kejadian itu.


"Sialan kau, brengsek! Pergi sekolah sana! Jangan ikut campur urusanku" perintah pria itu sambil berjalan menjauhi Sam dan anaknya yang masih menangis.


"Sudah ya, kau jangan menangis. Ayo aku antarkan kau pulang" kata Sam sambil mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam saku jaketnya. Lalu segera menghampiri si gadis.


Sam sedikit tertegun saat melihat si gadis yang ternyata sangat cantik meski ada luka lebam di pipinya dan tanpa adanya polesan make up sedikitpun.


"Mau diantar kemana? Rumahku yang itu" jawab si gadis sambil menunjuk salah satu rumah yang sedikit reot.


"Oh ok. Lalu kenapa sampai ayahmu memukulmu?" tanya Sam yang tak mendapatkan jawaban apapun dari si gadis.


"Oh, ok kalau kau tak mau menjawabnya. Ehm, namamu siapa?" tanya Sam.


"Aku Lian. Namaku Berlian, tapi nasibku tak sebagus itu" ucap si gadis sambile menyeka air matanya, kini nampak jelas pipi mulus Lian yang memerah karena tamparan ayahnya.


"Pipimu sakit ya?" tanya Sam, tangannya terulur untuk mengelus pipi Lian seolah tanpa perintah dari otaknya.


"Ah sakit" keluh Lian yang menyadarkan aksi Sam.


"Oh, sorry. Ehm, kau tidak sekolah?" tanya Sam.


"Sepertinya tidak sejak hari ini. Karena uang sekolahku sudah habis diambil ayah tadi" jawab Lian sambil mengendikkan bahunya.


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kau harus segera pergi sekolah. Sidah terlalu siang" kata Lian mengingatkan.


"Oh ****! Aku lupa. Ehm, apa kau sudah makan?" tanya Sam yang mendapat gelengan kepala dari Lian.


"Ini makanan untukmu. Makanlah. Aku pergi sekolah dulu ya" pamit Sam meninggalkan kotak bekalnya untuk Lian sebelum gadis itu menolaknya.


"Tapi..." Lian sudah tak bisa menolak bekal Sam.


Saat Lian membuka kotak itu, senyumnya terukir melihat tampilan nasi goreng yang sangat menggugah selera.


Tanpa pikir panjang gadis itu melahap nasi goreng buatan Gita yang memang terlalu lezat untuk di abaikan.


Sementara Sam, entah mengapa senyumnya tak berhenti terukir setelah memberikan bekalnya untuk Lian.


Meski sudah tahu jika akan terlambat, Sam santai saja untuk menghadapi semuanya.


Dan benar saja, pintu gerbang sekolahnya sudah tertutup saat dia sampai. Dan satpam sekolah hanya menertawakannya tanpa ada niatan untuk membukakan pintu.


"Dasar satpam sinting" ejek Ravi yang rupanya juga terlambat pagi ini.


"Lo telat juga Sam?" tanya Ravi.


"Iya nih. Sial banget" keluh Sam.

__ADS_1


"Tenang. Ayo ikut gue" kata Ravi dengan motor sportnya yang berwarna hijau menyala.


Daripada tidak masuk sekolah dan dilaporkan ke kakaknya, Sam ikut saja kemana Ravi pergi.


Rupanya anak berandalan itu memarkirkan motornya di sebuah halaman rumah warga yang berada di belakan gedung sekolahnya.


"Nitip bang" teriak Ravi pada si pemilik rumah.


"Telat lagi lo Vi?" tanya sebuah suara tanpa rupa dari dalam rumah.


"Iya bang" jawab Ravi.


Sam mengikuti pergerakan Ravi. Mengunci motornya dan menaruh helmnya juga.


"Ayo ikut gue" ajak Ravi.


Meski sedikit bingung tapi Sam hanya diam dan ikut saja kemana Ravi beranjak.


Menaiki tangga untuk ke atas teras rumah dari orang yang Ravi sebut 'bang' tadi. Lalu berjalan terus hingga menaiki atap rumah itu untuk menuju pagar dari sekolahnya.


Meski sedikit ngeri, Sam masih bisa mengikuti pergerakan Ravi hingga mereka bisa menuruni pagar dan turun diatas atap gudang belakang sekolah.


"Dimana ini Vi?" tanya Sam.


"Gudang belakang. Setelah ini kita bakalan lewat kantor guru. Ini step yang paling mendebarkan, bro" ucap Ravi dengan senyum smirknya.


"Lo gila sih. Dapat darimana juga rute yang kayak begini" kata Sam.


"Namanya juga preman sekolah. Haha" jawab Ravi dengan gelak tawanya.


"Ayo ikuti gue. Semoga saja si pecundang BP sudah pergi" ucap Ravi yang terus berjalan sambil mengendap saat melewati kantor guru.


Sam sangat senang dengan saat ini, rasanya seperti sedang mengikuti ninja warior saja.


"Ah lega. Kita beruntung Sam!" ujar Ravi senang.


"Gue langsung ke kelas ya. Sampai jumpa lagi" pamit Ravi, rupanya kelasnya dekat dengan kantor guru. Sedangkan Sam harus sedikit berjalan lagi untuk bisa sampai di kelasnya.


"Pagi, bu" ujar Sam saat melihat sudah ada guru di dalam kelasnya yang pintunya sengaja tidak di tutup.


"Kamu Samuel? Anak baru kemarin yang hari ini sudah terlambat?" tanya bu guru bertampang killer dengan sebuah buku tebal di tangannya.


"Maafkan saya bu" jawab Sam.


"Oke, kali ini ibu beri toleransi padamu. Tapi lain kali, jangan harap" kata bu guru yang rupanya sedang mengajar pelajaran kimia.


"Terimakasih, bu" jawab Sam yang langsung masuk dan duduk di tempatnya, di dekat Mawan.


Otak Sam sedikit tidak fokus di pelajaran Kimia yang membosankan ini. Entah mengapa bayangan wajah Lian malah terbesit dalam benaknya.


"Cewek itu cantik juga" gumam Sam yang melupakan Mila, pacarnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2