My Angel Baby

My Angel Baby
Masalah Hati


__ADS_3

"Bagaimana Lian, sukses rencana bunuh diri kamu?" tanya Eri saat baru saja melihat Lian yang memasuki teras rumahnya.


Lian tak menyangka jika Eri akan datang ke rumah itu sore ini. Dia lupa jika di sekelilingnya selalu ada orang-orang suruhan Eri yang akan selalu memata-matai setiap pergerakannya.


"Maafkan saya, bu" ujar Lian lirih, sedikit takut rupanya.


"Jangan berani-beraninya kamu lari dari rencana ini. Sudah aku bilang sejak awal kalau nyawa ayahmu taruhannya. Apa kamu pikir ucapanku hanya main-main?" geretak Eri.


"Saya percaya ibu adalah orang yang baik. Ibu tidak akan menyakiti ayah saya" kata Lian masih tertunduk.


"Sayangnya aku tidak sebaik yang kamu kira, Lian. Lihatlah ke layar televisi itu, ada perform daei ayahmu, Lian" kata Eri sambil memencet tombol dari remote TV nya dan mulai terdengar suara lelaki yabg menggerutu, dan ya, itu adalah ayah Lian.


"Ayah" gumam Lian yang matanya melotot karena terkejut, segera dia melihat ke arah televisi.


"Berikan aku minuman lagi, cepat. Yang banyak" celoteh ayah Lian yang tengah duduk di bar milik Eri dengan kondisi mabuk parah.


Terlihat seseorang sigap memberikan apa yang ayah Eri mau. Beberapa gelas alkohol tersaji diatas mejanya.


Ayah Lian yang kesenangan sangat bersemangat meminum alkohol di dalam gelas-gelas itu dengan rakus.


"Ayah, hentikan" ujar Lian sambil menangis, rasa bersalah mulai timbul dalam hatinya.


"Hei bajingan! Ayo pergi" kata seseorang dengan setelan formal, seperti orang yang membawa Lian dulu.


"Sialan, jangan ganggu aku. Cepat pergi sana!" teriak ayah Lian sambil mengibaskan tangannya.


Orang itu hanya diam, tapi isyarat tangannya menyuruh orang untuk segera membawa ayah Lian pergi.


Dan ya, ayah Lian yang mabuk dibawa ke pinggir jalan yang sepi menggunakan sebuah mobil. Lalu beberapa orang sigap menurunkannya dan membawanya ke tepi jalan yang sepi.


Segera mereka menghajar ayah Lian dengan membabi buta. Membuatnya berteriak kesakitan.


"Ayah! Hentikan! Tolong hentikan! Ayaahh" teriak Lian sambil memegangi layar televisi.


Wei hanya menyunggingkan senyum simpul untuk menanggapi tingkah laku Lian.


Beberapa lama mereka menghajar pria malang itu. Hingga setelah dirasa dia sudah hampir pingsan, mereka menghentikannya dan meninggalkannya di pinggir jalan. Dan Lian tahu jika jalan itu dekat dengan rumahnya.


"Ayah, maafkan aku" lirih Loan yang masih menangis, hatinya tentu sakit melihat ayahnya dalam kondisi begitu.


"Sekali lagi kau berusaha berhenti, maka nyawa pria bodoh itu aku pastikan akan terpisah dari raganya" kata Eri sambil beranjak, pergi dari rumah itu dengan sebuah mobil dengan supir yang sudah menunggunya.


Lia. semakin bingung, dilemanya tak bisa memilih salah satu dari dua orang yang ingin dia selamatkan, ayahnya atau Samuel?


Hingga gadis itu tertidur di sofa depan TV karena terlalui lelah untuk menangis lagi.




Hati Lia sebenarnya tak merasakan apapun malam ini, saat Lia datang bersama Tian, rekan kerjanya yang akhir-akhir ini berusaha mendekati Lia, untuk makam malam bersama di sebuah restoran mewah.



"Kau terlihat sangat cantik dengan penampilan seperti ini, Lia" ucap Tian.



"Terimakasih, Tian" ujar Lia sedikit tersipu, setiap wanita tentu akan merasa senang jika dipuji.



Lia teringat ulah mamanya yang lebih bersemangat daripada dia sendiri saat Lia mengatakan jika ingin pergi makan malam bersama Tian.



Bahkan Viviane sendiri yang memilihkan gaun hingga mendandani Lia agar tampak lebih cantik.



"Jadi namanya Sebastian? Nama yang bagus Lia. Mama yakin kalau orangnya juga pasti setampan orangnya" kata Viviane sambil mencarikan baju yang pantas untuk anaknya.


__ADS_1


Lia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat antusiasnya sang mama.



"Mama semangat sekali" ejek Lia santai, malah rebahan diatas ranjangnya sementara sang mama berkutat dengan baju dan waktu yang semakin menipis.



"Tentu saja mama senang, Lia. Karena sudah sedewasa ini, kamu belum pernah mengaku kalau kamu pernah pacaran. Setidaknya dekat dengan satu pria. Sementara adikmu yang masih SMA saja sudah sering gonta-ganti pacar" ucap Viviane.



"Memangnya apa pentingnya pacaran sih ma?" tanya Lia.



"Ya tidak penting sebenarnya, tapi mendengar kamu akan dinner dengan Sebastian itu membuat mama lega, karena kamu masih normal dengan tertarik pada lawan jenismu" kata Viviane, rupanya selama ini dia takut kalau anaknya itu memiliki kelainan.



"What? Mama pikir aku penyuka sesama jenis? Hii, najis" kata Lia bergidik.



"Dulu mama kira kamu punya hubungan spesial dengan Bayu. Mama sudah senang seandainya itu benar. Tapi ternyata kalian cuma bersahabat, ya" ucap Viviane.



Lia hanya diam kali ini. Sudah dia jelaskan berulang kali jika Johan, Bayu dan Ken adalah sahabat baiknya dari kalangan lelaki, sementara teman wanitanya hanya Silvi.



"Ehm, Lia. Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Tian memecah lamunan Lia.



"Oh iya, tanya saja. Kenapa harus meminta ijin terlebih dahulu?" kata Lia sedikit gelagapan.




"Ada, teman terdekatku ada empat orang. Satu wanita dan tiga lainnya pria" jawab Lia.



"Bukan teman yang seperti itu. Maksudku, teman dekat yang spesial di hati kamu. Seperti pacar, misalnya" kata Tian sambil menyipitkan satu matanya saat bertanya, takut saja jika Lia akan merasa tersinggung.



"Nggak ada. Aku terlalu sibuk untuk memikirkan pacar" jawab Lia santai, tak tercium olehnya gelagat rasa tertarik dari Tian. Lia memang sepolos itu dalam masalah percintaan.



"Kamu serius? Kalau boleh tahu, kapan terakhir kamu berpacaran?" tanya Tian lagi, sambil tetap berkutat dengan sendok dan garpunya.



"Aku tidak pernah pacaran. Selain tidak tertarik, aku pikir pacaran itu hanya membuang-buang waktu saja" jawab Lia.



"Jadi dia masih sangat polos. Pasti sangat menyenangkan jika aku bisa dekat dengan wanita sepolos dia" gumam Sebastian dalam hatinya, rencana demi rencana mulai bermunculan di otaknya untuk bisa menggait hati wanita cantik di hadapannya itu.



"Seandainya aku ingin dekat denganmu tapi bukan sebagai sahabat, apa kau mau untuk membuka hati untukku, Lia?" tanya Sebastian memberanikan dirinya.



Lia sedikit terkejut, meski sebelumnya sudah dia siapkan mental dan jawaban jika memang Sebastian memiliki alasan lain untuk mendekatinya, tapi disaat pria itu benar-benar mengutarakan maksudnya, nyatanya itu membuat hati Lia berdesir aneh meski tak ada getaran cinta di dalamnya.


__ADS_1


Pengalaman pertamanya di percintaan yang serius ternyata menguras keberaniannya. Lebih baik menghadapi klien yang cerewet dan banyak maunya daripada harus dihadapkan dengan suasana melow semacam ini.



"Bagaimana Lia? Apa kau mau menerima permintaanku?Atau setidaknya, jika kau masih tidak percaya padaku, cobalah untuk dekat saja. Aku yang akan berusaha untuk masuk ke dalam hatimu" kata Sebastian saat tak ada respon apapun dari Lia.



Belum ada persiapan apapun bagi Lia untuk menjawab pertanyaan yang seperti itu. Sebelumnya dia hanya berlatih untuk menjawab pertanyaan yang langsung tertuju untuk suatu hubungan khusus, bukannya yang harus dicoba seperti ini.



"Ehm, baiklah. Boleh saja, kita lihat nanti kelanjutannya seperti apa. Akupun tak bisa berjanji untuk suatu hal yang belum pasti" entah benar atau tidak, yang penting Lia sudah menjawabnya.



Dan Sebastian lega mendengar jawaban Lia. Dia yakin jika dia akan bisa memenangkan hati wanita cantik plus kaya di hadapannya itu.



"Sepertinya ini sudah terlalu malam, bagaimana kalau kita pulang saja karena besok kita harus bekerja, bukan?" kata Lia yang sudah tak tahan dengan situasi seperti ini. Hatinya belum terbiasa untuk berduaan dengan pria yang menaruh hati padanya.



"Baiklah, kita pulang saja" jawab Tian sambil mengangkat tangannya untuk memanggil waiters.



"Tolong bill nya" kata Tian.



Seorang waiters yang datang dengan sebuah nampan kecil memberikan bill padanya. Dan segera Tian merogoh saku celananya untuk mencari dompet.



Dari saku celana beralih ke saku kemeja, lalu ke saku jasnya. Tapi wajah paniknya membuat waiters itu menunggu dengan malas.



"Ada apa , Tian?" tanya Lia heran dengan ekspresi panik Tian.



"Sepertinya dompetku ketinggalan di mobil, Lia" ucap Tian.



"Oh, tenanglah. Pakai kartuku saja. Pakai ini ya mbak" kata Lia memberikan sebuah black card pada si waiters, mata Tian melotot melihatnya. Wanita yang dua tahun lebih muda darinya itu ternyata seorang pemilik black card. Harga diri Tian seolah semakin terjatuh karenanha.



"Baik, silahkan pinnya, nona" kata waiters itu yang sudah menyiapkan sebuah mesin edc diatas nampannya, dan pandangan merendahkan dia berikan pada Tian yang seolah sudah sering dilakukan oleh beberapa pria yang tak mau mentraktir temannya.



"Terimakasih atas kunjungan Anda, semoga masakan kami membekas di hati anda dan membuat anda ingin berkunjung lagi" ucap waiters itu sopan dan beranjak setelahnya.



"Sorry Lia, akan aku ganti billnya. Nanti aku transfer ya" kata Tian seolah sangat bersalah.



"Take it easy, Tian. Hanya sebuah makan malam. Biarkan saja" jawab Lia yang sudah siap pergi dari restoran itu.



"Thank you, beautiful" goda Tian, dan Lia hanya tersenyum singkat.



.

__ADS_1


.


.


__ADS_2