
Sudah hampir tengah malam saat Eri, Tomi dan supirnya datang ke bar.
Mobil mereka sengaja diparkirkan di tempat yang redup agar tak banyak orang tahu jika mereka sedang membawa koper besar.
Suasana di bar tentu sangat ramai dengan musik yang sedikit terdengar ke luar meski sudah dipasangi alat agar kedap suara. Musik terdengar samar saat ada yang keluar atau masuk ke dalamnya.
"Hati-hati, jangan sampai ada yang curiga dengan koper ini" kata Eri sambil celingukan saat Tomi dan supirnya sedikit kesulitan untuk membawa koper besar dan berat itu.
Ketiganya memilih untuk menggunakan lift agar bisa segera sampai di lantai ke empat. Tempat dimana Eri baru saja membangun sebuah ruangan khusus yang sangat besar.
"Akhirnya sampai juga. Dia berat sekali" keluh Tomi berpeluh dan menaruh kopernya di dalam ruangan setelah menutup pintu dengan rapat.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi, nona?" tanya si supir.
"Sudah cukup, pak. Kau bisa istirahat sekarang" jawab Eri.
"Baiklah, saya permisi" kata supir itu sambil mengangguk sopan. Segera Eri mengunci pintunya dengan rapat setelah memastikan supirnya pergi.
Sengaja Eri membuat dua pintu dalam satu ruangan. Niatnya agar jika ada seseorang yang berteriak dari dalam ruangan itu tidak sampai terdengar ke luar.
"Akhirnya salah satu akuarium besar ini mulai berguna" kata Eri tersenyum sambil memandangi beberapa akuarium besar yang berjejer rapi dalam ruangan itu.
Akuarium seukuran manusia dewasa yang memang diperuntukkan agar bisa menyimpan mayat agar tidak membusuk.
Ternyata Tomi pernah belajar tentang teknik pengawetan mayat dari temannya yang sedang menempuh kuliah kedokteran beberapa tahun yang lalu.
Tugas Tomi kala itu adalah mencarikan temannya mayat untuk keperluan kuliahnya. Tomi yang sudah lama ikut Norita tentu tak kesulitan mendapatkan mayat yang dia perlukan.
Norita yang mudah sekali menghabisi nyawa musuh-musuhnya membuat Tomi tak perlu mencari ke tempat lain karena tugasnya dulu selain bodyguard Norita juga dipercaya untuk membuang mayat-mayat dari musuh Norita.
Lama kelamaan Tomi pun ikut belajar cara mengawetkan mayat pada temannya saat stok mayat yang mereka punya masih terlalu banyak.
Dan ternyata keahliannya kala itu kembali bermanfaat kali ini.
"Bantu aku membuka pakaiannya" kata Tomi yang sudah menyiapkan beberapa peralatan untuk menjahit luka bekas tembakan di kening dan di dada Handoko.
__ADS_1
"Baiklah" jawab Eri malas. Sangat menjijikan bagi Eri untuk kembali melihat tubuh Handoko karena membuatnya teringat akan masa lalunya.
Selanjutnya Eri hanya bisa memandangi cara kerja Tomi yang terlihat cekatan saat merawat mayat Handoko agar tak lagi ada darah yang keluar dari bekas lukanya.
"Sudah selesai, sekarang bantu aku memasukkan mayat ini ke dalam akuarium. Dan akuarium mana yang kau pilih untuk diisi oleh mayat ini?" tanya Tomi.
"Yang diujung itu, di paling pojok" jawab Eri.
Tomi hanya mengangguk dan bersama Eri berusaha memasukkan mayat Handoko ke dalamnya.
Eri hanya melihat saja saat Tomi memasukkan cairan bening ke dalam akuarium yang berisi mayat Handoko. Entah hanya air, atau air dengan campuran bahan kimia, atau bahkan cairan bening itu adalah bahan kimia yang Tomi masukkan ke dalam akuarium.
"Darimana kau mendapatkan bahan-bahan untuk mengawetkan mayat itu, Tom?" tanya Eri.
"Di dunia bawah, sangat mudah mencari apapun Eri. Kau masih terlalu dini untuk mengerti semuanya" jawab Tomi.
"Apapun bisa aku dapatkan dari dunia bawah?" tanya Eri semakin berminat.
"Tentu. Selama kau punya relasi yang banyak, maka kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau meski itu ilegal" jawab Tomi sambil meneruskan pekerjaannya.
"Selama ditangani dengan benar dan cairannya di ganti sesuai jadwal, maka mayat ini bisa awet sampai kau menginginkannya untuk dibuang" jawab Tomi.
"Bagus. Aku semakin bersemangat untuk menaruh semua orang yang sudah mengecewakanku ke dalam akuarium yang lainnya. Pasti akan sangat menyenangkan jika melihat mereka menderita di ujung ajalnya. Dan mengingat bagaimana mereka meminta maaf dan meminta tolong padaku untuk memberi mereka kebebasan" kata Eri.
Jiwanya sedang tidak baik-baik saja. Hingga membuatnya menjadi manusia dengan pribadi yang berbeda. Sungguh sangat mengerikan dampak dari tumpukan rasa dendam hingga membuat Eri menjadi sangat jahat seperti sekarang.
"Dasar psikopat" ejek Tomi.
Eri hanya tersenyum mendengarnya. Tak dipungkiri jika dia sangat ingin jika keinginannya bisa segera terwujud.
"Aku ingin menaruh mayat Viviane di akuarium yang sebelah sana, lalu Abraham di dekatnya bersisian dengan Suzy, selanjutnya kedua anak Viviane. Dan jangan lupakan Robi dan juga Berlian di kotak terakhir" kata Eri sambil menunjuk satu per satu kotak bening yang berjejer rapi di dalam ruangan besar buatannya.
"Kenapa Vicky tidak kau sebutkan namanya?" tanya Tomi heran.
"Karena aku sangat mencintainya, Tom. Dan setelah mereka semua mati, aku akan memaksa Vicky untuk mau menghabiskan masa tua kami bersama dengan bersenang-senang bersama" jawab Eri dengan pikiran menerawang.
__ADS_1
Tomi hanya berwajah datar saat mendengarnya. Entah apa yang ada di dalam hatinya hingga raut wajahnya berubah meski hanya beberapa saat saja.
Dan segera Tomi memasang wajah biasa saat Eri menoleh padanya setelah selesai dengan angan-angannya.
"Kenapa kau hanya diam? Kau masih mau kan untuk terus membantuku agar dendamku visa segera terbalaskan?" tanya Eri.
"Tentu saja. Selanjutnya, giliran siapa yang akan kau pastikan agar segera masuk ke dalam salah satu akuarium disini?" tanya Tomi.
"Sepertinya Samuel dan Berlian. Sepasang sejoli yang sangat serasi itu pasti terlihat sangat indah jika disatukan dalam akuarium yang sama. Bagaimana menurutmu?" tanya Eri.
"Kenapa kau ingin menghabisi Berlian juga? Bukankah dia tak masuk ke dalam daftar orang yang membuatmu mendendam?" tanya Tomi heran.
"Setelah tugasnya selesai, bukan tidak mungkin jika dia akan membuka mulut dan membuat semua rencanaku berantakan. Jadi, agar lebih aman maka aku pikir kalau dia akan mengisi salah satu kotak disini saja" jawab Eri.
"Terserah kau saja, Eri. Asalkan kau harus tetap berhati-hati dalam menjalankan misimu, karena keluarga Alexander bukanlah keluarga sembarangan yang bisa kau sentuh dengan mudahnya" kata Tomi memperingatkan.
"Ya, aku tahu itu. Karena itu aku memerlukanmu disini agar semua rencanaku bisa berjalan dengan lancar" kata Eri sambil menatap Tomi.
"Berjanjilah untuk tetap membantuku hingga semuanya selesai, Tom" pinta Eri sambil mengangkat jari kelingkingnya untuk menautkan janji pada Tomi.
"Tentu. Aku tidak ingin untuk menjadi salah satu pengisi di kotak bening ini jika tak memenuhi permintaanmu" kata Tomi serius, sambil menautkan jari kelingkingnya juga.
Tapi keseriusan Tomi hanya dianggap candaan saja oleh Eri hingga membuatnya terkekeh kecil.
"Aku serius, Eri. Aku tidak ingin mati konyol jika tak memenuhi keinginanmu" ulang Tomi.
"Terserah kau saja, Tom. Yang jelas, aku ingin segera mengisi kotak selanjutnya" jawab Eri.
.
.
.
.
__ADS_1