My Angel Baby

My Angel Baby
Marylin Monroe


__ADS_3

"Baiklah anak-anak, nanti yang ibu panggil tolong maju ke depan dan sebutkan cita-cita kalian serta alasan apa yang melandasi kalian menginginkan menjadi sosok tersebut" ucap bu Marni, guru Bahasa Indonesia yang kebetulan di Rabu pagi ini mengajar di jam pertama.


"Contohnya begini, Nama saya Marni usia tujuh belas tahun, cita-cita saya ingin menjadi guru dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjadi tenaga pengajar yang tulus ikhlas untuk memberi ilmu yang bermanfaat bagi para generasi muda, dengan tidak memandang upah yang akan di dapatkan. Karena pada hakikatnya guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa".


"Huuuu.... Sepertinya ada emosi jiwa terselubung dengan ucapan Bu Marni nih" ucap salah satu teman Samuel di kelas setelah Bu Marni selesai mencontohkan tugasnya.


"Biasanya yang seperti itu ungkapan hati seorang guru honorer sih" celetuk yang lain.


Sam hanya mengulum senyum sambil melihat keadaan kelasnya yang ricuh. Coba saja kalau di sekolahnya yang lama, pasti mereka akan kena hukuman karena mengolok guru yang sedang mengajar.


"Tenang semuanya. Baiklah, kita mulai dari Mawan dulu untuk ibu undang maju ke depan dan menyebutkan cita-cita dan alasannya. Silahkan Mawan" ucap Bu Marni.


Mawan sedikit kelabakan karena ditunjuk untuk menjadi yang pertama, biasanya kan sesuai nomor urut absen. Sekarang dia jadi seperti monyet yang dilempar batu kerikil saja.


"Saya bu?" tanya Mawan.


"Iya, memangnya ada berapa nama Mawan di kelas ini?" jawab Bu Marni sambil melotot dan melorotkan kacamatanya sedikit ke bawah.


Dengan langkah ragu dan sedikit malu, Mawanpun maju dan berdiri tepat di tengah. Memindai isi ruang kelasnya yang tengah ramai memberinya tepuk tangan.


Entah mengapa malah matanya menuju ke arah Lian dan melihat senyum di wajah lugu Lian membuatnya sedikit muak.


"Nama saya Hermawan, panggil saja Mawan" kata Mawan memulai penjelasannya.


"Iya Mawan" jawab beberapa temannya yang tak tahu rasa takut dan malu.


"Cita-cita saya ingin menjadi seorang polisi karena saya ingin mengungkap kejahatan yang dilakukan para penjahat, terutama penjahat yang berkedok teman atau sahabat yang seolah melindungi kita, padahal menginginkan kematian atau kehancuran kita" ucap Mawan sambil menatap Lian dengan tajam.


"Penjahat yang berwajah lugu padahal sangat licik dan licin seperti belut yang sangat sulit dipegang. Mereka yang sangat pandai berkamuflase dan mengelabuhi korbannya" kata Mawan dengan pandangan yang masih menusuk pada Lian.


Ditatap seperti itu membuat Lian sedikit merasa tak nyaman. Dia merasa jika Mawan tahu sesuatu tentang dirinya. Atau bahkan sudah merencanakan sesuatu dibelakangnya?

__ADS_1


Lian semakin merasa khawatir akan keselamatannya sendiri.


"Uwah, keren. Mau jadi superhero ya Wan?" tanya teman sekelasnya.


"Iya dong. Mawan gitu loh" jawab Mawan setengah bercanda, melelehkan suasana yang tadi sedikit kaku karena keseriusannya.


"Cita-cita yang sangat bagus, Wan. Kamu dapat nilai sembilan. Ibu bangga padamu. Semoga terwujud ya, Wan" kata Bu Marni sambil mempersilahkan Mawan untuk kembali ke kursinya.


"Keren lo Wan" kata Sam dan mengangkat tangannya untuk ber'tos' ria.


"Pokoknya gue bakalan melindungi lo, Sam. Sebagai ungkapan rasa terimakasih gue sama lo dan keluarga lo" Mawan berucap sedikit lantang hingga membuat Lian kembali menoleh dan masih mendapati tatapan tajam dari Mawan.


"Iye dah, iye" kata Sam dengan senyumannya.


Dan sepanjang hari itu, membuat Lian kembali merasa tak nyaman untuk bertatapan bahkan untuk mengobrol dengan Mawan. Di jam istirahat, Lian lebih memilih untuk pergi ke perpustakaan dengan alasan ingin belajar untuk ujian nanti.


"Sepertinya nanti ujian Biologi deh, Lian. Kenapa lo malah baca biografinya Marilyn Monroe?" tanya Mawan yang entah sejak kapan berada di depan Lian yang sedang tak fokus dengan apa yang sedang dia lakukan.


"Lah itu yang di tangan lo apa?" tanya Mawan.


Lian menaikkan satu alisnya, heran dengan apa yang Mawan katakan. Tapi lebih heran lagi saat Lian menyadari jika memang buku di tangannya adalah biografi dari Marelin Monroe.


"Eh, iya juga. Kenapa aku bisa baca buku ini" gumam Lian dengan nada suara yang terdengar di telinga Mawan.


"Li, gue mau tanya serius sama lo. Waktu gue dan Sam dikeroyok preman, lo ada di dalam salah satu mobil mereka, kan? Please Li, tolong lo jujur sama gue, apa yang melatar belakangi lo sampai tega berniat jahat terhadap Sam yang sudah sangat baik sama lo. Bahkan seluruh penjuru sekolah tahu kalau dia ada rasa sama lo" tanya Mawan tanpa mau berbasa-basi karena waktu yang dia punya terlalu singkat.


"Kamu ngomong apa sih, Wan. Aku nggak ngerti deh" sangkal Lian yang tak pandai berbohong.


"Lian, lo tuh bisa kok keluar dari ancaman siapapun yang ada di balik semua kejahatan ini. Lo tinggal jujur saja sama Samuel. Gue yakin kalau dia dan keluarganya pasti bakalan berusaha buat bantuin lo" ucap Mawan yang masih tak mendapatkan sambutan baik dari Lian.


"Dan gue juga yakin kalau keluarga Alexander tidak akan keberatan untuk menolong ayah lo juga" sambung Mawan.

__ADS_1


"Bahkan mereka pasti bantuin lo buat mencari tahu apakah benar kalau lelaki yang selama ini lo anggap sebagai ayah itu apakah benar-benar orang tua kandung lo" perkataan Mawan kali ini berhasil mencuri perhatian Lian.


Namun sepertinya pandangan negatif yang Lian berikan terhadap Mawan. Terlihat dari sorot mata Lian yang biasanya teduh menenangkan kini menjadi tajam penuh emosi.


"Kamu jangan berani-beraninya mencari tahu tentang kehidupan aku ya, Mawan. Atau aku akan --" belum lagi Lian menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sorot matanya kembali cerah dengan senyum manis yang melekat di bibirnya.


"Kalian lagi disini rupanya. Ngobrolin apa sih kok kelihatannya serius banget?" tanya Sam yang kini sudah duduk di samping Mawan, berhadapan dengan Lian.


"Gini loh Sam, Mawan tadi kesini buat tanya buku Biologi, tapi sepertinya aku terlalu tertarik dengan kehidupan Marilyn Monroe yang katanya wanita paling cantik di zamannya tapi bernasib naas di ujung hayatnya, sampai aku lupa untuk belajar Biologi. Malah aku asyik baca biografinya Marilyn Monroe deh, iya kan Wan" kata Lian sambil menatap Mawan dengan senyuman tak biasanya, kode yang hanya dia dan Mawan yang mengerti.


"Iya Sam. Lian benar. Tadi Lian bahkan sempat bilang kalau berurusan dengan orang berpengaruh itu sangat rumit. Seperti Marilyn Monroe yang dekat dengan Kennedy bersaudara, hingga membuatnya merasa seperti sebuah alat bagi mereka. Betul kan, Lian?" kata Mawan tak mau kalah untuk saling menyindir.


"Memang tak baik terlalu ingin tahu dengan kehidupan orang lain ya, Sam" kini giliran Sam yang Lian peralat.


"Iya, benar. Tapi jika urusan mereka mengancam kehidupan kita, memang lebih baik kita cari tahu kebenarannya dulu, bukannya kepo, tapi lebih ke arah berhati-hati saja" ucapan Sam malah membuat Lian tak enak hati.


Sungguh, tak ada niatan baginya untuk mencelakai pria sebaik Samuel. Hanya saja nasib yang membuatnya harus bertemu dengan iblis serupa Eri yang mengharuskan Lian yang biasanya serupa Malaikat harus berubah menjadi setan, anak buah iblis betina.


"Apa aku menyetujui saran dari Mawan untuk jujur saja pada Samuel?" kegundahan hati Lian mulai tumbuh. Sisi malaikatnya mulai mendukung.


"Tapi bagaimana jika nanti aku jujur, Sam akan menjauhiku karena sudah menganggap kalau aku mengkhianatinya?" tanya Lian dalam hatinya sambil menatap lekat wajah Samuel yang sedap dipandang. Berharap ada jawaban dari kegundahannya di wajah itu.


"Kenapa Li? Ada masalah?" tanya Sam yang tak biasa di sorot begitu tajam oleh Lian.


"Eh, nggak ada kok Sam. Everything is ok!" ucap Lian sambil membuat bentuk lingkaran dengan jari jempol dan telunjuknya disertai senyuman renyah dan kerlingan mata lucu.


Sam tentu senang melihatnya, wajah berbinar dari seorang Lian selalu membuatnya mabuk kepayang. Lian yang cantik tapi tak bisa berfikir jernih untuk sebuah keputusan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2