My Angel Baby

My Angel Baby
Mencuci otak?


__ADS_3

Baru beberapa saat tersadar dari pingsannya, Viviane masih sedikit linglung dan masih berusaha menguatkan diri sendiri saat handle pintu berbunyi, menandakan ada seseorang yang akan memasuki kamar sempit itu.


Alih-alih memberanikan diri atas apapun yang akan terjadi nanti, Viviane malah kembali berbaring dan menutup matanya seperti saat dia baru siuman tadi.


Terdengar derap langkah kaki dari beberapa orang memasuki ruangan itu. Viviane semakin mempertajam pendengarannya.


"Dia masih pingsan" ucap seseorang.


"Suara seorang pria" kata Viviane dalam hatinya.


"Tapi seharusnya efek dari obat bius itu sudah hilang sejak beberapa jam yang lalu" kata yang lainnya.


"Suara yang berbeda, tapi mereka adalah pria" kata Viviane masih bergumam dalam hatinya.


Hening beberapa saat hingga kembali terdengar suara langkah dari sepatu high heels yang tentunya dipakai seorang wanita. Viviane semakin mempertajam indra pendengarannya.


"Apa dia sudah sadar?" tanya seseorang yang Viviane yakini baru memasuki ruangan itu.


"Suaranya sangat familiar di telinga. Kira-kira siapa wanita ini" gumam Viviane.


"Kenapa dia tidak sadar juga? Atau mungkin dia tidur" kata wanita itu lagi.


"Bisa jadi. Karena seharusnya efek bius itu sudah hilang sejak beberapa jam yang lalu" kata pria yang tadi.


Terdengar langkah kaki yang mendekati ranjang. Rupanya seseorang duduk disampingnya.


"Hei, bangunlah. Aku tahu kau pasti bisa mendengarkan aku" kata wanita itu sambil menggoyangkan lengan Viviane dengan cukup keras.


Berlagak tak tahu apapun, Viviane memicingkan mata dan seolah sedang memindai ruangannya. Dan setelah beberapa saat sedikit berakting, Viviane menoleh ke arah sumber suara.


"Hah? Kak Ruby?" ucap Viviane terkejut.


"Pantas saja suaramu sangat familiar. Ternyata itu kau, kak" ucap Viviane tersenyum, masih belum tersadar jika wanita di hadapannya itu adalah dalang dari semua kejadian yang dia alami.


"Jadi daritadi kau sudah bangun rupanya" kata Ruby sedikit heran.


"Tidak juga. Aku hanya mendengar saat kau yang bicara kok" kata Viviane.


"Tidak mungkin" kata Ruby.


"Sungguh kak. Ehm, kak... Tolong keluarkan aku dari sini ya. Alu yakin kalau kau datang untuk menolongku, bukan? Kasihan bang Vicky, kak. Pasti dia sedang kebingungan mencariku" rengek Viviane seperti dulu, saat dia masih seorang remaja dan Ruby sudah dianggapnya seperti seorang kakak. Viviane bahkan sudah melupakan kejahatan Ruby di masa lalu, saat dia juga menjadi dalang dari penculikan Lia dan Johan.

__ADS_1


"Hahahaha...." gelak tawa Ruby terdengar kencang dan lama.


Viviane yang sabar menunggu tawa Ruby reda mulai memasang kewaspadaan demi keselamatan dirinya sendiri.


"Apa kau bilang? Aku menolongmu? Hah? Hahahaha" kata Ruby kembali tertawa.


"Kau pikir dengan susah payah akhirnya aku bisa membawamu kemari hanya untuk dilepaskan lagi? Dasar bodoh" kata Ruby sambil memukul kepala Viviane cukup kencang.


"Augh!" rintih Viviane sedikit sakit.


"Awas saja kau nanti, akan kubalas pukulanmu berkali-kali lipat, Ruby" gumam Viviane sambil menatap Ruby dengan penuh amarah.


"Apa kau melotot padaku? Marah? Kau merasa marah padaku?" bentak Ruby, fan Viviane hanya terdiam. Bersabar mendengarkan ocehan yang akan Ruby lantunkan. Viviane tahu kebiasaan Ruby yabg suka mengoceh juka hatinya sedang memanas.


"Asal kau tahu Viviane bodoh. Sudah sejak lama sekali aku sangat mencintai Vicky. Bahkan sejak kita masih usia sekolah dulu. Dan keputusanku untuk mempunyai pacar sejak usia muda itu hanyalah sebuah pelampiasan agar aku bisa melupakan Vicky dan berusaha mengikhlaskannya untukmu" nah, benar kan apa yang Viviane pikirkan.


Ruby akan bercerita saat hatinya sedang marah. Dan Viviane akan menjadi pendengar yang baik agar bisa tahu apa yang Ruby rasakan sejak dulu.


"Kau itu sebenarnya memakai dukun dari mana sih? Kenapa kau bisa selalu berada di dalam hati dan pikiran Vicky? Bahkan setelah sekian lama kalian berpisah, masih belum bisa dia melupakanmu" ucap Ruby masih saja mengoceh, dia sampai lupa jika ada dua orang anak buahnya di ruangan itu.


"Bahkan setelah dia menikah denganku pun, dia tak pernah mau menyentuhku sama sekali. Apa yang telah kau lakukan padanya hah?" bentak Ruby di telinga Viviane.


"Itu tandanya bang Vicky tahu siapa wanita yang baik seperti aku, dan wanita jahat seperti mu, kak. Dia tidak salah pilih untuk menaruh hati" jawab Viviane dengan polosnya, tanpa memikirkan reaksi yang akan Ruby berikan.


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Viviane. Wajah putih dan cantik yang selalu Viviane jaga dengan skin care mahal itu sudah dibuat memerah dan ada cap lima jari di pipi kanannya.


"Ah sakit. Kau beraninya dengan orang yang tidak berdaya. Coba buka ikatanku dan kita duel satu lawan satu. Apa masih berani kau padaku hah?" teriak Viviane mulai marah. Pipinya panas dan kebas, rasa sakitnya sampai ke ubun-ubun. Karena baru pertama kali ini dia di tampar dengan begitu kerasnya oleh seseorang.


"Berani kau padaku, hah?" bentak Ruby tepat di hadapan Viviane.


"Nafasmu bau bangkai!" ejek Viviane yang membuat dua orang anak buah Ruby mengulum senyum tanpa berani mengeluarkan suara.


"Kau pikir aku takut padamu? Jangan karena kau lebih tua dariku lantas aku akan segan pada tua bangka tak tahu aturan seperti mu, Ruby yang haus kasih sayang" balas Viviane semakin mengejek.


Ruby menutup mulutnya dengan telapak tangan setelah mendengar ejekan Viviane, berusaha menciumi bau nafasnya yang memang sejak semalam belum gosok gigi. Setelah selesai menutup bar dan tentunya mengkonsumsi alkohol semalam, Ruby yakin jika nafasnya memang bau.


"Sialan kau anak kecil. Berani sekali kau mengejekku" kata Ruby yang kembali memberi satu tamparan keras di pipi kiri Viviane.


"Ah!!" teriak Viviane sambil menggerak-gerakkan bibirnya ke kiri dan ke kanan untuk mengurangi rasa sakitnya.

__ADS_1


"Sudah kubilang lepaskan ikatan di tanganku ini dan kita duel satu lawan satu, Ruby pengecut. Kita lihat siapa yang sebenarnya hanya besar mulut" teriak Viviane.


"Hahahaha, tidak akan. Nikmati saja penderitaan mu sebelum aku benar-benar menghabisimu saat aku mau. Dan setelah aku menghabisimu, giliran Samuel, anak kesayangan mu itu yang akan menjadi giliran selanjutnya yang akan disusul oleh Lia si gadis tangguhmu itu" kata Ruby sambil menepuk-nepuk kedua tangannya seolah sedang menghilangkan kotoran dari sana.


"Berani kau melukai anak-anakku, aku tidak akan segan-segan untuk mengotori tanganku hanya untuk menghilangkan satu sampah sepertimu, wanita tua" kata Viviane semakin mengejek untuk membuat Ruby semakin kesal dan hilang kendali.


"Sialan mulutmu itu. Tunggu saja giliranmu dijemput malaikat maut, dan akulah yang akan menjadi jagalmu. Bersiaplah untuk itu" kata Ruby sambil bernafas dalam. Berusaha menetralkan amarahnya.


"Jangan beri dia makanan. Biarkan dia kelaparan agar saat tiba waktunya aku menghabisi nyawanya, dia tidak akan bisa melawan" kata Ruby pada kedua anak buahnya.


Setelah berbalik badan, Ruby berjalan dengan berlenggak-lenggok meninggalkan kamar Viviane dengan masih ada dua pria di dalamnya.


"Kalian ini anak buahnya Ruby, ya?" tanya Viviane selepas kepergian Ruby.


"Bukan urusanmu" jawab salah satu dari mereka.


"Aku heran saja, kenapa kalian sangat patuh pada wanita ambisius seperti dia. Kalau kalian sudah tidak diperlukan lagi, aku yakin Ruby pasti akan membuang kalian seperti sampah yang tak berguna" kata Viviane memancing kedua pria itu.


"Tutup mulutmu itu. Jangan berusaha menggoyahkan keyakinan kami untuk setia pada nyonya Eri" jawab yang satunya.


"Kasihan sekali kalian ini. Sudah bekerja di dunia haram, tunduk pada wanita jahat. Suatu saat jika kejahatan Ruby terbongkar, kalian pasti yang akan maju terlebih dahulu sebagai kambing hitam. Mungkin Ruby dan para petinggi disini akan aman dari jeratan hukum" kata Viviane lagi.


"Tapi jika kalian bekerja di tempat yang halal, hati kalian akan tenang. Keluarga kalian akan bahagia dan kalian tidak perlu mencemaskan hari tua karena sudah ada dana pensiun menanti" kata Viviane ringan.


Kedua orang itu mulai saling lirik, sepertinya tertarik dengan semua ucapan Viviane.


"Tidak ada salahnya dulu aku kuliah Psikologi" gumam Viviane dalam hatinya.


"Tutup mulutmu itu, nyonya Alexander. Usiamu bahkan akan segera berakhir" kata satu pria itu.


"Nah, itu kamu tahu siapa aku" ucap Viviane semakin bersemangat.


"Aku adalah nyonya Alexander. Dimana saat salah satu anggota keluargaku nanti menemukanku, maka semua penjahat yang berkomplot untuk mencelakaiku akan diusut secara tuntas hingga ke akarnya".


"Aku bahkan sudah sangat yakin jika salah satu dari mereka sudah berhasil mendapatkan petunjuk tentang keberadaanku. Karena di dalam tubuhku ini ditanam sebuah chip untuk mengetahui kemanapun aku pergi" ucap Viviane sedikit membual, mana ada yang seperti itu.


Viviane sangat menikmati acaranya yang sedang mengganggu alam bawah sadar dari kedua pria di hadapannya ini.


Viviane tahu jika mereka berdua hanyalah bawahan yang bekerja dengan otot, bukan dengan otak.


Akankah Viviane berhasil mengelabuhi kedua pria itu?

__ADS_1


__ADS_2