
Sam sudah tak sabar menunggu hari berganti, dan setelah waktu yang dia inginkan datang, sepertinya masih terlalu pagi saat dia sampai di meja makan.
"Kepagian, Sam" ejek Gita.
"Tante yang kesiangan" timpal Sam.
"Masak apa tan? Baunya wangi banget, bikin keroncongan saja" kata Sam sambil memperhatikan pergerakan Gita di dapur yang sangat cekatan mengolah bahan yang ada.
"Cuma ayam goreng sama sayur sop. Kamu nggak keberatan kan?" tanya Gita.
"Apa aja oke kalau aku, tan. Lagian masakan tante enak banget kok. Cocok di lidahku" jawab Sam sambil mencomot bagian kecil dari ayam goreng yang Gita buat.
"Ehm, kamu nggak sedih gitu Sam karena disuruh tinggal sama tante?" selidik Gita yang penasaran karena Sam yang sudah tidak uring-uringan seperti hari pertamanya di rumah Gita.
"Enggak Tan. Ngapan sedih? Lagian sejak tinggal disini, banyak banget hal baru yang Sam temui. Nggak seperti saat di rumah besar, yang Sam tahu cuma berangkat sekolah pakai mobil, terus sekolah, main sama teman yang nggak ada miskin-miskinnya, terus pulang. Besoknya gitu lagi tiap hari. Bosen tan. Enak disini banyak ketemu sama orang miskin yang ternyata asik juga" ungkapnya.
Gita tergelak dengan jawaban Sam. Jujur sekali anak itu yang berkata tak pernah berjumpa dengan orang miskin.
"Kamu suka bergaul sama orang miskin?" tanya Gita.
"Suka. Mereka lucu tan. Ada yang baru punya motor sport murahan, terus dibawa ke sekolah. Gayanya sudah kayak yang punya mall Grand City" celetuk Sam.
"Hahaha... Padahal mall itu kan punya keluarga kamu ya sam?" kata Gita semakin tertawa.
"Iya. Aku saja cuma dikasih motor matic sama yang punya mall itu santai-santai saja. Yang penting uang di ATM masih cukup buat sebulan ke depan. Kalau kurang tinggal minta deh sama tante Gita" goda Sam.
"Enak saja. Kamu yang kaya raya kenapa malah minta sama tante. Ogah" jawab Gita.
"Tuh kan. Kebanyakan orang miskin memang pelit sih. Tapi nggak apa-apa. Nanti aku hubungi om Felix saja" kata Sam semakin mengejek.
"Dan orang kaya seperti kamu bisanya cuma ngejek doang Sam. Coba disuruh cari duit kayak tante, mana bisa kamu" kata Gita yang tak terima dengan ejekan Sam.
"Bisa dong, tan. Nanti deh kalau Sam sudah bisa cari duit sendiri, Tante bakalan Sam kasih duit yang banyak sampai pingsan" timpal Sam.
"Terserah kamu. Sekarang sarapan dulu terus berangkat sekolah" kata Gita.
Rupanya tangannya yang cekatan sudah selesai mengolah semua bahan makanan. Sam segera saja menikmati sarapan yang ada dan tak lupa memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas.
"Kotak bekal yang kemarin mana?" tanya Gita.
"Ehm, itu... Ketinggalan di sekolah tan. Nanti deh Sam bawa balik" jawab Sam, semoga saja Lian tak membuang kotaknya.
"Awas saja kalau hilang" pesan horor Gita membuat Sam bergidik ngeri.
__ADS_1
Ternyata begini rasanya mendengar ancaman dari emak jika kotak bekalnya ketinggalan di sekolah.
"Iya. Kalau hilang, nanti Sam ganti sepabrik-pabriknya deh aku beli buat Tante Gita yang paling cantik" kata Sam.
"Awas saja kamu" ujar Gita yang beranjak ke kamarnya untuk memanggil Yudi agar ikut sarapan.
"Huu, dasar tante galak" kata Sam yang hanya dibalas dengan senyuman samar oleh Gita.
Keriwehan paginya sudah selesai, meski jam masuk sekolah masih lama, Sam sengaja berangkat lebih pagi untuk menemui gadis yang sejak kemarin membuatnya penasaran.
Saat sampai di gang kumuh kemarin pagi, Sam nampak kecewa karena tak ada Lian maupun ayahnya disana. Bahkan rumahnya yang hampir roboh itu pintunya tertutup rapat.
Dengan langkah gontai dan perasaan kecut, Sam berjalan kembali ke motornya untuk segera berangkat sekolah.
Sedikit murung, Sam menaiki motor dan memakai helmnya untuk bersiap pergi, tapi sebuah suara yang sedikit serak mengagetkannya.
"Hei tunggu!" teriak seseorang dari balik punggungnya.
Saat Sam menoleh, senyumnya terukir.elihat Lian yang datang dengan dua kantong plastik di masing-masing tangannya.
"Hei, gue kira lo nggak ada" kata Sam.
"Aku barusan pulang dari pasar" jawab Lian.
Sam sengaja duduk di sebuah beton pembatas jalan bersama Lian, tempat yang sama seperti pagi kemarin.
"Nama kamu siapa? Aku lupa tanya kemarin" kata Lian.
"Gue Samuel, panggil saja Sam" jawab Sam sambil memasukkan kotak bekal dari Lian ke dalam tasnya dan mengeluarkan kotak bekalnya yang baru.
"Lo darimana?" tanya Sam sambil memperhatikan kotak besar yang Lian bawa di dalam kantong kresek.
"Dari pasar. Setiap pagi aku jualan kue di pasar. Lumayan lah buat menyambung hidup" ucap Lian.
"Lo bikin kue?" tanya Sam lagi.
"Enggak. Tetanggaku yang bikin. Aku cuma bantu jualan doang. Sistem setoran gitu" jawab Lian.
"Nih, makanan buat Lo. Pasti belum makan kan?" tanya Sam.
"Jangan deh. Ini kan bekal buat kamu, nanti kalau aku yang makan terus kamunya makan apa?" tanya Lian sungkan meski perutnya sangat lapar.
"Lo tuh kurus banget kayak orang nggak pernah makan, jadi gue sengaja ngasih bekal gue buat lo biar gizi lo semakin baik" kata Sam memaksa.
__ADS_1
"Kenapa jadi ngejek aku sih? Memangnya kenapa kalau kurus? Nggak bikin Kamu rugi kan?" kata Lian sedikit sewot.
"Hahaha. Lo tuh, sudah miskin belagu lagi. Niat gue tuh baik. Gue cuma mau lo nggak kelaperan dan bisa beraktivitas dengan baik. Ehm, by the way. Ayah lo kemana? Apa dia masih suka mukul lo?" tanya Sam.
"Ayah pergi sejak kemarin dan belum pulang sampai sekarang" jawab Lian yang mulai memakan bekal milik Sam, rupanya bau wangi masakan Gita membuat Lian tak tahan untuk mengacuhkannya, sementara Sam hanya tersenyum melihat Lian yang lahap dengan makanannya.
"Baguslah kalau begitu. Nanti kalau ayah lo mukulin lo lagi, hubungi gue ya. Biar gue laporin ke kantor polisi" kata Sam.
"Jangan dong. Biar begitu, ayah itu satu-satunya keluargaku yang tersisa. Kalau ayah pergi, aku sama siapa dong?" kata Lian menolak.
"Sama gue nggak masalah" jawab Sam santai, sementara Lian malah melotot.
"Becanda kali" kata Sam sambil mengelus pucuk rambut Lian hingga membuat gadis itu tersipu.
"Cantik banget" ucap Sam dalam hatinya.
"Ehm, makanannya enak. Buatan mama kamu ya?" tanya Lian mengalihkan pembicaraan.
"Bukan, tante gue yang masak. Gue dibuang sama keluarga gue, dan ditampung sama Tante Gita yang baik hati. Untung saja masakan buatannya enak banget, jadi gue betah tinggal sama tante" jawab Sam santai sedikit bercanda, yang malah di tanggapi dengan serius oleh Lian yang polos.
"Kasihan sekali kamu. Memangnya kenapa sampai dibuang?" tanya Lian
"Soalnya gue bandel. Ehm, sudah siang nih. Gue jalan ke sekolah dulu ya. Kotak yang ini lo bawa dulu, besok pagi gue ambil" kata Sam.
Lian sedikit tersipu karena kedapatan terlalu menikmati makanan lezat yang Sam berikan.
"Makasih ya Sam. Tapi besok tidak perlu membawakan makanan lagi, ya" kata Lian.
"Kamu hati-hati kalau berangkat, semoga harimu menyenangkan" kata Lian lagi.
"Iya. Gue duluan ya" kata Sam yang hatinya sudah lega karena sudah berjumpa dengan Lian yang sejak kemarin membuatnya rindu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1