My Angel Baby

My Angel Baby
Badai pasti berlalu


__ADS_3

"Muka lo kucel banget, pangeran Alexander" ejek Hans yang melihat wajah kusut Sam pagi ini.


"Diem lo" balas Sam.


"Uwah, lagi sensi nih si pangeran" timpal Nathan.


"Males banget gue hari ini. Jadi, kalian diam saja ya" kata Sam memperingatkan kedua temannya.


Nathan dan Hans saling pandang, heran dengan sikap Sam yang tidak seperti biasanya.


"Kita bolos saja gimana? Lagian lo suntuk kenapa sih Sam?" tanya Hans.


"Lagian, tumben banget sih kita sepagi ini sudah nangkring di kelas?" sindir Nathan yang tadi pagi diminta untuk datang lebih pagi ke sekolahnya oleh Sam, begitupun Hans.


"Jangan ajakin gue keluar dari lingkungan sekolah ini ya. Gue lagi dipantau, dan parahnya lagi, kakak gue ngeblokir semua kartu gue. Dan gue cuma dikasih uang saku lima puluh ribu doang" keluh Sam sambil memamerkan uang lima puluh ribu yang dia kibaskan di udara.


Mendengar keluhan Sam, malah membuat Nathan dan Hans saling pandang dan selanjutnya tertawa terbahak-bahak.


"Kasihan banget sih lo, pangeran. Tapi tenang saja, kan ada kita berdua. Lo kan biasanya nraktir kita, jadi sekarang giliran kita yang nraktir lo saat lo lagi dalam kesusahan" kata Nathan sambil menepuk pundak Sam.


"Oh, thank you bro. Sekalian nanti pulang sekolah gue nebeng sama kalian ya. Mobil gue juga disita sama kakak" rengek Sam manja.


"Ah, siap! Apa sih yang enggak buat pangeran Alexander. Palingan besok juga sudah dikembaliin semua fasilitas lo" kata Hans.


"Nggak tahu juga gue kali ini. Kakak gue kayaknya marah banget. Dia ngancam kalau sampai gue ngelakuin kesalahan lagi di masa hukuman ini, katanya bakalan ada hukuman yang lebih parah yang bahkan gue nggak akan habis pikir dengan hukuman itu. Gitu kakak gue bilang" keluh Sam sambil memperagakan gaya bicara Lia saat memberikan peringatan terhadap Sam.


"Gila sih kakak lo. Memangnya ortu lo nggak ngebelain lo gitu?" tanya Hans.


"Papa bilang, segala ucapan Lia itu benar. Dan mama juga selalu setuju dengan apa yang Lia utarakan. Dan memang sih, kalau gue pikir-pikir kenapa kakak gue itu perfeksionis banget. Segala yang dia lakuin itu selalu tepat sasaran. Apa karena dia dikelilingi orang-orang hebat ya?" heran Sam.


"Maksud lo sama orang hebat itu apaan Sam?" tanya Nathan.


"Keempat sahabat kakak gue itu orang penting. Ken si ahli komputer, Bayu lagi sekolah kedokteran di luar negri, Silvi seorang model terkenal yang sekarang lagi melebarkan bisnis di Rumah Produksi, dan satu lagi Johan si pebisnis Travel sukses" Sam sedikit membayangkan satu per satu wajah sahabat kakaknya.


"Sedangkan gue dari dulu sampai sebesar ini masih saja menjadi anak manja. Sebenarnya gue sadar sih memang gue jauh berbeda kalau dibandingkan sama kak Lia, tapi kan memang jalan gue kayak gini. Gue maunya serius di balapan" kata Sam yang masih saja ingin menjadi pembalap handal.


"Saran gue sih, ya lo seriusin saja minat lo di dunia balap, Sam. Kalau lo serius pasti kakak lo nggak akan membatasi lagi kan?" tanya Nathan.


"Tapi gue masih bimbang kalau harus masuk ke tim balap profesional gitu, Nat. Kan nggak seru kalau balapan nggak ada taruhannya. Kayak nggak ada geregetnya gitu kan?" tanya Sam pada kedua temannya.


"Betul juga sih. Balapan tanpa taruhan memang nggak asyik" kata Nathan menyetujui.


"Tapi masak iya lo harus selalu dihukum sama kakak lo?" tanya Hans, pikirannya sedang tidak oleng kali ini.


"Nah itu masalahnya. Tau lah, bingung gue. Yuk ke kantin" ajak Sam.


"Sudah bel, Sam. Lo mau kakak lo semakin marah kalau ada guru yang ngelaporin tingkah laku lo yang masih saja suka bolos?" kata Hans.


"Duh, males banget gue. Yasudah deh" keluh Sam yang kembali menduduki bangkunya dan duduk dengan gelisah.


"Sabar Sam. Badai pasti berlalu" kata Hans menyemangati sahabatnya.




Sejak pagi Eri sudah mempersiapkan diri agar bisa segera pergi dari neraka yang beberapa hari ini sedang dia tinggali.



Berbekal nekat, Eri sengaja tak membawa apapun dari sana. Hanya kartu ATM dan buku tabungan yang dia sembunyikan di dalam saku bajunya dan beberapa lembar uang yang dia dapatkan dari Handoko dan ketiga temannya kemarin.



Seperti binatang, setelah mereka puas dengan kelakuan bejat mereka, dengan senyum jahatnya ketiga pria itu menghujani Eri dengan berlembar-lembar uang.



"Bagaimana bik? Apa semuanya aman?" tanya Eri saat Sumi datang memberikan sarapan paginya.



"Aman non. Tuan sudah pergi ke kantor dan satpam yang bertugas di gerbang sedang sibuk dengan laporannya" jawab Sumi berbisik.



"Apa rencananya harus begitu bik?" tanya Eri sedikit keberatan.

__ADS_1



"Tidak ada jalan lain, yang penting nona bisa keluar dan saya tetap aman" ujar Sumi.



"Baiklah, saya permisi dulu non. Kalau sudah selesai nanti akan saya ambil piring kotornya" kata Sumi undur diri.



Eri hanya mengangguk, dengan pikiran bimbang dia menghabiskan sarapan paginya agar dia punya tenaga untuk pelariannya pagi ini.



Pikirannya tengah berkelana untuk mencari rute terbaik agar bisa lolos dari kejaran orang-orang Handoko.



Setengah jam berlalu, Sumi kembali datang untuk mengambil piring kotor di kamar Eri. Kedatangan Sumi membuat Eri sedikit terkejut. Dia harus bersiap dengan pelariannya. Demi bisa mengubah masa depannya yang mungkin masih ada secercah harapan.



Saat Sumi datang dan berjongkok untuk mengambil poring diatas meja, dengan sigap pula Eri segera memukul kepala Sumi menggunakan gelas yang tadi sedang digenggamnya.



Prang!



"Ahhh" Sumi sedikit berteriak sambil memegangi kepala belakangnya yang berdarah.



"Maafkan saya, bik" kata Eri yang sebenarnya tak tega melihat Sumi kesakitan seperti itu.



Eri segera berlari keluar kamarnya, dan sedikit bingung untuk melangkah kemana.




Sesuai rencananya dengan Sumi, art itu membiarkan pintu depan rumah Handoko sedikit terbuka agar Eri bisa leluasa keluar dan menyelinap pergi melewati pagar samping yang Sumi biarkan tidak terkunci juga setelah membuang sampah di samping rumah.



Sejauh ini pelarian itu tak mengalami kendala sedikitpun karena suasana rumah yang lengang.



Langkah Eri sudah sampai di pagar samping rumah. Hanya kurang beberapa langkah saja agar wanita itu bisa bebas saat security menyadari adanya seseorang yang melintasi halaman samping rumah.



Karena siapapun yang melewati halaman samping pasti terlihat dari pos security.



"Hei, berhenti! Siapa disana?" teriak Security yang melihat seseorang berjaket hitam dengan hodi yang menutupi kepalanya.



Eri yang terkejut segera berlari agar bisa menggapai pagar dan keluar. Namun, security itupun tak tinggal diam. Dia segera beranjak dan mengejar si penyusup.



Nasib baik masih berada di pihak Eri karena dia sudah berhasil keluar dari rumah bak neraka itu. Dan kini dia sudah berada di jalan komplek perumahan.



"Kena kau! Tak ada yang bisa lari dari saya" ucap security yang tadi mengejar Eri, rupanya dia telah berhasil memegang tangan Eri.



"Ah, sial!" gumam Eri sambil berfikir untuk kabur.

__ADS_1



"Dan tak boleh ada seorangpun yang bisa menangkapku!" ucap Eri sambil menendang junior security itu dengan sekuat tenaga dan berhasil.



"Ahhhh!" teriak Security itu kesakitan dan refleks melepas pegangannya untuk mengamankan benda keramatnya.



"Tolong, orang itu mau kabur" teriak Security yang terdengar oleh dua orang anak buah Handoko yang lain.



"Siapa yang lari?" tanya mereka heran yang melihat security sedang kesakitan di tepi jalan.



"Dia, yang sedang lari itu cewek yang tuan suruh tinggal disini. Tapi dia berhasil kabur" ucap si security yang langsung pingsan setelah memberi informasi pada kedua anak buah Handoko.



"Sial! orang-orang ini menyusahkan saja" keluh salah satu dari mereka yang nampak bingung untuk mengambil keputusan.



"Kau kejar dia, aku urus orang bodoh ini" kata temannya.



"Oke" jawabnya yang langsung berlari mengejar Eri yang mulai menjauh.



Fisik dan mental Eri sedang tidak baik-baik saja saat ini. Sehingga untuk berlari lebih kencang tentu tak bisa dia lakukan.



Anak buah Handoko sudah semakin dekat dengannya, Eri yang panik tetap berlari. Berusaha lepas dari jeratan si tua bangka Handoko yang ternyata menyeramkan di balik topeng sebagai seorang penegak hukum.



"Kena kau! Dasar wanita j\*\*\*\*ng!" kata anak buah Handoko yang sudah berhasil memegang jaket Eri dengan kuat.



Eri balik badan, berusaha untuk menendang kembali benda keramat milik pria yang mengejarnya.



Tapi memang kesempatan kedua itu sangat sulit didapatkan. Begitupun nasib Eri uang gagal dalam tendangannya.



Pria profesional itu bisa dengan mudah membaca gerakan Eri dan mengambil kaki Eri yang terangkat di udara.



Tanpa rasa kasihan pria itu mengangkat kaki Eri tinggi-tinggi hingga membuat wanita itu jatuh telentang dan kepalanya terbentur.



"Ah! Sakit" gumam Eri sambil memegangi kepalanya yang terbentur aspal.



Selanjutnya yang terlihat olehnya hanyalah bayangan hitam saja. Seiring pekatnya gelap dalam kepalanya, Eri sudah tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan.



Rupanya wanita malang itu kini pingsan.



.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2