
...MAB by VizcaVida...
...|46. Dua Garis Merah Tua|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Dengan jantung berdebar dan telapak tangan yang dingin, Angel mengeluarkan testpack dari dalam tasnya. Dia bersama Louis tadi menyempatkan diri untuk mampir di sebuah apotek untuk membeli lima testpack dengan merk dan kadar keakuratan yang berbeda. Mulai dari harga yang paling murah, hingga paling mahal.
Louis yang masuk kamar sedikit terlambat karena harus menutup pintu terlebih dahulu itu, sekarang menatap kelima testpack yang digenggam Angel dengan manik mata dipenuhi rasa penasaran.
“Kenapa aku bisa lupa sama hal sepenting itu ya?” gumam Angel dengan telapak tangan bergetar karena ada rasa cemas bercampur antusias menyerang nya. Dia menoleh kepada Louis untuk meminta persetujuan melakukan test sekarang.
“Aku tunggu disini saja ya?” kata Louis sambil mengangguk. Dia sebenarnya juga tidak sabar menunggu hasil yang keluar dari testpack itu. Satu garis, atau dua garis yang akan muncul nanti?
Angel berdiri, lalu membawa dua buah testpack dan satu alat penampung urine ke dalam kamar mandi. Setelah menutup pintu dan menampung sedikit urine dalam wadah, tanpa membuang waktu lebih lama Angel segera memasukkan dua testpack itu secara bersamaan kedalam urine yang sudah ia persiy didalam wadah.
Dengan harap-harap cemas, Angel menunggu cairan urine itu naik dan menunjukkan hasil. Matanya tak lepas sedikitpun dari gerakan urine yang semakin naik dan kini, satu garis merah gelap tercetak jelas. Lalu ...
Angel menutup mulut tidak percaya dengan berderai airmata saat garis kedua muncul dalam waktu bersamaan. Dua garis berwarna merah gelap tercetak jelas disana. Angel tertawa diantara tangis bahagianya. Kakinya menghentak lantai kamar mandi, dan kepalanya menengadah menatap langit-langit kamar mandi. Lantas dia menyatukan kedua telapak tangan dan memejamkan mata demi mengucap syukur pada Tuhan karena telah mempercayakan sebuah kehidupan di dalam dirinya.
Ya, dia ... hamil.
Angel segera membilas dua testpack positif tersebut dan berjalan cepat keluar kamar mandi. Ia mempercepat langkah ketika Louis berjalan mendekat padanya karena merasa tidak sabar.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Louis menyambut Angel yang baru saja keluar dan berjalan ke arahnya. Lantas, ia menerima dua testpack bergaris dua dari tangah Angel. Louis kehilangan kata-kata nya, ia hanya mampu menarik Angel mendekat dan merapat pada dadanya, memeluk istrinya penuh kasih sayang. “Terima kasih Tuhan,” bisiknya parau karena Louis sudah tidak lagi bisa membendung kebahagiaannya yang berubah menjadi tangis. “Terima kasih, sayang.” lanjutnya, mengecup hampir seluruh bagian wajah Angel karena kebahagiaan yang meluap-luap.
__ADS_1
“Ayo kita beritahu kabar gembira ini pada orang tua kita.” bisik Angel yang langsung membuat Louis membeku.
Bagaimana caranya memberitahu mamanya jika wanita itu tidak menginginkan Angel, bahkan sudah memantapkan diri untuk tidak mau menerima kehadiran anak mereka juga.
Louis semakin merapatkan pelukannya. Dia mengecup puncak kepala Angel dan berkata, “Mari beritahu Daddy dan mami kamu dulu. Kemudian kak Robert dan Stefany.”
Louis tidak menyebut sang mama dalam pembicaraan, dan Angel tau jelas apa penyebabnya. Angel membenamkan wajahnya didada bidang Louis dan menghirup dalam-dalam Ar ma kesukaannya dari sang suami.
“Bagaimana dengan mama kamu?” tanya Angel pelan dan lembut pada Louis yang sedang memeluknya. Sebagai seorang wanita, Angel juga ingin diakui meskipun tidak diterima kehadirannya.
Dengusan nafas berat berembus dari hidung Louis. Ia lantas mengusap kepala dan punggung Angel hingga membuat wanita itu nyaman.
“Ya, kita temui mama juga. Ayo kita beritahu kabar gembira ini kepadanya.”
Ada sengatan rasa sakit yang menyerang hati Angel. Ia tau Louis hanya ingin menyenangkan hatinya dengan berkata demikian. Tapi, apa salahnya mencoba? Angel akan berusaha untuk mendapatkan simpati Jenita, meskipun mungkin akan berakhir kecewa.
Sore hari ketika perjalanan pulang, Angel kembali membuat Louis menepikan mobil untuk kedua kalinya. Angel merasa mual dan berakhir memuntahkan isi perutnya karena memang begitulah yang ia alami sekarang. Dan seperti sudah menjadi kebiasaan, Louis akan menyusul dan memijat tengkuk leher wanitanya agar merasa lega.
“Apa rasanya sakit, sayang?”
Angel yang masih mencoba menenangkan diri setelah menguras isi perutnya, hanya diam dengan wajah pucat yang terlihat lelah dan tubuh lemas. Louis memapah Angel menuju sebuah kursi pinggir jalan, membawa diri untuk duduk disana sebentar.
“Aku ambilkan minum kamu di mobil sebentar.” kata Louis yang ditahan Angel.
“Aku juga ingin ke mobil saja. Ayo pulang, aku ingin istirahat.”
Seharian ini, pekerjaan di kantor memang padat. Louis bahkan tidak tega melihat Angel yang harus berjalan keluar masuk ruangannya berkali-kali untuk menyerahkan laporan dan lain-lain. Dan tidak hanya berjalan mondar-mandir, Angel juga harus berlarian ke kamar mandi karena harus menuruti nalurinya yang ingin memuntahkan isi perut karena kehamilan yang sedikit menguji kesabaran.
Setelah mobil berjalan, Louis mengusap surai Angel yang basah oleh keringat dingin. Istrinya terlihat sedikit kurus sekarang karena nafsu makannya terus menurun. Dan ketika sudah berhasil menyuapkan beberapa nasi kedalam perut, lambungnya menolak dan lagi-lagi berlari ke kamar mandi untuk kembali mengeluarkan semua yang baru saja berhasil ditelan.
__ADS_1
Karena tidak tega, Louis sampai ingin menangis beberapa waktu lalu saat dokter menyarankan agar Angel harus bed rest total dan tidak boleh melakukan kegiatan apapun yang memberatkan. Selain itu, Angel juga tidak diizinkan untuk terlalu memikirkan sesuatu, karena hal itu juga sedikit banyak akan berdampak pada kinerja lambungnya.
Louis melirik sekilas Angel yang memejamkan mata sembari bersandar. “Kamu berhenti kerja saja. Ada mbak Rita yang masih sanggup bantu aku di kantor.”
Rasanya begitu sulit melepaskan pekerjaan yang sudah ia tekuni selama beberapa tahun berjalan. Angel juga tidak ingin, jika nanti posisinya harus digantikan oleh orang lain apalagi seorang wanita yang sudah bisa ia pastikan akan terus berada tidak jauh dari Louis.
“Aku nggak apa-apa.” jawabnya singkat.
“Kamu harus istirahat sayang. Aku nggak tega lihat kamu kayak gini. Biar aku saja yang kerja, kamu istirahat dirumah, jaga kesehatan kamu, jaga calon bayi kita.”
Angel menundukkan kepala. Apa kata ibu mertuanya nanti jika tau dia menjadi seorang pengangguran setelah menikah dengan Louis? Apa tanggapan wanita itu nanti jika tau, Louis kerja keras banting tulang untuk menghidupi dirinya?
“Nggak perlu khawatir apapun soal aku di kantor. Aku juga bisa menghandle diriku untuk membantu mbak Rita, nanti jika kamu berhenti kerja.” lanjut Louis mencoba meyakinkan Angel agar mau mendengarnya.
“Tapi tidak menutup kemungkinan jika kamu dan mbak Rita akan membutuhkan bantuan tambahan jika sudah nggak sanggup.” kata Angel sendu. “Aku bisa percaya sama mbak Rita, tapi tidak dengan orang lain.”
Louis tersenyum. Rupa-rupanya bumil cantik ini sedang cemburu diam-diam. Istrinya itu takut jika dia dekat dengan wanita lain selain dirinya dan Rita.
“Ya ampun, sayang. Kamu nggak perlu khawatir aku terpikat sama wanita lain.” sahut Louis dengan senyuman mengembang lebar karena merasa senang akan keposesifan Angel. “Kamu tau sendiri gimana perasaan aku sama kamu. Lagian, aku juga mau jadi ayah. Nggak mungkin lah aku ngelakuin hal aneh-aneh yang bisa bikin kita—”
“Hati orang, siapa yang tau. Bisa jadi sekarang kamu sangat cinta sama aku. Besok, kalau ada wanita yang selalu dekat sama kamu, tidak menutup kemungkinan kamu akan terbiasa dan—”
“Jadi, kamu nggak percaya sama aku?” sahut Louis mulai kesal. Mungkin jika percakapan ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan jika ini akan menjadi pertengkaran pertama mereka. Angel rasa harus bisa mengendalikan sifatnya yang memang berubah labil sejak hamil.
Angel terdiam. Bukan seperti itu maksudnya. Dia hanya tidak ingin kehilangan Louis. Dia hanya takut, jika wanita baru itu nantinya akan menarik Dimata Louis, dan Jenita akan menerima wanita tersebut.
Pikiran buruk seperti itu selalu membayangi benak Angel dan sedikit banyak membuatnya takut. Takut akan kehilangan sosok Louis esangat ia cintai.
“Maaf. Aku nggak bermaksud begitu ke kamu. Aku hanya takut, jika nanti posisiku di gantikan oleh orang lain karena orang itu bisa membuat mama kamu merasa cocok dan nyaman. Aku takut itu terjadi, dan akhirnya kamu memilih untuk meninggalkan aku.” []
__ADS_1