
"Yee... Lo memang sangat hebat, Sam" puji Hans dan Nathan saat Sam baru saja menjuarai balapan siang itu.
Ketiga murid bandel itu lagi-lagi tidak masuk sekolah demi balapan yang tumben juga dilakukan sing hari, tak seperti biasanya.
Dengan senyum cerianya, Sam yang baru turun dari mobil kesayangannya terlihat seratus kali lebih menawan karena aura kemenangan yang baru saja ia dapatkan.
Dan kembali, Mila sudah menggandeng lengan Sam sambil mengikuti langkah Sam yang ingin menghampiri kedua temannya, Nathan dan Hans.
"Jelas lah, gue gitu lho" ujar Sam dengan sombongnya.
"Asyik ... Bentar lagi kita pesta dong, kan hadiah lomba kali ini lumayan gede, Sam" kata Nathan.
"Benar tuh si Nathan, kita pesta ya Sam?" tanya Hans meminta persetujuan.
Sam sedikit berfikir, apa benar yang Lia katakan jika dia dikelilingi oleh orang-orang yang hanya memanfaatkan fasilitasnya saja?
"Hei Sam! Malah bengong. Kesambet nanti lo, baru tahu rasa" kata Nathan sambil melambaikan telapak tangannya di depan wajah Sam.
"Apaan sih Nat" ujar Sam singkat, masih terfikir olehnya ucapan Lia semalam.
"Elo sih, ditanyain malah bengong. Memangnya lo lagi ada masalah?" tanya Nathan lagi.
"Ehm, seandainya semua fasilitas gue sudah nggak bisa dipakai lagi, apa kalian masih mau berteman sama gue?" tanya Sam sedikit serius, membuat ketiga orang dihadapannya saling pandang dengan tatapan penuh tanya.
"Lo ngomong apaan sih Sam? Tumben banget pertanyaan lo segitu seriusnya" jawab Hans yang bingung.
"Lagian mana ada pangeran dari keluarga Alexander yang nggak punya fasilitas? Kecuali kalau dinasti lo sudah bangkrut, hahaha, benar nggak Hans?" komen Nathan sambil tertawa, tak lupa melakukan tis dengan Hans yang membuat Sam semakin merasa jika Lia memang benar.
"Itu dia masalahnya--" belum lagi Sam menyelesaikan ucapannya, sudah ada panggilan masuk ke dalam ponselnya, membuat kedua temannya yang sudah berwajah serius harus kecewa karena Sam menjeda penjelasannya.
"Hadeh, bu intel sudah mencium kenakalan gue hari ini sih kayaknya" gerutu Sam sambil memandangi layar ponselnya, sementara kedua temannya malah tertawa renyah.
"Kemana kamu tidak masuk sekolah?" tanya Lia tanpa basa-basi, padahal melalui aplikasi buatan Ken, Lia sudah bisa melacak dimana adiknya itu berada.
"Kakakku yang sangat cantik dan baik, adikmu ini hanya ada di ruang kesenian. Sedang bermain gitar, kak. Karena pelajarannya sangat membosankan" jawab Sam setelah menyiratkan kepada temannya untuk diam.
"Oke, anggap saja kakak tidak tahu keberadaanmu. Jadi, karena beberapa kesalahan dan kebohongan yang telah kau lakukan selama satu minggu ini, maka kita bertemu nanti di rumah untuk membicarakan hal yang sangat serius untuk masa depanmu" ucap Lia.
"Kakak jangan berbicara terlalu horor begitu ya. Kan ini hanya kesalahan kecil yang bisa diperbaiki. Tidak usah dibesar-besarkan, ya" kata Sam sedikit gentar, keputusan Lia biasanya diluar dugaan.
"Oke. Kita bertemu nanti malam dirumah" jawab Lia yang langsung mematikan ponselnya.
"Ah sial. Kenapa sih kakak gue itu selalu ikut campur urusan gue" keluh Sam setelah panggilan itu diputus sepihak oleh kakaknya.
"Kakak Lo yang cantik banget itu, Sam?" tanya Hans yang turut membayangkan wajah cantik Lia.
"Cantik sih.. Tapi galak banget cuy" celetuk Nathan.
"Secantik apa sih kakak ipar aku?" tanya Mila dengan centilnya.
"Cantik banget, Mil. Kalau cuma elo mah lewat kayaknya. Udah gitu kak Lia itu pintar, cerdas, meski galak tapi memang sepadan lah sama isi kepalanya yang brilian" puji Hans yang memang merasa kagum terhadap Lia.
Mendengar itu sontak membuat Mila merengut sebal. Masak iya dia dibandingkan dengan calon kakak iparnya?
Meski Lia sudah pasti tak akan menyetujui hubungan mereka. Ketahuan berpacaran saja sudah pasti membuat masa depan Sam semakin suram.
"Setelah gue dengar perintah Bu Intel barusan, kenapa perasaan gue jadi nggak enak ya?" keluh Sam.
"Memangnya kenapa sih Sam?" tanya Mila.
"Kakak gue minta malam ini buat ngobrolin sesuatu. Dan dari nada bicaranya sih, kayaknya kali ini sesuatu itu serius deh. Duh, gue jadi takut pulang nih" kata Sam semakin kalut.
"Sudah, lo positif thinking saja Sam. Siapa tahu memang lagi ada sesuatu yang penting buat dibicarain" kata Nathan memberi sedikit nasehat sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
"Apa itu tidak keterlaluan, sayang? Bagaimanapun Sam itu adikmu" tanya Viviane setelah mendengar rencana Lia terhadap adik nakalnya.
"Justru karena aku sayang sama dia, ma. Apa mama nggak kasihan kalau dia terus-terusan dimanfaatkan sama teman-temannya yang benalu itu?" tanya Lia untuk meyakinkan mamanya.
"Papa sih setuju-setuju saja sama rencana kamu, Lia. Memang sepertinya kita terlalu longgar dalam mendidik Sam untuk menjadi seorang pria sejati, ma" kata Vicky yang selalu setuju dengan setiap keputusan Lia.
"Lagipula ini semua tidak berlangsung lama kan, ma. Biarkan dia belajar tentang kehidupan sambil menunggu dia lulus SMA. Dan sesuai rencananya, setelah SMA biarkan Sam belajar di universitas yang dia mau, agar dia juga tahu batasan dalam bergaul" kata Lia.
__ADS_1
"Kamu benar juga sih. Tapi apa kamu sudah menghubungi Gita?" tanya Viviane.
"Sudah. Bahkan kak Gita sendiri yang memberikan ide tentang semua ini" jawab Lia.
"Memang Gita itu sudah terbukti bagus dalam mendidik anak-anaknya. Seperti ibunya dulu, saat mama menitipkan kami pada keluarga Gita. Kamu menjadi anak yang lebih mandiri" kata Viviane.
"Iya. Dan sekarang biarkan Sam belajar tentang kerasnya hidup dari sekarang. Jangan sampai dia menjadi pria lembek yang akan menangis saat berhadapan dengan masalah hidup" ujar Lia.
Tak lama berselang, terdengar bunyi bisingnya suara mesin dari knalpot mobil sport yang Sam kendarai.
Lia dan kedua orang tuanya sudah bersiap untuk memberi sedikit pelajaran kepada calon penerus kerajaan Alexander yang sedang salah jalan.
Beberapa waktu berlalu, setelah Sam mengamankan kendaraannya terdengar langkah riang dengan siulan ringan terdengar dari mulut Sam.
Gaya ceria seolah selalu baik-baik saja selalu anak itu tampilkan. Meski dia sadar sudah ada sebuah rencana menghadangnya, tapi dia tetap tak pernah ambil pusing.
Dalam hatinya selalu ada mama yang akan membelanya saat Lia dan papanya akan memberinya hukuman.
"Selamat sore papa, mama, dan kakakku yang paling cantik sedunia" ucap Sam dengan senyum cerianya.
"Ini sudah hampir jam sepuluh malam. Bukan lagi sore hari, Sam. Darimana saja kamu?" tanya Lia datar, sambil duduk dengan angkuhnya, menyilangkan kaki dengan surat kabar di pangkuannya.
"Masa remajaku tidak pernah aku habiskan untuk hal yang tidak penting seperti kegiatanmu. Dan satu lagi, duduklah di tempat yang benar" ucap Lia.
Meski dengan bersungut-sungut, nyatanya Sam tetap mematuhi perintah kakaknya. Jangan sampai membuat gadis itu marah jika ingin nyawamu tetap melekat di dalam raga.
"Kemana tadi kamu sampai bolos sekolah?" tanya Lia dengan tegas, tak ada yang berani mengusiknya jika sudah begini.
"Aku cuma main sama teman-teman, kok kak" ucap Sam ringan.
"Jawab yang jujur, atau kakak jual mobil sialanmu itu" ancam Lia.
"Ish, menyebalkan sekali cewek jomblo yang satu ini" gerutu Sam tanpa suara.
"Tidak usah mencela dalam diam, Sam. Cepat jawab atau kakak benar-benar menjualnya sebagai rongsokan" ancam Lia lagi.
Sam selalu terkejut dengan kehebatan Lia yang bisa menebak isi dalam kepalanya.
"Membatinpun dia tahu" gerutu Sam lagi, dengan tatapan penuh pada kakaknya.
__ADS_1
"Ehm, aku cuma ikut balapan di sirkuit milik Aceng. Entah mengapa koko itu mengadakan balapan di siang hari. Hadiahnya cukup besar kak, makanya aku ikut. Kan lumayan buat jajan" jawab Sam dengan bangga.
"Dan semua uang itu kau habiskan untuk mentraktir teman-teman dan juga pacarmu itu, kan?" tanya Lia dengan nada mengejek.
Sam baru tersadar jika memang uang hasil kemenangan dalam balapan tadi sudah habis. Anak itu sampai merenung untuk mengingat kemana perginya uang yang banyak itu sampai tak tersisa?
"Kenapa diam? Kau baru sadar kalau temanmu hanya menyukai uang dan fasilitasmu? Tak ada yang tulus untuk berteman denganmu, Sam" kata Lia.
"Kenapa sih kakak selalu ikut campur semua urusanku? Kalau memang teman-temanku hanya memanfaatku saja memangnya kenapa? Aku saja tidak keberatan" kata Sam dengan nada sedikit tinggi.
"Jika kau ingin menjadi bodoh, setidaknya jangan gunakan uang dari orang tuamu. Dan kalau memang sudah keputusanmu untuk tetap menjadi bodoh, maka mulai besok akan kakak blokir semua kartumu dan jangan gunakan fasilitas yang berasal dari keluargamu" kata Lia dengan nada tak kalah tinggi.
"Gunakan kebodohanmu untuk menyenangkan semua temanmu. Dan katakan pada kakak, jika kau sudah menyadari semuanya" lanjutnya.
"Ini nggak adil pa, ma. Kenapa sih papa dan mama diam saja? Kenapa papa dan mama selalu menyetujui semua keinginan kak Lia? Sementara aku selalu disepelekan?" tanya Sam merajuk.
Lia tertawa melihat kelakuan adiknya, "Kau merengek? Seorang pria sepertimu pantang untuk merengek di hadapan orang tuamu, Sam. Hadapi masalahmu sendiri, jadilah orang yang berprinsip. Baru bisa dinamakan lelaki" ujar Lia.
"Sudahlah, Sam. Turuti saja perkataan kakakmu. Mama yakin semua yang dia lakukan demi kebaikanmu juga" kata Viviane sambil mengelus punggung anaknya, meski sebenarnya tak tega, tapi memang tak seharusnya Sam bertingkah manja begitu.
"Huh, menyebalkan sekali" gerutu Sam dengan pandangan menghunus pada kakaknya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Lia santai.
"Kakak itu sangat keterlaluan. Memangnya kenapa sih kalau aku bergaul dengan caraku sendiri? Kenapa jadi kakak yang ambil pusing?" tanya Sam.
"Apa otakmu tidak sampai untuk mengerti ucapan kakak sejak tadi?" ejek Lia.
"Boleh saja kau mau bergaul dengan penjilat sekalipun, asal jangan menggunakan uang dan fasilitas dari orang tuamu. Dan kalau kau masih mau meneruskan cara bergaulmu itu, maka lebih baik kakak tarik saja semua fasilitas untukmu. Dan pahamilah, siapa yang nantinya benar" kata Lia tak terbantahkan.
"Kalian menyebalkan sekali" keluh Sam sambil beranjak meninggalkan kakak dan kedua orang tuanya.
Darah mudanya masih mendominasi, belum mengerti mana ketulusan dan mana yang hanya modus.
Semoga saja langkah yang Lia ambil untuk adiknya kali ini tepat agar bisa menyadarkan begitu banyak orang bertopeng di sekitar kita.
Dan hanya orang dengan insting yang terasah dari pengalaman yang bisa membedakan siapa teman sejati dan siapa yang hanya seorang pengecut.
.
.
__ADS_1
.