
...MAB by VizcaVida...
...|24. Angkat Kaki, Pergi|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Kalau mama tetap memaksa, jangan menyesal jika Lou melakukan sesuatu yang jauh lebih mengecewakan dimata mama suatu saat nanti.
Kata-kata ancaman Louis itu masih terdengar begitu jelas di telinga Jenita. Bahkan ia tidak fokus menikmati makan malamnya bersama sang suami, malam ini.
“Kemana Louis, kenapa belum pulang?” tanya Hutama memecah keheningan. Sedangkan Jenita acuh, tidak mendengar ucapan suaminya lantaran masih memikirkan cara untuk meyakinkan putranya agar menerima perjodohan itu.
“Sayang, dimana Louis?”
Kali ini Jenita terkejut. Ia mengerjap cepat lalu menyendok makanannya dari piring dan melahapnya. “Oh, entahlah. Mungkin masih ada urusan diluar.”
Jenita memang masih belum mengatakan pada suaminya jika siang tadi, Louis membawa sekretarisnya pulang kerumah dan memperkenalkannya sebagai kekasih kepada dirinya. Ia tau peringai sang suami yang pasti mendukung apa saja yang menjadi keputusan Louis, karena Hutama sudah pernah berkata demikian setelah Louis hampir gila saat putus dari Caca.
“Pa, mama mau tanya satu hal ke papa.”
“Eum.”
Jenita meletakkan sendok dan pisau steak di atas piring, lalu menatap lekat pada sosok Hutama.
“Bagaimana pendapat papa, kalau suatu hari nanti Louis memperkenalkan seorang wanita kepada kita.”
Hutama menelan makanannya sebelum menjawab sang istri. “Tentu saja hal sama masih harus kita lakukan, ma. Kita harus tau bibit, bebet dan bobot wanita yang dibawa Louis itu.”
Wanita itu mengangguk mengerti. Jawaban masuk akal dan tentu saja menjadi pendorong bagi Jenita untuk satu ide yang muncul dalam kepalanya.
“Kenapa? Apa Louis benar-benar sudah memiliki kekasih seperti yang dia katakan tempo hari?” tanya Hutama penasaran.
Bagaimana Jenita menjawabnya? Dia masih belum ingin suaminya tau jika Louis melakukan itu hari ini. Membawa Angel sebagai kekasih, meskipun Jenita yakin itu hanya settingan putranya untuk menghindari perjodohan, tapi ia tau jika Hutama pasti akan dengan senang hati menerima dan memberi dukungan serta restu. Sementara dirinya, harus menanggung malu sendirian. Tidak. Itu tidak boleh terjadi.
“Mama tidak tau.” bohongnya menutupi kenyataan jika Louis telah memperkenalkan seseorang kepadanya.
Hutama meraih garpu dan pisau steak nya lagi dan melanjutkan makan malam, begitupun Jenita. Suasana kembali hening.
Dan disaat tengah menikmati makan malam mereka, Louis tiba-tiba datang sambil menyapa mama dan papanya singkat. Ia lantas berjalan meninggalkan meja makan dan menuju kamarnya, menurunkan sebuah koper besar dan mengisinya dengan pakaian yang hendak ia bawa ke apartemen.
“Nggak makan dulu sama mama papa Lou?” tanya Hutama memperhatikan si bungsu yang terlihat buru-buru.
“Louis sudah makan sama teman tadi, pa. Maaf.”
Setelah mengatakan itu, Louis benar-benar meninggalkan mereka, dan Jenita bergegas menyusul langkah Louis setelah meminta izin pada Hutama. Lalu, apa yang dilihatnya sekarang begitu membuatnya terkejut bukan main. Ia melihat Louis mengeluarkan koper fiber berukuran sangat besar dari dalam walk in closet di salah satu sudut kamarnya, lantas mengemasi beberapa setelan kerjanya dan juga baju.
“Kamu mau luar kota?” tanya Jenita basa-basi ingin tau. Sedangkan Louis hanya menggelengkan kepala tanpa berminat melihat presensi Jenita.
“Lalu?”
“Lou mau tinggal di apartemen yang ditinggali Caca dulu untuk sementara waktu.”
Seperti mendapat pukulan telak yang membuatnya tak berkutik, Jenita berjalan cepat menghampiri Louis. Tanpa aba-aba, ia menarik kasar penuh paksa lengan Louis hingga tubuh gagah putranya itu berbalik menghadap padanya.
“Untuk apa?” tanyanya sarat emosi. Jenita bahkan mencengkeram kuat pergelangan tangan Louis hingga pria itu menurunkan pandangan karena nyeri. “Untuk wanita itu? Dia yang memintamu keluar dari rumah ini agar kalian bisa—”
__ADS_1
Louis menghela nafas. “Ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan Angel, mam. Louis cuma pingin menenangkan diri disana.” sahutnya cepat memutus praduga buruk yang diberikan Jenita kepada Angel.
“Mama tau kamu hanya beralasan. Kamu pergi dari rumah supaya mama nggak bisa pantau kamu bukan?”
That's true. Ada benarnya, mamanya tidak salah tebak. Tapi alasan yang dikatakan mamanya itu hanya beberapa persen dari alasan sesungguhnya yang membuat Louis mengambil keputusan untuk meninggalkan rumah.
“Mam. Louis sudah besar, mama tidak perlu khawatir tentang Louis. Apalagi sampai memantau Louis seperti anak oecil. Malu, mam.” kelakar Louis yang justru berhasil menarik minat Jenita untuk marah.
Jenita semakin terpatik emosinya. Dia ingin sekali memaksa Louis agar patuh padanya dengan ancaman ekstrem agar dia tidak pergi. Tapi itu mustahil untuk saat ini, karena Louis juga terlihat menahan mati-matian untuk tidak membuat kekacauan di rumah.
“Dengerin mama.” pinta Jenita yang langsung mendapat atensi dari Louis. “Sekali kamu meninggalkan rumah ini, jangan harap mama berubah pikiran, lalu akan memberi restu untuk hubungan kalian.”
Louis diam. Dia memilih membalik tubuhnya dan kembali meraih beberapa kemeja dan jas beserta gantungan dan memasukkan kedalam kompor fiber berukuran sangat besar yang ia pergunakan untuk pergi dari rumah yang katanya ‘surga’ ini. Lalu, ia melihat sebuah kotak didalam paper bag bertulis brand ternama yang membuat aksesoris yang ia pesan dari temannya, dan belum sempat memberikan hadiah itu kepada Angel. Louis segera memasukkan benda itu diantara tumpukan baju didalam koper.
“Mama tidak pernah berubah. Louis tau, mama tidak akan pernah mau mengerti Louis sama sekali dan memilih egois, bukan?”
Louis meraih beberapa potong celana bahan dari dalam lemari, kemudian meletakkannya diatas tumpukan kemeja dan baju, setelah itu menutup bagian atas koper dan menurunkannya dari atas ranjang.
Ia kini berdiri dihadapan mamanya, meraih wanita itu kedalam pelukan singkat, kemudian mengecup puncak kepala sang ibu yang sudah merawatnya dan sangat ia sayangi itu.
“Louis akan kembali, jika mama mau menerima keputusan Louis untuk bersama wanita yang Louis inginkan.” katanya, kemudian melepas Jenita dan menaikkan gagang koper, lalu menariknya keluar kamar meninggalkan Jenita yang semakin geram dan direngkuh benci yang menjadi-jadi kepada sosok Angel yang menurutnya berhasil mengendalikan putranya. Walaupun tanpa ia tau, Louis melakukan itu semua karena kemauannya sendiri. Bukan karena paksaan atau permintaan Angel.
“Lihat saja. Aku sendiri yang akan membuat wanita itu menjauhimu, Lou.”
Jenita bergegas keluar dan menutup kasar pintu kamar Louis. Ia berjalan cepat menuju kamar, mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Disaat genting seperti ini, uang yang akan berbicara.
“Ya, nyonya.” sapa orang diseberang tak lama setelah bunyi beep menghubungkan panggilan Jenita pada nomor yang sudah dipercaya wanita itu untuk urusan mencari informasi.
“Aku minta, cari informasi tentang Angel, sekretaris Louis.”
Jenita berdecak. “Oke, nanti aku hubungi lagi.”
Panggilan terputus sepihak. Ia merasa bodoh karena sama sekali tidak mengingat nama lengkap gadis yang saat ini membuatnya naik pitam. Rasa bencinya sudah sebanding dengan rasa bencinya kepada sosok Caca dulu. Ternyata, se-iman tidak memuat hati Jenita luluh setelah merasa dipermalukan putranya sendiri didepan tamu pentingnya.
Jenita kembali mencari nomor seseorang. Ia menghubungi nomor telepon yang belum lama ini ikut memenuhi kontak di ponsel miliknya.
“Tante Jeni, ada apa, Tan?”
Suara manja yang sebenarnya tidak begitu memenuhi kriteria Jenita. Tapi dia kepalang tanggung. Liana harus tetap bisa bersatu bersama Louis. Itu sumpahnya pada diri sendiri.
“Kamu sedang sibuk?”
“Eumm, ada beberapa sesi pemotretan sih sebenarnya, Tante. Tapi, kalau Tante ingin bertemu Lia, Lia bisa meminta tim untuk mempercepat pemotretan.”
“Kira-kira, jam berapa tante bisa bertemu kamu?”
“Sebentar,”
Jenita rela menunggu beberapa saat. Liana disana sedang mengecek jadwalnya dan terdengar bicara dengan orang untuk mengkonfirmasi sesuatu.
“Tan?”
“Aku disini.”
“Ahahah, maaf tante.” jawab Liana diselingi tawa.
“Jam berapa kamu selesai?”
__ADS_1
“Kira-kira satu jam lagi.”
“Oke, temui saya di moonbuck setelah kamu selesai.”
“Iya Tante sayang. Dadah ... ”
Jenita menatap nyalang refleksi bayangan samar dirinya sendiri yang terbentuk di bentangan kaca kamar yang gordennya belum ditutup. Ia meremas ponselnya kuat, dan bergumam dalam hati.
“Angel harus mundur. Louis harus bersama Liana.”
***
Louis yang sudah sampai dihalaman apartemen yang penuh dengan kenangan dirinya bersama Caca dulu, dengan hati yang sudah sedikit terobati. Setidaknya, rasa sakitnya tidak seperti saat pertama kali Caca meminta untuk berpisah darinya. Ia sudah sedikit berdamai dan bisa menerima tentang hubungannya yang kandas bersama Caca.
Ia mengeluarkan sebuah kartu akses tipis yang terbuat dari aluminium, kemudian menempelkan pada sebuah alat detektor yang mampu membuka aksesnya untuk memasuki apartemen mahal ini.
Setelah pintu pagar besi itu terbuka, Louis menarik kopernya menuju lift, dan menekan tombol tiga untuk sampai di rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya mulai hari ini.
Lift bergerak naik, dan tak lama setelah itu berdenting nyaring dan pintu terbuka. Ia menggeret koper itu melewati koridor bangunan yang menyerupai hotel berbintang. Ya, dulu dia memang membelikan apartemen ini untuk Caca agar wanitanya itu bisa hidup nyaman dan aman. Tapi, semuanya sudah menjadi masa lalu sekarang. Louis hanya bisa melihat potongan demi potongan kenangan yang membayang di depan pelupuk matanya. Bayangan bagaimana dia dan Caca selalu tertawa bahagia berdua ketika jalan bersama disini, tergambar jelas. Lalu, pertemuan terakhirnya—
“Ck!!!” Louis berdecak keras demi memecah kenangan itu agar sirna dari ingatannya. Lantas mempercepat langkah menuju pintu paling ujung dengan nomor 307.
Sesampainya didepan pintu aluminium kokoh yang masih sama, ia menempelkan sekali lagi kartu akses itu pada alat yang terpasang di salah satu sisi pintu hingga lampu berkedip hijau dan bunyi beep terdengar.
Pintu terbuka.
Sudah hampir tiga bulan dia tidak mendatangi tempat ini karena takut kembali merasakan perihnya kehancuran hubungannya bersama Caca. Ia melangkah masuk yang langsung di sambut oleh rak sepatu yang dulu selalu menjadi tempatnya dan Caca meletakkan sepatu mereka setelah menghabiskan waktu saat malam minggu. Louis tersenyum masam. Nyatanya kenangan itu belum sepenuhnya sirna dari ingatan, dan ini terasa begitu menyiksa untuk Louis.
Mengabaikan rasa sakit yang timbul, Louis melenggang masuk. Sofa, televisi, airpurifier, dan barang-barang elektronik lainnya yang masih sama ditempat nya semula, menyambut Louis di ruang tamu yang terhubung dengan ruang tengah yang luasnya melebihi lapangan basket SMA nya dulu.
Melepas pandangan di ruangan tersebut, Louis berjalan menuju kamar utama. Kamar dimana dulu, Caca menempatinya.
Telapak tangannya terulur ragu. Tapi ia tetap membuka pengait pintu itu dan aroma Caca yang masih tertinggal ditempat ini, terhirup oleh indra penghidu. Louis memejamkan mata dan menunduk dalam, lantas mengambil langkah memasuki ruangan. Mau tidak mau, dia harus berusaha menerima konsekuensinya ketika mengambil keputusan untuk tinggal disini.
Ia meninggalkan kopernya di tengah ruangan, lalu berjalan menuju ranjang yang sebenarnya perlu di bersihkan dan di ganti sprei terlebih dahulu. Ia duduk di tepian ranjang dan membuka laci nakas, berharap Caca meninggalkan satu atau dua kenangan tentang mereka dulu. Tapi kecewa menyambangi sudut hati Louis saat dirinya tidak menemukan apapun didalam sana. Caca benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk bernostalgia. Louis terkikik geli melihat dirinya sendiri yang sudah seperti orang tidak waras.
Tanpa sadar ia sudah menginginkan Caca lagi, dan hal itu tidak benar. Robert pernah berkata padanya untuk melupakan Caca dan merelakan gadis itu karena sudah jadi milik orang.
“Kamu benar, Rob. Ini akan sangat bahaya jika aku kembali menginginkan Caca menjadi milikku.” gumamnya bermonolog. Tapi setelah itu, sebuah senyuman kecil kembali terbentuk saat tanpa Louis duga bayangan Angel berkelebat dalam ingatannya. “Aku ikuti saranmu. Aku akan menatap kedepan dan tidak lagi menoleh pada masalalu.” lanjutnya, kemudian berdiri dan meraih gorden, lalu menggesernya terbuka hingga menampakkan pemandangan malam ibu kota yang begitu indah. Kelap-kelip lampu yang meriah, dan sorot lampu kendaraan yang begitu padat membuat suasana terasa aestetic.
“Aku, akan mencoba menjalin hubungan serius dengan Angel. Meskipun mama tetap bersikukuh tidak memberi restu untuk kami.” []
###
...Sedikit guyonan dari Othor Vi's....
...___________...
“Oi, Lou. Kamu ngapain sih?!”
“Jongkok kakak Othor. Kamu terlalu kejam sama saya.”
*Othornya mematung. Speechless.
“Jangan lupa dukung Louis ya teman-teman, biar dia bisa move on dari—”
*plak!!
“Diem lu. Jangan banyak cincong!”
__ADS_1
Hayo tebak, siapa yang nggeplak pala othor