
Pesta baru saja usai di gelar, para tamu undangan sudah pulang dengan wajah gembira bukan hanya karena jamuan makan malam yang lezat dan menyenangkan, tapi juga apresiasi dari tuan rumah yang sangat tinggi.
Ya, Vicky dan Viviane yang sejak dulu dinilai sangat menghargai orang lain sudah membuktikan jika ucapan itu bukanlah isapan jempol belaka.
Dan kini, hanya tersisa segelintir tamu yang bertahan karena masih ditahan untuk tetap tinggal oleh sang pemilik acara.
"Apaan sih mbak Ane? Ini kan sudah malam, alangkah baiknya kalau perawan ting-ting seperti aku ini untuk harus segera pulang" keluh Ayu, keinginannya untuk bisa pulang tak terwujud karena Viviane yang masih memintanya untuk tetap duduk.
"Masih juga jam setengah sebelas malam, Yu. Perawan di Jakarta mainnya sampai pagi kalau kau belum tahu" jawab Viviane, dilihatnya Lia pun juga tengah serius saat membahas suatu hal dengan Bayu dan Ken.
Sementara Vicky juga begitu, pria itu nampak sedang berbicara serius dengan Bima. Tadi saat dia meninggalkan kedua pria itu, mereka sedang membahas urusan perusahaan. Padahal jika sedang dalam kondisi santai, Vicky dan Bima kerap kali saling sindir, tapi jika sudah menyangkut pekerjaan, mereka terlihat sangat profesional sebagai Atasan dan Bawahan.
"Coba ceritain sama aku, bagaimana bisa kamu jadian sama Pak Bima?" tanya Viviane yang sangat penasaran.
"Aduh, mbak Ane. Aku kan jadi malu" kata Ayu dengan kekehannya, dan wajahnya yang sedikit memerah membuat Viviane semakin yakin jika hubungan kedua temannya itu sudah cukup serius.
"Cepat ceritain! Sebelum raja agung bertitah untuk segera pulang" desak Viviane saat Ayu masih juga bercanda.
"Ya gimana ya mbak, awalnya ya iseng saja aku godain Pak Bima yang lagi patah hati karenamu. Ternyata malah candaanku dianggap serius sama Pak Bima" kata Ayu dengan mata yang menerawang, mengingat hasil keisengannya yang ternyata membuahkan hasil.
"Lagian juga, siapa yang mau menolak ajakan duda tampan beranak satu yang perfect seperti Pak Bima kan, Mbak. Pria tampan rupawan dan mapan, saya sebagai perawan sangat menerimanya dengan lapang dads meskipun harus buy one get one free, hehe. Lagian juga Bayu anak yang baik. Aku yakin kalau mereka akan memperlakukan aku dengan baik juga" jawab Ayu yang sudah dalam mode serius.
"Ada kok wanita yang mau menolak pesona Pak Bima yang tampan" kata Viviane sedikit terkikik sebelum melanjutkan ucapannya.
"Iya, tahu. Mbak Ane kan. Ya kalau saingannya modelan kayak Pak Vicky ya wanita waras kayak saya juga pilihnya Pak Vicky juga mbak" ucap Ayu sedikit kesal.
"Mbak Ane ini" gerutunya yang semakin membuat Viviane harus menahan senyum.
__ADS_1
"Sudah, jangan marah. Ehm, memangnya kalian sudah sangat serius, Yu? Maksudku apa kalian sudah berencana untuk menikah, gitu?" tanya Viviane.
"Kalau aku sih belum, mbak. Biar saja hubungan ini berjalan dulu, biar kami berdua juga saling beradaptasi terlebih dahulu. Urusan menikah, nanti saja kalau kita sudah sama-sama siap. Baik dari segi hati dan juga materi" jawab Ayu secara rasional.
"Betul juga kamu, Yu. Semua wanita memang harus memikirkan tentang materi setelah menikah. Urusan sensitif ini sebenarnya sangat penting karena kehidupan setelah pernikahan itu berbeda dengan kehidupan saat kita masih single" mulailah Viviane memberikan wejangan untuk sahabatnya.
"Apalagi seperti kasus hubungan kamu sama Pak Bima ini kan sudah ada Bayu diantara kalian, sudah pasti masih ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Dan semoga saja hubungan kalian selalu rukun dan awet ya, Yu. Aku doakan kalian itu berjodoh" doa tulus Viviane sematkan di akhir perkataannya.
"Amin, terimakasih ya mbak Ane. Aku memang sedang mempertimbangkan tentang keberadaan Bayu. Meski anak itu terkesan welcome saja dengan kehadiranku, tapi aku takut kalau masih ada kerikil yang perlu dibersihkan agar jalan kami bisa lebih mulus sampai ke tujuan dari sebuah hubungan, yaitu sebuah pernikahan" kata Ayu yang terdengar semakin dewasa di telinga Ane.
"Bukankah kamu sudah punya pacar sewaktu aku masih jadi rekan kerjamu, Yu? Sekarang kemana pacarmu itu?" tanya Viviane dengan alis terangkat sebelah.
"Putus mbak. Ternyata pacarnya bukan cuma aku, apalagi selama kami pacaran selalu saja aku yang sering traktir dia kalau lagi makan. Eh, malah dia juga sering traktir cewek lain. Kurang ajar banget, kan" kata Ayu
"Oh, kirain karena kehadiran Pak Bima malah lamu mutusin pacar kamu" goda Viviane.
"Pasti kamu bilang kalau Pak Bima pacar kamu, ya?" tebak Viviane, dan Ayu hanya mengangguk.
"Terus dari situ kalian jadi akrab dan semakin dekat?" tebak Viviane lagi, dan Ayu menjawab dengan anggukan kepala dan menutup wajahnya karena malu.
"Dasar Ayu" kata Viviane sambil memukul pelan lengan Ayu dan keduanya meneruskan obrolannya dengan bercanda.
Sementara di kubu Lia, ternyata Ken yang sejak kolase album foto buatannya mendapat apresiasi dari Vicky, membuatnya serius untuk membangun usaha kecil di bidang fotografi.
Memang bercandanya anak konglomerat itu tidak main-main.
"Oke deal. Jadi, nanti kita berempat akan mempromosikan usaha ini melalui akun sosmed kita terlebih dahulu ya, kak. Dan nanti jika ada yang tertarik dengan iklan kita, maka akan langsung terdirect ke nomor WA milikku dan Silvi untuk keterangan lebih lanjutnya" ucap Lia yang sudah membahas tentang hal ini sejak tadi bersama kedua temannya, dan melibatkan Silvi melalui video call karena dia yang harus segera pulang bersama mamanya selepas acara usai tadi.
__ADS_1
"Ya. Dan nanti aku bersama Bayu akan membuat sebuah tim untuk mem-follow up jika ada customer yang sudah deal saat berinteraksi dengan kalian berdua" kata Ken dengan penuh semangat.
"Bagus. Aku pikir rencana kita ini adalah yang pertama di kota ini. Karena nantinya foto-foto dari customer kita akan menjadi sebuah majalah keluarga yang akan terlihat sangat elegan" kata Bayu yang tak kalah semangat.
"Kita berdua harus punya nomor khusus untuk menangani para customer kita, Lia. Jangan sampai nomor teleponnya jadi satu dengan nomor pribadi" ucap Silvi yang berujar sembari rebahan di atas ranjangnya, bahkan dia sudah memakai piyama tidur meski esok hari sekolah mereka libur.
"Tentu. Sekalian saja kita gunakan ponsel baru. Biar nggak tercampur dengan data pribadi kita, Sil" kata Lia.
"Nanti aku beri ponsel baru yang sudah termodifikasi untuk kalian berdua. Jadi, ponselnya akan langsung ter-link dengan laptop kerja timku. Agar ponsel kerja kalian tidak mengalami kelambatan karena terlalu menyimpan banyak data" kata Ken.
Pemikiran seorang hacker memang sedikit lain, dan ide mereka selalu saja cemerlang untuk hal yang berbau teknologi.
Dan Lia suka dengan hal itu. Salah satu alasannya untuk bertukar ilmu dengan Ken juga karena pemikirannya yang kritis dan selalu praktis dalam menyikapi suatu masalah terutama tentang gadget.
"Baiklah, aku yakin jika bisnis pertama kita ini akan berjalan dengan lancar. Dan setelah nanti berkembang pesat, kita bisa mempekerjakan orang lain sementara kita akan memikirkan usaha baru lagi" kata Ken yang sudah tidak sabar dengan kesuksesan mereka.
"Semoga saja" ucap Lia tak mau kalah.
Sudah terbayang kelancaran usaha kecil mereka yang akan berkembang menjadi perusahaan besar bagi ke empat sahabat itu.
Semoga saja masalah perasaan tak akan mempengaruhi hasil kerja dan keprofesionalan mereka hingga mereka berhasil untuk memperluas jaringan bisnis mereka nantinya.
.
.
.
__ADS_1
.