My Angel Baby

My Angel Baby
Mengatur rencana


__ADS_3

"Bahagia banget tuh muka, Sam?" ledek Gita, tak biasanya Sam yang baru datang langsung menyatroninya di ruang kerjanya.


"Harus dong. Memangnya Tante suka ngelihat Sam sedih terus, galau terus gitu?" balas Sam.


"Ya nggak gitu juga, cuma tumben saja" jawab Gita sambil mengepak pesanan dari customernya. Ya, Gita adalah seorang penjual Online sepulang dari kegiatannya di kantor sebagai seorang PNS.


"Nih, Sam punya hadiah buat Tante Gita yang paling cantik" kata Sam sambil mengeluarkan beberapa buah coklat dari para fansnya. Kemarin Sam lupa untuk memberikan pada Gita, jadi hari ini dia sempatkan agar tidak kelupaan lagi.


"Uwah, dalam rangka apa nih? Kamu lagi ngerayain sesuatu?" tanya Gita, tapi tangannya terulur juga untuk mengambil coklat dari Sam.


"Memberi hadiah tidak harus untuk suatu perayaan kan, tan?" tanya Sam sok bijak.


"Iya, terserah kamu deh Sam. Terimakasih ya" tutur Gita yang langsung memakan sebungkus coklat pemberian Sam.


"Sam masuk dulu ya, tan. Selamat bekerja. Semoga dagangan tante laris manis semanis orangnya" kata Sam sambil berlalu. Membuat Gita hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku remaja yang tengah jatuh cinta itu.


Tapi Gita senang juga karena Sam sudah kembali ceria dan humoris seperti biasanya. Sungguh lelaki itu adalah idaman banyak wanita. Karena tampan dan ceria, bonusnya dia terlahir di keluarga yang kaya raya.


"Pasti beruntung banget cewek yang nanti bersanding sama kamu, Sam" gumam Gita sambil melihat sosok Sam yang menghilang di balik tembok.



"Bagaimana kak? Apa informasi yang bisa kakak dapatkan mengenai gadis itu?" tanya Lia.



"Mungkin ini akan sedikit rumit, Lia" jawab Ken yang sedang mengunjungi Lia di kantornya.



Mereka sedang membahas mengenai Lian yang tiba-tiba bisa masuk di sekolah yang sama dengan Sam. Dan bagaimana bisa gadis itu selamat dari kungkungan dunia malam.



Kini Lia sedang fokus, membaca dengan teliti laporan yang Ken berikan padanya. Dan selama dia membaca laporan itu, mimik wajahnya seringkali nampak berubah.



"Sepertinya kita butuh saran dari papa, bagaimana menurut kak Ken?" tanya Lia.



"Boleh saja, coba kita bahas bersama dengan orang yang lebih berpengalaman" jawab Ken santai, sambil sesekali menyesap kopi hitam kesukaannya, kopi pekat tanpa gula.



"Halo pa, apa sekarang papa ada waktu?" tanya Lua melalui sambungan ponsel, meminta papanya untuk datang ke ruangannya.



"Sebenarnya papa sedikit sibuk, tapi kalau memang urgent, papa akan ke ruangan kamu sekarang" kata Vicky.



"Sangat urgent, pa. Tolong papa datang ke ruangan Lia, ya. Ini ada kak Ken juga disini" kata Lia.



"Ok. Papa segera datang" jawab Vicky.



Perasaan Vicky sedikit khawatir sekarang, karena Lia tidak akan meminta bantuan Ken jika tidak ada sesuatu yang serius.



Penasaran memang, tapi dalam hatinya Vicky berharap tidak akan terjadi suatu hal yang buruk pada mereka.



"Apa mengenai bisnisnya?" gumam Vicky sambil menggerakkan kakinya menuju ruangan Lia yang berada satu lantai dibawah ruangannya.



Tok... Tok... Tok...


Tanpa sahutan, Vicky memberanikan diri memasuki ruangan Lia.


__ADS_1


Nampak Ken yang duduk berhadapan dengan Lia di sofa tamu dengan sebuah berkas ditangan Lia yang sepertinya sedang dia baca dengan serius.



"Ada apa Lia?" tanya Vicky.



"Siang, om. Apa kabar?" sapa Ken dengan sopan, hubungan mereka sudah begitu dekat karena persahabatan mereka sejak masa sekolah dasar.



"Baik, Ken. Bagaimana bisnismu, lancar?" tanya Vicky berbasa-basi sambil mencari tempat duduk yang nyaman di sisi anak gadisnya.



"Lancar om" jawab Ken singkat, dan kembali duduk di tempat semula.



"Sepertinya papa akan sedikit syok dengan informasi yang kak Ken berikan" kata Lia sambil menyerahkan berkas yang sejak tadi dilihatnya.



Vicky mengambil berkas itu tanpa kata. Dan segera mengenakan kacamatanya untuk memperjelas pandangan saat fokus dengan deretan tulisan di dalamnya. Lia dan Ken menunggu dengan sabar selama orang tua itu fokus.



"Ah, sial! Aku melupakan sosok licik yang satu ini" umpat Vicky setelah selesai dengan bacaannya.



"Bagaimana aku bisa kecolongan begini? Rubi bahkan sudah mempunyai komplotan yang cukup solid kali ini.



"Yang aku takutkan, Tante Ruby akan menjadikan Sam yang masih minim pengetahuan sebagai tempat untuk balas dendamnya pada keluarga kita, pa" kata Lia khawatir.



"Ya, kau benar Lia. Apalagi anak itu sekarang sedang jauh dari pantauan kita" kata Vicky.




"I think that's not a good idea, Lia. Karena wanita itu akan lebih aware jika Sam tiba-tiba pulang. Dia akan mengira kalau kalian sudah tahu mengenai rencananya dan dia akan membuat rencana lain yang aku kira akan semakin buruk" kata Ken.



"Lalu kita harus bagaimana, kak? Aku Pun khawatir dengan keselamatan Sam" kata Lia.



"Bagaimana kalau kita langsung usut saja wanita jahat itu?" tanya Lia lagi.



"Dan kau tidak memikirkan perasaan Johan?" tanya Ken.



"Oh god, aku lupa kalau tante Ruby adalah mamanya Johan" kata Lia semakin gusar.



Seperti buah simalakama, bertindak langsung atas Ruby akan berhadapan dengan Johan. Tapi membiarkan wanita itu bertindak seenaknya akan berpengaruh terhadap Sam.



"Aku akan coba bicara pada Ruby. Sementara kau cobalah memberi Sam pengertian. Kalau bisa, bawa Sam pulang saja" kata Vicky.



"Ini semua salahku, seandainya aku tidak menyuruh Sam tinggal dengan kak Gita" kata Lia sedikit frustasi, dia khawatir atas keselamatan adiknya.



"No, kamu tidak salah, Lia. Lihat saja perubahan Sam yang lebih berempati pada sekelilingnya setelah tinggal dengan Gita. Hanya papa yang sedikit kecolongan karena wanita licik itu yang sudah keluar dari tahanan" kata Vicky.

__ADS_1



"Papa kira dia masih lama berada dalam tahanan" lanjutnya sambil menunduk.



Kini, Vicky menjadi lebih cemas. Karena dulu, dengan berjalan berdua dengan Robi saja sudah hampir mencelakai Lia dan Johan. Apalagi sekarang saat dia mempunyai satu kelompok yang solid dibawah naungannya meski dengan rampasan, pasti Ruby bisa bertindak semakin diluar kendali.



"Ken, terimalah atas semua informasi yang kau berikan. Om akui sedikit kecolongan kali ini" kata Vicky.



"Take it easy, om. Kalau butuh bantuan apapun, jangan sungkan untuk menghubungiku saja" kata Ken.



"Aku akan segera ke rumah kak Gita sepulang dari kantor nanti dan meminta Sam untuk pulang" kata Lia.



"Papa akan coba menemui Ruby" kata Vicky.



"Jangan dulu, om. Kita awasi saja dulu pergerakannya. Jangan sampai dia mempercepat keinginannya. Aku lebih khawatir atas keselamatan Sam yang sedikit tidak bisa diatur" kata Ken.



"Benar juga" kata Vicky.



"Biar Lia memberi pengertian terlebih dahulu pada anak itu. Sambil terus kita awasi pergerakan Ruby" kata Ken lagi.



"Baiklah, dan tolong jangan beritahu Johan mengenai mamanya ya kak. Aku tidak ingin hatinya hancur lagi seperti saat dia masih kecil dulu" kata Lia. Ken hanya mengangguk singkat.



Dengan misi rahasianya, Lian tentu akan selalu mendapatkan izin dari Eri saat ingin bertemu dengan Sam.


Seperti sore ini, Sam yang menghubungi Lian untuk mengajaknya sekedar menikmati angin sore langsung mendapat sambutan hangat dari Eri.


Bahkan Eri langsung yang mendandani Lian agar nampak lebih mempesona agar Sam semakin menggilainya.


Lian tak punya pilihan lain. Keselamatan atas ayah dan dirinya menjadi taruhannya jika sampai dia tak mau menuruti kemauan Eri.


"Nih, es krim buat cewek tercantik sedunia" ucap Sam sambil menjulurkan satu es krim untuk Lian.


"Terimakasih, Sam" ucap Lian lembut, dengan senyuman yang selalu membuat Sam merasa terbang.


Duduk di sebelah Lian, ditangan Sam juga sudah ada es krim yang sama untuk dinikmati bersama.


Memilih sebuah jalan yang sudah dirombak menjadi tempat nongkrong, Sam mengajak Lian untuk duduk di kursi besi yang sudah disediakan untuk para pejalan kaki.


Jalan yang akan menghubungkan mereka ke alun-alun kota. Tempat yang dulu Sam hindari karena tidak sesuai dengan circle pertemanannya yang high class.


Tapi kini dia menemukan kebahagiaan di tempat yang katanya milik orang miskin.


"Kamu tinggal dimana sekarang, Lian?" tanya Sam.


"Dekat kok sama sekolah kita. Nanti kamu boleh antar aku pulang kalau tidak keberatan" kata Lian.


"Memangnya sudah diizinkan sama ibu kamu?" tanya Sam.


Lian mengangguk, lagi-lagi hatinya terasa tercubit saat melihat ketulusan di mata Sam, sementara dia sendiri hanya sebuah bidak yang dijalankan oleh Ruby.


"Sam! Oh my god, It's really you. I miss you, Sam" seorang gadis tiba-tiba berteriak memanggil nama Sam dan berlari ke arahnya.


Tak sampai disitu, gadis itupun langsung memeluk Sam dengan erat. Membuat mata Sam langsung melotot dan menoleh ke arah Lian yang memandangnya heran.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2