
Sudah dua hari bar yang Eri rampas dari Norita masih tutup. Semua orang di dalamnya masih sibuk mengurusi mayat-mayat yang tertinggal dari kejadian waktu itu.
Mereka yang mati dimasukkan ke dalam koper satu per satu dan di bawa ke laut untuk menjadi makanan ikan menggunakan perahu yang sengaja mereka sewa.
Dan malam ini, adalah malam pertama bagi Eri untuk kembali membuka bar itu setelah sebelumnya diadakan rapat tentang bagaimana kelanjutan bar tersebut dan membebaskan para wanita malam disana untuk memilih tetap tinggal atau keluar dari bar itu.
Sebagian besar para wanita malam memilih untuk tetap tinggal karena mereka beranggapan jika dunia luar lebih mengerikan daripada hidup di dalam bar karena setelah mereka keluar darisana, maka tidak ada tempat untuk mereka tinggal dan juga tak ada pekerjaan yang bisa menjadi sumber nafkah bagi mereka.
Jadi, dengan Eri sebagai pemimpin baru, mereka ingin kehidupan yang lebih baik dengan tetap tinggal di dalamnya.
"Ingat, jangan mau untuk dipaksa melayani tamu yang tidak kalian sukai" kata Eri mengingatkan para wanita sebelum bar buka.
"Jika mereka masih memaksa sementara kalian keberatan, kalian bisa lapor para tukang pukul untuk memberi mereka pelajaran" kata Eri.
"Siap!" jawab para wanita kompak, sesuai kata hati mereka, Eri pasti lebih baik daripada Norita.
Dunia malam ini pun berjalan seperti biasanya. Dengan para hidung belang dan para penjudi yang kali ini menjadi ladang baru dalam bar itu. Eri menyediakan arena judi juga di dalamnya.
"Sorry kita mengganggu, bos. Si brengsek ini baru pertama main judi disini sudah berhutang sangat banyak. Dan dia bilang tidak punya uang untuk membayar, bos. Tadi dia juga sempat mengajak salah satu wanita kita untuk bersenang-senang, tapi dua juga tidak mau membayarnya, bos" ucap salah satu tukang pukul yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Eri, saat wanita itu sedang sibuk dengan surat-surat kepemilikan tanah beserta bar yang sedang dia kelola.
Menilik sebentar ke arah jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan jika waktu sudar bergulir hampir fajar.
"Berapa hutang yang dia punya?" tanya Eri.
"Lima puluh juta, bos. Entah sebodoh apa dia sampai terlilit hutang sebanyak itu hanya dalam satu malam" gerutu si tukang pukul yang sebenarnya ingin mendapatkan izin dari Eri untuk memberinya pelajaran.
"Banyak sekali. Dan dari penampilanmu, aku yakin kalau kau tidak akan sanggup untuk membayarnya, bukan?" tanya Eri pada pria yang sudah setengah mabuk itu.
"Saya memang tidak bisa membayar dengan uang, tapi akan saya suruh anak saya bekerja di tempat ini untuk membayarkan hutangku padamu, bos cantik, bagaimana?" tanya si pria memberikan ide yang cukup menarik.
"Tapi anakmu itu tidak akan mendapatkan gaji sepeserpun dariku karena dia bekerja hanya untuk membayarkan hutangmu saja, bodoh. Bagaimana? Apa kau setuju?" tanya Eri yang tak mau rugi.
"Terserah padamu saja ,bos. Yang penting hutangku bisa lunas agar aku bisa kembali berjudi lagi disini. Tempat ini sangat menyenangkan" kata pria itu tanpa rasa takut dan menyesal.
"Anakmu pria atau wanita?" tanya Eri.
"Anakku masih gadis, bos. Bahkan dia sangat cantik. Lihat saja fotonya kalau kalian tidak percaya" kata pria itu sambil memperlihatkan foto seorang gadis muda yang memang sangat cantik, dan yang lebih penting dia masih muda.
"Ehm, oke. Bawa anakmu kesini besok pagi" jawab Eri.
Sebenarnya tak ada niatan untuk menjadikan anak gadis dari pria itu sebagai wanita malam, Eri hanya akan menyuruhnya sebagai waiters saja jika memang anak itu masih sangat muda.
__ADS_1
"Tentu bos. Akan saya bawa dia besok pagi-pagi sekali. Terimakasih bos. Ehm... apa sekarang saya boleh pulang?" tanya Pria itu.
"Pulanglah. Tapi ingat jangan sampai kau berniat untuk mangkir apalagi untuk kabur. Kalau sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan menghabisi nyawamu dengan tangan ini" kata Eri sambil memperlihatkan kedua tangannya.
"Ba... Baik bos" kata pria itu terbata, santer kabar di luaran sana bahwa pimpinan baru di bar Norita sekarang sangat sadis.
Tanpa pria itu sadari, Eri yang tak lagi mudah dibodohi menyuruh seorang anak buahnya untuk membuntuti pria itu. Takut saja kalau sampai dia ingkar janji.
Tapi rupanya memang pria itu terlalu pengecut untuk bertindak, karena pagi itu sepulang dari bar dia langsung menuju rumahnya dan mencari anaknya yang sudah berada di pasar untuk berjualan.
"Sial! Dia sudah tidak ada. Pasti sudah ke pasar. Yasudahlah, aku tinggal istirahat saja dulu" kata pria itu sambil merebahkan diri di kursi usang di ruang tamu rumahnya.
Hampir dua jam sejak pria itu tertidur, seorang gadis cantik datang ke rumahnya dengan menenteng dua kantong plastik besar berisi kotak yang sudah kosong.
Mendengar suara deritan pintu yang terbuka, pria itu membuka matanya dan tersenyum melihat anak gadisnya yang cantik memasuki ruang tamu.
"Anak ayah yang cantik sudah sampai rumah rupanya" kata pria itu dengan tawa menjengkelkan.
"Tumben ayah pulang?" tanya anaknya.
"Ehm, maukah anak ayah ini ikut ayah?" tanya si pria.
"Kemana?" tanya anaknya.
"Aku nggak mau, yah. Tolong biarkan aku pergi. Cukup ayah dengan kelakuan ayah, tapi jangan menjadikan aku sebagai alat untuk membayar hutangmu" kata anaknya sambil menangis dan memberontak dari ajakan ayahnya.
"Sudah, jangan banyak bicara. Jadilah anak yang berbakti dengan patuh pada ayahmu" kata pria itu yang terus saja menarik tangan anaknya hingga ke jalan raya.
"Hei tunggu! Hentikan!" teriak Sam yang kebetulan datang pagi itu.
"Sam, tolong aku. Jangan biarkan ayah membawaku" kata gadis itu yang ternyata adalah Lian.
"Lepaskan tangan Lian atau aku akan menghajarmu pria tua tak tahu diri" ancam Sam pada ayah Lian.
"Jangan ikut campur urusan kami, anak kecil. Cukup kau mengancamku waktu itu, tapi kali ini aku tidak akan membiarkanmu menakutiku" kata ayah Lian.
Sam merasa geram, tanpa aba-aba diapun memukul ayah Lian dengan sekuat tenaga hingga terlepaslah genggamannya.
"Ayah" teriak Lian yang melihat ayahnya terkapar di pinggir jalan.
"Sudah biarkan saja ayah jahat seperti dia itu dapat hukuman, Lian. Ayo kita pergi" ajak Sam.
__ADS_1
Lian bimbang, apakah harus meninggalkan ayahnya dalam keadaan seperti itu atau harus menolongnya dulu.
Saat Lian sudah mantap untuk ikut Sam, orang misterius tiba-tiba muncul dan menyerang Sam yang tak siap. Hingga membuat Sam kerepotan dan ikut terkapar bersama ayah Lian di pinggir jalan.
Sementara Lian segera dibawa oleh pria misterius itu yang ternyata adalah anak buah Eri yang membuntuti ayah Lian sejak dari bar semalam.
Sam pingsan di tepi jalan, begitupun ayah Lian yang kemudian ditolong oleh orang yang kebetulan lewat dan mereka berdua dibawa ke klinik terdekat.
Lian yang masih terkejut tak bisa melawan pria yang menarik tangannya dan membawanya ke dalam mobil yang sudah terisi beberapa pria lain di dalamnya untuk mencegah Lian kabur.
"Kalian siapa? Tolong jangan bawa saya" kata Lian sambil menangis.
"Diam kau anak pintar. Kami tidak akan mencelakaimu kalau kau diam dan menurut" kata pria itu tanpa ekspresi.
Lian yang ketakutan kini terdiam, duduk diapit dua pria berbadan besar membuatnya tak bisa berkutik.
Tak butuh waktu lama mobil van yang Lian tumpangi memasuki parkiran bawah tanah di sebuah gedung berlantai empat. Sebuah gedung yang masih tertutup rapat.
"Ayo turun! Bos kami sudah menunggumu" kata pria itu yang terus saja menarik tangan Lian.
"Bos siapa? Apa salah saya?" tanya Lian yang masih berusaha untuk memberontak.
"Sudahlah, diam dan menurut saja. Kami tidak akan menyakitimu" kata pria itu yang terus saja membawa Lian ke lantai teratas dari gedung itu.
Lian yang tak bisa berkutik kini hanya bisa berusaha menghafal ke arah mana dia dibawa. Nanti jika ada kesempatan untuk kabur maka dia tidak akan salah arah untuk bisa keluar dari gedung itu.
"Pagi bos. Gadis ini adalah anak dari pria yang tadi malam kalah judi dan menjaminkan anaknya" lapor si pria pada bosnya.
Lian sedikit bingung, ternyata bos yang mereka maksud adalah seorang wanita.
"Uwah, kau cantik sekali nak. Dan yang paling penting kau masih sangat muda. Berapa usiamu?" tanya Eri yang kagum pada kecantikan alami Lian.
"Saya enam belas tahun, bu" jawab Lian lirih, bingung harus memanggil apa pada wanita itu.
"Bu?" kata Eri lirih, seketika dia ingat akan anak lelakinya.
"Bahkan anakku lebih tua darimu" gumamnya lagi.
Eri sedikit terbawa suasana. Melihat Lian yang masih usia sekolah membuatnya teringat akan anaknya yang sudah sangat lama tak pernah saling bertemu.
.
__ADS_1
.
.