
...MAB by VizcaVida...
...|49. Mencoba Membuka Hati Yang Terkunci|...
...Selamat membaca...
...[•]...
“Stop, jangan nangis lagi, oke.” kata Louis, mengusap kedua pipi Angel dengan telapak bergetar dan manik yang ikut berderai air mata. Melihat Angel menangis karena mamanya, membuat Louis tidak bisa berkutik selain menyesali dirinya sendiri yang tidak mampu membuat istrinya tersenyum bahagia. “Please, jangan nangis lagi.” pintanya yang kini menatap sendu pada Angel. “Kalau mama nggak mau nerima kue pemberian kamu, aku yang akan habisin itu.”
Angel berusaha keras menghentikan tangisnya, akan tetapi ketika dia kembali mengingat tentang janin yang ada dalam kandungannya, sebagai seorang ibu dia tidak bisa untuk tidak bersedih atas nasib anaknya yang tidak mendapat pengakuan dari sang nenek.
“Sayang, dengerin aku.” kata Louis menangkup kedua pipi Angel dan meminta Angel untuk menatap matanya, yang justru membuatnya kembali menangis. “Aku janji, aku akan selalu sama kamu, oke. Aku nggak akan ninggalin kamu dan anak kita, aku bersumpah.” kata Louis penuh keyakinan agar Angel merasa tenang disampingnya. “Tolong percaya sama aku, ayo kita mulai hidup berdua tanpa status Hutama di namaku. Aku akan bekerja keras untuk hidup baru kita. Aku akan mencari pekerjaan—”
Belum selesai Louis meyakinkan Angel untuk tetap kuat dan berjuang bersama, ponsel Louis bergetar. Nama Papa muncul pada display ponsel. Ia berdecak, tapi tetap menjawab panggilan tersebut. Mungkin jika ibunya yang menghubungi, Louis memilih acuh dan tidak peduli.
“Aku bicara sebentar sama papa.”
Angel mengangguk sambil menyeka air matanya ketika Louis mengusap satu sisi pipinya yang basah kemudian keluar dari mobil dan berjalan sedikit menjauh dari kap depan mobil.
“Ada apa, pa?” tanya Louis segan, meskipun dia merasa aneh ketika berbicara dengan papanya.
“Angel hamil?”
Louis menunduk, menatap sandal selop hitam berlogo Gucci yang ia pakai dengan sorot sendu. “Ya, pa. Angel sedang mengandung. Sekarang usia kandungannya lima Minggu.” jawab Louis pelan. Pada akhirnya dia bisa menyampaikan kabar itu pada kedua orang tuanya, meskipun Jenita menolak kehadiran si jabang bayi yang ada dalam kandungan Angel.
“Ah, terima kasih Tuhan karena memberikan rezeki yang tidak terhitung nilainya kepada putraku.” kata Hutama mengucap Syukur kepada Tuhan. Louis bahkan bisa membayangkan ekspresi wajah papanya ketika mengucapkan itu. Senyuman kecil tercetak di bibir Louis. “Selamat ya, nak.”
“Terima kasih, pa.”
“Tetaplah bekerja di tempat itu. Kamu akan menjadi seorang ayah, dan harus bekerja lebih keras untuk membiayai masa depan anakmu kelak.”
Louis lagi-lagi menunduk.
__ADS_1
“Jangan menyerah dan ingat perjuanganmu selama ini untuk membesarkan nama stasiun televisi itu.”
Benar. Selama ini dia berjuang keras sampai mati rasa, dan sekarang akan berhenti tiba-tiba? Mungkin itu akan menjadi pilihan paling sulit diterima, tapi dia juga harus memikirkan masa depan.
“Urusan dengan mamamu, biar papa yang bicara.”
Louis menatap langit agar air matanya tidak kembali runtuh.
“Terima kasih, papa.”
***
Hutama berjalan kembali masuk kedalam rumah dan berdiri didepan Jenita. Tatapan matanya lurus, mendominasi.
“Sekarang, katakan apa mau kamu, ma?”
Jenita acuh, dia melipat angkuh kedua tangannya didepan dada dengan dagu terangkat tinggi. Dia tidak ingin menambah runyam hubungannya dengan Hutama hanya karena mempunyai masalah dengan Angel.
“Angel perempuan baik. Lihat Louis, dia sangat mencintai Angel. Tatapannya sama tulusnya seperti dia menatap Caca dulu.” cerca Hutama mencoba membuka hati istrinya yang keras. “Dan sekarang dia bahkan mengandung anak Louis. Cucu kita.”
“Ma. Jika mama benci papa atas masalalu yang pernah papa lakukan, benci papa saja. Jangan melampiaskan pada orang lain.”
Hati Jenita tersentil. Tidak ingin menyembunyikan apapun, tatapan matanya kini tertuju pada fitur wajah suaminya yang tetap tampan tak termakan usia.
“Angel wanita baik, mandiri, dan mencintai putra kita apa adanya. Apa salah jika seperti itu? Jika Louis membalas semua kebaikan Angel?” lanjut Hutama yang masih mencoba meluruskan sebundel benang kusut yang dibuat oleh Jenita untuk Louis dan Angel, yang berhubungan dengan masa lalunya.
“Papa minta maaf kalau mama masih membenci papa atas kejadian yang terjadi saat itu. Papa nggak bermaksud melakukan itu. Papa tau, papa yang salah.”
Tatapan mata Jenita berubah bengis saat Hutama membawanya kembali ke masalalu kelam yang begitu menyakitinya saat itu.
“Ya! Papa yang salah. Untuk itulah mama nggak mau melepas Louis untuk orang lain, karena hanya dia yang bisa melindungi mama.” kata Jenita tegas.
Hutama berjalan mendekat. Dia ingin merangkul Jenita yang terlihat bergetar. Dia menyesal pernah mengkhianati wanita yang sangat mencintai dan sudah memberinya dua orang putra yang bisa ia banggakan. Hutama benar-benar menyesal pernah menorehkan luka di hati Jenita yang membuat wanitanya itu trauma.
“Papa minta maaf—”
__ADS_1
“Berhenti di tempatmu!” teriak Jenita yang membuat langkah Hutama terhenti seketika. Borok rumah tangga yang belum sepenuhnya mengering, seperti di kelupas lagi dari hati Jenita. Airmata yang sempat mengering kini kembali membasahi pipinya. “Jangan pernah menyentuhku!”
Keduanya terlihat kompak dimata umum, tanpa mereka tau ketika dirumah, beginilah hubungan mereka sebenarnya. Dingin, dan tidak saling bicara, apalagi sampai bersentuhan fisik. Semua yang mereka lihat diluar sana, hanya sebuah kamuflase yang dibuat keduanya untuk menjaga nama baik satu sama lain.
“Kenapa?” tanya Hutama meminta penjelasan. “Oke sekarang aku adalah penyebab semua kebencian kamu pada orang lain, terutama Angel. Aku penyebab sikap skeptis kamu pada orang lain, tapi aku mohon, biarkan Louis bahagia dengan hidupnya, Jen.”
Jika sudah menyebut namanya seperti ini, Jenita tau betul jika Hutama sudah berada dititik paling rendah egonya. Pria itu frustasi.
“Biarkan dia hidup bahagia bersama Angel. Berikan Restu dan do'a untuk mereka agar hidup mereka tenang.” pinta Hutama dengan manik mata berkaca-kaca. “Jika kamu mau membenciku, cukup benci aku. Jangan mereka, jangan Angel. Kasihan, dia sedang hamil, Jen.”
Jenita menurunkan kedua lengannya yang tergantung layu di samping tubuh. Ia tau jika dirinya salah besar sudah membuat hubungan Louis dengan perempuan pilihan putranya itu menjadi rumit. Tapi Jenita amat sangat takut jika Louis akan melupakan dan menelantarkan dirinya. Dan dia juga berfikir, jika Angel melahirkan anak untuk Louis, Jenita takut Louis akan melupakannya. Ia takut dicampakkan lagi seperti halnya saat Hutama hampir berpaling darinya dulu. Trauma itu benar-benar membuatnya menjadi orang yang keji. Dan Jenita sadar akan hal itu, sepenuhnya.
Tubuhnya terhuyung dan jatuh diatas sofa ruang tamu setelah Hutama mencercanya dengan kalimat yang begitu jelas. Dan sekarang, ia mencoba menata kembali hatinya. Ia ingin memutar otaknya saat Angel hadir dihadapannya dengan sikap baik dan sopan.
Seketika itu juga, tangis Jenita pecah. Angel memang perempuan baik. Sebaliknya, dialah manusia yang paling jahat.
Hutama yang melihat Jenita menangis dengan menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangan, datang menghampiri. Ia duduk disamping sang istri yang terlihat hancur, kemudian dengan gerakan ragu ia meraih bahu Jenita. Mengusap, lantas menepuknya lembut.
“Kita akan menjadi nenek dan kakek untuk dua kehidupan baru yang bisa membuat kita tertawa senang tanpa harus terbebani semua permasalah duniawi, Jen. Pertama untuk Rebecca, dan yang kedua untuk calon anak Louis.”
Jenita semakin tergugu. Ia merasa semakin bersalah karena sudah menyakiti dan juga sempat membenci janin yang tidak bersalah dalam kandungan Angel.
“Kita terima mereka. Aku tidak memaksamu untuk begitu saja menerima dia. Paling tidak, kamu mencobanya perlahan-lahan. Mendekat, kemudian merangkul. Aku yakin Angel akan memaafkan kita berdua yang sudah—”
“Aku ingin sendirian dulu. Tolong beri aku waktu untuk sendiri.”
Hutama menjauhkan telapak tangannya dari bahu Jenita, kemudian berdiri dan mundur beberapa langkah.
“Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu. Cobalah untuk membuka hati, menerima apa yang sudah menjadi takdir Tuhan.” kata Hutama yang masih terus memberikan arahan-arahan positif agar Jenita mau membuka mata hatinya untuk hubungan suci pernikahan dan sumpah setia yang diucapkan Angel dan Louis. “Pikirkan baik-baik masa depan mereka berdua jika harus hidup kesulitan karena tidak adanya restu darimu. Apalagi anak mereka yang pada kenyataannya adalah cucu kita.”
Jenita tertunduk lemas.
“Apa kamu tega, melihat seorang bayi yang tidak bersalah harus dibenci oleh orang yang seharusnya mencintai dan menyayanginya? Apa kamu tega, jika dia sudah mulai mengerti nanti, dia tau jika dibenci oleh neneknya sendiri? Aku tau kamu orang yang sangat baik dan pengertian juga mudah bersimpati.
“Jadi aku mohon, terima mereka untuk berada dalam keluarga kita. Berada diantara kasih sayang kita.” []
__ADS_1