
"Hoek... Hoek!" terdengar suara Viviane yang memuntahkan seluruh isi dalam perutnya di pinggir jalan. Tak biasanya wanita itu mengalami mabuk perjalanan.
"Menjijikkan sekali" keluh Lia yang mendengar muntahan mamanya dari dalam mobil bersama kakek dan neneknya.
Sementara Vicky terlihat sedang memijit tengkuk Viviane yang sedang berjongkok dipinggir selokan.
"Apa biasanya mamamu mabuk perjalanan begitu, Lia?" tanya Abraham sedikit khawatir.
"Tidak kok kek. Mungkin itu cuma akal-akalan mama saja agar dapat perhatian dari papa" komentar Lia malah membuat Suzy terkikik geli.
"Mana mungkin, sayang. Kau pikir enak mengalami mabuk perjalanan seperti itu? Ada-ada saja" gumam Suzy sambil menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan kecemburuan Lia yang sedang menyaksikan papanya lebih perhatian pada mamanya.
"Apa sudah merasa lebih baik, sayang?" tanya Vicky, saat Viviane sudah menghentikan acara muntahnya dan sedang terdiam sambil memejamkan mata.
"Tumben sekali aku mabuk perjalanan ya, bang?" komentar Viviane setelah merasa lebih baik.
"Apa tadi salah makan?" tanya Vicky.
"Sepertinya tidak" kata Viviane, yang menyambut uluran tangan Vicky untuk membantunya berdiri.
"Apa perlu periksa ke dokter?" tanya Vicky.
"Tidak perlu, bang. Sepertinya aku sudah merasa lebih baik sekarang. Kita lanjutkan perjalanan saja ya. Aku ingin segera sampai dirumah dan beristirahat. Entah kenapa aku ini, rasanya kok capek sekali" gerutu Viviane sambil berjalan mendekati mobilnya.
"Apa sebenarnya kau memang sedang sakit, sayang?" tanya Vicky yang sudah duduk bersisian dengan istrinya, sementara Lia dan kedua orang tuanya duduk di bangku belakang.
"Tidak kok. Aku merasa sangat sehat" jawab Viviane.
"Tapi aku sekarang ingin minum jus jeruk yang belinya di warung lalapan, bang. Ditaruhnya di plastik saja, kayak jajanan anak sd kalau beli minuman dingin itu" rengek Viviane seperti anak kecil.
"Mama ini ada-ada saja. Mana ada warung lalapan buka di siang hari begini, ma. Lagian kenapa juga harus pakai wadah plastik?" gerutu Lia dari belakang, rupanya dia masih tidak terima saat Vicky lebih memperhatikan mamanya.
"Pak, apa bapak tahu ada warung lalapan buka di siang hari begini? Kalau visa sih yang searah jalan pulang, pak" tanya Vicky pada supirnya.
"Ada tuan. Nggak jauh dari rumah kok" jawab sang supir.
"Bagus, nanti kita berhenti sebentar kalau sudah sampai di warungnya ya pak" kata Vicky.
"Siap tuan" jawab sang supir.
Sementara mendengar jika ada warung lalapan yang buka di siang hari saja sudah membuat Viviane tersenyum senang. Bahkan air liurnya sudah menetes membayangkan betapa segarnya jus jeruk peras asli buatan ibu-ibu penjaga warung yang diisikan didalam kantong plastik dengan buliran air dingin yang menetes di luarnya.
"Kau kenapa, sayang?" tanya Vicky heran melihat Viviane yabg beberapa kali menelan ludahnya.
"Aku sudah tidak sabar dengan seplastik jus jeruknya, bang" kata Viviane yang membuat Vicky menggeleng heran. Memang sangat tak biasanya istrinya ini bersikap aneh begitu.
"Mama terlalu caper. Jangan percaya pada tipu muslihat mama, pa" kata Lia yang tak tahan untuk tak berkomentar.
__ADS_1
"Enak saja menipu. Kau harus percaya padaku, bang. Aku benar-benar sangat menginginkan seplastik jeruk dingin" kata Viviane tak mau kalah.
"Apa ada yang kau inginkan sayang? Biar nenek yang membelikan untukmu" kata Suzy yang tak tahan melihat wajah cemberut cucunya.
"Nenek memang ter the best, Lia ingin makan cake coklat dengan lelehan coklat diatasnya" kata Lia tak mau kalah.
"Oh, nenek tahu tempat yang cocok untukmu. Setelah sampai rumah nanti, kita segera bersiap-siap ya. Dan kita akan pergi ke tempat yang sesuai dengan keinginanmu" kata Suzy yang memang mempunyai langganan penjual kue yang enak. Dan dia yakin jika Lia pasti akan menyukainya.
"Sudah sampai, tuan. Itu warung lalapan yang saya maksud" kata si supir yang sudah menepikan mobil dan berhenti di dekat warung.
"Ayo bang, cepetan kita turun" ajak Viviane antusias, wanita itu terlihat sangat bahagia.
Vicky mengikuti istrinya dengan perasaan heran. Sikapnya yang tak biasa memang membingungkan, tapi manjanya itu membuat Vicky senang karena dia merasa diperlukan oleh wanitanya.
"Pak, jus jeruknya satu ya" pesan Viviane begitu melihat si penjual.
"Siap neng. Itu saja?" tanya si penjual.
"Ada bebek goreng, pak?" tanya Viviane begitu melihat isi gerobak yang menyajikan berbagai macam unggas yang tergantung dan belum digoreng.
"Ada dong, neng cantik. Mau berapa porsi?" tanya penjual itu.
"Satu porsi saja dimakan disini, pedas ya pak. Terus jus jeruknya ditaruh di dalam plastik dan diberi sedotan" pesan Viviane dengan begitu fasihnya.
"Siap neng" ujar si penjual.
"Pa, kita pulang duluan ya. Nanti kalau sudah selesai papa hubungi pak supir saja" alih-alih bosan menunggu, Lia berteriak ingin segera sampai ke rumahnya daripada harus menunggu orang tuanya yang sedang bersikap aneh.
Vicky hanya melambaikan tangan saat mobil itu melaju meninggalkan mereka, sementara Viviane malah asyik melihat-lihat menu yang tersaji di warung itu.
Air liurnya semakin meleleh saat melihat burung dara yang nampak kecil tapi menggiurkan baginya.
"Sama ini satu pak, cepetan ya" kata Viviane yang kembali memesan seporsi masakan diluar rencana awal.
"Siapa yang mau memakannya, Vi?" tanya Vicky.
"Aku lah bang. Kan ada kau juga yang bisa membantuku untuk menghabiskannya" kata Viviane manja.
Dan saat pesanannya datang, jus jeruk di dalam plastik lah yang menjadi menu pertama yang Viviane ambil dengan penuh semangat.
Hanya dengan beberapa tegukan saja, isi di dalam plastik itu sudah habis diminum oleh Viviane yang kini nampak sangat lega.
"Pak, sekarang pesan es teh ya" kata Viviane yang mulai melirik dua porsi makanan diatas mejanya.
Setelah mencuci tangannya dengan air di dalam mangkuk kecil yang diisi dengan irisan jeruk nipis yang telah diperas, Viviane mencoba bebek goreng terlebih dahulu, sementara Vicky masih anteng melihat kelakuan istrinya.
"Hem ... enak banget" gumam Viviane di suapan awalnya, hingga matanya terpejam karena terlalu menikmati hidangan itu.
__ADS_1
"Sudah, aku nggak mau ini lagi bang. Kamu saja yang habiskan" perintah Viviane tanpa rasa malu seperti biasanya.
"Aku tidak suka bebek, sayang" keluh Vicky.
Tiba-tiba Viviane melirik dengan sangat tajam sambil mencoba menu keduanya, burung dara kecil yang ada diatas nasi panas.
"Pokoknya habiskan itu, bang. Kan sayang kalau dibuang" kata Viviane setelah memasukkan segumpal nasi beserta potongan daging burung dara ke dalam mulutnya.
"Tapi kan---" belum lagi Vicky menyelesaikan ucapannya, Viviane sudah melotot tajam.
"Pokoknya makan itu, bang. Aku maunya kamu yang habisin" ancam Viviane yang masih melotot.
"Nyonya nya pasti lagi ngidam, tuan. Jadi turuti saja kemauannya daripada nanti tuan habis dimarahi" ujar pemilik warung setelah mengantarkan segelas es teh pesanan Viviane.
"Maksud bapak apa?" tanya Vicky heran, sementara Viviane jadi terdiam.
"Kalau menurut pengamatan saya nih selama berjualan puluhan tahun, sikap nyonya ini seperti wanita yang sedang mengidam. Dan permintaannya harus dikabulkan, pak. Kalau tidak nanti bayinya bisa ileran loh" lanjut pemilik warung menjelaskan.
"Maksud bapak, istri saya hamil?" tanya Vicky tak percaya.
"Ya mana saya tahu, pak. Kan situ suaminya, kok tanyanya ke saya. Coba saja bawa ke dokter kalau tidak percaya sama omongan saya" kata pemilik warung.
"Kamu hamil, sayang?" tanya Vicky.
"Nggak tahu juga sih, bang" jawab Viviane lirih.
"Yasudah, kamu habiskan makannya ya. Setelah ini kita ke dokter" tutur Vicky lembut, setelah si pemilik warung kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Tapi aku sudah tidak mau, bang. Kamu saja yang makan" kata Viviane yang memilih untuk menyeruput es tehnya melalui sedotan.
"Aku?" tanya Vicky keberatan. Melihat menu itu saja sudah membuatnya kenyang, lagipula Vicky tak biasa makan ditempat seperti ini.
"Iya kamu, kenapa? Nggak mau? Kamu jijik sama bekas makanan aku?" tanya Viviane.
"Bukan begitu, ah sudahlah. Pak, tolong bungkus saja semua makanan ini ya, pak" kata Vicky.
Penjual itupun mengerti dengan keadaan pasangan muda didepannya itu, dan tentu saja dia juga harus mengutamakan pembeli. Jadi, dia menuruti saja permintaan Vicky.
Dan sesuai rencana, setelah mengunjungi warung lalapan itu mereka berdua tak lantas pulang, tapi memilih untuk pergi ke dokter kandungan untuk mengecek kebenaran dari perkataan si penjual lalapan. Lagipula Lia juga sedang pergi bersama kakek dan neneknya.
.
.
.
.
__ADS_1