
"Apa kado yang harus kuberikan untuk papa dan mama ya kak? Sepertinya mereka sudah tak membutuhkan apa-apa lagi" keluh Lia yang sedikit merasa bingung.
"Untuk harta mungkin memang kedua orang tuamu sudah tak butuh lagi, bagaimana kalau kau berikan saja album foto yang menunjukkan kesan kekeluargaan yang saling menyayangi di antara anggota keluargamu?" saran Bayu sambil memindai buku-buku yang berjejer rapi di etalase sebuah toko buku ternama.
Lia mengangguk setuju, "Bagus juga idemu, kak. Tapi apa cukup waktu untukku memilih foto-foto dari galeri ponselku yang sangat banyak ini untuk di edit dan dijadikan kolase seperti kakak maksud?" tanya Lia lagi.
"Apa gunanya ada Ken. Dia pasti bisa menangani semua ini dengan mudah. Sebentar aku telepon dia dulu. Nanti kau tinggal mengirim file foto padanya agar dia saja yang mengerjakan semuanya" jawab Bayu dengan santainya.
Bayu berfikir jika Ken pasti sedang tidak ada kerjaan sore ini. Tadi dia sempat merengek agar bisa ikut dengannya pergi mencari buku, tapi Bayu menolak karena malas jika harus menjemputnya terlebih dahulu.
Sambil memilih buku, Bayu juga segera menghubungi Ken. Dan benar dugaannya kalau temannya itu sedang tak ada kerjaan lain. Biasanya saat Ken tak sedang sibuk, dia akan berselancar di dunia maya untuk melakukan kegiatan yang kurang etis, seperti meretas data-data para pejabat, pebisnis, bahkan pernah ada yang ketahuan saat Ken sedang meretas data pengusaha yabg ternyata juga memiliki keahlian sepertinya.
Dan tentu saja anak buah dari ayahnya yang selalu bisa diandalkan untuk menghapus jejak digital yang telah Ken bobol.
"Bagaimana kak?" tanya Lia setelah Bayu selesai menghubungi Ken.
"Bisa. Dia sedang menganggur. Kau kirimkan saja file foto yang ingin di edit, Lia. Nanti setelah kita selesai dengan urusan di mall ini, kita mampir ke rumah Ken untuk mengambil hasilnya dan kau bisa menyerahkan itu ke orang tuamu nanti malam" kata Bayu.
"Siap kak. Terimakasih ya" kata Lia dengan senyumnya yang selalu Bayu sukai.
"Memangnya kakak lagi nyari buku apa sih? Daritadi kok muter-muter mulu?" tanya Lia sambil memilih foto yang akan dia kirimkan pada Ken.
"Buku tentang anatomi tubuh manusia untuk usia SMP. Minggu depan ada lomba lagi, dan seperti biasanya, pihak sekolah mengirimku sebagai wakil dari sekolah untuk mengikuti perlombaan itu, Lia" kata Bayu.
"Uwah, semangat ya kak Bayu. Semoga perlombaannya bisa berjalan dengan baik dan kak Bayu bisa lolos sebagai pemenangnya" tiba-tiba ada sebuah suara yang terdengar familiar oleh telinga dari Bayu dan Lia. Keduanya kini malah saling menoleh.
"Sejak kapan dan apa yang sedang kamu lakukan disini, Silvi?" tanya Bayu yabg tak menyangka jika sudah ada Silvi diantara dirinya dan juga Lia.
__ADS_1
"Kalian ini ngobrolnya serius banget tapi nggak saling pandang. Bisa-bisanya ada aku disini bahkan tidak ada yang menyadari" kata Silvi yang kini berdiri diantara Lia dan Bayu, selalu saja wajahnya yang tersenyum yang selalu Silvi tampilkan jika ada Bayu di dekatnya.
"Ngobrol kan pakai mulut dan telinga, Sil. Jadi, kita masih bisa menggunakan mata ini untuk melakukan kegiatan yang lainnya. Tidak sepertimu yabg selalu saja memandangiku sambil tersenyum tidak jelas saat berbicara" tegur Bayu yang selalu merasa risih setiap kali Silvi memandangnya dengan tatapan terkagum-kagum.
"Ih, kak Bayu ini. Dari dulu kenapa sih nggak mau menerima perasaanku yang sangat mengidolakanmu. Nanti kalau aku sudah nggak ada di sekitarmu lagi, baru kamu tahu kalau cuma aku satu-satunya cewek yang tulus menyukaimu" kata Silvi lagi dan lagi, mengutarakan perasaannya yang selalu dianggap hanya sebagai angin lalu oleh seorang Bayu.
"Sudahlah Sil, percuma kamu bicara panjang lebar tentang perasaan dengannya. Di dalam otaknya itu cuma ada pelajaran dan pelajaran saja. Jadi, memang tidak ada celah untuk memikirkan hal lainnya" kata Lia tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya yang sedang berkomunikasi dengan Ken.
"Eh iya, tadi kamu kesini sama siapa? Dan koo bisa tahu kalau ada kita juga disini?" tanya Lia yang mulai terganggu dengan adanya Silvi diantaranya dan Bayu.
"Aku tadi nggak sengaja lihat kalian waktu keluar dari mobil di depan mall ini. Tadi aku baru saja pulang dari acara ayahku, dan langsung saja aku keluar dari mobil saat aku lihat kalian berdua. Dan, tara... Disinilah sekarang aku berada" kata Silvi dengan penjelasan panjang dan lebarnya.
"Oh, ok" kata Lia.
Ibarat sebuah matahari yang menghangatkan, itulah arti kehadiran Silvi diantara ketiga temannya yang sangat irit bicara. Lia, Bayu dan Ken memang lebih sering berbicara serius dan membahas tentang satu hal penting entah itu pelajaran, karate, ataupun hal baru yang mereka bisa sharing bersama.
Silvi yang ceria, sedikit banyak bicara, perhatian pada ketiga temannya, dan selalu tersenyum manja pada Bayu meski tak pernah dianggapnya, menjadi sebuah cahaya kecil di gelapnya pertemanan mereka.
"Enggak, kamu lihat kaj kalau dia nggak ada disini" jawab Bayu cuek.
"Kamu lagi apa sih, Lia?" tanya Silvi lagi.
"Lagi pilih foto untuk dikirim ke kak Ken sebagai hadiah anniversary pernikahan papa dan mamaku nanti malam" jawab Lia, kini dia berkenan memperlihatkan layar ponselnya pada Silvi.
"Oh, itu akan menjadi hadiah yang sangat manis, Lia. Darimana kamu mendapatkan ide seperti itu?" tanya Silvi.
"Kak Bayu" jawab Lia singkat.
__ADS_1
"Oh, kak Bayu. Kamu so sweet banget sih. Aku jadi makin sayang sama kamu" ucap Silvi sambil bergelayut manja di lengan Bayu, sementara seperti biasanya, Bayu selalu mengibaskan tangannya.
"Kalian nggak lapar? Daritadi jalan terus" tanya Silvi.
"Lapar juga jadinya. Kakak sudah dapat bukunya?" tanya Lia.
"Sudah dapat kok. Yasudah aku ke kasir dulu, kalian berdua cari tempat makan, ya. Nanti kita bertemu lagi" jawab Bayu dengan beberapa buku ditangannya.
"Oke kak" kata Silvi dengan riang, menggandeng tangan Lia dan segera keluar dari toko buku itu.
Silvi memang lebih suka membaca dari internet daripada dari buku, tidak seperti Bayu. Aroma toko buku membuat otak Silvi bekerja lebih cepat karena merasa sedang di perpustakaan dengan banyak buku untuk mencari jalan keluar dari sebuah tugas.
Dan Silvi tidak suka itu. Pribadinya yang ceria lebih mengutamakan penampilan meski dalam hal pelajaran diapun tak pernah ketinggalan.
"Memangnya mau buat berapa banyak lembar foto aih, Lia? Kenapa daritadi nggak selesai juga pilih fotonya?" tanya Silvi heran, sampai mereka duduk bertiga lagi di sebuah cafe yang nyaman, Lia belum juga menyelesaikan urusannya dengan Ken.
"Sudah hampir selesai, Sil. Ada beberapa foto yang kak Ken tolak karena beberapa alasan. Dan sekarang, hanya tinggal mengirim foto untuk finishing nya saja. Pasti hasil albumnya nanti sangat bagus" gumam Lia senang, dengan simpul yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Bayu saat Lia melakukannya, meski senyuman itu tak selalu untuknya.
"Baguslah kalau begitu, ayo cepat kita pesan makanan dan minuman. Jangan biarkan meja kita kosong dan hanya ada daftar menu saja" kata Silvi sambil memanggil waiters.
Meski mereka masih usia SMP, tapi kebiasaan makan makanan bergizi dan olahraga teratur membuat ketiganya tumbuh dengan baik.
Jika sedang tak memakai baju seragam seperti sekarang ini, mereka nampak lebih dewasa daripada usianya bukan karena boros di wajah, melainkan tinggi tubuh mereka yang sedikit lebih menonjol dari anak seusia mereka. Mungkin juga karena faktor genetik juga berperan dalam pertumbuhannya juga.
.
.
__ADS_1
.
.